DSC_0046

“Atas Nama Benda” sebuah Pameran yang Memaknai tanda

Sebuah pameran lukisan bertajuk “Atas Nama Benda” secara resmi dibuka pada Jumat malam, 30 Januari 2015 lalu. Bertempat di ruang kreatif Bentara Budaya Bali, gelaran yang memamerkan karya-karya terbaik dari dua puluh seniman yang tergabung dalam Kelompok Suka Parisuka Yogyakarta ini berhasil menarik atensi para penikmat seni rupa di Pulau Dewata. Budayawan serta seniman, I Nyoman Gunarsa pun secara eksklusif hadir untuk membuka pameran yang dipertunjukan kepada khalayak umum hingga 7 Februari 2015.

Pameran lukisan “Atas Nama Benda” merupakan kelanjutan kolaborasi serupa dari komunitas Suka Parisuka yang sebelumnya pernah menggelar pameran di Bentara Budaya Yogyakarta pada 14 – 19 Mei 2013. Adalah Romo Sindhu, sang penggagas acara memaparkan bahwa pameran Suka Parisuka tersebut merupakan sebentuk upaya untuk membingkai kreativitas dalam solidaritas serta menghidupkan iklim pergaulan yang guyub dan gayeng antar para seniman Yogya. Melalui tema ini pula, rohaniawan tersebut berharap, agar para seniman dapat berkarya sembari mengekspresikan kegembiraannya sepuas-puasnya dan sebebas-bebasnya.

“Still Life”, dipilih sebagai tema utama yang membungkus konsep pameran “Atas Nama Benda”. Tema ini merupakan sebuah upaya interpretasi ulang atas konsep sebuah “objek” atau “benda”. Pameran ini diikuti oleh para perupa sohor yang berkarya dan bermukim di Yogyakarta, antara lain Kartika Affandi, Djoko Pekik, Putu Sutawijaya, Jumaldi Alfi, Nasirun, Hari Budiono, Ridi Winarno, Budi Ubrux, Ivan Sagito, Hadi Soesanto, Yuswantoro Adi, Melodia, Wayan Cahya, Bambang Pramudiyanto, Dyan Anggraini Hutomo, F. Sigit Santoso, Bambang Herras, Edi Sunaryo, Hermanu, dan Samuel Indratama.

Bermula dari sebuah pemikiran bahwa pada setiap benda seringkali memiliki tanda, dan dalam sebuah tanda selalu mengandung makna, maka tema pameran ini tercetus. Simbol, metafor, analogi, kode, logo, atau pun tanda adalah deretan istilah yang akrab dalam dunia seni dan kerap tertinggal dalam sebuah objek, sesederhana apapun objek tersebut.

F. Sigit Santoso, salah satu perupa yang karyanya dipamerkan menegaskan bahwa tema alam benda ini bukanlah hanya memindahkan citra objek apa adanya secara artifisial pada bidang kanvas, tetapi sebuah upaya menghadirkan benda berdasarkan dari hasil kajian, interaksi, dan identifikasi ulang objek itu sendiri. “Semoga pameran dengan tema “still life” ini tidak berhenti pada keadaan yang bersifat still, namun diharapkan menjadi sesuatu yang life, selalu hidup, dan bergerak,” tambah Sigit Santoso.

Di samping pameran, Komunitas Suka Parisuka juga menggelar sesi diskusi yang berlangsung pada 31 Januari 2015 lalu di Bentara Budaya Bali. Tidak hanya membedah satu per satu makna yang terkandung dalam karya mereka, tetapi juga mendiskusikan hubungan seni antara Yogyakarta dan Bali.

Related News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Flag Counter

Copyright © 2018 ISEEBALI . All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri