(iamag.co)

A Monster Calls

Satu lagi film tentang relasi bocah dan monster, setelah bfG dan Pete’s Dragon, kini giliran Juan Antonio bayona, sutradara asal Spanyol yang sebelumnya terkenal berkat horor ciamik The Oprhanage-nya unjuk gigi dengan A Monster Calls. Tetapi berbeda dengan dua koleganya, A Monster Calls yang merupakan adaptasi dari novel milik Patrick Ness ini jauh dari kesan ceria. Menghadirkan tema low fantasy, yang berarti batasan-batasan antara dunia nyata dan fantasi terasa kabur tanpa ada penjelasan rasional tentang sebab akibatnya membuat narasi A Monster Calls terasa lebih kompleks untuk disantap para penonton muda, apalagi ia memuat cerita tentang pencarian jati diri seorang bocah 12 tahun yang harus berjibaku dengan dirinya sendiri yang tengah gundah karena sang ibu tercinta tengah sekarat karena kanker ganas.

Premis dasarnya memang terlihat sederhana dan terkesan cengeng, tetapi A Monster Calls kemudian menjadi spesial ketika elemen fantasinya bekerja dengan baik, masuk ke dalam dunia nyata dalam wujud monster pohon raksasa yang disuarakan oleh Liam Neeson. Sang Monster datang setiap tengah malam untuk menceritakan masing-masing tiga cerita kepada Conor O’Malley (Lewis MacDougall), sang bocah malang yang harus menghadapi situasi sulit di usianya yang masih sangat belia. Hampir setiap hari ia diganggu teman sekolahnya, sepulang sekolah ia harus menerima kenyataan menyakitkan melihat ibunya (felicity Jones) berjuang menghadapi kanker stadium akhir. Sementara sang Ayah (Toby Kebbell) memilih untuk tinggal jauh darinya. Yang tersisa hanya sang nenek (Sigourney Weaver) yang tidak disukainya.

Perpaduan dark fantasy, drama pendewasaan diri atau coming of agedan muatan-muatan tema tentang cinta, duka, kehilangan dan kesendirian tentu saja menjadikan A Monster Calls bukan jenis monster movie yang bisa ditonton untuk bersenang-senang. Dengan materi “berat” seperti itu A Monster Calls sedikit banyak mengingatkan saya pada Pan’s Labyrinthnya Guillermo del Toro yang sama suram dan pahitnya. Relasi tak biasa antara sosok monster dan Conor tentu menjadi pusat gravitasi buat A Monster Calls. Melihat bagaimana kombinasi penyutradaraan lembut bayona dan Patrick Ness yang ditunjuk untuk mengurus naskahnya mampu bersinergi dengan sempurna dalam usahanya mengeksplorasi sisi terdalam sang bocah dalam menghadapi problematikanya yang diwakili melalui dongeng-dongeng depresif yang diceritakan si monster pohon.

Setiap cerita divisualisasikan oleh presentasi cantik animasi stop motion dengan sentuhan gaya cat air penuh imajinasi, setiap cerita punya pesan-pesan kuat yang merepresentasikan kehidupan Conor, setiap cerita menjadi sangat penting dalam usaha bayona menguatkan kepribadian Conor, membangun emosi, mengerti dan bersimpati dengan Conor sampai kemudian bayona membawa hati penontonnya hancur di klimaksnya sebelum disembuhkan kembali oleh sebuah ending yang manis.

Kudos buat penampilan apik Lewis MacDougall yang sukses menjadi jiwa dan hati buat A Monster Calls sementara Liam Neeson tampil sama hangat dan angker melalui suara beratnya sebagai sang Monster. felicity Jones dan Sigourney Weaver mungkin tidak terlalu banyak dieksplorasi mengingat bayona seperti ingin mengambil semuanya dari sudut Conor dengan cara pandang bocah 12 tahun, membiarkan para orang dewasanya hanya sekedar menjadi bagian konflik yang terdengar dan terlihat sekilas.

Bayona seperti membawa kita kembali ke masa kecil di mana terkadang kita merasa tak aman dan takut tanpa pernah benar-benar mengetahui bagaimana cara menghadapinya. Bayona sukses memberikan batasan abuabu antara kenyataan dan imajinasi. Apakah monster itu nyata atau hanya sekedar ada di kepala Conor yang merupakan proyeksi dari alam bawah sadarnya yang berfungsi memperingati sekaligus melindunginya? Ada petunjuk di sana, tetapi semua kembali kepada penonton untuk memutuskan, pada akhirnya, nyata atau sekedar imajinasi semua ceritanya kembali kepada bagaimana sosok bocah 12 tahun menghadapi kenyataan hidup untuk mencari jati dirinya melalui cara yang tidak biasa dan berdamai dengan lingkungan dan dirinya sendiri.

Related News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Flag Counter

Copyright © 2018 ISEEBALI . All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri