static_parade_condenast_com

56% mahasiswa Salah Jurusan, dan 90% diantaranya karena permintaan orang tua!

Pengembangan semangat dan budaya kewirausahaan di lembaga pendidikan formal telah menjadi program nasional. Secara garis besar terdapat tiga faktor utama pendorong gerakan kewirausahaan di Indonesia. Pertama, adanya fakta bahwa kesejahteraan masyarakat di suatu negara sangat ditentukan oleh proporsi wirausaha dari total penduduknya. Semakin tinggi persentase wirausaha, maka semakin sejahtera masyarakatnya. Demi peningkatan kesejahteraan, Indonesia saat ini berupaya meningkatkan jumlah wirausaha dari 0,18% menjadi 2% dari seluruh penduduk Indonesia. Sementara negara-negara lain banyak yang sudah melebihi 4% bahkan tembus 10%.
Kedua, Indonesia masih mengalami over supply tenaga kerja. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka pengangguran pada Februari 2013 sebesar 5,92% atau sebanyak 7,17 juta orang dan 360 ribu orang diantaranya lulusan perguruan tinggi. Masalah pengangguran berpendidikan tentu akan berdampak negatif terhadap stabilitas sosial dan kemasyarakatan.

Ketiga, perkembangan berbagai hasil penelitian mengenai keberadaan wirausaha. Penelitian awal meyakini bahwa wirausaha lahir karena takdir. Penelitian berikutnya menunjukkan bahwa sebagian besar wirausaha tercipta karena faktor lingkungan. Lingkungan keluarga pengusaha cenderung melahirkan pengusaha juga. Penelitian lain menunjukkan bahwa wirausaha lahir karena terpaksa. Misalnya keterbatasan biaya sekolah, memaksa seseorang menjadi wirausaha. Penelitian terkini menunjukkan bahwa wirausaha bisa lahir dari proses belajar.

Mengembangkan kewirausahaan di tengahtengah atmosfer akademis yang kental, bukan perkara mudah. Bila pembelajaran kewirausahaan dilihat sebagai proses komunikasi, terdapat tiga unsur penting yang terlibat, yaitu dosen sebagai komunikator, materi kewirausahaan sebagai pesan, dan mahasiswa sebagai komunikan. Komunikasi dinilai efektif apabila komunikan mau tergerak untuk melaksanakan pesan yang disampaikan komunikator. Permasalahan yang dihadapi dalam menciptakan wirausaha baru di lingkungan kampus dapat pula dilihat dari ketiga unsur tersebut. Pertama, kemampuan dosen (komunikator) untuk sekaligus menjadi mentor dan motivator bisnis yang baik bagi anak didiknya relatif rendah. Walaupun diberikan berbagai pelatihan kewirausahaan, tapi kalau tidak pernah punya pengalaman sebagai wirausaha, dosen bisa dinilai omong kosong oleh anak didiknya.
Kedua, materi kewirausahaan belum tersusun secara pragmatis. Proporsi teori masih mendominasi dan masih lebih menekankan pada hard skill ketimbang soft skill. Metode pembelajaran belum ada sentuhan kreativitas, masih klasikal dan ceramah satu arah, sehingga aktivitas mahasiswa lebih banyak hanya mendengar. Ini tentu membosankan dan tidak dapat membangkitkan semangat berwirausaha.
Ketiga, mahasiswa (komunikan) adalah sosok anak muda sebagian besar dari mereka masih berorientasi sebagai job seeker, bukan job creator, sehingga tidak memberi perhatian atau menyediakan porsi waktu yang cukup untuk aktivitas kewirausahaan.

——————————————– Baca juga : Branding UMKM —————————————————

Ada beberapa hal menarik yang diperoleh dari hasil jajak pendapat yang dilakukan pada 2010 oleh Pusat Pengembangan Kewirausahaan Unud terhadap 100 mahasiswa Unud yang diambil secara acak dari berbagai fakultas. Sebanyak 56% dari responden mengatakan dirinya salah jurusan dan 90% dari mereka yang mengaku salah jurusan mengatakan terpaksa mengikuti kemauan orang tua. Sebanyak 76% dari responden mengatakan mengikuti aktivitas kewirausahaan secara sembunyisembunyi dan ketika ditanya apakah orang tua mengijinkan atau mendukung menjadi pengusaha, ternyata 91% mengaku tidak memperoleh dukungan orang tua.

Keputusan menyangkut masa depan dan karir generasi muda ternyata masih didominasi oleh kemauan orang tua dan keluarga. Masih banyak orang tua yang beranggapan bahwa wirausaha bukan profesi yang menarik dan dinilai terlalu berisiko. Dukungan modal untuk usaha tidak ada. Tetapi, kalau untuk menyogok sampai ratusan juta rupiah supaya dapat pekerjaan, ada. Semestinya orang tua dan keluarga bisa menjadi angle investor bagi usaha anaknya dan sadar bahwa risiko ada dimana saja.

Masih di seputar hasil jajak pendapat, seluruh responden (100%) mengharapkan dosen bisa menjadi role model dalam pengembangan kewirausahaan di kampus. Ini tantangan dilematis bagi para dosen yang tidak memiliki pengalaman menjalankan bisnis. Untuk keberhasilan pendidikan kewirausahaan, kita tidak bisa serta merta menuntut dosen melakukan dwi fungsi profesi, sebagai tenaga pendidik sekaligus pebisnis. Salah sedikit bisa kena sanksi karena melanggar peraturan.

Apakah itu berarti lembaga pendidikan tidak mungkin mencetak wirausaha? Tugas pokok fungsi perguruan tinggi kan mencetak sarjana, bukan mencetak wirausaha? Tentu tidak demikian. Perguruan tinggi bisa, bahkan sangat bisa mencetak sarjana sekaligus wirausaha, asalkan bersinergi dengan pelaku bisnis dan asosiasi pengusaha, baik dalam bentuk pendidikan dan pelatihan, pendampingan, maupun permodalan usaha. Demikian juga dengan BUMN, BUMD, dan perusahaan swasta sebaiknya mengarahkan program Corporate Social Responsibility (CSR) -nya pada pengembangan kewirausahaan di lembaga pendidikan.

Dengan demikian perguruan tinggi tidak hanya mencetak sarjana yang sekedar berpengetahuan wirausaha saja, tetapi juga benar-benar siap atau telah berwirausaha. Dalam prosesi wisuda di masa mendatang tidak hanya diumumkan berapa jumlah sarjana yang berhasil dicetak, tetapi juga jumlah wirausaha dan jumlah tenaga kerja yang berhasil diserap. Alangkah indahnya. Amin

Related News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Flag Counter

Copyright © 2018 ISEEBALI . All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri