cracking values

Cracking Values

Awal tahun 2013, saya beserta keluarga liburan ke Singapura. Sepanjang perjalanan pulang dari hotel ke Airport Changi, saya berbincang-bincang dengan sopir, warga negara Singapura keturunan Tionghoa. Dia bercerita, betapa bangganya menjadi warga Singapura. Semuanya serba teratur. Jalanan tidak pernah macet. Kalau hujan hampir tidak pernah banjir, gorong-gorong besar, dalam dan bersih.

Walaupun ini kota besar, tapi seperti hutan. Banyak tanaman dan bunga-bunga, betul-betul hijau dan semua jalan sangat bersih sekali. Semua tanaman di kontrol oleh negara, bagi yang menebangnya ada denda yang sangat besar. Sepanjang jalan, tidak ada polisi yang terlihat. Para pemudanya dan anak sekolah tidak pernah ada tawuran. Kalau ada sedikit keributan, maka tidak sampai 5 menit polisi sudah banyak di tempat, mereka begitu sigapnya, pak sopir bercerita penuh antusias.

Semua anak-anak yang sekolah baik warga negara Singapura maupun asing, semuanya giat belajar. Kompetisinya sangat tinggi. Tugas anak, hanya belajar, belajar dan belajar, bukan tawuran. Kebanyakan warga asing yang sekolah di sini, tidak mau balik lagi ke negara asalnya. Memilih menetap, mengapa demikian?

Di sini semua serba teratur. Banyak perusahaan multinasional ada disini, sehingga mencari pekerjaan sangat mudah serta gajinya sangat bagus. Walaupun Singapura merupakan salah satu negara maju dengan income perkapita sebesar $50,000 setahun. Harga-harga makanan tidak berbeda jauh dengan Indonesia yang income perkapitanya mendekati $4,000 setahun. Sehingga, hampir semua warga negara Singapura memiliki rumah sendiri. Ini semua merupakan achievement yang luar bisa, dan setiap negara memimpikan hal ini, termasuk Indonesia.

Tanggal 11 Maret 2011, gelombang tsunami menerjang pesisir utara Jepang, menghancurkan sejumlah rumah dan gedung setelah gempa berkekuatan 8,8 skala ricther terjadi. Akibat bencana itu, 6.400 orang tewas, 300.000 orang kehilangan tempat tinggal dan kerugian ekonomi mencapai US$100 milyar atau hampir Rp.1.000 triliun atau senilai APBN Indonesia tahun 2011.

Pasca tsunami banyak orang Jepang yang kehilangan harta bendanya. Mobil, dompet, peralatan rumah tangganya, brankas, emas batangan atau perhiasan tercecer di antara puing-puing. Namun masyarakat Jepang memilih tidak mengambil barang-barang yang memang bukan miliknya. Mereka tidak melakukan penjarahan, justru mereka secara masif melakukan penyisiran secara bersama-sama untuk mengumpulkan barang-barang tersebut dan hasilnya diserahkan semuanya ke kantor polisi. Masyarakat Jepang tertib antri kala menerima bantuan dari pemerintahnya, pasca tsunami. Ini membuktikan betapa tata nilai tentang kejujuran dan disiplin telah menjadi budaya masyarakat Jepang.

Bagaimana dengan Indonesia?
Banyak Kepala Daerah atau anggota DPR/DPRD yang ditangkap KPK karena kasus korupsi. Ini merupakan hal yang biasa, karena sudah terlalu banyak jumlahnya. Bahkan sebagian diantara mereka masih ditempatkan sebagai orang yang sangat dihormati dan disegani walaupun mereka sudah menyandang status koruptor, karena kita masih melihat dari segi materi atau kekayaan yang dimiliki dibandingkan dengan value seseorang. Setiap musim hujan, penyakit akutnya selalu muncul, banjir, banjir, dan banjir. Bahkan ibu kota Jakarta dikepung banjir. Penyebabnya sudah diketahui, curah hujan yang besar, saluran pembuangan yang kecil. Sudah kecil tersumbat oleh sampah pula. Air tidak mengalir dengan lancar. Membuang sampah pada tempatnya belum menjadi budaya yang kuat. Kita tidak malu membuang sampah di jalan, selokan dan sungai. Sebagian masyarakat melakukannya serta sudah menjadi kebiasaan. Setelah ada banjir karena selokan mampet, baru sadar bahwa banyak sampah. Kejadian ini selalu berulang-ulang. Pada hal kebersihan itu sebagian dari Iman.

Ketika muridnya sudah siap maka guru akan muncul dengan sendirinya.
Jakarta, saat ini memiliki Gubernur dan Wagub yang fenomenal, Jokowi dan Ahok. Masyarakat Jakarta bersuka cita dengan Gubernur yang baru. Dukungan yang diberikan masyarakat juga luar biasa. Banyak program pemerintah mendapatkan respon yang positif. Mulai pelantikan Walikota di bantaran sungai. Jokowi blusukan ke kampung-kampung kumuh, sungai, tumpukan sampah, dan banyak tindakan yang dilakukan untuk melihat permasalahan yang ada di Jakarta.

Sekarang ini, walaupun belum berjalan, banyak program yang sedang dipersiapkan untuk dikerjakan. Mulai transportasi MRT, monorel dan Deep Tunnel. Penataan kota lama dari pedagang kaki lima. Gerakan penghutanan kota Jakarta. Pembersihan sungai dan bantaran sungai untuk mencegah banjir (walaupun didahului dengan banjir).

Mengapa hanya kota Jakarta yang responnya begitu luar biasa, sedangkan daerah lain belum? Karena masyarakat yang telah siap adalah Jakarta. Masyarakat Jakarta capek dan lelah dengan kemacetan yang luar biasa, banjir hampir setiap tahun, sampah dan perkampungan yang kumuh. Inilah saatnya untuk berubah, masyarakat sudah bosan. Masyarakat ibarat seorang murid, mereka sudah siap untuk berubah. Karena telah siap, maka siapapun pemimpinnya yang muncul akan mendapatkan dukungan. Hebatnya, Jokowi (ibarat guru) datang dengan pembawaan yang merakyat, sederhana serta memiliki gagasan dan ide yang luar biasa untuk membenah kota Jakarta. Jokowi akan lebih mudah untuk menggerakkan semua komponen masyarakat di Jakarta. Seperti mudahnya seorang guru memberitahu atau menasehati muridnya.

Seorang pemimpin, harus seperti seorang guru. Semua ucapan dan tindakannya akan ditiru atau diikuti oleh muridnya. Semoga, euforia Jokowi dengan Jakartanya menular ke daerah lainnya. Bagaimana dengan Bali? Rhenald Kasali dengan buku terbarunya Cracking Values, semoga bisa memberikan inspirasi bagi Bali.

Related News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Flag Counter

Copyright © 2018 ISEEBALI . All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri