avengers_age_of_ultron-3840x2160

Avengers Age Of Ultron

Jika ada satu film yang paling ditunggu kehadirannya oleh banyak moviegoers dunia tahun ini selain instalemen ke-7 Fast & Furious, bisa dipastikan film itu adalah sekuel The Avengers yang sudah memberikan kehebohan luar biasa ketika ia menjadi pemuncak spektakuler dari serbuan trend adaptasi komik superhero 2012 lalu.

Dalam sekuelnya yang diberi tajuk Age of Ultron, kamu masih akan menemukan nama Joss Whedon di belakang layar. Ya, kita tahu persis apa yang sudah dilakukan Whedon di seri pertama Avengers, dan sesuai harapan kita semua, ia kembali lagi dengan kekuatan penuh. Juga dengan kembali bersatunya semua punggawa the earth mighty heroes pasca sebelumnya masing-masing dari mereka telah melakukan terbang solo di rangkaian fase kedua MCU (Marvel Cinematic Universe). Tentu saja layaknya sebuah sekuel sejati, Age of Ultron harus jelas lebih besar dari pendahulunya, dan lebih besar berarti juga mesti lebih ramai dan meriah, maka tidak lengkap jika kemudian tidak ada tambahan beberapa karakter baru menarik. Selain kemunculan duo kembar Pietro dan Wanda Maximoff a.k.a Quicksilver dan Scarlet Witch, satu karakter rahasia, plus tentu saja, villain utama dalam wujud Ultron yang tidak kalah garangnya.

Sementara untuk premisnya sendiri, Age of Ultron punya sokongan cerita menarik, di mana kali ini kesombongan dan kepercayaan diri berlebih Tony Stark menjadi senjata makan tuan buat dirinya sendiri dan juga para anggota Avengers. Cita-cita ambisius Stark bersama Bruce Banner membuat sebuah program A.I canggih bernama Ultron yang diperoleh dari pinjaman kekuatan tongkat peninggalan Loki malah berbalik menjadi kekuatan mengerikan yang sekali lagi mengancam bumi dan kelangsungan hidup manusianya.

 

Now i’am free, there are no strings on me!” – Ultro

 

Di buka dengan kurang lebih lima menit opening berisi parade slowmotion dan aksi spektakuler dari sepak terjang anggota Avengers dalam usaha mereka memporak porandakan markas HYDRA di Sokovia. Menarik adalah ketika naskah Whedon langsung menghadirkan sosok Ultron yang disuarakan James Spader dalam nada penuh ancaman sejak awal-awal film sebagai teror baru. Ya, kisah bangkitnya Ultron dengan quote “Now I’m free, there are no strings on me!” yang bolak-balik sering kita dengar di trailer-nya bak sebuah dongeng kelam Pinokio modern yang disatukan dengan balutan kisah heroik superhero Marvel. Hasilnya, Age of Ultron sepintas tampak lebih gelap dan lebih kompleks dari pendahulunya. Belum lagi kali ini Whedon juga menyelipkan sedikit romansa dan sisi personal dari beberapa anggota Avengers yang di seri pertamanya kurang mendapatkan cukup porsi untuk membuatnya semakin padat.

Tetapi dasar Marvel, meskipun terlihat berat dan rumit di atas kertas, Age of Ultron tidak pernah terjebak untuk menghadirkan plot yang kelewat njelimet atau terlampau dark seperti rivalnya, DC. Ya, Age of Ultron masih mengusung DNA adaptasi superhero ala Marvel, tidak peduli seberapa kelam temanya, Whedon masih memberinya banyak keceriaan. Masih ada humor ringan yang kebanyakan datang dari celetukanceletukan karakternya dan beberapa momen slapstik yang hampir semuanya masih bekerja dengan baik, bahkan di saat paling serius sekalipun.

Tetapi harus diakui juga meskipun masih dibungkus dengan presentasi aksi spektakuler, sebenarnya Age of Ultron tidak menawarkan sesuatu yang benar-benar baru. Semua sudah pernah kita lihat sebelumnya di seri pertamanya, bahkan kalau mau jujur, tidak ada lagi perasaan WOW yang sampai membuat saya bisa merinding setelah menontonnya, seperti yang saya temukan di pendahulunya. Ini seperti sebuah pengulangan yang sama, hanya dengan sedikit variasi berbeda dan lebih banyak karakter baru.

Yang patut disayangkan adalah bagaimana Whedon membuang beberapa potensinya untuk membuat Age of Ultron menjadi sajian superhero yang bisa lebih baik lagi dari sebelumnya. Diadaptasi dari komik Avengers #55 rilisan tahun 1968, premis yang ditawarkan punya bekal bagus untuk membuat Age of Ultron setidaknya bisa menjadi lebih menarik.

Sayang karena memilih menjauhkannya dari kerumitan, Whedon malah mengadaptasi narasi kompleksnya menjadi lebih ringan. Meski twist-nya sendiri terbilang mengejutkan tetapi tidak ada puncak emosi di sana, lagi-lagi karena Whedon tidak memperlakukan dua karakter barunya dengan baik. Baik Quicksilver yang dimainkan Aaron Taylor-Johnson maupun Scarlet Witch-nya Elizabeth Olsen seharusnya bisa mendapatkan porsi yang lebih berarti. Apalagi ketika ada dendam masa lalu yang dihubung-hubungkan dengan keterlibtan Tony Stark ketimbang hanya tim penggembira baru yang sekedar meramaikan suasana, apalagi mengingat salah satu dari mereka kemudian diplot sebagai objek penting di adegan pemungkasnya.

Related News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Flag Counter

Copyright © 2018 ISEEBALI . All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri