DSC_0095

dr. A.A Diah Haswani – Tekuni Dua Profesi

Wanita muda ini tidak hanya mendedikasikan dirinya untuk layanan kesehatan, namun juga merintis usaha villa yang berkonsep nan unik. Bagaimana dirinya membagi waktu, antara usaha, profesi dan keluarga?

Menjadi seorang dokter sekaligus seorang pebisnis, mungkinkah? Ketika ditemui di Grand Opening The Sanctoo Villa. Owner The Sanctoo Villa dr. A.A Diah Haswani menjawab pertanyaan tersebut sambil menyuguhkan senyum. Wanita yang akrab disapa Hana ini bertutur mengambil kesempatan meneruskan usaha keluarga sekaligus tidak meninggalkan profesinya sebagai seorang dokter. Ia mengatakan, ini adalah sebuah kesempatan emas yang dipercayakan oleh Ayahnya kepada dirinya untuk meneruskan bisnis keluarga, sekaligus belajar menjadi seorang pebisnis.

Dokter lulusan Universitas Udayana yang memiliki hobi traveling ini juga bercerita bagaimana ia memang lahir dan besar di tengah-tengah keluarga pebisnis. Pasang surut bisnis sang Ayah pun ia rasakan sendiri. Menjadi suka duka seorang pebisnis oleh sang Ayah adalah bagian dari hidupnya.

Lahir dari pasangan A.A Gde Putra dan A.A Ayu Mayudari. Hana kecil bercita-cita menjadi seorang dokter. Ia  bertutur menjadi seorang dokter baginya adalah impian sejak kecil. “Dokter adalah profesi yang mulia, dalam pikiran saya dulu, dokter itu seorang penyelamat dan pahlawan sehingga saya tertantang untuk menjadi seorang dokter.”

Bagi Hana, menjadi seorang dokter sekaligus sebagai pebisnis bukan bearti harus terus berkutat di dalam dunia kedokteran atau dunia bisnis saja.

Sesekali, gadis kelahiran 20 Juli 1990 ini menjalani hobinya yakni traveling. Dalam kesempatan wawancara kami, ia juga menggambarkan keseruan-keseruan yang ia alami saat mengeksplorasi salah satu kepulauan di Indonesia Timur yakni Flores. Berikut adalah kutipan wawancara kami bersama dr. Anak Agung Diah Haswani.

Dokter yang terjun ke bisnis properti, inikan lintas disiplin ilmu, menekuni kedua hal yang berbeda?

Keluarga saya memang pebisnis, tapi saya sendiri bercita-cita menjadi seorang dokter, tapi seperti yang kita ketahui, profesi dokter di Indonesia itu belum di hargai seperti di luar negeri. Jadi daripada saya menyesal, saya sekarang lebih berfokus membantu orang-orang dalam kapasitas saya sebagai dokter. Jadi saya menjadi dokter itu bukan untuk mendapat imbalan, lebih ke sosial. Jadi saya tidal melihat menjadi seorang dokter itu dari sisi salary ya.

Masih ingin terus berkarir sebagai dokter hingga jadi spesialis?

One day saya ingin melanjutkan ke spesialis pastinya. Tapi di sisi lain saya kan pernah magang di Karangasem, tempat terpencil di sana saya lihat masyarakatnya masih belum mampu, saya kasihan. Sedangkan anggaran pemerintah untuk kesehatan kan kecil, walaupun memang sudah ada JKBM dari pemerintah. Tapi kalau saya melihat di situ, dan saya masih mikir tentang bayaran, pasti saya tidak mau ya melayani mereka. Tapi saya merubah mindset, enjoy sebagai dokter, semata untuk kegiatan sosial, untuk berbagi, untuk membantu mereka. Menyembuhkan orang-orang yang sakit dan mengembalikan senyum mereka adalah kepuasan tersendiri untuk saya. Di sana saya merasakan kepuasan yang tidak bisa dihargai dengan rupiah. Jadi saya berpikir, okelah profesi dokter saya untuk melayani masyarakat.

Apa pengalaman sebagai seorang dokter yang selalu terkenang?

Waktu menolong orang melahirkan, waktu itu saya sampai menangis. Kebayangkan, dua nyawa yang harus kita pertaruhkan, dan waktu itu pilihannya ada dua, ibu atau anaknya yang harus diselamatkan. Tapi syukurnya, dua-duanya bisa saya selamatkan. Itu adalah pengalaman menjadi dokter yang sangat berkesan dalam diri saya.

Sejak kapan Anda belajar berbisnis?

Ceritanya begini, setelah saya lulus kuliah, saya magang. Ayah saya punya mimpi membangun sebuah villa di sebelah Bali Zoo untuk mengembangkan bisnisnya. Ayah ingin mengajarkan pada anak-anaknya untuk berbisnis dan melanjutkan bisnis keluarga. Ayah saya sendiri belajar bisnis secara otodidak, beliau belajar dari mengikuti seminar, membaca buku dan lainnya.

Beliau berpesan pada saya, “hana, ayo mau apa tidak belajar berbisnis?” Akhirnya saya berpikir, tidak ada yang salah dong. Kenapa tidak saya melanjutkan bisnis keluarga? Jadi saya ambil. Beliau mengajarkan saya berbisnis mulai memberikan saya buku, kemudian bercerita tentang pengalaman beliau berbisnis. Beliau berpesan menjadi seorang pebisnis itu bearti harus open minde, harus bla-bla-bla, banyaklah yang saya dapatkan dari beliau tentang berbisnis ini. Jadi profesi saya sebagai seorang dokter jalan, dan untuk melanjutkan bisnis keluarga juga jalan.

Sudah berapa lama Anda mulai memegang tongkat estafet bisnis keluarga?

Baru sih, sekitar satu tahun ya, selama pembangunan villa The Sanctoo ini. Selama ini di bangun, di tahun 2014 saya baru mulai memegang bisnis keluarga. Tapi kalau untuk belajar sudah lama.

Jadi Anda melihat sosok Ayah bisa membangun bisnis sebesar ini seperti apa?

Saya sangat bangga sekali kepada beliau. Beliau adalah seseorang yang memulai bisnis dari awal, sedari tahun 1990. Waktu itu Ayah memulai bisnisnya dari gallery, namanya Singapadu Gallery. Waktu itu up and down-nya saya juga rasakan. Saya mengenal beliau memang seorang penyayang binatang. Berawal dari hobi, lama-lama malah kepingin buat kebun binatang. Berawal dari mini zoo tuh di belakang rumah, ada lahan kosong akhirnya dibuat menjadi mini zoo. Saya juga biada berinteraksi sama binatang. Waktu itu kami punya burung Merak, Walabi, Kaswari, Monyet dan Orang Utan.

Apakah diperkenankan untuk memelihara satwa dengan cara seperti itu?

Nah, karena waktu itu kami tidak punya izin ya untuk pemeliharaan satwa-satwa ini. Akhirnya pemerintah tahu, akhirnya disitalah hewan-hewan tadi. Di situ awal lahirnya Bali Zoo. Ahirnya Ayah berpikir untuk membuat kebun binatang yang resmi. Biar tidak disita-sita lagi.

Tahun berapakah Bali Zoo berdiri?

Tahun 2002, dan sempat sangat down karena Bom Bali. Waktu itu saya sampai putus asa, berpikir tentang bagaimana cara mempertahankan Bali Zoo ini. Ayah waktu itu benar-benar berada dalam tekanan yang besar. Sampai beliau sempat bilang ke saya, “nanti kalau kita tak bisa pertahankan Bali Zoo. Kamu gak bisa sekolah juga.” Tragedi Bom Bali benar-benar membuat dampak yang sangat besat di bisnis keluarga kami. Semua wisatawan pergi dari Bali.

Bagaimana langkah yang diambil Ayah Anda?

Tapi saya begitu bangga dengan semangat Ayah yang luar biasa waktu itu. Beliau sangat bersemangat untuk terus mempertahankan Bali Zoo. Akhirnya pasar mulai berubah haluan, untuk wisatawan mancanegara memang tidak seramai dulu, akhirnya kita memilih unutk mendatangkan wisatawan domestik kala itu. Beliau menerbangkan semua marketingnya ke Pulau Jawa dan beberapa daerah di Indonesia, ke sekolah-sekolah. Pasar domestik dan lokal akhirnya memberikan respon positif dan membangkitkan Bali Zoo. Pada akhirnya kita bisa survive dan bisa mengembangkan Bali Zoo hingga bisa seperti sekarang ini. Setelah Bali Zoo sukses, beliau ingin mewujudkan mimi yang berikutnya, yakni Villa.

Bagaimana dengan Singapadu Gallery, usaha awal ketika Ayah Anda mulai merintis bisnis?

Sejak Bom Bali 2002, gallery sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Selain dari faktor itu, pengolalaan gallery juga tergolong susah. Di gallery dulu kami tidak memiliki manajemen yang baik. Dari owner langsung ke staf, dan waktu itu Ayah fokus ke Bali Zoo. Akhirnya Singapadu Gallery terbengkalai. Kami memilih satu untuk dikembangkan dan memilih Bali Zoo dan menutup Singapadu Gallery.

 Ketika Anda diberi tanggung jawab untuk mengelola bisnis keluarga, apa kesan pertama Anda?

Awalnya saya kaget. Saya berpikir, “aduh, saya dokter nih, waktu saya sangat susah untuk dibagi ya.” Saya berpikir begitu banyak kesibukan yang harus saya jalani. Saya berpikir begitu banyak kesibukan yang harus saya jalani. Saya berpikir lagi saya menjadi dokter hanya untuk menghidupi kehidupan saya saja. Saya berpikir lagi, sepertinya saya tak bisa hanya menjadi seorang dokter saja.

Akhirnya, kenapa saya nggak mencoba? Itu kan kesempatan emas juga untuk belajar? Saya berpikir begitu. Tidak ada salahnya mencoba, karena kalau kita tidak berani mencoba, kita tidak tahu akan seperti apa hasilnya nanti. Saya kerja in house di sebuah klinik yang beralokasi di Ubud, juga fokus ke Villa, jadi saya mencari pekerjaan yang waktu kerjanya dari pagi sampai sore, setelah itu saya ke villa. Jadi antara karir dan bisnis bisa sama-sama bagi waktu.

Bagaimana dengan waktu untuk keluarga?

Kadang saya merasa kekurangan waktu dalam sehari ya. Tapi saya selalu menyisihkan quality time untuk keluarga di rumah. Saya masih bersama orang tua serumah. Saya sering menghabiskan waktu bersama keluarha di pagi hari, quality time untuk sarapan pagi misalnya bersama orang tua saya. Pagi hari menjadi waktu pilihan kami untuk berkumpul. Sembari menikmati sarapan pagi, Ayah saya sering memberikan wejangan untuk kami sekeluarga. Jadi di pagi hari itu sekitar pukul 07.00 hingga pukul 08.30 saya menghabiskan waktu untuk keluarga. Di situ membuat quality time untuk keluarga.

Dokter sudah, bisnis juga sedang jalan. Tapi kalau bicara hobi, adakah hal lain yang Anda suka lakukan?

Saya suka travelling sama teman-teman. Waktu itu saya ke Flores, melihat Danau Kelimutu. Saya lanjutkan ke perjalanan ke Labuan Bajo kemudian ke Pulau Komodo nge-trip di Pantai Pink, snorkelling. Waktu itu saya menghabiskan waktu seminggu. Pulang-pulang, eh rupa saya “sudah tidak kelihatan orang” ^_^. Kelihatan gosong banget. Tapi saya merasa happy, tidak stres. Target saya selanjutnya itu ke Raja Ampat, ke Oral Beach. Lucunya itu walau Pulau Lombok dekat, saya belum pernah ke Lombok.

Mana tempat yang paling berkesan?

Untuk saat ini, yang membuat saya menangis karena kecantikan alamnya ya Flores. Padahal awalnya saya tidak terlalu excited sama teman-teman, saya bilang, ‘ngapain kita ke sana, kok Flores?’ baru sampai di lokasi, Wow. Saya bertanya, ‘ini di Indonesia ya?’

Tapi ada yang membuat saya merasa sedih di perjalanan itu. Ada namanya Pulau Kanawa, pemiliknya itu orang Jepang. Dia membeli pulau kita. Benar-benar orang Jepang. Dia membli pulau dan membuat sebuah resort dan sedihnya lagi, dia tidak memberi ijin orang lokal untuk berlabuh di dermaganya. Padahal kan pantai tidak pernah ada tanda kepemilikan jika di Indonesia. Padahal Kanawa Beach itu cantik sekali.

Apa harapan yang belum tercapai?

One day, saya ingin menjadi dokter spesialis kulit. Karena ini punya kisah sendiri. Wajah saya dulu penuh jerawat dan itu sangat susah hilang. Sudah diobati kemana-mana tidak sembuh. Waktu itu saya malu dan tertekan. Akhirnya, saya berobat ke luar negeri untuk bisa mengembalikan kemulusan wajah. Karena itu, saya tertarik ambil spesialis kulit.

Harapan untuk villa-nya, bisa terus berkembang. Saya berharap pastinya akan ramai pengunjung. Dari konsisten kami untuk terus berinovasi agar selalu menjadi pilihan dalam persaingan pasar. Tentunya kami juga punya keunikan yang berbeda dengan villa lainnya. Berbagai keunikan dan kelebihan dari villa kami yang akan didapatkan oleh wisatawan yang stay di sini. Dan yang pasti, saya ingin membanggakan orang tua.

 

Related News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Flag Counter

Copyright © 2018 ISEEBALI . All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri