IMG_3022

Desy Aryanti “Life is too short to be anything but happy”

Kiprahnya diawali sebagai Duta BUMN, dan sekarang ia meyakini sinergo antar BUMN bisa dimulai dari pekerja-pekerja muda.

Moto hidupnya,”life is too short to be anything but happy”, hobinya pun travelling. Kiprahnya, tidak main-main, sejak di bangku sekolah, pemilik nama lengkap Ni Wayan Desi Aryanti ini aktif mengikuti kegiatan debat bahasa inggris dan menjadi Champion Canada Round di ajang Indonesia Schools Debating Championship, serta menjadi delegasi Indonesia pada Sunburst Youth Camp di Singapura. Segudang prestasi yang ia miliki terus berlanjut hingga ke bangku kuliah. Dengan menyandang status mahasiswa, Desi bergabung dengan relawan aktif kelas inspirasi Jakarta 3 dan 4. Ini dilakukannya karena meyakini, bahwa pendidikan adalah investasi terbaik yang bisa kita lakukan bagi generasi muda. Selain itu, tetap aktif mengikuti dan menjuarai beberapa kompetisi debat bahasa inggris dan karya tulis nasional. Puncaknya, ia terpilih menjadi perwakilan Pertamina di ajang Duta BUMN 2015.

Bergabung dengan PT. Pertamina (Persero) sejak tahun 2011. Lulusan Fakultas Hukum Universitas Udayan ini, sebelumnya mengawali karir sebagai junior counsel di salah satu Law Firm di Kota Denpasar, sebelum akhirnya bertambat diperusahaan minyak negara ini. Menempati posisi di bagian Legal Counsel & Compliance, Gadis jelita ini mempunyai keinginan untuk berpartisipasi dalam program pemberdayaan masyarakat dan peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia melalui perannya sebagai Duta BUMN. Kepada Chandra Adi Putra, kontributor kami, Desi bercerita panjang soal cita-citanya.

Halo Desi, apa kegiatannya sekarang ini?

Yang pasti kerja, tapi selain kerja harian, saya sedang sibuk mempersiapkan kegiatan kantor. Kami lagi prepare kegiatan ‘Pertamina Energi Untuk Negeri’, itu kayak model pelatihan kelas inspirasi versi-nya Pertamina. Selain itu, ya masih jalan dan mempersiapkan program kerja sebagai duta BUMN 2015.

Di proyek ini, kamu terlibat dalam hal apa?

Kalau di proyek “kelas inspirasinya” Pertamina, saya ikutan gabung di panitia juga. Tapi selain itu, saya juga menjadi relawan pengajar. Jadi selain bantu-bantu panitia di bagian komunikasi, saya juga nanti ngajar anak-anak SD, berusaha mengenalkan nilai-nilai yang baik untuk anak-anak.

Bagaimana awalnya hingga kamu menjadi bagian dari Duta BUMN?

Boleh dibilang ini jebakan Batman dari teman-teman, karena mereka mendaftarkan saya, tapi saya tidak tahu kalau didaftarkan mereka. Aku waktu itu sedang liburan, terus mereka daftarin, akhirnya dipanggil untuk wawancara. Pada datang, eh ternyata lolos dan masuk final. Kemudian dari wawancara final, terpilih lagi untuk mewakili Pertamina.

Pengalamanmu dalam lomba debat, apakah itu berguna hingga akhirnya terpilih sebagai Duta BUMN?

Iya, saya bersyukur waktu SMA dan kuliah sering mengikuti forum debat. Karena dengan debat itu, membantu kita untuk berpikir cepat dan logis. Ini tidak cuma membantu saya di pekerjaan, tapi sewaktu pemilihan duta BUMN juga sangat membantu. Bahkan pada saat sesi wawancara, karena ada dua kali wawancara, yang pertama itu wawancara pagi untuk menentukan lima besar dan masuk final. Kemudian di malam final, saya diberikan pertanyaan yang sama sekali tidak bisa saya prediksi, saya tidak dikasih bocoran pertanyaanya akan seperti apa, dan saya punya satu menit untuk menjawab pertanyaan itu. Dan syukurnya saya bisa jawab sih waktu itu.

Apa passionmu?

Sukanya sih travelling sebenarnya, saya suka baca, tapi juga suka tantangan. Jadi suka belajar hal-hal baru, dan syukurnya ditempat saya sekarang, memberikan kesempatan untuk itu.

Pendapat kamu tentang produktivitas anak-anak muda saat ini?

Kalau menurut saya, anak-anak Indonesia sekarang ini banyak yang kreatif mulai berkembang, bahkan ada yang sudah masuk internasional. Kreatifitas mereka bagus banget, hanya saja ini harus lebih didorong oleh pemerintah. Misalnya saja mereka diberikan bantuan kemudahan dalam fasilitas dana, di ikutsertakan dalam pameran-pameran dan sejenisnya.

Apa sih pendapatmu tentang sistem pendidikan di Indonesia?

Sistem pendidilan di Indonesia, semenjak dipegang Pak Anies (Anies Baswedan Menteri Pendidikan.red), dari yang saya baca-baca, sudah banyak kemajuan ya. Misalnya UAN yang tidak lagi menjadi tolak ukur lulus tidaknya siswa. Yang cenderung dikembangkan adalah softskill anak-anak muda, jadi tidak hanya kemampuan akademis mereka.

Tapi bagaimana nanti mereka menghadapi tantangan di masyarakat, bagaimana mereka menghadapi tantangan saat dunia kerja, itu yang tidak pernah diajarakn ke anak-anak muda itu. Jadi mereka cerdas, tapi mungkin yang perlu diajarkan lebih banyak di sekolah itu adalah bagaimana sikap mereka untuk menghadapi misalnya dunia kerja, untuk menghadapi masyarakat. Hal-hal seperti itu yang perlu untuk dilatih.

Punya pengalaman buruk ketika harus masuk dunia kerja?

Ada sih, seperti culture shock. Seperti misalnya, dikampuskan yang pintar adalah yang terbaik. Tapi jika di dunia kerja, tidak semua yang cerdas itu yang bakalan shiny, you need to cooperate with your co-workers dan dengan atasan Anda. Karena dunia kerja itu banyak team work, seperti itu. Bagaimana kita bisa bekerja sama dengan yang lain, bagaimana kita bisa bekerja sama dengan yang lain, bagaimana kita bisa confirms counterpart kita, itu yang paling penting.

Dalam pidato kamu waktu ajang Duta BUMN, ingin menyatukan BUMN Indonesia yang terpisah. Apakah itu visible atau tidak?

Sapa punya optimisme itu akan visible. Apalagi sekarang menteri BUMN, Ibu Rini Soemarno menghimbau kepada seluruh BUMN agar melakukan sinergi. Dengan adanya sinergi, sebenarnya kita akan bisa mencapai sesuatu yang tidak akan bisa kita capai, jika kita melakukannya sendiri. Dan sebenarnya sudah banyak contoh-contoh sinergi antara BUMN-BUMN itu. Seperti misalnya Pertamina dan PGN dalam pembangunan PT. Nusantara REGAS. Itu adalah perusahaan yang pertama kali membangun floating storage regasification unit di Indonesia. Hasilnya, mereka memproduksi re-GAS LNG yang dibeli dari kontraktor d Indonesia, dan Listrik GAS dibeli oleh PLN untuk memasok listrik ke daerah Jawa Barat. Jadi itu sebenarnya sudah ada, hanya ini perlu diperluas sinergi seperti itu.

Kalau harus memilih, Dahlan Iskan atau Rini Soemarno?

Haa.haa kedua-duanya punya kelebihan masing-masing.

Rencana kamu ke depan setelah ini?

Saya sih ingin menetap di Bali. Tapi sepertinya pekerjaan saya tidak memungkinkan untuk diam di Bali. Jadi, ya saya akan mengembangkan karir di sini dulu, karena banyak sekali kesempatam-kesempatan yang ada di sini, dan tak saya peroleh di Bali, seperti negosiasi dengan perusahaan-perusahaan asing IOC-IOC Internasional, hal yang seperti ini yang sulit saya peroleh jika di Bali. Selain itu, saya punya setahun untuk menjabat sebagai Duta BUMN. Jadi harus menyelesaikan tugas, melaksanakan program-program kerja sebelum nanti terpilih Duta BUMN yang baru.

Pesan Anda untuk anak muda Indonesia untuk menjadi insan berprestasi seperti anda?

Never say no for chance, kesempatan itu jarang sekali akan datang dua kali. Jadi ketika dia datang, diambil saja! Karena kalau kita bilang “tidak”, kita akan tetap diam di posisi kita saat ini. Tapi kalau kita bilang “YA” dam mengambil kesempatan itu we never no were loads to.

Related News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Flag Counter

Copyright © 2018 ISEEBALI . All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri