balicosplaycommunity

Bali Cosplay Community

Dalam suatu kesempatan, mereka berkumpul dengan cara yang unik. Seseorang mengenakan sepasang sayap dengan model bajunya serupa Samurai, ditambah riasan gothic dan wig merah menyala. Atau seorang wanita yang pura-pura berperan sebagai karakter Naruto dengan kostum dan ekspresi meyakinkan. Perkumpulan ini seolah berhasil mendatangkan Avatar, Samurai X, Sailormoon, Conan, Yakuza, Assasins, L Deathnote dan kawan-kawannya ke dunia nyata. Bali Cosplay Community salah satunya yang bisa melakukan semua itu.

Cosplay bukanlah kegemaran baru di kalangan anak muda Indonesia. Namun pergerakannya memang tidak terlalu massive seperti hobi-hobi pada umumnya. Tiga tahun terakhir, Bali pun turut merasakan euforia Cosplay yang berkiblat Jepang tersebut. Menurut Leona Ivanna Indah, salah satu admin Bali Cosplay Community, para cosplayer Bali hanya akan unjuk gigi saat festival budaya Jepang dan kompetisi Cosplay mulai digelar di Denpasar. “Biasanya anak dari Sastra Jepang Unud rutin mengadakan event Cosplay setiap tahun,” paparnya.
Cosplay selalu diidentikan dengan segala hal berbau Jepang. Cosplay berasal dari gabungan kata ‘costume’ (kostum) dan ‘play’ (bermain) adalah istilah yang merujuk terhadap hobi berkostum unik. Unik, dikarenakan mereka yang menggandrungi Cosplay sangat gemar meniru penampilan dari berbagai karakter fiksi dari komik Manga, Anime, game online hingga film-film berbau fantasi dan fiksi ilmiah.

Justru kemunculan Cosplay pertama kali bukan di Negeri Sakura, melainkan di Amerika Serikat sekitar tahun 1960-an. Ada sekelompok pencinta cerita dan film fiksi ilmiah membawa fenomena unik ini. Mereka kerap mengadakan sebuah konvensi fiksi ilmiah, di mana para pesertanya mengenakan kostum persis karakter fiksi ilmiah yang mereka idolakan. Salah satunya karakter film Starwars. Trend Cosplay itu sendiri baru booming di seluruh dunia semenjak anak-anak muda Jepang gandrung terhadap hobi eksentrik ini. “Orang Jepang itu sangat total dalam merancang kostum Cosplay. Detail-detail yang diciptakan begitu sempurna dan mampu menyerupai karakter aslinya,” ungkap Leona pengagum gaya Gothic ini.

Cosplay baru menjadi fenomena di Jepang sekitar tahun 1970-an. Lambat laun kiblat Cosplay pun jatuh pada Jepang, lantaran banyak produknya yang diadopsi sebagai kostum Cosplay seperti dari Manga, Anime, Game, Harajuku Style, hingga film fiksi ilmiah. Sementara Indonesia baru merasakan tren Cosplay sekitar tahun 2000-an. Saat itu, Himpunan Mahasiswa Sastra Jepang Universitas Indonesia menggelar sebuah acara bertajuk Gelar Jepang yang turut menyisipkan event Cosplay di dalamnya. Usai gelaran tersebut, barulah Cosplay menjadi sebuah highlight di kalangan anak muda Indonesia, terutama di kota-kota besar seperti Bandung, Jakarta dan Yogyakarta.

Facebook is Our Basecamp
Bali Cosplay Community dibentuk pada akhir tahun 2010 di dunia maya. Ya, dari jejaring sosial buatan Mark Zuckerberg para penggila Cosplay seantero Pulau Dewata saling terhubung. Di Facebook Group “Bali Cosplay Community” tersebut, mereka bisa menemukan kawan-kawan yang memiliki passion dan selera Cosplay yang serupa, dapat saling berbagi wawasan Cosplay serta bertukar pikiran tentang kostum hingga trik memenangkan kompetisi Cosplay sekalipun. Ide awal pembuatan akun Facebook tersebut dicetuskan oleh seorang cosplayer asal Bandung yang lebih suka dipanggil dengan nama alias akun Facebook-nya, Kyutaro Hashigara. “Kemudian kami sepakat untuk membuat komunitas ini benar-benar muncul ke publik. Agar orang-orang Bali tahu kalau ada pencinta Cosplay di sini,” lontar Leona.

Hingga Juni 2013, jumlah anggota grup ini di Facebook sudah mencapai 1.102 orang. “Kenyataannya tak semua Cosplayer bisa ikut kopdar dan aktif dalam kegiatan komunitas. Paling hanya 20 sampai 80 orang,” tambahnya. Faktor jarak menjadi penghalang utama bagi seluruh Cosplayer Bali untuk ‘kopi darat’ secara intens. Di Bali Cosplay Community, para penggila Cosplay (Cosplayer) dari pelbagai pelosok Bali, mulai Singaraja, Tabanan, Nusa Dua, Jimbaran, Denpasar hingga Canggu. Rata-rata mereka berusia 14-25 tahun. Kebanyakan masih pelajar atau mahasiswa serta sebagian sudah bekerja.

Kegiatan festival kebudayaan Jepang dan kompetisi Cosplay selalu menjadi tempat yang tepat bagi seluruh anggota komunitas Cosplay Bali untuk mengadakan ‘kopi darat’. Mereka pertama kali kopdar ketika memeriahkan pesta Halloween sebuah Mall di bilangan Simpang Siur pada 2011 lalu. Meski hanya dihadiri 20 orang anggota, penampilan eksentrik mereka sudah cukup ampuh memancing perhatian pengunjung sekitar.

Sebagai Cosplayer, Leona bersama kawan-kawannya di Bali Cosplay Community tidak hanya gemar menyajikan pelbagai rancangan kostum yang eksentrik, melainkan juga turut memainkan lakon fiksi yang diciptakannya tersebut. “Kita juga mempelajari personality karakter Cosplay yang kita angkat. Memeragakan bagaimana gaya, gerak-gerik, hingga ekspresinya” pungkas wanita kelahiran Tabanan, 26 Juli 1988 ini.

Related News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Flag Counter

Copyright © 2018 ISEEBALI . All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri