IMG_4329 (2)

Agung Oka Sudarsana (Timeline Studio) Animasi Jepang Made in Bali

Sebuah studio animasi Bali berkontribusi dalam pembuatan sejumlah kartun populer produksi Jepang.

Siapa sangka kartun-kartun populer asal Jepang, seperti Doraemon, Crayon Sinchan, dan One Piece dikerjakan di Bali. Ya, tepatnya di sebuah studio animasi bernama Timeline Studio yang dirintis oleh Agung Oka Sudarsana bersama saudaranya Agung Sanjaya. Studio yang berlokasi di bilangan Gatot Subroto Barat ini kerap menerima proyek dari beberapa studio animasi Jepang ternama, bahkan proyek animasi dari Hollywood pun pernah dikerjakannya.

Untuk proyek-proyek animasi luar, Timeline Studio biasanya dilibatkan dalam pengerjaan background animasi saja. Misalnya di setiap seri Crayon Sinchan, Timeline bisa memproduksi 100 buah latar belakang animasi yang dirampungkannya dalam waktu seminggu. Detil-detil rumah beserta kelengkapannya, pohon-pohon, langit biru, halaman, dan segala macam suasana latar belakang animasi. Tercatat lebih dari 30 judul film animasi Jepang yang elemen latar belakangnya dikerjakan oleh Timeline Studio. Selain Sinchan dan Doraemon, ada serial animasi lainnya yang banyak digandrungi anak-anak, seperti One Piece, Prince of Tennis, Fairy Tale, B-Daman, dan lain-lain

Tak hanya menerima proyek film animasi dari luar negeri, di dalam negeri pun Timeline sering mendapat tawaran proyek dalam negeri. Misalnya mengerjakan film animasi pendek, iklan-iklan animasi dari produk makanan ringan, video klip musik hingga pengerjaan visual efek sebuah film lokal. Bahkan Timeline juga pernah diajak kerja sama dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia beberapa tahun lalu untuk mengerjakan seri-seri dari animasi Cerita Rakyat Nusantara.

Oleh Agung Oka Sudarsana, bisnis Timeline Studio pun dikembangkan sedemikian rupa. Tidak hanya berkutat di animasi dan multimedia, tetapi juga merambah dunia pendidikan dan event organizer. Bahkan lewat sekolah animasi, Bali Media College yang didirikannya sejak 2013 lalu, ia bercita-cita untuk mencetak SDM-SDM profesional bidang animasi yang siap pakai di industri.

Money & I Magazine berkesempatan mewawancarai Agung Oka di kantor Timeline Studio. Pria asli Negara ini pun menceritakan latar belakang berdirinya Timeline dan aktivitas kreatif di dalamnya. Berikut petikan wawancara panjangnya!
Boleh tahu sekarang Timeline Studio sedang sibuk mengerjakan project apa?

Sedang mengerjakan proyek animasi untuk LSM Internasional tentang kampanye pemberantasan rabies. Nantinya kampanye dengan kemasan animasi ini akan diputar di beberapa negara di Asia. Sekarang masih tahap produksinya. Kalau proyek animasi Jepang sih masih kami kerjakan, salah satunya Sinchan The Movie. Studio animasi Jepang memang lebih lancar memberikan project, mungkin karena networking kami yang lebih kuat di sana dan mereka tahu kualitas kami seperti apa. Kebanyakan studio animasi di Indonesia itu seperti pengrajin. Kalau ada yang ngorder baru bisa kerja.

 

Kalau project Sinchan akan ada tim dari tiga negara yang mengerjakan, yakni Bali, Korea dan Jepang untuk mastering dan finishing keseluruhan materinya. Setelah pengerjaan detil, seperti background dan karakter selesai baru yang studio Jepang mengerjakan tahap produksi akhirnya..”

 

Bagaimana cikal bakal pendirian Timeline Studio ini?

Kenapa saya membuat studio animasi di Bali ini sebenarnya awalnya untuk memenuhi permintaan seorang klien dari salah satu studio animasi Jepang yang waktu itu ingin memberikan project untuk saya, tapi dia minta agar kami mengerjakannya di Bali. Ia menaruh ekspektasi yang tinggi terhadap tenaga kerja animasi di Bali, karena dia pikir SDM di sini tidak terlalu mahal dan bisa meringankan ongkos produksi mereka. Nah, saya ditantang untuk mewujudkan studio animasi di sini dan saya pikir kenapa enggak, toh dari segi skill kita enggak kalah kok.

Di awal-awal Timeline ini berdiri, proyek yang kami terima lebih fokus pada pengerjaan background animasi. Bukan di karakter, karena waktu itu animasi belum ngetrend di Bali, jadi masih sulit mencari orang yang skill-nya bisa membuat gambar bergerak. Alhasil yang bisa dimulai lebih cepat hanya untuk pengerjaan background. Kebetulan di Bali kita banyak punya bakatbakat pelukis. Pembuatan background ini sangat cocok dengan skill yang mereka punya. Tinggal beri sedikit pengarahan saja sudah bisa membuat background yang diharapkan.

Di Indonesia sendiri, Anda tahu ada berapa banyak studio animasi seperti Timeline ini?

Di Indonesia sendiri, enggak cuma studio kami yang eksis. Ada kok studio animasi besar di Batam, bahkan perusahaan mereka lebih besar dengan tenaga kerja animator mencapai ratusan. Orderannya pun juga banyak dari Singapura dan Jepang. Perkembangan studio animasi di Batam sangat pesat, terutama karena adanya banyak permintaan dari studio animasi Singapura yang biasanya mengerjakan proyek Hollywood. Saya pikir studio yang di Batam ini berdiri juga karena adanya permintaan dari industri animasi di Singapura.

Bisa ceritakan bagaimana sistem pengerjaan proyek animasi yang dilimpahkan dari studio animasi Jepang kepada Timeline Studio?

Kerja project seperti ini kan kerja tim. Masingmasing seri itu pengerjaannya satu bulan. Nanti timnya akan dibagi. Kalau project Sinchan akan ada tim dari tiga negara yang mengerjakan, yakni Bali, Korea, dan Jepang untuk mastering dan finishing keseluruhan materinya. Setelah pengerjaan detil, seperti background dan karakter selesai baru yang studio Jepang mengerjakan tahap produksi akhirnya. Biasanya satu studio bisa menangani puluhan proyek. Nah mereka secara rutin menyalurkan proyek itu ke kita. Bahkan satu studio saja, saya kewalahan menanganinya, karena terlalu banyak seri sementara SDM kita terbatas. Kalau mau nambah di divisi background itu kita harus training dan ngajar mereka lagi. Itu butuh waktu lama. Jadi kita kerjakan apa yang kita bisa saja dulu.

Kalau diperhatikan secara seksama, animasi Jepang itu antara suara dubbing dan gerakan mulutnya pasti enggak pas. Beda dengan animasi Walt Disney itu pasti pas antara mimik dan suaranya. Karena proyek pengerjaan di sana sistem kerjanya beda. Mereka dubbing dulu baru gambar. Tapi kalau di Jepang, gambar dulu baru dubbing, makanya sering enggak pas. Kami pernah kok ngambil project dari Amerika dan memang cenderung lebih sederhana pengerjaannya.

 

Kebanyakan studio animasi di Indonesia itu seperti pengrajin. Kalau ada yang ngorder baru bisa kerja..”

 

Perbedaan apa yang mendasar dari pengerjaan background dengan karakter?

Secara teknis keduanya sangat berbeda. Kalau pembuatan karakter itu harus memikirkan gerakan. Kalau membuat background itu ya seperti melukis. Tapi tidak boleh asal, harus memperhatikan penataan jauh dekat warna. Kalau sekarang anak-anak yang ikut training sama saya malah cenderung tertarik mengerjakan karakter animasi, sehingga background dilupakan. Padahal elemen ini sama pentingnya dengan karakter. Di samping itu, memang sekolah animasi yang konsentrasinya untuk pembuatan background belum ada di Bali.

Berdasarkan pengalaman Anda, gambaran besar dari proses produksi film animasi itu sendiri seperti apa?

Seperti yang sempat saya katakan bahwa ini kerja tim. Biasanya akan ada satu orang yang ditunjuk untuk membuat story board, semacam alur cerita beserta dialog-dialognya. Kemudian barulah menuju proses drawing terhadap background dan karakter animasi yang ingin diciptakan. Tiga komponen lainnya yang sangat urgen adalah proses dubbing, scoring dan editing. Dubbing adalah tahap yang paling rumit dalam produksi film animasi. Kami harus menemukan karakter suara yang pas dengan karakter animasi. Kami mesti menyeleksi banyak orang untuk ini. Saking krusialnya, pergerakan gambar pun belum bisa diproses jika proses dubbing belum terselesaikan. Tahap terakhir adalah editing yang menyatukan seluruh gambar dengan audio, sehingga menghasilkan serangkaian pergerakan animasi yang sempurna.

 

KERJA DI INDUSTRI ANIMASI ITU SANGAT CERAH SEKALI, ASALKAN JANGAN CARI KERJANYA DI INDONESIA. KALAU BISA KERJA DI LUAR DULU BEBERAPA TAHUN, KALAU SUDAH PUNYA NETWORKING YANG KUAT BISA DIKERJAKAN DI INDONESIA. ~AGUNG OKA~

 

Bagaimana Anda melihat minat kalangan muda terhadap profesi animator? Apakah banyak SDM animator di Bali yang bisa bersaing di industri animasi itu sendiri?

Memang banyak SDM pemula. Pemula yang ingin sekali belajar animasi. Awalnya mereka semangat sekali, tetapi kan ketika masuk industri kita enggak boleh seenaknya menggambar. Pasti harus sesuai dengan permintaan dari yang meng-order. Tidak bisa seenak sendiri bikin karakter. Kalau sendiri-sendiri sih gimana aja bisa, mau karakter gerakannya salah juga enggak kenapa. Tapi setelah masuk industri kan beda. Kebanyakan dari mereka kemudian stress yang berdampak pada kualitas gambar mereka sendiri jadi menurun. Padahal kan tuntutan industrinya mengharuskan gambar mereka harus sama seperti yang diminta pemesan.

Lalu banyak dari mereka yang enggak mampu bertahan dari tekanan industri semacam ini. Saya dorong mereka, coba lagi dan coba lagi. Kerja di animasi itu harus dengan senang hati. Di sana saya mengamati perlahanlahan mereka berguguran. Saya juga melihat banyak dari mereka yang salah masuk “kamar”. Artinya mau belajar animasi, tapi malah masuk desain grafis. Tentu keduanya sangat berbeda. Selain itu pendidikan sama permintaan di industri jomblang. Kalau di pendidikan menekankan individu, sementara di industri menekankan semangat kerja tim. Kalau di sekolah mereka dibebaskan membuat animasi apa saja, tapi kalau sudah masuk ke industri kan enggak bisa terserahterserah

Itu sebabnya Anda membuka sekolah animasi, Bali Media College tersebut?

Ya Bali Media College memang dirancang untuk mempersiapkan profesional animator yang siap pakai di industri. Dari sejak dibuka pada 2013 lalu, sudah tiga angkatan yang kita punya. Peminatnya malah lebih banyak dari luar, seperti Surabaya, Jogja, dan Solo. Saat ini saudara saya Agung Sanjaya yang lebih banyak fokus menjalankan sekolah ini. Sebenarnya di sini lebih menekankan pada kursus singkat selama 6 bulan dan menekankan profesionalitas. Mereka akan mendapatkan sertifikat setelah lulus. Sebenanrya yang dibutuhkan di industri kan lebih ke skill-nya, jadi enggak perlu gelar diploma.

Kalau di Bali sendiri mulai banyak sekolah multimedia bermunculan. Tidak hanya yang levelnya perguruan tinggi, tetapi juga sekolah kejuruan. Apakah tidak ada yang Anda lihat sangat matang dalam mengajarkan animasi?

Ada satu SMK di Bali yang saya lihat punya potensi, yakni SMK 1 Sukawati. Sekolah ini sangat serius untuk jurusan animasinya. Bahkan beberapa siswanya training di sini. Lulusannya malah ada yang kita arahkan supaya berkarir di Batam terus ekpansi ke Singapura, supaya enggak cuma konten lokal saja dan juga membuat mereka lebih berkembang.

Dari Batam dapat peluang terus ke Singapura. Boleh flashback , bagaimana Anda memulai karir sebagai seorang animator?

Saya memulai karir pertama kali sebagai animator itu di Jepang pada tahun 1990. Saya di sana hampir 5 tahun sampai akhirnya memutuskan kembali ke Bali dan mendirikan Timeline Studio. Sebenarnya latarbelakang saya dulu adalah perhotelan. Saya sempat kerja di sebuah hotel bintang lima di daerah Kuta. Saat itu saya pernah mencicipi room division dan cook. Nah, dapat tawaran kerja di animasi ini pun tidak sengaja.

Saya dulu suka jual lukisan karya saya ke tamu. Waktu itu ada tamu Jepang beli lukisan saya. Saya jual murah ke dia, karena saya memang lagi butuh uang. Ia kemudian kontak ke temannya di Jepang dan bilang kalo lukisan saya itu seperti bukan lukisan Bali, malah lebih ke kartun. Karena dilihat saya punya bakat, mereka pun langsung menawari saya untuk belajar animasi ke Jepang. Iya belajar, belum kerja saat itu. Saya mikir lagi kalau belajar dan enggak kerja nanti bagaimana hidup saya di Jepang. Tapi kemudian dia bilang kalau saya mau belajar dulu setahun, dijanjikan akan langsung dapat pekerjaan di sana. Belajarnya langsung di studio animasi, seperti magang.

Karena sudah punya basic, jadi saya mudah beradaptasi dengan kerja mereka, tinggal bagaimana harus mengikuti gambar agar tetap sama dan sesuai dengan selera klien. Dengan berbekal passion menggambar inilah yang membuat saya betah bekerja di industri ini.

Bagaimana menurut Anda prospek dari profesi animator itu sendiri? Cerahkah?

Bagi saya, kerja di industri animasi itu sangat cerah sekali, asalkan jangan cari kerjanya di Indonesia. Kalau bisa kerja di luar dulu beberapa tahun, kalau sudah punya networking yang kuat bisa dikerjakan di Indonesia. Kerjaan untuk animator di Indonesia masih sedikit. Kalau pun ada, tetapi dalam hal apresiasi masih kurang. Industrinya belum ada di sini. Saya belum tahu nanti 5 tahun ke depan apakah profesi animator bisa cukup menjanjikan di Indonesia. Kita lihat saja nanti.

Apakah ada rencana pengembangan bisnis lainnya di Timeline?

Untuk pengembangan bisnis selanjutnya, kita mau membuat game, sebuah mobile game dan bisa dijual di internet. Peluang game di Indonesia cukup bagus, terutama untuk game berbasis mobile, bukan game console.

Related News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Flag Counter

Copyright © 2018 ISEEBALI . All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri