maxresdefault(www.youtube.com)

Eddie The Eagle

Kita sama-sama tahu formula klasik drama-drama olahraga, kalau tidak menang dramatis, ya kalah terhormat, begitu terus berulang-ulang sejak era film pertama kalai, tak pernah lekang oleh zaman. Hebatnya, penonton seperti tidak peduli dan bosan seberapa usang resep yang dipakai lagi dan lagi, buktinya sub genre ini terus ada setiap tahunnya. Untuk kasus Eddie The Eagle pun demikian, namun yang sedikit membedakan adalah narasi dan karakternya yang bisa dibilang nyentrik. Karena alih-alih merayakan seorang pemenang, kita akan menyaksikan kejayaan seorang pecundang yang tidak pernah memenangkan apapun, kecuali mungkin hati para penontonnya.

Diadaptasi dari kisah nyata Eddie Edwards, atlet ski jumping asal Inggris Raya yang sempat menghebohkan ajang Olimpiade pada musim dingin di Kanada pada tahun 1988 silam. Kenapa saya bilang ‘nyentrik’, karena Ediie Edwards adalah pribadi tak biasa, yang tidak ada duanya. Sejak awal sutradara Derex Fletcher membuka kisahnya, memperkenalkan penontonnya kepada karakter Eddie yang dimainkan gemilang oleh Taron Egerton yang membuat saya sampai pangling jika ia pernah memainkan tokoh spy keren di The Kingsman Secret Service tahu lalu.

Kita bisa lihat, Eddie adalah pecundang sejati, pecundang yang punya mimpi selangit, pecundang yang punya mimpi selangit, yakni menjadi peserta Olimpiade. Meski tidak punya bakat sama sekali dalam bidang olahraga apapun, Eddie punya sesuatu yang jarang dimiliki oleh orang lain; semangat dan tekad luar biasa besar. Tentu saja sebagai seorang pemimpin, Eddie kerap diremehkan lingkungannya, menjadi bahan tertawaan dan ejekan, termasuk ayahnya sendiri yang tidak pernah mengganggapnya serius. Hanya ibunya yang selalu menyemangatinya. Setelah beberapa kali usahanya untuk masuk dalam tim Olimpiade Inggris selalu kandas, Eddie akhirnya memilih cabang olahraga ski jumping, apalagi Inggris sudah tidak pernah mehngirim perwakilannya lagi sejak enam dekade terakhir di salah satu cabang Olimpiade musim dingin itu.

Sama seperti olahraga lain, Eddie tidak punya bakat sama sekali di dunia per ski jumping-an. Hanya bermodal hasrat dan semangat besar, Eddie nekat berangkat seorang diri ke kamp pelatihan Garmisch-Partekirchen, Jermasn. Di sana ia belajar sendiri sembari melihat tim profesional lain melakukan latihan, sampai akhirnya ia bertemu dengan Bronson Peary (Hugh Jackman), pembersih salju pemabuk yang ternyata adalah pensiunan atlet ski jumping Amerika. Dari sini kamu mungkin tahu bagaimana kisah selanjutnya.

Menonton Eddie The Eagle adalah pengalaman menonton drama olahraga biografi yang menyenangkan. Memang tidak ada yang fresh di pencitraan milik Sean Macaulay dan Simon Kelton. Perjalanan from hero to zero memang klise dan ringan, bahkan kita sudah bisa mengetahui bagaimana kira-kira ending-nya jauh sebelum filmnya berakhir, tetapi bukan berarti tidak ada yang spesial di sini.

Kata orang bijak, yang terpenting bukan tujuan akhir namun bagaimana proses menuju ke sana. Proses adalah kekuatan utama dari Eddie The Eagle, selain tentu saja menyatirka karakter utamanya yang mampu menghadirkan pesona tersendiri. Fletcher mengemas biografi ini dengan sangat baik. Penyutradaraannya terkesan santai dengan humor-humor segar yang tidak pernah berlebihan, namun ia juga menjadi serius di saat yang tepat. Saya suka bagaimana Fletcher mengemas momen-momen dramatisnya, terutama ketika setiap lompatan yang dilakukan Eddie mampu memberi pertunjukan emosional tersendiri, apalagi diperkuat dengan pemilihan musik yang cocok di era-nya oleh Matthew Margeson bersama tembang-tembang jadul yang energik dari Van Halen, Hall & Oats dan Deacon Blue.

Kudos buat penampilan apik Taron Egerton. Tidak hanya bermodal transformasi dari make up dan penampilan yang mebuat pangling, namun bagaimana Egerton mampu membuat tokoh Eddi si Elang dengan mudah disukai penontonnya. Ia mampu menyeimbangkan sisi polos Eddie sama kuatnya dengan optimismenya yang luar biasa. Sementara Hugh Jackman tetap mempesona dengan gaya khasnya, meski perannya sebagai Broson Peary hanya sebagai karakter fiksi yang tidak ada di kisah aslinya dan penampilannya langsung mengingatkan kita pada apa yang yang dilakukannya di Real Steel, namun senang bisa melihat bagaimana chemistry guru-muridnya dengan Egerton mampu bekerja dengan sempurna.

Related News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Flag Counter

Copyright © 2018 ISEEBALI . All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri