IMG_8665crop

Anom Wijaya Darsana – MUSIC GENERATOR, CREATIVE INSPIRATOR

Air muka Anom Wijaya Darsana tampak cerah siang itu di beranda Antida Recording Studio. Ia tengah bergurau dengan I Gusti Ngurah Adi Putra atau akrab disapa Gung Alit yang notabene merupakan salah satu seniman sohor Bali yang mendunia berkat karya musik etniknya. Perbincangan mereka tak lepas dari topik musik, instrument, dan proses rekaman. Usut punya usut, Gung Alit memang sedang merampungkan rekaman untuk salah satu karyanya di sana.

Tak hanya musisi sekaliber Gung Alit yang mempercayakan musiknya direkam di Antida Recording Studio, melainkan sejumlah musisi lokal seperti Ito Kurdi, Rio Sidik, Uri, Erik Sondy, Nosstress, Dialog Dini Hari, Gecko, Discotion Pill, Ripper Clown, hingga Scared of Bums. Bahkan musisi-musisi Internasional layaknya Michael Franti, Afro Moses, dan Bam Margera (Jackass) juga pernah mencicipi kualitas studio rekaman Antida. Teknologi recording mutakhir, alat-alat perekam suara berkualitas tinggi, serta pengalaman sembilan tahun di bidang sound engineering, membuat Antida Recording Studio melenggang ke puncak sebagai salah satu studio rekaman musik terbaik di Bali, atau bahkan di Indonesia.

Adalah Anom Wijaya Darsana, otak kreatif yang menggerakan denyut berkesenian di Antida Recording Studio. Semenjak dicetuskan olehnya pada tahun 2004, pria yang terkenal dengan panggilan Anom Darsana itu pun menanamkan mimpi-mimpinya di dunia sound engineering. Anom Darsana bukan orang baru untuk itu. Secara profesional, ia telah terlibat dalam banyak proyek live music bertaraf Internasional sebagai teknisi musik. Bahkan sempat membantu konser musisi-musisi ternama di Eropa seperti Phil Collins, Trilok Gurtu and Sinsemillia. Pergaulannya yang cukup luas di industri musik nasional maupun Internasional membuat nama Anom Darsana sebagai professional sound engineer selalu direkomendasikan.

“Antida merupakan gabungan dari nama saya dengan istri, AnomTiziana Darsana,” ungkap pria kelahiran 31 Mei 1972.  Antida menyimpan visi yang lebih besar dari sekadar studio rekaman. Berbekal ide kreatif dan jaringan pertemanan yang luas di kalangan seniman, pria asli Kesiman ini pun memprakarsai berdirinya sebuah ruang apreasiasi seni terbuka bernama Serambi Art Antinda. Sempat mati suri dalam kurun satu setengah tahun, ‘art space’ tersebut berganti wajah menjadi Antida Soundgarden. Tak jauh beda, Antida Soundgarden mewarisi semangat Serambi Art Antinda yang ingin memberikan wadah bagi para seniman lokal untuk bisa menunjukan karya-karya terbaiknya di kota Denpasar.

“Lebih Baik Halaman Rumah Sendiri, Walaupun Ngontrak”, tagline komikal yang menghiasi poster Antida Soundgarden di laman facebook-nya tersebut seolah merunut kembali bagaimana tekad seorang Anom Darsana begitu kuat untuk mendirikan sebuah ruang apresiasi seni di Kota Denpasar. Pria yang sempat mewakili Indonesia di ajang World Art Game 2012 ini pun merangkul para penggiat komunitas dan seniman untuk menghidupi sudutsudut Antida Soundgarden. Belum setahun beroperasi, Antida Soundgarden telah diramaikan oleh beberapa program seni unggulan yang tak hanya menitikberatkan pada musik. Tengok saja bagaimana Anom berkolaborasi dengan seniman Cok Sawitri dalam menghadirkan program teater. Atau pun keterlibatan Komunitas Pembuatan dan Pencinta Film Denpasar yang mengisi slot pemutaran film dokumenter di Soundgarden. Ada pula program live music Regge hingga musik Pop Bali.

Melalui Antida Soundgarden, Anom Darsana seakan melintasi berbagai cabang seni, beragam genre musik, dan segala bentuk kreatifitas di dalamnya. Bagi ayah dari Tara dan Neiza ini, tema Soundgarden dipercayanya sebagai sebuah refleksitas bahwa seni itu tumbuh serupa tanaman-tanaman dihalaman rumah, yang jika rutin disiram dengan cinta dan kreatifitas, maka seni itu akan riuh bermekaran.

Untuk mengetahui lebih mendalam seputar perjalanan karir Anom Darsana, hasratnya di dunia sound engineering, propsek dari sebuah bisnis studio rekaman, serta cita-citanya untuk ruang aktivitas seni di Bali. Berikut M&I Magazine rangkum percakapan hangat selama satu jam di beranda Antida Recording Studio yang asri itu.

Ceritakan, bagaimana Anda bisa bergelut di dunia sound engineering?

Setamat SMA, saya ikut Bapak menetap di Swiss. Kebetulan beliau bekerja di sana. Sebelum mengambil bidang sound engineering, saya sempat mengambil pendidikan Sastra Perancis di Universitas Lausanne, Swiss. Saya memang senang dengan Bahasa Perancis, bahkan di sebuah kompetisi tingkat nasional bahasa tersebut, saya pernah meraih gelar juara. Sayangnya, oleh pemerintah di sana, saya diminta untuk meninggalkan Swiss dengan alasan masa pendidikan saya sudah habis. Saya mencoba menawarkan diri untuk bekerja sebagai guru Bahasa Perancis, agar masih bisa menetap di Swiss saat itu, namun ditolak karena mereka hanya bisa menerima guru native untuk mengajar bahasa tersebut di sana. Akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan kuliah lagi, namun kali ini dengan subyek yang berbeda, saya memilih jurusan sound engineering.

Mengapa bisa terpikirkan untuk mengambil sound engineering?

Saat itu, saya pikir hanya bidang sound engineering yang mampu memberikan kesempatan saya untuk bekerja dan menetap di Swiss. Selain itu, sound engineering juga merupakan salah satu passion saya. Hobi saya dulu memang tidak pernah jauh dari musik dan band. Akhirnya saya mendapatkan sejumlah job sebagai seorang sound engineer untuk beberapa festival musik ternama di Lausanne, seperti Festival Jazz Montreux, Festival Lausanne, dan berbagai gelaran live music performance. Saya juga membuat studio rekaman kecil di semacam ruangan bawah tanah di apartemen saya saat itu. Mulai dari sana saya belajar untuk manage studio rekaman. Saya membuka bagi siapa saja dari latarbelakang genre musik apa pun yang ingin merekam karya mereka di situ. Tapi memang secara profesional, saya banyak terlibat dalam outdoor performance (live music). Meski juga beberapa kali pernah ikut menangani proyek teater, film, hingga televisi, namun sebatas sound engineer.

Apa menariknya menjadi seorang Sound Engineer?

Barangkali karena hobi saya bermusik dan senang berurusan dengan produksi suara. Saya sangat excited untuk bisa menemukan sound yang sebagus mungkin dari penciptaan karya musik itu sendiri. Sensasi mendapatkan sound yang keren, seperti ketika mendengarkan CD musik. Profesi seperti ini memang kerap mengaduk emosi dan stress kita, selain juga bermain di ranah ekspresi. Inilah yang menarik bagi saya.

Tantangannya dalam profesi ini?

Bagaimana caranya membuat penonton dan musisi senang dengan kualitas sound yang kita hasilkan. Bagaiaman setelah usai live music, para penonton masih membicarakan kualitas sound kita dengan penilaian positif. Di situlah tantangan bagi seorang sound engineer. Tapi, akhirnya Anda juga pulang ke Bali. Lalu, hal apa yang pertama kali tercetus untuk Anda kerjakan di Bali saat itu? Tahun 2004, saya memutuskan untuk kembali ke Bali. Saya balik ke Bali bersama istri saya serta memboyong seperangkat alat-alat recording dari Swiss. Kemudian, saya buka kembali studio rekaman kecil di rumah saya di bilangan WR Supratman, Kesiman. Hampir 13 tahun saya meninggalkan Bali dan sekembalinya di sini, saya pun merasa sedikit kagok. Terlebih dengan profesi saya sebagai seorang sound engineer. Mau tak mau, saya harus segera menemukan networking dalam bidang ini di Bali, menemukan orang-orang yang memiliki passion atau bersentuhan dengan dunia sound engineering. Karena pada waktu itu, saya juga mengamati Bali belum secanggih sekarang dalam pengadaan sound engine dan profesi sound engineer masih dimainkan hanya oleh segelintir orang. Beruntungnya, saya bertemu dengan seorang rekan, Gus Mantra yang memberikan kesempatan untuk saya menjadi sound engineer-nya band Lolot dan Joni Agung. Dari sana juga, koneksi ini mempertemukan saya dengan Pak Suedi dari Mata Elang. Oleh Mata Elang, saya sering diundang ke Jakarta untuk membantu mengurusi sound mixing dari berbagai live music. Sempat disuruh menetap di Jakarta, tapi saya tolak, karena saya memang sudah berkomitmen untuk tinggal di Bali saja. Akhirnya saya mengenal banyak teman musisi dan mereka pun kerap menggunakan jasa saya atau merekomendasikan saya ke rekan musisi lainnya. Itu karena mereka tahu betul bagaimana kualitas kerja saya selama ini. Kuatnya jaringan pertemanan inilah yang mampu mengantarkan saya untuk fokus menggeluti bidang ini di Bali.

Bagaimana Anda bisa mendirikan Antida Recording Studio yang kini berada di Jalan Waribang ini?

Di tahun 2007 saya menyewa lahan di sekitar Jalan Waribang dan kembali serius mengelola Antida Recording Studio di sana. Saya kemas Antida sebagai satu-satunya studio rekaman di Bali yang memiliki standar Internasional, baik dari segi peralatan maupun tahapan proses recording-nya. Perlahan-lahan, studio ini pun berkembang dengan cukup menggembirakan. Saya banyak menjalin koneksi yang mengantarkan saya untuk menemukan target pasar dari bisnis ini. Selain itu, saya melihat Bali sangat potensial dalam seni musik modern maupun tradisi dan banyak sekali musisi-musisi hebat di sini. Dari sinilah, niat saya untuk memantapkan Antida sebagai tempat yang mampu memfasilitasi kegiatan berkesenian, khususnya musik.

Antida Recording Studio juga dikenal bukan sekadar studio rekaman biasa. Dulu sempat berdampingan dengan sebuah ruang seni terbuka bernama Serambi Art Antida. Dari mana konsep membuat Serambi Art Antida muncul? Pertemuan saya dengan seorang WNA asal Inggris dan rekannya orang Bali membuat konsep Serambi Art Antida (Sekarang Antida Soundgarden) itu lahir di tahun 2010. Tujuannya cuma satu, yakni ingin menciptakan ruang bagi para seniman untuk berkumpul dan menghasilkan karyanya, berikut dengan penyediaan fasilitas yang mendukung aktivitas seni mereka tersebut. Beberapa program musik saya rancang dan berhasil membuat Serambi Art Antida ini jalan. Usaha saya bersama tim Antida pun tak sia-sia, nama Serambi Art Antida mencuat tak hanya di Denpasar, di Bali, melainkan hingga di luar pulau. Banyak seniman dengan karya yang berkualitas tampil di panggung Antida, bahkan ide program Jazz Rendez-Vouz pertama di Bali pun lahir di sini.

Apakah menurut Anda, Bali kekurangan tempat apresiasi dalam berkesenian?

Saya melihat Bali, khususnya Denpasar belum memiliki tempat ideal untuk dikatakan sebagai ruang seni yang ramah kepada para seniman itu sendiri. Mereka sering kali dibuat ribet mengurusi segala tetek bengek administratif dan tarif yang mencekik hanya untuk bisa memanfaatkan tempat berkesenian tersebut. Kami tidak ingin seperti itu.

Namun, mengapa akhirnya Serambi Art Antida ditutup jua? Selang satu setengah tahun perjalanan Serambi Art Antida dengan berbagai respon positif dari para seniman, ternyata tak mampu untuk membuat tempat berkesenian ini bertahan lebih lama. Dua orang yang saya ajak untuk membangun tempat tersebut mendadak punya pemikiran berbeda. Mereka menganggap tempat seperti Serambi Art Antida tidak menguntungkan mereka dari segi materi. Apa boleh buat, saya tidak bisa berbuat banyak, karena di Antida itu sendiri saya hanya menginvestasikan alat dan skill yang saya punya, sementara mereka berdualah yang berinvestasi untuk tempat. Mereka menuntut agar cepat balik modal dan menghasilkan profit hanya dalam waktu satu setengah tahun. Namun kan itu mustahil, apalagi kita berbisnis di dunia seni. Kita memang bisa berbisnis dalam bidang seni, tapi jangan berharap profit bisa datang dengan begitu cepatnya. Di dunia seni, segalanya tidak akan jadi apa-apa, apabila kita hanya memandang profit terlebih dahulu. Buat saya, menggaungkan tempat sejenis Serambi Art Antida itu sendiri sudah menjadi investasi yang berharga untuk ke depannya.

Semangat ‘art space’ ternyata belum berakhir di Antida. Anda bisa membangkitkannya kembali. Serambi Art Antida bertransformasi menjadi Antida Soundgarden. Bagaimana Anda bisa mengusahakan itu? Tutupnya Serambi Art Antida, membuat saya vakum selama satu setengah tahun. Benar-benar berada dalam situasi yang begitu depresif, karena sayang sekali tidak ada tempat seperti Serambi Art Antida lagi di Denpasar. Saya sudah mencoba berkeliling kota mencari lokasi yang tepat untuk membangkitkannya lagi, namun nihil. Saya juga mencoba mencari bantuan ke pemerintah untuk mendukung visi saya ini, namun tidak ada respon. Saya beruntung mempunyai tim yang tidak gentar dalam menyemangati saya untuk membuka kembali Antida. Akhirnya kami memutuskan untuk membuatnya kembali, namun dalam konsep yang lebih kecil, karena keterbatasan ruang. Tempatnya di sini, masih di Waribang, dan kini bernama Antida Soundgarden. Kami berani membukanya sejak September 2013 lalu, meski dengan lokasi yang minim lahan parkir dan tempat pergelaran yang tidak seluas Serambi Art Antida lalu. Namun, kami optimis, Antida Soundgarden masih mampu diterima oleh kawan-kawan seniman serta juga penikmat seni tentunya. Konsepnya pun tak jauh beda dari Serambi Art Antida, malah program seninya makin beragam.

Apakah itu berarti Antida bangkit tanpa uluran investor lagi seperti dulu? Jika benar, lalu bagaimana Anda bisa ‘menghidupi’ Antida Soundgarden untuk ke depannya?

Ya, hanya saya saja yang berinvestasi di Antida Soundgarden ini. Saya beruntung masih punya Antida Recording Studio yang bisa ‘menghidupi’ keberlangsungan Antida Soundgarden. Namun, di perjalanan yang baru setengah tahun ini, Soundgarden beruntung telah banyak digunakan oleh beberapa komunitas maupun seniman yang menggelar event mereka di sini.  Tentu kami berikan penawaran harga yang terjangkau, dimana sudah termasuk dengan ketersediaan fasilitas audio, stage, lighting, dsb. Semakin ramainya aktivitas di Soundgarden juga berimbas signifikan terhadap kenaikan jumlah musisi yang ingin memanfaatkan jasa rekaman di studio Antida.

Bagaimana Anda melihat prospek bisnis studio rekaman di Bali? Bali punya potensi yang besar untuk musisimusisi rekaman. Banyak lahir talenta-talenta terbaik, entah itu mereka yang mengusung musik modern atau pun kontemporer. Beberapa studio musik dengan kualitas mumpuni juga telah tersebar di Bali. Banyak musisi Bali yang berkontribusi mengangkat citra studio rekaman hingga terkenal. Contoh, “Pregina”, studio rekaman yang melambungkan album band Lolot itu banyak diincar oleh musisi Bali. Tentu mereka ingin kualitas albumnya bisa semeledak Lolot dan Pregina dianggap rekomendasi yang tepat. Itulah kekuatan networking yang ada di kalangan musisi. Makin sering dibicarakan di kalangan mereka, bukan mustahil recording studio juga ikut terangkat. Antida pun mengalami hal serupa kini. Di luar negeri sana, sekalipun itu studio rekaman besar, jika tidak mampu merangkul musisi, ya sama saja akan sepi. Jadi memiliki usaha seperti studio rekaman musik memang dituntut untuk pandai bergaul dan melebarkan jaringan ke kalangan komunitas-komunitas musik. Sekarang itu bikin musik tidak seribet dulu. Hanya berbekal laptop dan sound card saja, kita sudah bisa membuat satu rekaman.

Apa yang membedakan Antida Recording Studio dengan studio-studio rekaman lainnya di Bali? Di Antida Recording Studio, kami benarbenar memperhatikan kualitas akustik rekaman serta pengaturan pantulan suara di dalam studio. Banyak studio rekaman yang tidak memberi perhatian penuh terhadap dua hal tersebut. Padahal itu sangat penting untuk mendapatkan hasil rekaman yang maksimal. Selain itu, kami juga menggunakan alat-alat recording berstandar Internasional. Ini investasi yang cukup mahal, terlebih kita harus selalu upgrade untuk mengikuti kualitas terbaik di pasaran. Asiknya di Antida itu, bahwasanya saya seringkali memberikan konsultasi sound kepada mereka yang ingin manggung outdoor atau melakukan rekaman. Terkadang tidak semua band mengerti tentang bagaiamana sound yang baik itu. Mereka hanya berpikir untuk segera main musik saja di panggung.

Boleh tahu tarif untuk rekaman di Studio Antida?

Saya memang sengaja membedakan tarif rekaman antara lokal dan Internasional, karena saya ingin lebih banyak membantu musisi-musisi lokal kita. Biasanya untuk lokal, saya pasang tarif Rp 900ribu, namun itu masih bersifat fleksibel. Saya lihat lagi kondisi musisinya dan karya-karya ciptaan mereka. Bisa saja terjadi negosiasi di sana. Untuk musisi Internasional, saya menggunakan tarif seperti di website kita yakni US$ 120 untuk recording, US$ 150 untuk mixing, dan US$ 500 untuk mastering. Seluruh tarif itu dihitung per 6 jam di studio. Ini tergolong murah, jika kita membandingkannya dengan tarif studio rekaman di luar negeri yang biasanya mematok tarif sebesar US$ 800 – US$ 1000.

Apa harapan Anda ke depan untuk Antida? Saya berharap Antida menjadi kantong budaya, ruang apreasiasi seni di kota Denpasar yang memang digarap oleh dan bersama orang-orang yang berkecimpung di dunia itu, yang benar-benar mengerti kehidupan berkesenian itu seperti apa. Saya bersama beberapa kawan seniman juga telah merancang program-program apa saja yang akan tampil selama setahun di Antida Soundgarden. Dengan begitu, aktivitas Soundgarden akan tetap hidup. Semoga program-program tersebut mampu berkelanjutan setiap tahunnya.

Related News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Flag Counter

Copyright © 2018 ISEEBALI . All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri