IMG_6158

Dorong Kolaborasi Komunitas lewat Kumpul

Melalui kumpul, Faye Scarlet Alund ingin mendorong terciptanya atmosfer kolaborasi antar komunitas di kota Denpasar…

 

Meja-meja kayu panjang dan kursikursi empuk ala kantoran mengisi tiap sudut ruangan Kumpul Coworking Space. Ada seorang pria yang sibuk menatap layar monitor laptop di hadapannya. Sambil mendengarkan dentuman musik yang mengalun lewat headset, pria tersebut seolah tak membiarkan kebosanan menghampirinya. Ada pula beberapa orang yang larut dalam sebuah percakapan mengasyikan seputar ide-ide dan project baru mereka. Di sudut lainnya, belasan orang berkumpul mengikuti sebuah kelas penulisan kreatif. Mereka tampak bersemangat mendiskusikan hal-hal yang mampu mengasah passion mereka.

Beginilah wajah Kumpul Coworking Space selama empat bulan terakhir. Wajah yang dipenuhi semangat berkreasi para entrepreneur dan freelancer di kota Denpasar. Faye Scarlet Alund selaku founder Kumpul tak menyangka coworking space yang diinisiasinya bersama sang suami Dennis Alund cepat menerima respon positif, padahal baru dibuka di awal Februari 2015 lalu. Bagi para pekerja lepas yang rutinitasnya tidak terbatas oleh waktu dan aturan kantor, seperti entrepreneur, freelancer, dan penggiat startup, tentu memandang konsep coworking space sebagai alternatif ruang kerja yang menjanjikan.“Konsep coworking space itu sendiri sebenarnya lebih cenderung open space. Lebih ke ruang terbuka yang mendorong orang-orang dari berbagai disiplin pekerjaan untuk berkolaborasi. Kalau sudah dikotak-kotakan, disekat dengan dinding, mereka justru malas untuk berkolaborasi,” terang Faye. Ya, coworking space bukanlah kantor pada umumnya yang memiliki dinding pembatas antara satu departemen dengan departemen lain. Justru, coworking space ingin menumbuhkan iklim berkumpul, bekerja sama, dan saling bertukar ide. Ini sesuai dengan makna di balik nama Kumpul itu sendiri. Oleh karena itu bagi wanita kelahiran Jakarta, 5 November 1980 ini, sebuah kolaborasi menjadi goal utama dari keberadaan coworking space.

 

Berbeda dengan coworking space di Bali pada umumnya, Kumpul justru menjadikan komunitas lokal sebagai target pasar utamanya. 

 

Benih ide konsep coworking space pertama kali muncul saat Faye dan suaminya bekerja di sebuah LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) kemanusiaan. Ketika itu mereka ditugaskan untuk membantu para penderita HIV/AIDS di Zimbabwe. Mereka pun berkantor dengan fasilitas seadanya saja di sana. “Kita berada di sebuah district dengan fasilitas kantor yang minim. Kantornya polos tanpa sekat. Kita bekerja di satu meja yang sama, tidak ada pembatas antara satu departemen dengan departemen yang lain,” jelas Dennis. Sewaktu bekerja di LSM kemanusiaan, Faye menangani hal-hal yang menyangkut program psikososial, konseling, community support, dan health education. Sementara Dennis bertanggung jawab untuk urusan logistic.

Faye mengaku bekerja dengan banyak orang dari berbagai negara dan disiplin pekerjaan di dalam satu ruangan tanpa sekat memberikannya banyak pengalaman dan wawasan terhadap fokus bidang rekan kerjanya. “Bisa dibilang dengan kondisi kantor seperti itu, pekerjaan kita menjadi lebih efektif. Banyak wawasan baru yang kita dapatkan dari dokter dan perawat, mereka pun sebaliknya. Kita jadi tahu teknik pengobatan apa, mereka pun tahu hal lain di luar bidangnya. Banyak inspirasi-inspirasi baru muncul,” papar Faye. Perempuan berwajah oriental ini percaya bahwa dengan sharing satu tempat untuk bekerja dan mau bercampur baur dengan orang-orang di dalamnya akan mendorong terjadinya sebuah hubungan untuk kolaborasi. “And we thought it would be cool to have a space like that here,” ucap ibu dari dua orang putri ini.

Bagi Faye dan Dennis, bekerja di sebuah coworking space tidak sama dengan bekerja di rumah atau di kafe. Ada beberapa freelancer yang mungkin lebih nyaman bekerja dengan menggunakan piyamanya di rumah dan tanpa harus merogoh kocek. Tapi, fasilitas yang didapatkan pun dipastikan tidak seprofesional yang diharapkannya. “Mungkin bisa tidak efektif bagi orangorang yang perlu koneksi internet yang cepat. Dan bagi yang sudah berkeluarga, privasi dalam bekerja pun semakin berkurang, terutama ketika perhatian terpecah antara menyelesaikan pekerjaan atau menemani anak bermain,” ungkap Faye.

Pun terjadi pada mereka yang memilih bekerja di kafe, biaya yang dikeluarkan hanya untuk membeli secangkir kopi pun akan membengkak setiap bulannya. Sesungguhnya persoalan utama untuk freelancer yang bekerja di rumah maupun di kafe adalah mereka akan terisolasi dari orang-orang profesional di sekitar mereka. “Mereka akan butuh effort lebih untuk bisa terhubung dengan profesional-profesional lainnya. Adanya sebuah koneksi itu sebetulnya sangat baik untuk membantu kita dalam mengembangkan diri, baik secara profesional maupun personal. Itu yang bisa ditemukan lewat coworking space,”sambung Faye.

Hubungan  Komunitas

Konsep coworking space bukan sesuatu yang baru di Bali. Tercatat lebih dari lima coworking space yang tersebar di daerah Ubud, Sanur, Seminyak dan Canggu. Pendirinya pun kebanyakan berasal dari ekspatriat dan menang menargetkan pasar untuk kalangannya saja. Faye sendiri pada awalnya belum tahu kalau ide yang didapatkannya dari pengalaman selama menjadi relawan di Zimbabwe tersebut bernama coworking space.

“Ternyata coworking space itu baru menjadi fenomena di Amerika sekitar tahun 2006. Sebelumnya kita belum pernah dengar istilah tersebut, namun memang sempat terpikirkan ide seperti ini. Saat kita pulang ke Indoenesia tahun 2009 dan pindah ke Bali tahun 2011, belum ada coworking space. Nah, baru setelah kami bermaksud serius untuk memulai bisnis dengan konsep ini dan mulai bicara dengan banyak orang dan melakukan reseacrh di awal tahun 2014 kami temukan konsep tersebut di Ubud, persis dengan apa yang kami mimpikan,” imbuh Dennis. Saat itulah Faye berpikir bahwa bisnis sejenis coworking space ternyata juga bisa sustainable.

Berbeda dengan cowoerking space di Bali pada umumnya, Kumpul justru menjadikan komunitas lokal sebagai target pasar utamanya. Komunitas lokal bisa berasal dari kalangan orang Indonesia maupun ekspatriat. Yang penting mereka memang tinggal di Bali, menjadi bagian komunitas dan berkarya disini. Idealnya komunitas Kumpul secara seimbang terdiri dari komunitas orang Indonesia dan ekspatriat. Faye punya misi untuk menghubungkan komunitas-komunitas tersebut lewat Kumpul. Ibu dari Maya dan Sara ini pun fokus mengajak komunitsa-komunitas lokal untuk turut memanfaatkan fasilitas coworking space di Kumpul.

“Setelah kami riset kecil-kecilan, untuk bosa memulai coworking space memang harus bisa merangkul komunitas lokal punya potensi yang besar,” ujar wanita yang berdomisili di Renon ini. Perempuan berambut pendek ini pun berusaha untuk menarik antusiasme komunitas, baik lewat promo-promo khusus Kumpul untuk WNI maupun gelaran workshop dan event tertentu.

Tidak mudah bagi Faye untuk bisa langsung masuk dan mengenal komunitas-komunitas di Bali. Bahkan pernah hampir setahun semenjak kepindahannya di Bali pada 2011, ia belum tahu banyak tentang keberadaan komunitas-komunitas kreatif maupun sosial di Bali. Tapi ia dan Denis tak patah semangat. Hingga akhirnya sebuah creative hub bernama Rumah Sanur tertarik dengan konsep coworking space Kumpul dan meminta mereka agar ikut bergabung di dalam keluarga Rumah Sanur. Impian Faye dan Dennis untuk merealisasikan Kumpul kian trewujud. Kumpul pun berbagi tempat dengan beberapa usaha kreatif, seperti kafe, gallery, dan concept store di Rumah Sanur yang berada di Jalan Danau Poso No. 15A Semawang, Sanur. “Rumah Sanur ini seperti yang rumah untuk entrepreneur dan insan kreatif, seperti keluarga untuk kami. Di sini kami saling membantu untuk bisa berkembang,” cetus Faye.

 

Kita ingin mengembangkan hubungan dengan komunitas. Kita tidak pernah tahu hal – hal positif apa yang akan dihasilkan lewat koneksi dan kolaborasi tersebut..” – Faye Scarlet Alund

 

Spirit Sosial

Usai menamatkan pendidikan SI di Jurusan Psikologi, Universitas Atmajaya, Faye memutuskan untuk mencicipi karir di dunia LSM. Bukan tanpa alasan, LSM baginya merupakan salah satu jalan karir yang ia percaya bisa memberikan kontribusi untuk perubahan dan sosial sekitarnya. “Tergantung pilihan hidup orang masingmasing. Apakah kita ingin kerja untuk bikin orang kaya tambah kaya atau kerja untuk sesuatu yang benar-benar kita percaya? Saat itu pilihan salah satunya bagi saya adalah LSM,” ucapnya.

Hampir lebih dari 12 tahun, Fay berkarir dari satu LSM ke LSM lain, baik berasal dari dalam negeri maupun luar negeri. Wanita yang mengambil gelar Master untuk Peace and Conflict Study di The University of Sydney ini pernah bertugas sebagai relawan di Ambon, Aceh, Pakistan, Zimbabwe, dan Yemen. “Banyak pengalaman berharga yang saya dapatkan dan mungkin akan sangat seru kalau ditulis jadi buku ya. Sebenarnya ada yang bikin saya was-was kalau bertugas di daerah konflik. Takut ada peluru nyasar,” serunya penuh tawa.

Ide pendirian Kumpul sejatinya juga selaras dengan idealisme Faye yang ingin ikut berkontribusi pada pengembangan komunitas lokal. “Saya memilih model bisnis ini motivasi awalnya bukan for the sake of making money. Kumpul adalah cara kami untuk mendukung tumbuhnya entrepreneurship di Indonesia, karena ternyata ada hubungan langsung antara persentase entrepreneurs dan pembangunan ekonomi suatu negara Indonesia yang baru punya 0,8% entrepreneurs masih ketinggalan jauh dengan Singapura yang punya 7-8% atau Amerika di angka 14,5%,”katanya.

Meski terdengar idealis, Faye tetap realistis untuk mengemis impiannya ke dalam bentuk model bisnis yang mampu kerkesinambungan. “Kalau tidak dibuatkan model bisnis, takutnya akan terhenti di tengah jalan dan kita juga enggak bisa menyokong diri sendiri. Kita tidak mau pilih model charity, takutnya kalau donornya berhenti, otomatis semua yang telah dirintis juga ikut berhenti,” tambah Faye.

Di samping dunia sosial, Fay juga punya passion yang kuat dalam hal berjejaring. Itu yang membuat ia punya mimpi besar untuk Kumpul agar bisa membuat orang-orang datang untuk berkolaborasi. Ia dan Dennis percaya, ketika orang-orang berkumpul akan menghasilkan sesuatu yang positif. “Oleh karena itu, kita ingin mengembangkan hubungan dengan komunitas. Kita tidak pernah tahu hal-hal positif apa yang akan dihasilkan lewat koneksi dan kolaborasi tersebut. Coworking space itu bukan semata meja, kursi, dan internet yang enak. Tapi orang mau datang ke sini, karena ingin berkoneksi dan berkolaborasi untuk menghasilkan ide-ide yang tak pernah mereka duga.” Pungkasnya di akhir wawancara dengan Money&I Magazine.

 

Saya memilih model bisnis ini motivasi awalnya bukan for the sake of making money. Kumpul adalah cara kami untuk mendukung tumbuhnya entrepreneurship di Indonesia, karena ternyata ada hubungan langsung antara persentase entrepreneurs dan pembangunan ekonomi suatu negara. Indonesia yang baru punya 0,8% entrepreneurs masih ketinggalan jauh dengan Singapura yang punya 7-8% atau Amerika di angka 14,5%,” – Faye Alund

 

 

Related News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Flag Counter

Copyright © 2017 ISEEBALI . All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri