assets.entrepreneur.com

Creative Millionaires

Di akhir tahun 90-an, virus Trojan mewabah. Alih-alih berperang dengan membuat antivirus, tapi justru hal ini mendorong sejumlah anak-anak muda belajar membuat virus. Dan dari sekian banyak yang mencoba, maka nama Unggul Eka Putra tercatat salah satunya.

Ketertarikan unggul berawal dari kegemarannya mengutak atik software, “itu jamannya virus Trojan lagi ramai di Indonesia, nah saya hobi bikin virus itu he..he..,” kelakarnya kepada kami. Selain itu, Friendster dan Myspace juga tengah booming, walaupun sekarang sudah tidak ada, tapi kedua sosial media inilah yang menjadi sarana untuk memasarkan karya musiknya, belakangan menjadi cikal bakal passion-nya di dunia digital.

Inilah modal awal pemuda yang saat ini populer lewat akunnya di @makelarsedekah, komunitas yang memiliki lebih dari 35 ribu followers di Twitter. Karirnya dimulai ketika bergabung dengan sebuah agency.  “Jabatannya unik, ‘Social Media Strategist’, saya pikir, saya punya hobi dibidang ini, kenapa nggak ditekuni saja sekalian,” alasannya bergabung di agency tersebut.

Beberapa brand sempat dikelolanya pada waktu itu, seperti Coca-Cola dan Indosat, walaupun kapasitasnya belum besar. Namun belakangan, Unggul mulai mengelola proyek besar, salah satunya BCA. “Peran saya sebagai ‘Community Spesialist’, ini juga saya baru dengar istilahnya he.. he.. dimana saya nggak cuma handel media sosial, tapi juga komunitas berdasarkan channel sosial media perusahaan tersebut,” ujarnya.

Kemajuan teknologi memang pada akhirnya menciptakan sejumlah lapisan profesi baru, merubah kebiasaan hidup khususnya anak-anak muda generasi milenial. Apalagi jika mengingat demografinya, dimana lebih dari setengah penduduk Indonesia adalah pemuda, maka sulit untuk membantah bahwa mereka merupakan pangsa pasar paling menjanjikan saat ini.

Wajar jika kemudian berbagai korporasi berlomba untuk penetrasi melalui internet, dimana media sosial adalah salah satu sarana yang dinilai cukup efektif untuk menyampaikan pesan perusahaan. Dengan pendekatan yang tepat, maka pesan tersebut bisa tersampaikan ke segmen pasar yang dituju. Untuk itulah profesi seperti Sosial Media Strategist menjadi demikian berperan.

Media Sosial juga telah mewadahi munculnya berbagai komunitas, yang menuntut perusahaan-perusahaan besar berkolaborasi dengan mereka. “Peran komunitas itu sangat besar, komunitas punya massa yang banyak, loyal dan mau datang kalau perusahaan bikin acara. Ini yang sebuah brand cari sebetulnya,” papar unggul soal bidang kerjanya.

Kemajuan teknologi inilah yang akhirnya menggeser doktrin tua untuk mengejar ‘Indonesian Dream tahun 80-90-an’, menjadi PNS, insinyur atau Dokter. Di era informasi ini, anak-anak muda lebih memilih untuk hidup dengan menjual keterampilannya. Bahkan kemajuan teknologi telah memunculkan sejumlah profesi unik sebagaimana ditekuni oleh Unggul.

Coba bayangkan, dulu kita tidak mengenal profesi tukang tweet, sekarang ada profesi dimana seseorang kerjaannya mem-posting status di media sosial, dan itu dibayar. Beberapa diantaranya bahkan mampu menghasilkan omzet hingga jutaan rupiah dalam sekali tweet.

Selain Unggul dengan profesinya sebagai Social Media Specialist, adapula sejumlah nama-nama yang kini tenar karena lakon mereka melalui YouTube, media sosial untuk mengunggah video tersebut menjadi saluran baru bagi anak-anak muda kreatif yang seolah memiliki stasiun televisi sendiri. Ada nama Edho Zell, yang terbiasa mengisi kontennya dengan berbagai video parodi, atau Da Lopez bersaudara, yang menyebut diri mereka Skinny Indonesia 24, kreator konten dan pembuat video-video lucu. Termasuk Yoga Arizona yang sebelumnya sukses di video-video Instagram, kini turut meramaikan jagat YouTube (profilnya kami paparkan lengkap dalam rubrik The Rookie edisi ini), kalau lagi ramai pemasang iklan, Yoga bisa mengantongi hampir mencapai Rp. 50 juta per bulan, sebagaimana ia sampaikan kepada kami.

Selain itu, YouTube juga mempopulerkan sejumlah penyanyi, Raisa, Isyana atau Sheryl Sheinafia adalah nama-nama yang tenar melalui akun mereka di YouTube. Ketika upaya untuk berjibaku melalui major label dirasa sulit, maka YouTube menjadi short cut untuk keberhasilan mereka.

Pada akhirnya, sosial media bukan hanya media interaksi baru dalam bidang pemasaran, apalagi sekedar buat cuitcuit berkeluh kesah. Namun bisa menjadi wahana dari munculnya sejumlah creative miliionaires, anak-anak muda yang dengan jeli menangkap peluang ini.

Dan hebatnya, mereka tidak butuh waktu lama untuk mengukir kepopuleran prestasinya. Yang dibutuhkan hanyalah kreatifitas dan kemauan untuk belajar, dan ini mengantarkan mereka masuk dalam jajaran para milioner muda Indonesia.

 

 

Related News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Flag Counter

Copyright © 2018 ISEEBALI . All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri