IMG_1000

Dunia Imaji Monez

Menyebut nama Monez di ranah industri kratif Bali, kita akan dituntun kepada sosok ilustrator muda yang memiliki ciri khas goresan eksentrik dalam setiap karya-karyanya. Ilustrasi-ilustrasinya telah banyak digunakan untuk corporate identity dan tersebar menghiasi kampanye-kampanye kreatif peduli lingkungan. Pelbagai eksibisi nasional maupun Internasional pun pernah memajang salah satu karyanya. Tak hanya itu, gambar-gambar imajinatifnya juga turut tercatut indah dalam buku cerita dongeng karya penulis dari Amerika Serikat. Uniknya, nama Monez ini tak hanya merupakan identitas sang kreator, namun juga berfungsi sebagai ‘brand’ untuk usaha jasa desain dan ilustrasinya. Adalah Ida Bagus ‘Monez’ Ratu Antoni Putra, seorang pemuda Tabanan di balik alter ego Monez tersebut. Nama Monez yang menjadi sapaan akrab dalam kesehariannya tersebut juga mampu membuatnya dikenal secara profesional. Pemuda kelahiran 28 April 1981 ini konsisten dalam menghasilkan karya-karya berkualitas. Terlebih, profesi ilustrator yang ia geluti berada di jalur freelance. Money & I Magazine pun berkesempatan menelisik lebih jauh ‘dapur kreatif’ Monez, seperti apa dunia ilustrasi yang ditekuni Monez serta titik awal bagaimana ia terjun di dalamnya. Berikut petikan wawancara kami dengan lulusan PSSRD Universitas Udayana (sekarang ISI Denpasar) ini.

Apa yang membuat Anda terdorong untuk menekuni ilustrasi? Sebelum mengawali semuanya ini, saya sempat bekerja sebagai reporter event Majalah Magic Wave pada tahun 2002. Kebetulan kantor kami berdampingan dengan kantor Bog-bog waktu itu. Meski tugas utama saya menulis, tapi terkadang saya curi-curi waktu senggang untuk menggambar ilustrasi. Di lihatlah gambar-gambar ilustrasi saya oleh Pak Jango Bog-bog. Jujur saya kurang pede untuk memperlihatkan kartun saya ke orangorang Bog-bog, karena saya merasa masih jauh dari mereka. Tapi, Pak Jango melihat dari sudut pandang yang berbeda, bahwa gambar saya itu punya keunikan tersendiri. Ia bilang tidak ada salahnya menjadi beda. Diferensiasi itu penting, apalagi dalam bisnis. Akhirnya saya diberi ruang satu halaman di Majalah Bog-bog untuk mengembangkan karakter khusus yang idenya dicetuskan oleh Pak Jango. Respon pembaca pun sangat bagus, sehingga saya pun rutin mengisi kartun yang bertajuk Urban Party itu.

Tentang apa Urban Party tersebut?

Kebetulan Majalah Bog-bog ini kan target pasarnya juga untuk turis-turis asing. Jadi, kartun Urban Party ini dimaksudkan untuk memberi gambaran tentang aktivitas lifestyle apa saya yang kerap dilakukan bule-bule di Bali.

Bisa deskripsikan style kartun Anda?

Sebenarnya style kartun saya cenderung imajinatif dan bentuk-bentuk yang tidak proporsional. Pernah melihat karakter animasi band Gorillaz? Ya, kurang lebih menyerempet dengan gaya ilustrasi yang seperti itu. Saya akui kelemahan saya memang terletak pada penciptaan detil-detil karakter tubuh manusia yang proporsional. Saya tidak bisa menggambar seperti gaya kartun-kartun Bogbog. Mungkin memang style saya sudah seperti ini. Saya juga percaya, bahwa pengalaman apa yang saya terima dan bacaan-bacaan apa yang pernah saya sentuh di masa kecil memberikan pengaruh yang signifikan pada style gambar saya saat ini. Dulu itu, saya senang sekali membaca buku-buku komik semacam Ghost Bumps. Bentuk-bentuk dengan style semacam komik itu masih terus menempel dalam pikiran saya.

Bagaimana ceritanya Anda akhirnya lebih memilih karir profesional sebagai ilustrator, terlebih di jalur freelance seperti sekarang?

Pada 2004, saya bekerja full-time sebagai pattern-designer di sebuah perusahaan garmen sembari juga masih mengerjakan Urban Party untuk Bog-bog. Saya bekerja selama delapan tahun di sana dan cukup beruntung, karena di sana saya bertemu orang-orang yang memperkenalkan saya dengan komunitaskomunitas ilustrator berbasis online. Mulailah saya menyentuh situs semacam DevianArt dan mengunggah ilustrasi-ilustrasi saya ke sana. Dari sana, kemudian pikiran saya pun terbuka, bahwa gambargambar dengan gaya seperti ini memang ada pasarnya di luaran sana. Mungkin kalau sebatas di lokal saja, ilustrasi seperti saya ini hanya akan berakhir sebagai desain t-shirt. Tapi, kalau untuk market luar, produknya bisa lebih luas, misalnya ilustrasi untuk buku dongeng, ilustrasi untuk sampul album musik, karakter untuk game, dan merchandise. Inilah memperkuat keinginan saya untuk fokus menekuni bidang ilustrasi secara profesional. Sambil berproses, saya pun terus mempelajari tren yang tengah berkembang dalam dunia ilustrasi. Sejak tahun 2006, saya mulai mendapatkan banyak order dari yayasan-yayasan LSM yang bergerak untuk lingkungan, Mereka sering minta untuk dibuatkan ilustrasi untuk social campaign. Nah, karena saya merasa orderan yang datang semakin banyak dan memecah fokus saya terhadap pekerjaan utama di perusahaan, sehingga saya memutuskan untuk resign dari pekerjaan full time sebelumnya. Saya tidak ingin konsentrasi saya pecah jadi dua, sehingga hasil yang didapat tidak mampu maksimal. Akhirnya, saya pun memulai profesi ilustrator freelance ini dari rumah. Saya juga berpikir untuk ke depan, bahwa saya tidak ingin terlalu lama bekerja di kantoran. Kalau saya enggak berhenti sekarang, mungkin saya akan di sana lebih lama. Delapan tahun bagi saya sudah cukup mendapatkan banyak pengalaman dan pembelajaran. Saya ingin mengejar passion saya di bidang ilustrasi ini selagi masih muda dan bersemangat.

Sebenarnya Monez ini hanya sekadar nama brand dari jasa ilustrasi Anda atau nama pena panggung Anda sebagai seorang ilustrator?

Dua-duanya. Dari sejak zaman sekolah, kawan-kawan sering manggil saya Monez seperti itu. Sapaan akrab itu terbawa dalam diri saya hingga sekarang. Kalau misalnya saya memperkenalkan diri atau menyerahkan kartu nama dengan nama lengkap saya, takutnya orang jadi bingung. Saya permudah saja dengan mem-branding diri saya sepenuhnya dengan nama Monez itu. Jadi, kalau dengar nama Monez, mereka akan ingat saya sebagai ilustrator Bali.

Sebelum mengajukan resign, seberapa yakin Anda dengan prospek sebagai freelance ilustrator ini?

Yakin enggak yakin sih! Tapi ya prinsip saya waktu adalah yang penting dikerjakan dulu, selagi ada niat besar di sana. Sebelum resign, saya sudah prepare untuk menghadapi tantangan sebagai freelancer seperti ini. Saya memperhitungkan untuk mencari klien-klien, terutama yang saya rasa merupakan kategori klien berkelanjutan.

Apa ada strategi khusus dalam mendapatkan klien?

Saya sangat terbantu dengan keberadaan sosial media. Perkenalan pertama saya dengan Friendster, Multiplay, dan DevianArt ternyata membukakan banyak jejaring dengan orang di luar sana yang berminat terhadap karya ilustrasi saya. Beberapa klien mulai berdatangan. Terlebih kini dengan hadirnya Facebook, Twitter, dan Instagram membuat semua promosi dan branding saya menjadi lebih mudah. Strategi sosial media ini lah yang saya optimalkan, disamping membangun jejaring dengan orang-orang di dunia nyata.

Jenis proyek yang paling dominan ditangani sejauh ini?

Untuk saat ini, lebih banyak children book. Saya juga lebih suka mengerjakan project ini, karena buku anak-anak itu memberi ruang imajinasi yang lebih luas untuk ilustrasi. Biasanya klien saya untuk project ini berasal dari Australia dan Amerika. Pengerjaannya memang lumayan lama, hampir 3 bulan, karena harus menyesuaikan dengan alur cerita dan imajinasi si penulis. Jadi, antara saya dan si penulis harus punya satu visi, agar ilustrasi yang dikerjakan juga maksimal.

Related News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Flag Counter

Copyright © 2018 ISEEBALI . All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri