bebek-tepi-sawah

Even The Duck Can Fly

Barangkali sedikit yang mengetahui otak di balik kesuksesan sebuah brand rumah makan lokal paling populer di Ubud sekaligus di Bali yang bernama khas Bebek Tepi Sawah itu. Adalah I Nyoman Sumerta, sesosok pria berdarah Ubud tersebut berhasil membangun ‘kerajaan’ kulinernya dari titik paling minus

Kesuksesan yang kini ia terima berkat ide revolusioner kuliner Bebek tepi Sawah tersebut sebanding dengan perjuangannya yang harus tertatih-tatih terlebih dahulu dalam mengeruk berbagai macam pengalaman hidup. Terlahir di sebuah keluarga kecil dan sederhana, Nyoman begitu sapaan akrabnya tak punya modal apalagi kekayaan yang melimpah. Semuanya ia bangun dengan kerja keras sedari remaja. Kini dengan omset ratusan juta setiap bulan dengan gerai-gerai yang berekspansi hingga ke luar daerah membuat suami dari seorang penari Bali, Ni Nyoman Sulasih ini mampu menjadi salah satu pengusaha kuliner Bali tersukses saat ini. Meski usaha kulinernya tersebut telah diwariskan pada kedua putranya, Putu Gede Suarsana dan Ketut Suarjaya, pria kelahiran 23 Februari 1957 ini tetap memantau perkembangan Bebek Tepi Sawah, bahkan berbagai macam ide dan rencana kedepan pun telah dipersiapkannya demi kemajuan restoran yang populer dengan hidangan bebek serta pemandangan sawahnya tersebut.

Kepada Money & I Magazine, Nyoman pun mengutarakan rencana-rencanya tersebut sambil membagi sekelumit pengalaman hidupnya yang sangat inspiratif. Berikut petikan wawancaranya!

Bisa ceritakan bagaimana pengalaman hidup Anda yang berkontribusi penuh dalam membangun insting bisnis Anda saat ini?
Boleh dikata semua yang saya raih sekarang ini, salah satunya berkat faktor orangtua. Dari kecil saya sudah akrab dengan yang namanya berdagang. Waktu itu, saya sering bantu ibu yang kesehariannya memang berprofesi sebagai pedagang. Saya masih ingat bagaimana warung kami dulu itu kecil sekali. Saya biasanya bantu beliau dengan menjual es lilin ke kantin sekolah. Pernah juga jualan kacang dan kopi. Kalau ibu sedang ke pasar, pasti saya bantu beliau membawa belanjaannya seperti gula dan beras yang berkilo-kilo itu. Saat remaja sekitar umur 14 tahun, saya mulai menawarkan jasa tukar dollar, waktu itu saya mesti bolak-balik Ubud-Kintamani. Berbekal sepeda motor dari Ubud, saya bawa rupiah untuk turis-turis yang ada di Kintamani. Belum habis sampai disitu, saya juga pernah bantu jadi guide turis-turis yang mau keliling Bali. Biasanya saya dapat tamu itu dari Puri Saren Ubud. Lantas pada tahun 1975, bapak saya coba pinjam uang di Bank agar bisa beli bemo. Saat itu harga bemo cukup mahal pada zamannya sekitar Rp 2.225.000. Jam 4 pagi biasanya saya sudah bersiap-siap untuk ‘nambang’ penumpang. Cari penumpang di Ubud, kemudian ngambil rute ke Denpasar, dan bahkan ada yang sampai Padang Bai. Dan kira-kira tahun 1979, baru saya merambah sebagai sopir taksi. Kalau tidak salah, itu bertahan hingga 2 tahun.

Apa yang dapat Anda petik dari sana?
Kehidupan yang mengajarkan saya untuk punya mimpi yang lebih besar. Saya selalu menanamkan kerja keras dalam diri saya maupun kepada anak-anak saya. Kerja keras tersebut juga harus dilandasi dengan bhakti kepada-Nya. Selain itu, disiplin, respek dan menghargai kerja keras seseorang, jika kita mampu bekerja dengan ketulusan, niscaya akan diberi jalan untuk meraih mimpi-mimpi besar, bahkan yang telah lama kita perjuangkan.

Melihat dari rekam jejak Anda, usaha yang Anda pernah geluti terbilang banyak. Sebenarnya usaha apa yang menjadi fokus utama Anda?
Saya memang tipe orang yang suka mencoba hal-hal baru. Saya pernah coba untuk usaha garmen, travel agen (Bali Taksu Tour & Travel) bahkan hingga produksi wig. Tapi kini, saya lebih fokus dengan bisnis restoran, vila dan galeri saja.

Bagaimana sebenarnya ide Bebek tepi Sawah itu bisa tercetus?
Bebek Tepi Sawah ini dulunya hanya restoran kecil. Malah belum ada yang namanya menu bebek crispy itu sebagai primadona seperti sekarang. Kami dulu hanya menjual semacam kudapan ringan bagi tamu yang tengah berkunjung ke galeri. Saat itu saya menjual kudapan alakadarnya seperti jus, kopi, hingga pisang goreng. Hal itu saya lakukan demi menyokong pemasukan untuk membayar gaji para karyawan galeri. Perlu diketahui, waktu itu lagi zamannya krisis moneter, paska kejatuhan Soeharto, kunjungan wisatawan pun anjlok secara drastis. Awal mula berdirinya Bebek Tepi Sawah itu sendiri juga dilatarbelakangi oleh hobi saya yang doyan makan dan memasak, khususnya masakan Bali. Di keluarga besar, mungkin hanya saya yang punya hasrat tinggi dalam bidang kuliner.

Bagaimana Anda menciptakan ke-otentikan dari cita rasa Bebek Tepi Sawah itu sendiri?
Khusus untuk masakan Bali nya, seluruh racikannya merupakan resep keluarga. Saya bukan seseorang yang suka meniru, jadi resep yang saya coba sajikan disini pun merupakan hasil kreasi saya dan keluarga sendiri. Karena saya orang Bali, sehingga saya tahu persis bagaimana standar lidah orang Bali terhadap masakan saya.

Mengapa Anda memilih Bebek sebagai sajian utama?
Ya simpel saja, karena itu adalah makanan yang saya suka. Rata-rata seluruh hidangan yang disajikan di Bebek Tepi Sawah adalah makanan favorit yang sering saya santap. Begitu pun saat ada penambahan menu untuk mix seafood maupun beef ribs, tidak hanya sebagai penarik perhatian wisatawan asing melainkan juga berawal dari ketertarikan saya terhadap makanan tersebut. Nah, kebetulan menu bebek ini yang memang sering dipesan oleh para pengunjung.

Bagaimana Anda bisa memaksimalkan potensi Bebek tepi Sawah dengan lokasi yang menjorok kedalam seperti ini?
Dulu saya sempat berpikir seperti itu, lokasi bebek tepi Sawah ini kan juga termasuk jalur pariwisata yang strategis karena selain melewati Desa Mas dan Ubud, juga akan melalui Obyek Wisata Goa Gajah. Prediksinya kan sudah pasti kunjungan wisatawan akan terus ramai. Tapi kok tidak ada restoran lainnya selain Bebek Tepi Sawah yang masih bertahan. Nah jawabannya sekali lagi terletak pada kekuatan networking. Karena tidak bisa dipungkiri bahwa guide, sopir taksi dan rekanan itu pula yang berkontribusi dalam mendatangkan pengunjung kemari. Selain itu saya juga mengajarkan para karyawan bagaimana membangun hospitality yang baik di mata para customer. Sehingga mampu mengangkat image Bebek Tepi Sawah dan tanpa ditunggu pun, pengunjung datang silih berganti.

Sebelumnya Anda sempat mengatakan juga fokus terhadap galeri seni yang Anda kelola. Sejak kapan Anda tertarik dengan dunia seni?
Dari dulu saya memang sudah suka seni, mulai dari seni lukis, patung hingga seni tari. Sederhananya begini, di saat anak-anak sebaya saya biasanya pergi main ke sawah, saya justru malah lebih tertarik untuk menikmati dan mempelajari seni itu sendiri. Bahkan di umur 8 tahun, saya sudah mulai menikmati pertunjukan tari dan gamelan di Sanggar AA. Gede Mandra (alm) di Puri Kaleran Peliatan Ubud. Telinga saya ini selalu terhipnotis tiap kali mendengar suara gamelan. Begitu pula dengan melukis, saya belajar banyak dengan seniman-seniman di daerah Pengosekan yaitu di rumah Pelukis I Gusti Ketut Kobot (alm).

Jadi mana yang lebih dahulu Anda cetuskan, usaha kuliner atau galeri dan sanggar seni tersebut?
Sanggar Dewi Sri yang saya bina sekaligus art-gallery di restoran ini bahkan sudah ada terlebih dahulu sebelum Bebek Tepi Sawah didirikan. Ketertarikan saya yang berlebih terhadap dunia seni, selalu membuat saya bermimpi untuk punya sanggar sendiri atau pun sebuah galeri seni. Pertimbangan saya begini waktu itu; kebetulan saya memang bisa melukis dan punya banyak teman yang juga pintar melukis, tidak ada salahnya untuk membuat sebuah galeri seni pribadi. Kebetulan juga saya punya banyak kenalan guide yang bisa membawa tamu-tamunya untuk berkunjung ke galeri saya. Bukankah ini juga bisa jadi peluang bisnis? Maka dengan berbekal modal pinjaman di Bank pada tahun 1981 saya mendirikan Gallery kecil di rumah keluarga di Banjar Kalah Peliatan, dan selanjutnya tahun 1989 saya pun akhirnya mantap untuk membuka galeri seni yaitu Nyoman Sumerta Fine Art Gallery di banjar Teges Peliatan Ubud . Pada tahun 1992 saya membuka Gallery Patung & Furniture di Jalan Raya Mas Ubud, tapi sekarang sudah tutup karena masa kontrak habis. Untuk sekarang yang masih bertahan hanya Nyoman Sumerta Gallery, dimana kini menampung hampir lebih kurang 500 koleksi baik koleksi pribadi saya maupun koleksi beberapa rekan seniman. Sanggar seni yang saya kelola tersebut seyogyanya mengemban misi mulia dalam pelestarian kesenian Bali klasik, seperti fokus kami terhadap permainan gamelan Semara Pegulingan serta Tari Legong.

Sebagai seorang pelukis, apakah Anda pernah ikut turut serta dalam sebuah ajang pameran seni rupa di luar dari galeri seni yang Anda miliki?
Pernah, beberapa kali sempat di Jakarta , Hongkong, Jepang dan Singapura
Kembali lagi bicara tentang Bebek Tepi Sawah, apa sesungguhnya kunci kesuksesan usaha kuliner Anda ini?
Seperti yang saya katakan sebelumnya, intinya adalah networking. Saya itu tipikal orang yang gampang bergaul dengan siapapun. Rekan-rekan mengenal saya sebagai pribadi yang ramah dan sopan. Bagaimana kita mampu menjalin hubungan yang baik dengan para guide maupun sopir taksi. Karena merekalah yang nantinya akan mengantarkan sekaligus merekomendasikan kepada tamu-tamunya untuk singgah ke Bebek Tepi Sawah. Maka dari itu kita tidak terlalu banyak menghabiskan biaya untuk promosi. Saya percaya bahwa rekomendasi dari mulut ke mulut itu punya kontribusi yang cukup kuat untuk Bebek Tepi Sawah. Jika bisa saya hubungkan dengan ketertarikan saya terhadap seni, hal ini ternyata juga mampu membukakan pintu bagi saya untuk membangun banyak relasi dengan orang-orang yang cukup berpengaruh. Sehingga melalui networking tersebut terjalinlah pertemanan yang ternyata juga berpengaruh terhadap perkembangan bisnis kuliner yang saya geluti saat ini. Bisa saya contohkan juga seperti salah satunya saya pernah ikut serta dalam pameran lukisan yang diselenggarakan oleh Yayasan Tiara Indah milik Bu Tutut ( Putri Sulung Bapak Soeharto Presiden RI-2). Di sanalah, akhirnya saya mendapatkan banyak relasi dan membangun pertemanan dengan orang-orang penting. Mereka pun tanpa segan menghubungi saya kalau datang ke Bali. Jika mereka kemari, pasti saya selalu ajak untuk mencicipi hidangan di restoran ini. Bahkan salah satu dari mereka yang juga memotivasi saya untuk fokus menekuni bisnis kuliner ini. Ya kembali lagi ke kekuatan rekomendasi dari mulut ke mulut itulah yang membuat bisnis ini semakin berkembang.

Apa target Anda ke depan untuk usaha kuliner maupun usaha-usaha Anda lainnya?
Tidak cuma saya, siapapun pasti punya mimpi terbesar dalam dirinya untuk menjadi seseorang yang sukses. Saya pun punya mimpi untuk melebarkan sayap Bebek Tepi Sawah hingga ke seluruh Indonesia. Mei 2012 lalu, Bebek Tepi Sawah telah sukses membuka gerai pertamanya di luar Bali yakni di daerah Tangerang. Untuk tahun ini kami berencana membuka lagi di daerah Surabaya, Batam, dan Balikpapan. Semuanya memang saya targetkan untuk dikelola secara franchise. Di Bali sendiri, Bebek Tepi Sawah tidak hanya bermain dalam lingkup Ubud saja, tetapi juga menyasar wilayah Jalan Raya Tuban, Jalan Kartika Plaza Kuta dan sekaligus daerah Batu Belig. Selain fokus dengan pengembangan Bebek Tepi Sawah Restaurant, saya juga berencana ingin mengembangkan Bebek Tepi Sawah Villas & Spa.

Related News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Flag Counter

Copyright © 2017 ISEEBALI . All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri