RHM_1015crop edit atas alis

A New Star is Born

Semenjak lagu Keep Being You wara-wiri di tahun 2014, nama Isyana Sarasvati mulai difavoritkan. Talentanya bahkan disandingkan dengan penyanyi Raisa Andriana. Suara “emas”, musikalitas mumpuni, dan paras ayu menjadi magnet yang mampu menarik antusiasme para pencinta musik tanah air terhadap sosok perempuan yang akrab disapa Isyana ini.

Bahkan ketika single keduanya rilis di pertengahan 2015 lalu yang bertajuk Tetap Dalam Jiwa, bintang Isyana kian bersinar. Padahal saat itu, penyanyi kelahiran Bandung, 2 Mei 1993 belum merilis satu album penuh. Dua single tersebut dirancang sebagai jembatan untuk menuju album debutnya yang rilis di penghujung 2015 bertajuk Explore.

Menariknya, dua single yang ditujukan sebagai perkenalan sosoknya di industri musik nasional justru mampu membuatnya menorehkan prestasi cemerlang. Sebut saja salah satunya yang paling hangat adalah penghargaan Anugerah Musik Indonesia (AMI Awards) 2015 yang berhasil diraih Isyana. Tak tanggungtanggung, dua predikat terbaik dikantonginya, yakni Pendatang Baru Terbaik dan Solo Pria/Wanita Soul atau RnB Terbaik. Sebelumnya ia juga dinominasikan di ajang NET. Indonesian Choice Awards 2015.

Nama Isyana memang masih terdengar baru di industri musik Indonesia, tapi sejatinya karir bermusik Isyana telah dirintisnya sejak kecil. Sebelum merilis single, Isyana juga kerap menghiasi laman YouTube dan Soundcloude lewat lagu-lagu cover yang diunggahnya. Putri dari Luana Marpanda dan Sapta Dwikardana ini bahkan sudah mahir memainkan alat musik dan mengaransemen lagunya sendiri sejak di usia dini. Piano, organ elektronik, flute, serta saksofon adalah sejumlah alat musik yang dikuasai oleh Isyana.

Saat berusia 18 tahun, Isyana juga telah menorehkan prestasi dengan tampil di pentas musik dunia, seperti di Asia Pasific Electone Festival yang digelar di Singapura pada tahun 2011 lalu dan mampu meraih predikat Grand Prize. Adik dari Rara Sekar, vokalis band indie Bandaneira ini juga pernah terpilih sebagai salah satu dari 15 komposer electone dunia yang tampil di ajang Yamaha Electone Concours di Tokyo pada 2012 silam. Ia juga mendapatkan Gold Certificate di gelaran 5th Bangkok Opera Foundation Singing Competition Bangkok pada 2013.

Perempuan berambut panjang ini memiliki jangkauan vokal yang luas, bahkan ia mampu bernyanyi opera dengan sempurna. Isyana juga tidak main-main dalam mengejar passion musiknya. Ia menempuh pendidikan musik di Nanyang Academy of Fine Arts, Singapura dan berhasil meraih gelar diploma berpredikat cum laude. Tak habis sampai di sana, ia juga mendapatkan beasiswa penuh untuk melanjutkan studi di Royal College of Music, Inggris.

Dengan berbekal talenta, prestasi, dan pengetahuan musik membuat sosok Isyana bukan sekadar seorang penyanyi, tapi juga musisi muda yang profesional dan menjanjikan. Beruntung dalam sebuah kesempatan, tim M&I Magazine dapat mewawancarai Isyana perihal karir, album, dan passion bermusiknya itu. Berikut petikan panjangnya!

Bisa ceritain enggak bagaimana awalnya Isyana mendapat tawaran rekaman bersama Sony Music?

Waktu itu aku liburan kuliah dan pulang ke Bandung, tiba-tiba ada pihak dari Sony Music Indonesia dan Sony Music Asia Pacific berkunjung ke rumah. Mereka menawarkan aku buat bergabung ke label mereka, karena mereka sempat melihat video-video aku di YouTube. Nah, kebetulan juga saat itu aku sudah semester akhir. Pas banget waktunya dan tek-tok annya juga seru. Jadi aku putuskan untuk mengambil tawaran tersebut. Mereka juga mau mengenal lebih dalam musik aku. Aku coba mainkan piano dan compose lagu di tempat, lalu mereka bilang kalau aku itu bukan singer, tapi penulis lagu yang kebetulan juga bisa nyanyi. Mereka kemudian mengajak aku rekaman di Swedia. Dari sana lah aku mulai kontrak label dengan Sony hingga jalan sekarang, baru setahun sih!

Oh ya kakak kamu, Rara Sekar juga terjun ke musik kan lewat band indie Bandaneira, apakah itu juga yang mendorong kamu untuk mendalami musik?

Sebenarnya aku yang duluan berkarir di musik ketimbang kakak. Hanya saja dari sejak awal yang aku mainkan hanya musik klasik. Dan itu enggak banyak orang tahu. Kan komunitas pencinta musik ini juga lebih kecil. Sama mama, aku memang sejak kecil sudah dikenalin sama musik, cuma baru sekarang saja masuk ke dunia label. Dari sejak kecil memang aku sudah jatuh cinta dengan musik klasik. Meski begitu, aku juga berkenalan dengan genre-genre musik lainnya lewat musik kesukaan Ayah dan kakak aku.

Bagaimana awalnya Isyana bisa tertarik cover lagu penyanyi-penyanyi lainnya dan mengunggah ke Soundcloud dan YouTube?

Awalnya itu karena kakak aku. Dia minta aku untuk ngiringin dia cover lagu buat diupload ke Soundcloud dan YouTube. Aku bingung sendiri mau mainin lagu apa. Terus dia minta aku ngiringin dia nyanyi lagunya Justin Bieber, tapi dengan agak nge-jazz. Waktu dia bilang mau putar di YouTube, aku sempat mikir, karena awalnya masih idealis banget. Tapi, akhirnya ya udah, aku coba aja.

Sekarang masih suka cover lagu?

Kadang-kadang aku sempetin kalau lagi enggak sibuk, tapi sekarang jadi makin jarang upload-nya.

Apa yang menarik dari musik klasik itu sendiri?

Terkadang susah juga ya ngejelasinnya. Soalnya dari kecil, aku memang belajar klasik dan aku rasa passion-aku sendiri memang di situ. Bagi aku, musik klasik itu benar-benar berbicara, karena waktu aku memainkannya, aku sendiri seolah masuk ke dalam lagunya, dari per elemennya bisa ku rasain. Juga memang musik klasik itu kerap menggambarkan perasaanku.

Musisi klasik siapa yang pertama kali kamu dengar?

Wah, banyak banget ya. Tentunya Bethoven, Mozzart, JS Bach, dan lain-lain.

Bisa ceritakan tentang proses rekaman album terbaru kamu?

Proses rekamannya sekitar 15 hari untuk membuat 14 lagu dalam satu album itu. Semua materi, saya buat sendiri. Ada materi yang saya sudah bawa dan ada juga materi yang baru dipikirin di tempat rekaman. Sebenarnya, kebanyakan lagu yang aku captain untuk album ini aslinya berbahasa Inggris, cuma kemudian akhirnya aku terjemahin lagi ke Bahasa Indonesia saat rekaman di Swedia.

Tapi, dua single kamu kan cenderung nge-pop. Apakah itu tidak bertentangan dengan genre klasik yang kamu sukai?

Enggak juga sih, aku memang suka keduaduanya kok. Memang album pertama ini root-nya lebih ke pop. Aku pribadi sih suka dengan semua genre. Di sini pop aku eksplor lebih banyak lagi dengan menggabungkan berbagai influence musik. Kayak single pertama aku, Keep Being You itu kan pop-nya sangat R&B. Tetap Dalam Jiwa sebagai single kedua juga membawa unsur musik klasik saat intronya dan benar-benar berbicara, karena waktu aku memainkannya, aku sendiri seolah masuk ke dalam lagunya, dari per elemennya bisa ku rasain. Juga memang musik klasik itu kerap menggambarkan perasaanku.

 

Bagi aku, musik klasik itu benarbenar berbicara, karena waktu aku memainkannya, aku sendiri seolah masuk ke dalam lagunya, dari per elemennya bisa ku rasain. Juga memang musik klasik itu kerap menggambarkan perasaanku.” 

 

Musisi klasik siapa yang pertama kali kamu dengar?

Wah, banyak banget ya. Tentunya Bethoven, Mozzart, JS Bach, dan lain-lain.

Bisa ceritakan tentang proses rekaman album terbaru kamu?

Proses rekamannya sekitar 15 hari untuk membuat 14 lagu dalam satu album itu. Semua materi, saya buat sendiri. Ada materi yang saya sudah bawa dan ada juga materi yang baru dipikirin di tempat rekaman. Sebenarnya, kebanyakan lagu yang aku captain untuk album ini aslinya berbahasa Inggris, cuma kemudian akhirnya aku terjemahin lagi ke Bahasa Indonesia saat rekaman di Swedia.

Tapi, dua single kamu kan cenderung nge-pop. Apakah itu tidak bertentangan dengan genre klasik yang kamu sukai?

Enggak juga sih, aku memang suka keduaduanya kok. Memang album pertama ini root-nya lebih ke pop. Aku pribadi sih suka dengan semua genre. Di sini pop aku eksplor lebih banyak lagi dengan menggabungkan berbagai influence musik. Kayak single pertama aku, Keep Being You itu kan pop-nya sangat R&B. Tetap Dalam Jiwa sebagai single kedua juga membawa unsur musik klasik saat intronya dan
menyisipkan beat urban di pertengahan lagu. Pokoknya album pertamaku ini sangat eksploratif. Aku menyebut genre di album ini adalah pop eksplorasi.

Selamat untuk single keduanya yang jadi hits di mana-mana. Ngomong-ngomong lagu itu inspirasinya dari mana?

Kalau Tetap Dalam Jiwa itu sebenarnya inspirasinya dari curhatan teman sih. Teman ada yang lagi patah hati waktu itu. Aku bikin lagu ini, dari nulis sampai jadi sekitar 2 jam. Video klip nya yang sudah tayang itu konsep visualnya mencoba menggabungkan dunia yang surealis dan realis, antara si cowok dan si cewek.

Tak banyak penyanyi yang mendalami musik hingga ke perguruan tinggi, tapi Isyana sangat serius menempuh pendidikan formal di musik. Mengapa?

Semenjak aku ikut lomba-lomba musik sejak kecil, aku tahu pasti kalau passion aku itu di sini. Malah sebenarnya, aku ini bisa dibilang terjun pertama kalinya sebagai komposer dan instrumentalis, nyanyi itu malah baru belakangan. Ya, katakan saja seperti musisi yang kebetulan bisa nyanyi. Dari sekitar umur 9 atau 10 tahun gitu, aku sudah mikir ke depannya untuk bisa sekolah di universitas yang ada jurusan musiknya. Karena aku ingin musik itu sendiri bisa menjadi sebuah profesi, bukan lagi sekadar hobi. Aku pikir kalau mau seperti itu enggak afdol rasanya kalau enggak sekolah dan enggak digodok mentalnya sebagai fulltime music student. Aku sekolah musik itu biar mentalku digodok agar bisa menjadi musisi yang profesional. Kita setiap hari dilatih, mindset kita dibentuk, biar kita bisa menjadi seorang yang profesional. Intinya ini memang sudah menjadi cita-cita aku sejak kecil, aku ingin jadi seorang Maestro.

Apa rencana Isyana ke depannya untuk karir dan impian lainnya yang ingin diwujudkan?

Aku ingin fokus dulu untuk promo album ke depannya. Tentu saja punya sekolah musik sendiri dengan akademik yang aku rancang sendiri adalah salah satu impian yang ingin juga aku wujudin.

Related News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Flag Counter

Copyright © 2017 ISEEBALI . All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri