bong chandra

Bong Chandra , Too Young To Be A Millionaire , Why Not?

Di usianya yang baru menginjak 25 tahun pada 2012 lalu, Bong Chandra telah menancapkan namanya sebagai seorang pebisnis dan salah satu motivator terpopuler di Indonesia. Bahkan predikat sebagai motivator termuda se-Asia pada 2010 silam pun dikantonginya saat berumur 23 tahun. Ia senang mengisi seminar dan kelas motivasi di berbagai kota di seluruh Indonesia. Buku motivasi pertamanya yang bertajuk Unlimited Wealth pun sukses rilis di pasaran, lantas menyusul dua buku berikutnya berjudul The Science of LUCK dan The Billionaire Code.

Ia bukan sosok yang meraih sesuatu secara instan, Bong Chandra yang lebih memilih menjalani bisnis properti ketimbang melanjutkan kuliahnya ini pun juga pernah mengalami fase-fase terberat dalam hidupnya. Di usianya yang ke 18, Bong sudah ikut banting tulang membangun bisnis keluarganya ketimbang bersenang-senang seperti remaja seusianya. Ia merasakan betul bagaimana krisis ekonomi 1998 menggerogoti usaha keluarganya. Salah satu miliuner termuda Indonesia ini pernah mengadu peruntungannya di bisnis Multi Level Marketing, Event Organizer hingga berlabuh di dunia properti yang tanpa disangka-sangka menjadi ladang emas baginya.

Di sela-sela kesibukannya mengisi sebuah seminar yang digelar BPR Lestari, Bong Chandra pun tanpa segan meluangkan waktunya untuk berbagi tentang kisah hidup dan karirnya kepada reporter Money & I, Putra Adnyana. Berikut adalah penuturannya.

Bagaimana awal karir Anda?
Jadi di tahun 1998, saat itu umur saya masih 12 tahun kelas 6 SD, keluarga kami terkena musibah masalah finansial, belum lagi kami terlilit hutang dan pabrik juga bangkrut. Kemudian baru di umur 18 tahun saya memulai karir di bidang MLM, hampir satu tahun waktu itu. Dari MLM-lah kemudian saya belajar public speaking dan bagaimana caranya memotivasi seseorang. Barulah di umur 20 tahun saya memberanikan diri menjadi motivator. Sempat memberikan training secara free selama satu tahun buat teman-teman yang ingin membangun perusahaan. Dari sana kemudian mereka merasakan manfaatnya dan mulai cerita-cerita tentang itu. Barulah kemudian saya mendapatkan undangan untuk mengisi hal yang serupa di radio-radio, dan berlanjut ke TV.

Bagaimana hingga kemudian terjun ke bisnis properti?
Setahun kemudian saya memberi seminar bersama bapak Matius Jusuf di Surabaya. Baru selesai seminar, ternyata pak Matius tertarik dengan cara saya memberikan seminar. Lalu ia mengajak saya bekerjasama untuk membeli tanah seluas 5 hektar dengan biaya yang sangat mahal sekitar 30 miliar. Lalu kami bayar dengan modal kecil, karena kami pikir bisa dicicil untuk pembayaran tanah tersebut. Akhirnya dengan modal yang tak begitu besar, hanya 1,5 miliar, kami akhirnya boleh mencicil selama 2 tahun.

Apakah ini lahan yang kemudian berdiri Ubud Village?
Betul, saat itu cara kami untuk membayar cicilan dengan mendirikan perumahan. Project perumahan ini kemudian kami namakan Ubud Village, jadi memang bergaya Bali. Kita jual dengan harga dan konsep yang bagus. Ternyata laku meskipun hanya gambar desain saja. Dari sanalah kita bisa membayar cicilan berikutnya, bisa membangun rumah dan membangun kantor pemasaran. Ubud Village berlokasi di Jakarta Selatan. Sekarang ini saya sedang mengerjakan proyek properti kedua berupa ruko kos-kosan di dekat BINUS dan juga mulai bergerak di bidang kuliner dengan membuka restoran di Kelapa Gading

Bagaimana cara Anda memberikan nama sebuah proyek, seperti Ubud Village?
Tergantung segmennya, awalnya ini karena saya menyasar segmen kelas menengah. Segmen kelas menengah ini sekarang sedang berkembang pesat. Mereka ingin punya rumah tapi dengan suasana seperti di luar kota. Nah, Bali ini kan pamornya sudah Internasional, apalagi Ubud yang sudah dijadikan lokasi syuting Eat Pray Love. Jadilah nama Ubud yang kita gunakan. Proyek ini sudah dimulai sejak 2010 dan baru rampung secara maksimal di tahun 2012 kemarin.

Kenapa tertarik juga dengan bisnis kuliner?
Restoran saya bernama Bong Kopitown. Awalnya saya berpikir bisnis properti itu tipikal bisnis jangka panjang, dimana hasilnya bisa dinikmati secara besar tapi mungkin baru dinikmati bertahun-tahun kemudian. Sementara bisnis kuliner, meski hasil yang dinikmati sedikit tapi ordernya cepat. Kalau properti kan orang bisa nyicil, kalau kuliner ya mana bisa. Selain itu konsep restoran saya juga sengaja dibuat unik, yaitu restoran dengan konsep penjara yang pertama di Jakarta. Desain interior kita konsepnya memang seperti penjara. Piringnya saja ala piring di penjara, terus para pelayan juga dibekali baju narapidana.

Idenya unik, terinspirasi darimana?
Konsep ini terinspirasi dari Jepang. Tapi saya hanya mengadopsi saja. Saya juga menambahkan sedikit inovasi di dalam konsep ini, yakni dengan membuat konsep cerita di dalamnya. Saya buat cerita ber-setting kota Hongkong tahun 1967. Ceritanya fiktif, dimana ada dua sahabat bernama Bong dan Kim, mereka bersahabat baik. Nah, suatu hari Kim ini masuk penjara. Sahabatnya Bong kemudian menemani Kim dengan menyamar sebagai koki di penjara. Nah, karena makanan-makanan yang dibuat di penjara mendadak semuanya menjadi enak, maka para narapidana yang tadinya sudah dibebaskan memutuskan untuk memilih tinggal di penjara saja. Akhirnya pemerintah Hongkong menutup penjara tersebut dan dibukalah Kopitown. Jadi kesimpulannya, there is a story behind product!

Bagaimana dengan pengalaman Anda ketika mengawali karir di MLM?
Saya pernah ikut MLM, hanya bertahan sekitar satu tahun. Mungkin karena passion saya yang lebih cenderung ke bisnis properti. Tapi jujur, saya banyak mendapat pelajaran dari MLM.

Karena itu Anda bisa memotivasi orang?
Modal awalnya memang dari MLM yang saya ikuti. Kebetulan saya mengisi seminar setiap minggu. Di sana saya membuat grup diskusi, memotivasi orang-orang. Bisa dibilang kemampuan public speaking secara otodidak yang saya dapatkan dari pekerjaan saya sebagai MLM dahulu. Sedangkan secara formalnya, kemampuan public speaking saya dapatkan dengan berguru kepada Pak Tung Desem Waringin. Itu saat saya mengikuti seminar beliau di Bali saat berumur 18 tahun.

Kenapa akhirnya lebih memilih bisnis, bukan melanjutkan pendidikan tinggi?
Setiap orang pasti punya pilihan. Jadi memang bakat saya bukan di akademik. Untungnya selalu naik kelas, tapi sayang nilainya yang pas-pasan. Saya pikir mungkin panggilan hidup saya sesungguhnya bukan di bidang akademik, melainkan yang lain. Pendidikan itu sesungguhnya tak hanya bisa kita dapatkan dalam suasana formal, tapi ada cara lain yang juga bisa kita dapatkan dari makna pendidikan itu sendiri.

Siapa yang mengajarkan Anda untuk bisa menggeluti bisnis properti ini?
Tentu saja saya banyak belajar dari Pak Matius. Beliau pengalamannya sudah sangat banyak dalam bidang properti. Sekarang bagaimana kita bisa mengkolaborasikan itu semua. Kalau Pak Matius jago dalam bidang propertinya, sementara yang muda seperti saya bisa memberikan sebuah kreatifitas dalam mengemas properti tersebut.

Dari sekian banyak usaha yang Anda paparkan, mana yang merupakan prioritas Anda?
Semuanya nyaman saya lakukan. Tapi saya akan lebih fokus untuk bisnis properti dan kuliner.

Dan Anda pun menulis buku?
Dua buku sejauh ini, kurang lebih 6 bulan untuk proses buat bukunya. Menulisnya bisa saat saya berada di pesawat atau mungkin tidak sengaja dapet ide di Ipad dan lain sebagainya.

Siapa motivator dunia favorit Anda?
Beruntungnya kita hidup dalam zaman yang serba online saat ini. Jadi untuk mengakses para motivator dunia cukup lewat Youtube saja, misalnya ada Anthonny Robbins, John Maxwell dan lain-lain.

Apa nilai plus yang membuat Anda dikagumi sebagai motivator?
Jujur, bila ada suatu hal negatif yang perlu disampaikan kepada mereka, maka saya akan katakan itu. Jadi tidak melulu sesuatu hal yang hanya membuat mereka senang sesaat. Selain itu, saya telah mempraktekkan terlebih dahulu apa yang akan menjadi topik seminar nantinya. Jadi ini juga nilai plus untuk saya.
Apa resep menjadi sukses di usia muda?
Prinsipnya sih sederhana, yaitu jangan terlalu cepat puas. Jangan bilang kalau kita sudah tahu, karena sejak saat itu juga kita bisa berarti berhenti. Karena bagaimana pun juga pasti ada sesuatu yang tidak kita tahu.

Passion dalam hidup Anda apa sebenarnya?
Passion saya ya creative business.

Darimana Anda bisa mendapatkan ide-ide kreatif tersebut?
Ide bisa didapat dari jalan-jalan, ketemu orang baru atau majalah-majalah. Ya kita bisa memodifikasi ide-ide lama untuk dijadikan sesuatu yang segar dan inovatif.

Titik terendah dalam hidup Anda?
Pada saat tahun 2006, itu titik terendah dalam hidup saya. Saat itu, rumah kami hendak disita oleh bank. Mobil kami dijual. Saat itu saya ikut membantu papa mengelola bisnis karena pabrik akhirnya disita oleh bank. Kita pun akhirnya membongkar besi-besi tua di pabrik tersebut, kemudian kita timbang untuk dijual lagi. Itu semua pengalaman berharga untuk keluarga kami.

 

Related News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Flag Counter

Copyright © 2018 ISEEBALI . All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri