IMG_7209edit face

dr. Enrina Diah, Sp.BP-RE – Solusi Terakhir Wujudkan Cantik Impian

Lewat Ultimo Aesthetic & Dental Centre, dr. Enrina Diah, SpBP-RE telah membantu sejumlah kaum hawa untuk menemukan bentuk tubuh idaman mereka.

Setiap satu bulan sekali, Enrina Diah punya kewajiban untuk berkunjung ke Bali. Tidak, wanita kelahiran Manado, 23 Mei 1974 ini tidak sedang berlibur. Kunjungan sehari yang serba singkat tersebut, ia manfaatkan untuk menemui pasien-pasiennya di Ultimo Aesthetic & Dental Centre –sebuah klinik kecantikan high-end yang berada di bilangan Dewi Sri, Sunset Road. Konsultasi secara eksklusif pun ia berikan untuk mendalami persoalan pasien-pasiennya terkait estetika tubuh, terutama hasrat mereka untuk mendapatkan bentuk tubuh idaman. Operasi plastik pun menjadi salah satu alternatif yang Enrina dan Ultimo tawarkan.

Apabila dulu, istilah operasi plastik masih terbilang tabu di telinga wanita Indonesia. Namun, menginjak era modernisasi, bedah plastik kian diminati, terutama bagi kalangan wanita yang sangat aware dengan penampilan mereka. Para wanita aktif masa kini juga tanpa segan untuk mencari tahu lebih dalam terkait keamanan dari bedah plastik itu sendiri serta tenagatenaga medis yang handal dalam menangani hal tersebut. Enrina Diah merupakan salah satu contoh dokter spesalis bedah plastik di Indonesia yang paling disegani dan paling dicari-cari oleh kaum hawa negeri ini. Terlebih keahliannya di bidang bedah craniofacial mengundang banyak pujian.

Melihat kesadaran wanita Indonesia yang cukup tinggi terhadap penampilan mereka menginspirasi Enrina Diah untuk mendirikan sebuah klinik kecantikan Ultimo Aesthetic & Dental Centre di Jakarta sejak 2009 silam. Berbeda dengan klinik kecantikan pada umumnya, Ultimo dirancang secara eksklusif sebagai sebuah one stop beauty clinic yang menyediakan beragam perawatan kecantikan dalam satu atap, mulai dari bedah plastik sebagai fokus utamanya, kecantikan dan kesehatan kulit, serta gigi. Bahkan klinik yang berlokasi di Plaza Asia 18th A Floor, Jakarta Selatan ini juga telah mengembangkan treatment khusus untuk pria, yakni Men’s Clinic sejak 2013 lalu. Dalam treatment tersebut memfokuskan pada perawatan stem cell therapy dan testosterone therapy.

Lulusan terbaik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia tahun 1997 ini memang mengikuti jejak profesional ayahnya yang juga notabene seorang dokter. Bahkan dengan kegemilangan prestasi akademiknya tersebut mengantarkan Enrina untuk meraih beasiswa ilmu bedah plastik craniofacial di Taiwan, Thailand, dan Swiss pada tahun 2004 hingga tahun 2005. Usai menamatkan pendidikannya untuk bidang craniofacial, ia pun sempat berpraktek di sejumlah rumah sakit besar di Jakarta, antara lain RSCM (Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo) dan Brawijaya Women & Children Hospital selama bertahun-tahun. Tak hanya itu, wanita yang gemar membaca ini juga pernah menjadi salah satu tim pengajar di FK UI.

Semenjak Ultimo ia cetuskan, seluruh kegiatan mengajar dan praktek di sejumlah rumah sakit itu pun dilepasnya. Wanita berhijab ini hanya fokus mengelola dan berpraktek di Ultimo. Klinik kecantikan ini pun berkembang secara signifikan, bahkan nama Ultimo itu sendiri telah tertancap di benak kaum sosialita sebagai sebuah brand premium yang memiliki solusi terbaik dalam dunia estetika. Jumlah kunjungan pasien-pasiennya pun terus meningkat dan tidak sedikit yang merupakan customer tetap Ultimo.

Dengan pesatnya perkembangan bisnis Ultimo, Enrina pun mendirikan dua cabang di luar Jakarta, yakni di Surabaya pada tahun 2011 dan Bali di tahun 2012, dengan segmentasi pasar yang serupa. Beruntung
Money & I Magazine bertemu dengan Ibu dari satu orang putri ini di sela-sela kesibukannya di Ultimo cabang Bali. Ia pun menceritakan ide besar yang melatar belakanginya kini terjun di dua dunia sekaligus, yakni kewirausahaan dan dokter. Seperti apa spesialisasi bedah plastik yang digelutinya serta bagaimana perkembangan Ultimo sejauh ini? Dapat Anda simak dalam petikan panjang interview berikut!

 

Wanita kelahiran Manado ini kerap memanfaatkan waktunya ketika ke Bali untuk menemui pasien-pasiennya. Konsultasi secara eksklusif pun ia berikan untuk mendalami persoalan mereka terutama terkait dengan hasrat mereka untuk mendapatkan bentuk tubuh idaman.

 

Bisa ceritakan bagaimana awalnya profesi Anda sebagai dokter bisa mengembangkan bisnis klinik kecantikan Ultimo hingga sebesar sekarang?

Sebenarnya latar belakang saya adalah bedah plastik. Saya sempat mengajar di UI dari tahun 2005 sampai 2009. Saya mulai berpraktek untuk bedah plastik di beberapa klinik dan rumah sakit swasta di Jakarta. Saat itu memang banyak pasien bedah estetika yang saya hadapi. Ketika saya mendalami pasien-pasien tersebut, saya mulai sadar bahwa ternyata hasil operasi saja belum cukup.

Sebenarnya harus ada semacam perawatan non operasinya untuk tahap yang lebih lanjut. Namun terkadang tindakan yang dilakukan sama pasien itu enggak selamanya tepat. Sebelumnya hasil operasi sudah baik, tetapi lantaran salah treatment, kondisi kulit perlahan kurang memuaskan, urat-uratnya kian terlihat di permukaan. Dari sanalah kemudian saya berpikir alangkah bagusnya kalau ada klinik yang berkonsep one stop solution, di mana ada dokter bedah plastik, dokter kulit, dan dokter giginya. Kebetulan saya mendalami bedah craniofacial –bedah yang berhubungan dengan struktur tulang wajah dan tengkorak. Nah, ini sangat bersentuhan dengan estetika, maka dari itu perlu bekerjasama dengan dokter gigi spesialis orthodontic craniofacial. Tidak banyak rumah sakit yang menangani ini, hanya dua di Indonesia.

Saya yang masih bekerja di sebuah rumah sakit waktu itu sebenarnya sudah mencoba merintis konsep ini, tapi ternyata masih susah meyakinkan manajemen. Kita harus punya lisensi dan harus ada alat-alat yang membantu tindakan tersebut. Saya mencoba mulai investasi sedikit demi sedikit, tetapi pihak rumah sakit belum menyetujui juga. Memang waktu itu, bedah plastik belum sepopuler sekarang. Orang masih takut dan belum terbuka. Karena ada tanggung jawab pribadi dalam diri membuat saya bertanya, sehingga akhirnya saya putuskan untuk membuat klinik sendiri sebagai home base. Saya rancang sebuah klinik yang menerapkan konsep one stop beauty clinic pertama di Indonesia yang mampu menggabungkan bedah plastik, kulit, perawatan kecantikan mutakhir, serta perawatan gigi.

 

Konsep bisnis ini pun dikembangkan berdasarakan keahlian saya. Saya enggak mau mengerjakan sesuatu yang bukan keahlian saya.”

 

Awalnya saya nekat saja untuk memulai semua ini. Bayangkan profesi dokter yang enggak punya rekam jejak bisnis. Meski begitu, semasa saya masih menjadi dokter untuk rumah sakit ternama di Jakarta, saya belajar sedikit tentang sistem managerial. Dan juga saat kuliah di Taiwan, dosen saya pernah bilang, bahwa dokter itu merupakan manager yang baik, karena ia harus mengatur dirinya sendiri, pasien, dan perawat. Konsep bisnis ini pun
dikembangkan berdasarakan keahlian saya. Saya enggak mau mengerjakan sesuatu yang bukan keahlian saya.

Mengapa Anda tertarik mempelajari bedah plastik? Dan apa menariknya spesialisasi craniofacial yang Anda geluti?

Bedah craniofacial ini sangat berbeda dengan bedah plastik pada umumnya. Ini semacam sub spesialisnya, di mana membutuhkan pendalaman lagi selama setahun. Saya mendapatkan beasiswa untuk mempelajari bidang tersebut di Taiwan dan Swiss. Bedah tulang kepala itu, enggak cuma tarik-tarik kulit ya. Bisa kita lihat sekarang wajah orang Korea yang dulu lebar-lebar sekarang sudah agak ramping-ramping dan bahkan gusi yang maju bisa dimundurin. Seperti itu yang kita pelajari di bidang craniofacial. Sebelumnya saya tertarik bedah plastik dan kebidanan, tetapi akhirnya memilih bedah plastik dengan konsetrasi craniofacial. Ada salah satu dosen saya di kedokteran pernah menampilkan kondisi orang cacat yang dibuat mendekati normal usai operasi plastik. Oh, ternyata ada ya, kita bisa mempelajari ilmu yang seperti itu. Lantas dari sana ketertarikan terhadap bedah craniofacial muncul. Lewat craniofacial, saya bertekad ingin membantu orang-orang cacat untuk tampil lebih baik. Itu passion saya dari dulu.

Bagaimana kondisi di awal-awal Ultimo berdiri?

Dengan modal terbatas, saya sewa ruangan yang tidak terlalu besar untuk klinik saya. Memang sempat dipandang sebelah mata, karena klinik saya tidak terlalu besar. Tapi  karena klien-klien yang datang sangat percaya dengan kualitas perawatan dan hasil, sehingga membuat klinik cepat berkembang. Yang awalnya hanya satu karyawan, sekarang sudah ada kurang lebih 44 karyawan di klinik kami yang di Jakarta.

Di awal berdiri, kami hanya punya dokter kulit dan dokter gigi. Seiring berjalannya waktu, kita rekrut lagi dokter-dokter baru. Saat ini sudah ada 3 dokter bedah plastik, 2 dokter kulit, 5 dokter gigi, ada pula dokter akupuntur, dokter anestesi, dan juga dokter khusus pria. Saya memulai dari yang baru ada saja dulu. Tidak memaksakan harus cari investasi sebesar-besarnya. Saya biarkan ini berkembang dulu. Alhasil pasien kami sudah mencapai ribuan lebih di Jakarta, di mana 70 persennya didominasi orang Indonesia dan 30 persennya orang asing. Lantaran kapasitas yang makin besar, kami memutuskan untuk pindah ke area yang lebih luas, sehingga pasien pun menjadi lebih nyaman.

 

Selain ditunjang dengan berbagai peralatan yang modern, Ultimo juga menjadi klinik kecantikan yang memperhatikan perawatan pasca operasi..”

 

Nama Ultimo ini sangat istimewa, terdengar seperti brand luar negeri. Pernahkah Anda mendapatkan kesan seperti itu dari pasien?

Tak sedikit memang yang mengira klinik ini merupakan brand luar neger. Enggak kok, ini beneran buatan anak negeri. Nama Ultimo itu saya maknai sebagai the last solution, karena saya banyak temukan pasien yang sebelumnya sudah pernah operasi, tapi kurang memuaskan dan akhirnya memilih kami sebagai rujukan terakhir untuk mereka. Ultimo itu berasal dari bahasa Italia. Tahu sendiri kan Italia memang terkenal dengan cerminan sense of art dan beauty-nya.

Lalu, apa yang akhirnya mendorong Anda juga mengembangkan Ultimo ke luar Jakarta?

Setelah Ultimo berkembang sangat menggembirakan di Jakarta. Saya pun mulai melirik kota lain, yakni Surabaya. Itu karena saya lihat banyak pasien kami yang berasal dari Surabaya. Jadi, saya pikir akan sangat baik, jika Ultimo bisa hadir secara eksklusif di kota tersebut. Sementara Bali, saya dan anak saya memang sangat suka di Bali dan memang sebelumnya pernah bercita-cita punya usaha di sini. Jadi enggak ada salahnya untuk mencoba market di Bali. Di setiap kota, kita memang sengaja bikin masing-masing satu saja. Ini untuk membuatnya semakin eksklusif, karena target market kami memang sangat segmented, terutama di Jakarta yang fokusnya untuk menengah ke atas, biasanya kalangan pengusaha, pejabat, bahkan selebritis. Kita enggak ingin membuat ini sebagai mass product.

Bagaimana melabeli Ultimo? Apakah sama dengan klinik kecantikan pada umumnya? Apa yang membuatnya unik dan berbeda?

Kita enggak cuma estetika, karena kebanyakan klinik kecantikan yang mengacu pada konsep estetika saja itu tidak mengerjakan pembedahan, bahkan biasanya juga tidak ada dokter gigi. Nah, kalau di kita semuanya ada. Sejauh ini memang permintaan akan tindakan surgery lebih banyak kami terima, tetapi tidak sedikit juga yang mulai melirik non surgery. Kita punya tindakan facelift yang sifatnya non surgery dengan menggunakan teknologi yang disebut Ulthera. Kita klinik pertama yang punya teknologi tersebut di Indonesia. Ini menjadi alternatif bagi mereka yang tidak mau dioperasi. Alat ini bekerja dengan ultrasound berintensitas tinggi. Efek sampingnya terbilang minim. Tapi memang dibandingkan operasi, hasil yang diberikan oleh Ulthera tidak bertahan lebih lama, karena Ulthera sifatnya hanya merangsang pembentukan kolagen baru.

 

Orang Indonesia itu diberkahi kulit yang bagus, aging lebih lama, karena pigmen yang unik. Karena itu jangan mau jadi putih, justru kulit orang Indonesia memiliki melanin untuk memproteksi kita yang hidup di daerah tropis.”

 

Sejauh ini, bagaimana Anda melihat paradigma orang Indonesia masa kini terhadap operasi plastik?

Saya berpraktek hampir 11 tahun, jadi tahu sedikit bagaimana evolusi orang-orang yang dulunya masih malu-malu kalau mau bedah plastik, bahkan sembunyisembunyi. Tapi sekarang sudah berubah paradigmanya. Di klinik kami malah yang paling banyak operasi pembesaran payudara dan liposuction. Apalagi sekarang dengan adanya teknologi non surgery membuat mereka lebih nyaman.

Memangnya kebanyakan pasien yang datang punya alasan apa sampai mereka memutuskan untuk operasi plastik?

Memang seseorang harus punya alasan yang tepat sebelum melakukan ini. Kebanyakan dari pasien melakukan bedah plastik untuk diri mereka sendiri, bukan karena paksaan oleh siapapun. Seperti orang yang melakukan liposuction, memang dilatarbelakangi keinginan untuk tampil lebih baik. Yang biasanya selalu merasa minder, karena baju yang dibelinya selalu tidak muat, meskipun itu baju mahal. Dia toh ingin untuk bisa tampil lebih baik. Begitu pula dengan sesoerang yang ingin operasi payudara. Bukan untuk dipamerkan ke orang-orang ya. Bagi mereka yang setelah melahirkan merasa payudaranya sudah tidak terlihat menarik, tentu mereka punya keinginan untuk melakukan ini. Mereka ingin ketika bangun dan bercermin bisa tumbuh lagi rasa percaya diri tersebut.

Kenapa investasi terhadap penampilan itu penting?

Karena berdasarkan penelitian di beberapa negara maju, orang yang punya penampilan baik akan mendapatkan kesempatan yang lebih baik secara sosial dan karir. Seperti di Korea itu, anak-anak lulus kuliah langsung mulai operasi hidung, karena persaingan demi dapat jodoh dan karir yang bagus. Seseorang enggak ingin bisnis dengan orang yang terlihat lebih tua dan capek. Saya yakin orang-orang di Bali 5 tahun ke depan akan memperhatikan hal seperti itu. Di Bali yang banyak dinikmati adalah tindakan non bedah atau yang treatment sederhana, seperti facial.

Apakah pernah menangani pasien luka bakar atau kerusakan parah pada wajah, sehingga harus dioperasi plastik?

Karena basic saya craniofacial, saya sudah tidak asing dengan rekontruksi tulang wajah. Beberapa kasus yang memerlukan penanganan craniofacial itu sendiri pernah saya tangani. Dari Ultimo, kita juga berkomitmen untuk melakukan bakti sosial. Kita memang melayani pasien-pasien high end Ultimo, tapi saya juga ingin keberadaan saya dan Ultimo di dunia ini juga bermanfaat bagi orang yang membutuhkan keahlian saya. Dari dulu itu passion saya itu adalah bedah craniofacial, maka dari kita ingin membantu para penderita bibir sumbing. Itu kita lakukan dua kali dalam setahun.

Apakah ada pendekatan khusus dari dokterdokter di Ultimo untuk meyakinkan pasien?

Semua dokter itu punya gaya konsultasi dan pendekatan yang khas. Tapi seluruh dokter di Ultimo, sebelumnya saya ajak untuk magang dan ikut pendekatan yang saya lakukan. Karena kebanyakan dari mereka tidak mendapatkan cara approach yang ideal ketika kuliah. Balik lagi sih nanti bagaimana meyakinkan pasien kalau bedah plastik yang kita lakukan itu aman asalkan ditangani oleh orang tempat yang tepat.

 

Lewat craniofacial, saya bertekad ingin membantu orang-orang cacat untuk tampil lebih baik. Itu passion saya dari dulu.” 

 

Pernahkah menangani pasien yang mungkin ketagihan melakukan operasi plastik atau mungkin permintaan operasi plastik yang tak masuk akal?

Banyak ya yang seperti itu. Contohnya, 10 persen pasien bedah plastik itu menderita body disorder. Jadi apapun yang kita lakukan, sebesar apapun usaha kita, tetap tidak pernah bisa membuat mereka puas. Makin kita senior melaksanakan ini, makin bisa kita mendeteksi pasien-pasien yang seperti ini. Jadi kita tahu, oh ini jangan dikerjakan. Takutnya mereka enggak akan puas, mereka akan bolak-balik ke kita dan mereka ngomongnya enggak enak nantinya keluar. Dan juga dengan pasien yang keinginannya tidak realistis, misalkan dia ingin wajahnya mirip dengan sosok artis idolanya. Ada juga yang addictive dengan bedah plastik, namun sekarang kita bisa lebih jeli melihatnya. Saya senang di bedah plastik ini bisa bertemu dengan karakterkarakter pasien yang unik.

Bagaimana Anda melihat kondisi kulit orang Indonesia? Persoalan terhadap kulit yang seperti apa kerap mereka jumpai?

Sebenarnya orang Indonesia itu diberkahi kulit yang bagus. Dan aging kita lebih lama, karena pigmen kita yang unik. Banyak orang Indonesia yang mau putih, tapi janganlah ya. Justru kulit kita punya melanin yang fungsinya memproteksi diri kita yang hidup di daerah tropis. Memang Tuhan menciptakan kita sesuai dengan kondisi alamnya, karena kita di tropis tentu kita harus ada melanin untuk mencegah kanker kulit. Bayangkan kalau enggak ada melanin-nya. Dan melanin ini kaya akan kolagen. Jadi wanita Asia umur 40 tahun dibandingkan orang bule umur 40 tahun mungkin akan terlihat jauh lebih muda. Aging kita lebih lambat. Kerutan yang dalam pun juga jarang terlihat.

Apakah konsep Ultimo dan target pasarnya di Bali berbeda dengan yang di Jakarta dan Surabaya?

Berbeda, tergantung kebutuhan pasar. Di Bali ini bagus juga, karena saya anggap di sini merupakan jendela internasional, karena klien kita juga banyak orang asing. Dan kita buat ini seeksklusif mungkin. Kalau yang di Surabaya kita buka setelah Ultimo berusia 2 tahun, konsepnya pun sebenarnya lebih sederhana ketimbang yang di Bali. Kalo di Jakarta, karena pasar yang kita sasar adalah high end, maka sengaja kita buatkan kesan premium.

Fokus yang kita utamakan memang bedah plastik dan tindakannya memang harus dilakukan di Jakarta. Pasien yang dari Surabaya maupun Bali, jika ingin operasi harus ke Jakarta. Di Jakarta itu, mereka sudah akan ditangani oleh tim profesional yang solid dan terlatih. Kita ingin pastikan operasi berjalan lancar. Dan juga memang alat-alat operasinya tidak bisa dipindahkan ke daerah, jadi mesti di Jakarta. Pasien daripada pergi operasi ke luar negeri, ya mending ke Jakarta. Kalau di Bali yang kita pelajari, awareness masyarakat lokal terhadap bedah plastik memang belum seperti di Jakarta dan Surabaya. Perlu kita banyak edukasi. Kalau kalangan turis asing sudah ada.

Yang lokal sebenarnya banyak kita lihat mampu untuk itu, tapi mereka belum mau dan masih takut karena itu belum sesuatu kebutuhan. Beda dengan Jakarta, orangorangnya benar-benar sadar akan investasi penampilan. Meski begitu, saya tetap lihat pasar Bali sangat potensial, asalkan dikelola dengan benar.

Mengapa memasukan dokter gigi dalam layanan Ultimo?

Sepengalaman saya terhadap bedah craniofacial. Karena selain muka, gigi juga mengalami penuaan. Lihat orang-orang yang sudah berumur 50-an, giginya pasti
kuning kan. Jadi yang kita tawarkan agar orang tetap cantik. Konsep wajah yang cantik juga senyumnya harus cantik.

Apakah Ultimo merancang brand produk kosmetik sendiri?

Ya, Ultimo punya Ultimorfosis. Kita kembangkan dan produknya dibuat di luar,karena kita merasa kesulitan menemukan bahan-bahan yang pas dan formula yang stabil di Indonesia. Ini produk anti-aging yang kami rekomendasikan.

Menurut Anda, mampukah dokter bedah plastik Indonesia bersaing dengan dokter bedah plastik di luar negeri, semisal Korea, Taiwan, atau pun negara lain di luar sana?

Populasi dokter bedah plastik memang masih sedikit di Indonesia, karena bergantung kebutuhan di sini. Tapi saya optimis bisa bersaing dengan yang di luar, kita juga sering diundang bicara ke forum-forum internasional. Cuma mindset masyarakat yang pelu diubah. Saya pernah menangani pasien yang awalnya operasi di Korea, tapi karena kurang puas dia operasi lagi di sini. Sama saja kok yang di luar negeri juga ada yang bagus dan ada juga yang enggak bagus. Pintar-pintar kita milihnya saja. Kalau saya pribadi akan milih dokter yang tahu kondisi saya, karena saat operasi kita mempercayakan sepenuhnya ke dia.

Kendala terbesar sepanjang mengelola klinik ini seperti apa?

Kendala yang paling saya rasakan adalah SDM. Bahwa untuk mendapatkan semangat yang sama itu enggak gampang ya. Ibaratnya dari seratus yang kita hire, pasti hanya dapat satu yang bagus. Pasti pernah kita merasakan titik up and down. Tapi rata-rata memang progress kami cenderung naik. Saya bersyukur kepada Tuhan, karena dimudahkan jalannya. Saya tahu rasanya susah itu seperti apa, ketika saya kuliah di Taiwan, di mana saya pernah sampai enggak makan dan harus jalan kaki kemana-mana di sana. Apapun yang saya dapatkan sekarang, saya syukuri. Tiga tahun yang lalu, saya pernah mengalami fase-fase sulit, karena ada SDM yang menipu. Ternyata mereka bisa korupsi di perusahaan sendiri. Syukur sudah lewat. Sekarang kita sudah punya konsep memilih karyawan yang baik.

Tidak berencana membuat brand ini sebagai sebuah franchise ?

Sudah banyak yang meminta saya untuk menjadikan Ultimo sebagai franchise. Malah ada yang minta untuk dibuat di Dubai. Tapi saya belum niatkan untuk itu, karena saya masih ragu dengan jaminan kualitasnya tetap terjaga, Saya masih harus melatih SDM juga. Tapi kalau cabang baru di daerah lain di Indonesia, saat ini tengah kami persiapkan.

Related News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Flag Counter

Copyright © 2018 ISEEBALI . All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri