DSC_0001

Festival Layang-Layang

Lupakan dulu soal bagaimana pusingnya PLN setiap tahun menerima aduan soal listrik yang mati, karena layang-layang atau genteng-genteng rumah warga yang pecah tertimpa layangan yang jatuh. Setiap tahun, ini seperti rutinitas yang selalu berulang.

Namun wajar saja, di Bali layang-layang bukan sebatas permainan belaka. Ini adalah “olahraga” yang nyaris sama populernya dengan sepak bola. Dan setiap pertengahan tahun ketika angin mulai kencang, maka langit Bali tak hanya tampak biru semata. Namun, rancak dengan berbagai aneka layangan yang tidak sedikit berbentuk kreatif.

Dan setiap tahun pula, selalu ramai digelar festival layangan yang kerap kali dipadati oleh peserta dari berbagai daerah. Dari layangan tradisional seperti Bebean (berbentuk ikan), Janggan (berbentuk burung) dan Pecukan (berbentuk daun). Ada pula layang-layang kreasi baru yang unik. Ukurannya pun beragam, berkisar antara 4 – 10 meter besarnya, bahkan untuk layangan Janggan, bisa memiliki panjang ekor hingga 200 meter.

Selain sebagai permainan, menurut beberapa tokoh Hindu, layangan memiliki makna relijius yang dipersembahkan kepada Dewa Rare Angon, yang dipercaya sebagai pelindung areal persawahan agar tidak terkena hama wereng maupun burung.

 

Related News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Flag Counter

Copyright © 2017 ISEEBALI . All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri