BRN_7562

Capt. Budi Soehardi – “Tidak Ada Pemberian Yang Lebih Bagus Daripada Pendidikan”

Bertempat di Kodak Theatre, los angeles, amerika Serikat, Desember 2009 silam, budi Soehardi dinobatkan sebagai salah satu penerima penghargaan Cnn Heroes of The Year.
Sebelum aktris Hollywood, Kate Hudson menyerahkan penghargaan tersebut ke tangan budi, ia juga memutarkan sebuah video berdurasi kurang dari 5 menit yang mempresentasikan aktivitas sosial seorang budi Soehardi di Timur Indonesia. Dari sana, publik dunia tahu bahwa budi memang layak meraih penghargaan tersebut.

Sejak tahun 1999, budi Soehardi bersama istrinya Peggy telah terjun ke daerah Timur Indonesia guna berkontribusi secara sosial, terutama membantu para pengungsi Timor-Timur yang kala itu berada dalam kondisi memprihatinkan. bahkan budi Soehardi bersama keluarga kecilnya sendiri rela melepaskan kehidupan mewah mereka di Singapura dan tinggal di Penfui Timur, Kupang demi mengabdi dengan masyarakat di sana. Mereka tidak hanya membantu para pengungsi Timor-Timur, tapi juga mencoba membuat sebuah perubahan di Kupang.

Lewat sebuah panti asuhan bernama Yayasan Kasih Roslin yang didirikan pada tahun 2002, Pria kelahiran 31 agustus ini merawat 54 anak yatim piatu yang sebagian merupakan anakanak korban konflik Timor-Timur. budi membesarkan mereka layaknya anaknya sendiri; memberikan mereka asupan gizi, tempat tinggal, dan pendidikan yang layak hingga perguruan tinggi.

Selain itu, budi dan Peggy juga menjadi orang tua asuh untuk 400 anak lainnya di luar panti Roslin serta melakukan pembinaan kepada masyarakat di kurang lebih 28 desa di Pulau Timor. bahkan budi membuka lahan 11 hektare yang tak jauh dari pantinya untuk dijadikan sawah. Di balik dari seluruh dedikasi dan pengabdian sosialnya yang luar biasa, budi Soehardi sejatinya punya latar belakang profesi sebagai seorang pilot. Tak heran jika ayah dari dua orang putri dan seorang putra ini akrab disapa dengan nama Kapten budi. Selama 9 tahun ia pernah menjadi pilot Korean airlines, kemudian memperbanyak jam terbangnya bersama Singapura airlines. Pria berdarah Yogyakarta ini bahkan rela menyisihkan sebagian besar gaji bulanannya untuk keberlangsungan Yayasan Kasih Roslin.

Money & I Magazine beruntung bertemu dengan Sang Kapten budi di sela-sela aktivitasnya sebagai pembicara dalam forum Rotary Club Denpasar. Kapten budi pun membagi kisah inspiratif lewat petikan panjangnya di bawah ini!

Apa kesibukannya saat ini?

Ya sekarang fokus di Panti asuhan. Semenjak saya resign dari pilot per Juni lalu, saya full time di sini. Terkadang juga memenuhi undangan untuk menjadi pembicara di forum atau event tertentu.

Enggak kangen terbang lagi?

nggak juga. Karena dari kebun kita, satu kilometer ada lapangan. Jadi bisa lihat pesawat take off. Saya sudah 39 tahun terbang, jadi sudah cukup rasanya.

Perubahan apa yang terjadi setelah Anda memenangkan CNN Heroes Of The Year 2009  silam?

Tidak ada yang berubah dalam diri saya. Sama saja seperti dulu. bedanya mungkin, sekarang banyak yang datang ke saya ingin bergabung membantu Roslin.

Apa yang mendorong seorang Pilot seperti Anda mau mengabdikan diri kepada masyarakat di daerah timur Indonesia?

Semuanya berawal dari sebuah makan malam. Saya masih ingat saat itu kami ingin melakukan perayaan kecil usai pulang dari penerbangan Korea. Waktu itu kami membuat acara makan malam bersama di rumah. Kami masak makanan spesial layaknya untuk sebuah perayaan. Kebetulan saat makan malam, TV saya lupa matikan. nah saat itulah kami mendengarkan sebuah siaran TV dari Indonesia yang memperlihatkan kondisi para pengungsi Timor-Timur. Waktu itu tahun 1999.

Begitu sedih rasanya ketika membandingkan kondisi kami yang bisa makan dan tinggal dengan nyaman, sementara para pengungsi tidak bisa mendapatkan hal serupa, mereka kesusahan di sana. Kami tak tega melihatnya. Usai menyimak tayangan tersebut, akhirnya kami berdiskusi dan memutuskan untuk mengunjungi para pengungsi di sana sekaligus membawakan mereka bantuan. Padahal sebelumnya kami sudah punya rencana untuk liburan keluarga dengan melakukan perjalanan keliling dunia selama 40 hari. Tapi semua keluarga sepakat untuk dibatalkan. Rasanya tidak pantas kami pergi liburan, sementara para pengungsi di sana sangat membutuhkan bantuan.

Bagaimana kondisi di pengungsian Timor-Timur saat itu?

Sangat mengerikan. beruntung ketika masuk ke wilayah tersebut tidak dipersulit, karena kita memang datang ke sana murni ingin membantu. Hanya saja tidak mudah untuk mencapai lokasi pengungsian, apalagi dengan membawa logistik bantuan.

Dari Kupang saja perlu waktu paling tidak 6-7 jam. Kira-kira ada sembilan kali saya bolak-balik ke Tim-Tim untuk membawa bantuan. Saat itu kami membantu para pengungsi yang berada di daerah atambua, perbatasan Tim-Tim dan Indonesia. Kami membawakan makanan, pakaian, hingga obat-obatan, di mana ada sekitar 40 ton yang kami bawa saat kunjungan pertama ke sana.

 

Sebelumnya kami sudah punya rencana untuk liburan melakukan perjalanan keliling dunia. Tapi semua sepakat untuk dibatalkan. Rasanya tidak pantas kami pergi liburan, sementara para pengungsi di sana sangat membutuhkan bantuan.”

 

Setelah membantu pengungsi di Timor-Timur, apa yang membuat Anda tertarik untuk  mendirikan Panti Asuhan di Kupang?

Ya itu tadi, kalau kami mau ke Tim-Tim kan dari Kupang. Kami sempat menelusuri desa-desa setempat dan melihat kondisi di sana juga memprihatinkan. banyak juga anak-anak yatim piatu dari pengungsian. Kami berpikir bagaimana bisa menolong lagi dengan impact yang lebih bagus lagi. Waktu kita terbatas dan enggak bisa menolong semua orang. bagi saya definisi membantu itu adalah menolong orang yang membutuhkan tanpa mesti ada embel-embel suku, ras, maupun agama. Tercetuslah ide untuk membuatkan tempat tinggal bagi anak-anak yatim piatu dan menyekolahkan mereka. berdirilah Yayasan Kasih Roslin ini di Kupang. Panti asuhan ini mengasuh dan membesarkan bayi yatim piatu. Kami mengawalinya dengan mengasuh 4 bayi yatim piatu saja di sebuah rumah kontrakan di daerah Walikota di Kupang. Saat itu rumah yang kami gunakan untuk panti masih sederhana, baru kemudian kami pindah ke gedung yang kami bangun sendiri di daerah Matani.

Dari mana dorongan sosial dalam diri Anda itu muncul?

Saya bisa merasakan kalau jadi orang miskin itu enggak enak. berkat Tuhan, sekarang saya bisa berbagi, kenapa enggak? apa yang saya dapatkan dan juga yang mereka dapatkan sekarang adalah pemberian-nya. Saya enggak pernah berkurang. Tuhan masih kasih saya makan, tidak kelaparan. Karena lewat jalan kami juga, anak-anak lebih mendapatkan exposure dengan dunia luar. artinya, jalan selalu saja ada. Kita tidak boleh sekali-kali takut untuk berbuat dan memberi. Dan inti yang saya selalu tanamkan ke anak-anak di panti asuhan itu adalah sesuatu yang harus kita kejar, berlomba-lomba tak lain itu ya dengan memberi. Dengan memberi, kita bukan tambah miskin tapi semakin punya. Saya percaya semakin kita memberi, semakin kita diperkaya.

Anak-anak kandung Anda juga dilibatkan untuk kegiatan sosial di Roslin?

Waktu saya ajak anak-anak, umur mereka belum empat tahun, tapi mereka sudah merespon aktivitas sosial ini dengan baik. Kalau mereka libur, cuti atau enggak ada kegiatan apa-apa, pasti ke panti ikut bantubantu. oh ya, anak saya yang pertama sempat ke kupang untuk melakukan observasi apa yang bisa dia lakukan untuk anak-anak. Karena dia lihat anak-anak bisa nyanyi, jadi dia punya hasrat untuk melatih mereka. Sekarang dia coba belajar music engineering dan ke depannya akan membantu melatih vokal anak-anak dan dia akan me-manage untuk pendirian studio di sana. Satu lagi anak saya juga punya background seni, jadi dia juga ingin membagi keahliannya kepada anak-anak. Dia juga orangnya pintar dalam keuangan, sehingga ingin mencoba mengajarkan anak-anak untuk berhemat.

 

Tuhan yang sudah kasih saya semua itu untuk diberikan ke anak-anak. Yang jelas setiap saat kita membutuhkan, pasti Tuhan akan membantu. Jadi jangan mikir susah. Tuhan tak pernah jauh.” Capt. Budi Soehardi

Bagaimana perkembangan Roslin saat ini?

Perkembangan Roslin selalu lebih bagus dari yang kita ekspektasikan. Dari yang awalnya kita ngontrak rumah, sekarang sudah ada beberapa gedung yang bisa didirikan, ya sekitar 8. Sekarang kita juga sudah punya sekolah sendiri, yakni sekolah TK. Di sana yang sekolah ada anak-anak panti Roslin dan lainnya juga anak-anak yang berasal dari desa sekitar.

Sekolah kami beda dari yang lain, kenapa? Karena mereka datang pagi-pagi ke sekolah. baru bangun tidur, mereka langsung ke sekolah, enggak usah ngapain. Datang ke sekolah, mereka langsung dimandiin. Itu karena mereka enggak punya air di rumah. Setelah dimandiin, mereka dikasih seragam, makan pagi, baru belajar, nantinya makan siang, belajar lagi, terus dikasih susu. Semuanya gratis.

Apa sebenarnya kesulitan saat di awal-awal mendirikan Roslin?

Waktu. Karena dulu saya tinggal di Singapura jadi harus bolak balik juga. Perlu dana juga yang lebih besar.

Berapa anak yatim piatu yang ada di Yayasan Kasih Roslin?

Sekarang yang tercatat di panti ada 148 anak yatim piatu. Semuanya disekolahkan sampai perguruan tinggi. Tapi ia ada beberapa yang tidak ingin dikuliahkan dan hanya sampai SMa saja. Sudah ada satu anak yang lulus dari jurusan kedokteran. ada pula yang lulus dari agrikultur dan teknik mesin.

Oh Ya, kenapa namanya Roslin?

Roslin ini sebenarnya gabungan dari dua nama nenek kandung dari istri saya. Waktu istri saya kecil, dua nenek ini selalu memberikan nasehat kepada istri saya, tentang bagaimana menjadi orang yang baik dan hidup berkeluarga dengan baik. Untuk mengingat jasa mereka kepada istri saya, maka disatukanlah kedua nama mereka untuk digunakan sebagai nama panti ini.

Dari mana untuk seluruh operasional Roslin berasal, apakah banyak kucuran donasi yang datang?

Selama ini sebagian besar dana untuk Roslin saya yang keluarkan dari gaji selama menjadi pilot.Terkadang memang ada donasi dari teman-teman relawan, tapi itu kan enggak setiap bulan. Sekarang saya sudah tidak bekerja, jadi saya berusaha memaksimalkan aset yang saya punya untuk bisa membiayai Roslin.

Saya masih punya rumah dengan 34 kamar yang dikontrakan, ada juga peternakan di Solo, dan ada juga rumah yang di Jakarta. Semua uang dari aset tersebut saya salurkan untuk memenuhi kebutuhan Roslin. Tuhan yang sudah kasih saya semua itu untuk diberikan ke anak-anak. Yang jelas setiap saat kita membutuhkan, pasti Tuhan akan membantu. Jadi jangan mikir susah. Tuhan tak pernah jauh. Kalau berbuat sesuatu jangan ngundang-ngundang orang. Kalau orang datang itu berarti bonus. Makanya saya nanem padi dan sayuran sendiri untuk memenuhi kebutuhan pangan di Roslin. Saya berusaha semaksimal mungkin, kalau bisa jangan minta-minta.

Ngomong-ngomong lahan pertanian yang tengah Anda buka sekarang itu juga bisa dimanfaatkan oleh warga sekitar?

Kalau lahan yang sekarang baru sebatas dimanfaatkan oleh panti asuhan. Tapi nanti, kami akan buka lahan yang lebih besar, mungkin itu akan bisa membantu banyak orang lagi. Saya nanti akan buka lahan untuk kebun pisang, yang kemarin itu hanya 3 hektar. Kami sudah membuka lahan pertanian sejak april 2008 lalu, letaknya kurang lebih 40 km dari panti asuhan dan luasnya mencapai 30.000 m2.  Tanah di lahan ini strukturnya penuh dengan kandungan batu, tapi akhirnya kami bisa membersihkannya dan membuatnya subur, sehingga tanaman bisa tumbuh.

Seberapa penting pendidikan bagi anak-anak ini, sehingga Anda nampaknya sangat mempriorotaskan si Roslin?

Tidak ada pemberian yang lebih bagus daripada pendidikan. Kita bisa mengisi material dan uang, tapi pendidikan itu lebih penting. Jangan bekerja atas dasar otot. otot nanti kalau sudah tua umur 40 tahunan itu akan mulai susah, apalagi 50 tahun lebih berat. Kalau bisa kerjalah dengan ilmu kalian, profesor sampai umur 70-an juga terus jalan. Ilmu itu menghidupkan. Bagi kami, fokus di pendidikan tak pernah berubah. Untuk tambahannya pasti ada program yang lain. bulan Desember ini (tahun 2015 lalu.red), kita memulai proyek air, berupa air minum dan air irigasi kami persiapkan. Setelah itu pertanian akan kami persiapkan di lahan yang besar itu.

Related News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Flag Counter

Copyright © 2018 ISEEBALI . All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri