IMG_0014

14 Pemuda, 7 Studio, 7 Permainan

Seorang pria yang telah lama menjomblo itu, kini bertekad untuk mendapatkan gadis pujaannya. Demi dapat menemui gadis tersebut, sang pria harus mengumpulkan koin-koin emas dan melewati berbagai macam rintangan.

Itulah gambaran yang tersaji dalam permainan digital bertajuk “Jomblo Hero”. Sepintas tipe permainan ini mirip Mario Bros, namun perbedaan terletak pada pergerakannya yang cenderung random. Rizal dan Ferdy adalah dua kreator di balik game Android yang terinspirasi dari kehidupan malang seorang ‘jomblowan’ dalam dunia remaja mereka.

“Game ini kami buat dengan menggunakan software Corona SDK,” papar keduanya yang mengusung nama tim Negative Creative. Beda dengan Negative Creative, tim Degree Project yang terdiri dari Dwi dan Giri mengadopsi karakter kucing sebagai tokoh sentral dalam game ciptaan mereka. Adalah Fleecat, game yang mengisahkan seekor kucing yang susah bergaul dan enggan untuk dikawinkan dengan kucing lawan jenisnya. “Inspirasinya sih dari fenomena keseharian kita. Kan biasa tuh nemuin kucing yang enggak mau dikawinin. Nah, di game ini tantangannya adalah bagaimana memaksa si kucing biar mau dikawinkan dengan kucing lainnya. Kalau kucingnya enggak mau, ia pasti akan mencoba untuk melarikan diri,” ungkap Dwi, Mahasiswa STIKI Bali.

Lain lagi dengan Ganesh Com yang digawangi oleh Doni Agustina dan Dedi Budiarta, di mana tim game developer ini berusaha mengangkat kearifan lokal sebagai tema utama dalam permainan digital kreasi mereka. “Nama game ini I Belog. Di sini, selain menampilkan unsurunsur budaya Bali dalam tampilan grafisnya. Kami juga menyisipkan unsur edukasi dan hiburan dalam setiap tantangan yang diberikan dalam game ini,” terang Doni.

Tidak hanya tiga karya dari tiga tim game developer muda Bali di atas yang menarik sorotan, masih ada lima tim lainnya yang telah melahirkan model permainan-permainan digital yang tak kalah dengan ciptaan professional game developer. Ada BS’90 studio dengan game bertajuk “Jump The Stick”, sementara tim Center Concept menciptakan  “Olong Tea Shoot”, Deviro Studio yang membawa isu lingkungan lewat game “Yukk!! Peduli Lingkungan”, dan terakhir Serdadu Studio dengan “Dragonfly” nya. Ketujuh tim game developer muda tersebut dijuluki “Seven Studio”. Mereka nampak antusias memperkenalkan karya-karya mereka di hadapan para mahasiswa Poltekom Bali Widya Dharma. “Ini pertama kalinya, kami mempresentasikan karya-karya dari tim kami di hadapan publik.” ungkap Dwi.

Dari Diklat Siapa sangka ketujuh tim game developer ini lahir dari sebuah program yang digelar oleh Balai Diklat Industri Denpasar. Program diklat tentang “Karakter modelling dan pemrograman Game dengan Android” yang diselenggarakan pada 2013 lalu tersebut diikuti oleh 30 peserta yang notabene pelajar dan mahasiswa serta berhasil melahirkan empat belas peserta terbaik lewat karya-karya game mereka.

“Program diklat tersebut bertujuan untuk menciptakan SDM kreatif di bidang IT, terutama dalam pengembangan game digital. Saya pikir ini juga akan berintegrasi dan mendukung keberadaan Tohpati IT Park sebagai pusat pengembangan IT yang berbasis technopreneur. Karena di sana nantinya juga akan disediakan semacam inkubasi untuk startup,” papar Dwi.

———————————–  Baca juga : Kulkul – MARKETING COMMUNICATION STARTUP RACIKAN LOKAL  ————————————–

Selama masa pendidikan diklat tersebut, Dwi dan rekan-rekannya mengaku bahwa program tersebut mengharuskan mereka untuk menghasilkan sejumlah karya. “Kami awalnya tidak kenal satu sama lain, karena masing-masing dari kami berasal dari sekolah dan universitas yang berbeda,” terang Dwi. Dalam program diklat tersebut, sebanyak 30 peserta harus membagi dirinya menjadi 15 tim yang masing-masing anggotanya hanya terdiri dari 2 orang.

Rizal dari Negative Creative mengatakan bahwa di dalam satu tim developer tersebut dibutuhkan satu orang yang menguasai pemrograman dan satu orang lagi khusus mengerjakan aspek grafis game bersangkutan. “Misalnya seperti dalam tim saya. Saya lihat Giri sangat cepat dalam memahami coding, sehingga ia pun akhirnya yang mengerjakan pemrograman game kami. Sementara saya yang memikirkan konsep dan tampilan grafisnya,” tambah Dwi.

Usut punya usut, seluruh game yang dikerjakan oleh tim-tim peserta diklat tersebut hanya diselesaikan dalam waktu seminggu. “Ya, waktunya mepet sekali. Waktu efektif diklat tersebut hanyalah 3 minggu dan karya itu pun juga harus diselesaikan dalam waktu yang terbatas,” jelas Doni dari tim Ganesha Com. Dalam 2 minggu pertama, para peserta diklat dibimbing dan diberi pengajaran perihal teoriteori pembuatan game. Sisanya, satu minggu terakhir dimanfaatkan oleh tim-tim peserta untuk praktek merampungkan karya-karya game ciptaannya.

Dari 15 tim peserta diklat tersebut disaring menjadi tujuh tim game developer terbaik, yang selanjutnya dijuluki Seven Studio. “Tidak hanya tujuh terbaik, diklat tersebut juga mencari tiga terbaik diantara kami.

Mereka adalah tim Negative Creative, Degree Project, dan Ganesh Com,” tutur Doni. Dwi menegaskan bahwa predikat Seven Studio itu bukan berarti menggabungkan ketujuh tim tersebut dalam satu studio. “Tidak seperti itu, itu hanya julukan dari diklat saja. Selebihnya setiap tim berdiri sendiri dan melanjutkan proyek mereka masing-masing,” ujarnya.

Dedi Fransisco dari tim Centre Concept juga menambahkan bahwa karya-karya dari ketujuh tim ini belumlah rampung secara sempurna. “Semuanya masih butuh tahap pengembangan. Misalnya, tim saya harus kembali menambah dan menyempurnakan level permainan. Buat kami ini belum maksimal, karena sangat sulit membuat game yang sempurna hanya dalam waktu seminggu,” pungkasnya. Doni pun menambahkan, jika karya-karya mereka sudah seratus persen sempurna bukan tidak mungkin akan dipasarkan lewat application store milik Android.

Related News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Flag Counter

Copyright © 2017 ISEEBALI . All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri