DSC_3052

Armand ‘Joger’ – Lestari dari Generasi Ke Generasi

Adakah orang yang menyatakan dirinya jelek? Secara psikologis, orang kebanyakan lebih suka akan mencitrakan dirinya keren, bukan sebaliknya. Namun tidak dengan Joger, perusahaan merchandise ini justru mempopulerkan ‘tagline’ Joger jelek, dan ternyata cukup mengena pada benak masyarakat. Tapi ini jelas bukan makna sesungguhnya, perusahaan uang menyebut dirinya sebagai Pabrik kata-kata ini memang punya peran besar untuk mengutak atik kata-kata menjadi kalimat yang menarik, lucu, provokatif dan tidak sedikit yang sarat pesan sosial.

Pendirinya, Joseph Theodorus Wulianadi, atau yang biasa dipanggil Mr. Joger, memulai perusahaan ini dari kelas usaha mikro di tahun 1981, dan berangsur menjadi besar hingga memiliki 2 outet yang berlokasi di Kuta dan Tabanan.

Sekarang generasi keduanya Armand Setiawan, anak dari pasangan Joseph Theodorus Wulianadi dan Ery Kusdarijati. Dipercaya untuk ikut terlibat dalam bisnis keluarga. Pria kelahiran 1982 ini, bercerita hangat tentang bagaimana sang Ayah mendidik dan membesarkan Joger dengan tujuan kebahagiaan, bukan tujuan keuntungan semata. Ia bercerita tentang bagaimana Mr. Joger mengajarkan keluarga Joger cara besyukur.

Lulusan Bachelor of Commerce di Victoria University, Australia dan Edith Cowan University, Perth, Australia ini, juga lebih senang memanggil karyawan yang bekerja di Joger dengan sebutan keluarga. Dan bagaimana Joger berupaya membahagiakan banyak orang, termasuk dengan memberikan apresiasi tahunan berbentuk penghargaan kepada mereka yang memberikan dampak positif kepada masyarakat. Salah satunya, seorang pegawai Dinas Perhubungan yang diberikan penghargaan oleh Joger atas dedikasi dan keikhlasannya membersihkan paku di jalan.

Armand juga banyak bertutur tentang ‘Garing’ gerakan sosial yang menjadi bagian dari Joger. Seperti bedah rumah dan pembagian bantuan tunai untuk warga tidak mampu yang sedang mengalami musibah. Kepada tim reporter kami, Armand bercerita soal kiprahnya, berikut adalah petikannya.

Sebagai generasi kedua, apa yang ingin Anda lakukan untuk perkembangan Joger?

Kalau dilihat dari filosofinya, Joger ini kan perusahaan keluarga. Sebagai generasi kedua, saya tentu ingin Joger itu lebih baik lagi. Banyak yang tanya, apakah kami tidak menambah gerai lagi, padahal sekarang baru ada dua saja saya sudah kewalahan. Dan apalagi sih yang mau dicari, kalau alasannya materi, bagi kita ini saja sudah cukup.

Memang awalnya Pak Joger punya semangat ekspansi, saya waktu belajar retail juga gitu, branding, positioning dan segala macam. Jika semakin baik positioning, maka semakin kuat  branding-nya. Tapi setelah dipikir-pikir, setelah kuat terus mau diapain lagi? Kan bingung lagi nanti saya. Ujungnya, apa lagi sih yang dicari, sedangkan kita di sini kan mencari kebahagiaan.

Riwayat pendidikan Anda?

Saya S1 di Victoria University mengambil bidang Retail management, ambil jurusan itu karena dengar nama bidangnya unik, dulu istilah retail jarang kedengaran, retail management, keren juga ya, Bachelor of Commerce gitu, akhirnya ambil bidang ini. Kalau S2 di Perth, ambil jurusan “Magister Penipu Profesional”, haa..ha..haa..

Maksudnya?

Kita di Joger ini kan menyebut marketing itu penipuan. Bagaimana cara kita menipu konsumen secara baik-baik dan menyenangkan. Jadi itu menurut kami marketing. Jadi saya ini Magister Proffesional Marketing. Biar keren, saya sebut ini Magister Penipu Profesional, kan orang kaget, “wuiihh apa itu ya?” ha..ha..haa..

Sebagai generasi kedua, apa strategi Anda untuk membuat Joger lebih hebat lagi?

Dulu waktu saya kuliah saya pernah belajar bisnis strategi. Dari satu semester yang saya pelajari, ternyata strategi yang saya pahami itu bagaimana cara kita mencapai tujuankita. Tapi berbeda lagi dari teman yang mengajari saya, yang namanya strategi itu adalah kita memilih cara untuk mencapai tujuan. Point-nya itu, di kata memilih, ya jalannya itu yang dipilih. Misalnya saja kita mau ke Joger itu tujuannya Joger, di peta kan ada pilihannya. Jika melewati jalan ini akan lebih cepat lima menit, jika melewati jalan yang itu akan lebih lambat sepuluh menit.

Strategi itu memilih jalan yang mana. Mau lewat Singaraja, Karangasem atau Jembrana, tapi tujuannya satu. Jadi kita harus membahas setiap opsi untuk menentukan opsi mana yang terbaik, yang bisa kita pilih untuk mencapai tujuan kita. Sedang di Joger, seperti saya sudah bilang tadi, tujuannya adalah menjadi bahagia itu tadi.

Apa “jurus” yang Anda gunakan untuk mengembangkan bisnis keluarga?

Saya banyak meniru dari bapak, saya itu dulu sering diajak terlibat untuk  urusan perusahaan, minimal ya ketemu supplier. Dan juga Pak Joger membuat suasana perusahaan benar-benar seperti keluarga. Hampir tidak ada bedanya antara satu supplier dengan supplier yang lain. Kami saling kenal, dan saya waktu kecil diajak bertemu mereka.

Dan sepengetahuan saya, masalah dari bisnis keluarga itu, kebanyakan ketika masuk ke generasi kedua atau ketiga. Ketika mau serah terima, supplier biasanya yang tak mau mendukung karena tidak kenal dengan generasi berikutnya. Tapikalau saya, antara bapak dengan saya itu hampir seperti tidak ada batasan. Jadi ketika Pak Joger tidak ada di tempat, saya yang akan menghandle.

Seperti apa Pak Joger di mata Anda?

Saya sih tidak mau menilai ya, kalau saya sudah memberikan pola pandang, berarti kan saya menilai beliau. Alasannya begini, saya belum bisa menunjukkan prestasi seperti yang sudah dicapainya, masa iua ‘penonton’ yang tidak mengerti apa-apa kok menilai?

Memang teman-teman sering tanya, “kamu ngapain sekarang, bantu orang tua ya?

Nah, di sini kata ‘bantu’ itu agak membingungkan. Saya baru lulus kuliah, sementara bapak saya sudah bisa menghasilkan anak yang lulusan  kuliah. Kira-kira say amau bantu apa? Jadi saya selalu menjawab, “saya inilah yang dibantu sama orang tua”. Saya dan orang tua kan beda, kalau saya Anak orang kaya, dan orang tua salah lah ‘Orang Kaya’nya. Jadi saya tidak bisa menilai orang tua saya.

Apa Joger pernah sepi sebelum seramai sekarang?

Saat itu pernah dihantam sama krisis ekonomi. Teman-teman saya di  Jakarta itu banyak yang tiarap lho. Tapi ketika ada yang tanya gimana dampaknya di Bali, saya bilang “sama”, tapi saya tidak mau pakai istilah sepi, karena kalau bilang sepi, nanti beneran sepi. Jadi di Joger tidak boleh sepi, kecuali pas hari raya Nyepi. Kita di sini ini adanya ramai, ramai sekali dan ramai berkali-kali. Jadi kalau anak-anak yang jaga di depan itu di tanya, “gimana kondisi hari ini?” jawabnya “selalu ramai pak”.

Adakah kendala yang berarti bagi Joger yang sudah sebesar sekarang?

Masalah selalu ada, kalau dari sejarahnya, dari awal membangun Joger saja, nembok keliling ini sudah harus menekan biaya seminimal mungkin, karena keterbatasan saat itu. Setelah selesai, ada lagi muncul masalah tidak punya gudang, dibuatkan gudang di belakang, muncul lagi, ternyata kurang besar. Jadi setiap saat itu, kami dihadapkan dengan problem baru. Setelah kita pikir sudah selesai, ternyata muncul lagi yang baru. Ibaratnya seperti gali lubang tutup lubang. Pernah juga ada masalah terkait plagiat produk-produk kami, sekarang tinggal bagaimana kita menyikapinya.

Ada pula hoax di sosial media, yang menyatakan bahwa “Joger tidak mau jualan online”, ini sempat membuat saya jengkel. Padahal saya itu punya keinginan ke sana, tapi statement yang dibangun di sosial media dan berita itu kemudian menyebar, membuat saya mati langkah.

Kenapa?

Sebenarnya kamu ini sedang mempersiapkan agar bisa menembus pasar online, dengan segala macam pernak-perniknya. Eh ternyata di  berita yang tersebar ada kata “Joger tidak mau berjualan online.” Sekarang yang baca sudah ribuan orang.

Hmm, kita ganti topik, saya dengar Joger memberikan penghargaan sosial, bisa diceritakan?

Saat ulang tahun Joger ke 35, kami mengundang Pak Iskandar. Beliau ini diwawancara di media, dan menjadi perhatian saya waktu itu. Dia tinggal di Bekasi tapi bekerja di Jakarta. Nah, dari perjalanan dari Bekasi ke Jakarta, dia melihat banyak paku di jalan yang bisa membahayakan pengguna. Entah paku itu ditaruh sengaja atau tidak sengaja, tapi itu sangat banyak. Pak Iskandar ini meluangkan waktunya untuk membersihkan paku itu di jalan, tanpa pamrih. Akhirnya kami mengundang dia di acara ulang tahun Joger.

Biasanya tiap tahun kami memberikan penghargaan untuk orang-orang seperti beliau. Orang-orang yang memang memberikan sumbangsih. Biasanya kamu memilihnya dari berbagai latar belakang, ada olahragawan, bisa budayawan atau orang-orang yang  memiliki pengaruh baik pada lingkungan sekitar.

Berapa karyawan Joger saat ini?

Keluarga saya maksudnya, sekarang mendekati 300 orang.

Bahagia itu apa versi Anda?

Dari apa yang diajarkan di sini, bahagia itu adalah titik pertemuan dari keinginan dan kenyataan. Dalam contoh sederhana, saya mau minum kopi, keinginan saya kopinya tidak terlalu kental dan tidak terlalu pahit. Eh tiba-tiba yang datang tidak sesuai keinginan, di titik itulah saya tidak bahagia. Untuk menjadi bahagia, ketika mendapatkan kopi yang sesuai dengan keinginan kita.

Pak Joger mengajarkan saya dan kami semua di sini. Dari dua titik-titik, antara keinginan dan kenyataan itu, yang harus kita rubah adalah sikap terhadap keinginan. Dan di sini kita diajarkan untuk senantiasa bersyukur. Orang bahagia, pasti adalah orang yang bersyukur.

Jadi kalau kopi yang kita inginkan tidak sesuai, dan kita tetap menerimanya dengan bersyukur, dalam arti kita merubah keinginan kita, maka di situ kita bisa bahagia. Intinya kita bahagia dengan bersyukur.

Sekarang, kenyataan saya yang kita sikapi. Contohnya sederhananya jika kita bersyukur mendapat sesuatu, kita akan menrima dan juga mengembangkan. Kita harus sadar, misalnya sebagai seorang karyawan, apa karyawan itu mensyukuri gajinya yang sedikit? Dia bersyukur dengan cara menerima gajinya yang sedikit itu dengan cata ditabung dan disisihkan untuk bisnisnya yang lain. Jadi jika disyukuri, dia akan menerima, dan dia sadari gaji yang sedikit itu serta bersyukur dengan cara ditabung atau dijadikan modal usaha.

Kami juga kerap mendengar kampanye Joger soal Garing, bisa dijelaskan?

Kalau Joger ini penanaman modal dunia nyata. Di mana kita nyari duit, nah kalau Garing ini untuk pembagiannya. Banyak yang menganggap, Garing ini CSR dari Joger, bukan kok. Karena Joger ini kan bukan corporate. Sedangkan CSR kan Corporate Social Responsibility. Kemarin, kami baru saja dari Singaraja. Disama saya dapat informasi dari Tribun Bali. Katanya ada keluarga yang bangunannya rusak. Saya kasih tahu anak-anak, tolong kalau sempat disurvei ke sana. Dan kita bantu untuk memperbaikinya. Sampai sejauh ini, sudah 54 rumah yang kami bedah, kami bantu renovasi.

Niat baik yang utama, dari kita kan tidak membuat susah orang lain, kemudian tidak melakukan hal yang tidak orang lain suka lakukan pada kita, tidak mengambil hak yang  bukan hak kita. Itu sudah kita lakukan, kemudian ada sisa niat baik untuk membantu orang. Selain bedah rumah, ada juga bantuan tunai untuk penunggu pasien.

Penunggu Pasien?

Biasanya kalau pasien miskin sudah dibantu oleh program pemerintah seperti JKBM, Bali Mandara dan lain-lain. Sedangkan kalau penunggu pasien yang miskin? Di mana mereka itu kebanyakan berprofesi sebagai buruh kasar yang harus meninggalkan pekerjaannya demi si pasien tadi. Sedangkan untuk meninggalkan pekerjaan itu, mereka tidak mendapat pemasukan. Nah di sinilah peranan kita.

Kami terjun langsung, agar tepat sasaran. Karena kalau misalnya kami menyalurkan dari rumah sakit, katakanlah melalui humasnya. Tapi yang dipilih ternyata orang tertentu saja, misal kerabat dekatnya saja. Yang seperti itu kan tidak tepat sasaran. Itu ibarat membuang garam ke laut.

Dulu kan ilmunya, tangan kanan memberi tangan kiri jangan tahu. Tangan kanan menerima tangan kiri boleh tahu. Iya awalnya kita pikir-pikir buat apa sih kita gembar-gembor. Tapi akhirnya kami buat pengakuan agar tidak diakui sama orang lain lagi. Tapi kami pakai nama Garing biar tidak ada kesan promosi.

Karena dulu ada kasus di Karangasem, kita buat program bedah rumah tapi tidak di gembar-gemborkan. Ehh, malah diklaim, diakui menjadi salah satu program pemerintah. Ada satu rumah yang kita bedah masuk list bedah rumah dari program pemerintah. Jadi kurang ‘sreg’ rasanya.

Kabarnya, Anda menyukai bela diri karate, sejak kapan?

Saya memulia karate dari tahun 90-an. Tapi saya mulai serius ketika saya mulai memasuki bangku SMP. Waktu itu saya menjadi langganan juara daerah untuk Kumite perorangan Junior. Kemudian karena kiprah saya banyak di Australia, maka saya juga sering mengikuti kejuaraan daerah bahkan kejuaraan dunia. Dan kebetulan saya mendapat juara 2 untuk KATA dan KUMITE tahun 2000 yang lalu. Dan saya baru 2 kali memperoleh DAN (Rank dalam karate) termuda untuk Indonesia dari Japan Karate Association Hombu Dojo di Tokyo. DAN IV (YonDAN) usia 29 tahun kemudian DAN V (GoDAN) usia 33 tahun. Sekarang saya diberi kepercayaan serta mandat oleh FORKI Bali untuk me-manage Team Karate Bali untuk PON Jawa Barat 2016 ini.

Related News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Flag Counter

Copyright © 2018 ISEEBALI . All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri