Hands using a laptop on desk

Generasi Muda – Bisnis dan Upaya Menjaga Budaya

Culture makes people understand each other better. And if they understand each other better in their soul, it is easier to overcome the economic and political barriers. But first they have to understand that their neighbour is, in the end, just like them, with the same problems, the same questions.” – Paulo Coelho

Satu dekade terakhir, kita diributkan dengan urusan “klaim-mengklaim” sejumlah artefak budaya dengan pemerintahan Malaysia. Berawal dari kasus Batik, hingga yang teranyar soal Reog Ponorogo dan Tari Pendet Bali. Tercatat, setidaknya terdapat 21 artefak budaya tanah air yang menjadi sasaran “akusisi” bagi kedua negara. Ada sejumlah naskah kuno, lagu Rasa Sayang-sayange dari Maluku, lagu Soleram dari Riau, lagu Injitinjit Semut, alat musik Gamelan dari Jawa, Tari Kuda Lumping dari Jawa Timur, Tari Piring dari Sumatera Barat, lagu Kakak Tua dari Maluku, lagu Anak Kambing Saya dari Nusa Tenggara, alat musik Angklung, serta lagu Jali-Jali, Badik Tumbuk Lada, dan Kain Ulos.

Bukan hanya dengan Malaysia, kita juga “bersitegang” dengan sejumlah negara Eropa dan Asia lainnya untuk soal yang sama. Beberapa dengan oknum pribadi dan bahkan korporasi swasta. Misalkan, kursi taman dengan ornamen ukir khas Jepara dari Jawa Tengah yang diklaim oleh oknum warga Perancis, desain kerajinan perak Desak Suwarti dari Bali oleh oknum warga Amerika, produk berbahan rempahrempah dan tanaman obat asli Indonesia oleh Shiseido Co Ltd, Kopi Gayo dari Aceh oleh perusahaan multinasional (MNC) Belanda, Kopi Toraja dari Sulawesi Selatan oleh perusahaan Jepang, Sambal Bajak Jawa Tengah, dan Sambal Petai dan Nenas Riau oleh oknum warga Belanda, tempe dari Jawa oleh beberapa perusahaan asing, serta pigura dengan ornamen ukir khas Jepara dari Jawa Tengah oleh oknum warga Inggris.

Begitu sejumlah kasus ini terkuak, ramairamai masyarakat kita bereaksi, media mem-blow up dengan sensual dan melahirkan gaduh di jagad media sosial. Negara-negara yang mengklaim pun tak kalah akal, terlebih Malaysia yang notabene serumpun. Dengan sejumlah analisa sejarah, mereka bisa menunjukkan bahwa apa yang mereka perebutkan adalah sah properti mereka.

Kekisruhan berkepanjangan, dan pada akhirnya harus kita akui, sejumlah warisan budaya kita akhirnya hilang dari kepemilikan yang seharusnya, dan sebagian dipatenkan oleh pihak asing. Indonesia memiliki 17.000 pulau yang dihuni oleh 300 suku bangsa dan adat istiadat yang berbeda. Betapa kayanya negara kita dengan warisan budaya. Namun proses globalisasi menjadikan generasi kita mulai kehilangan sense of belonging-nya dengan warisan leluhur. Riant Nugroho dan Marco Sumampouw menyebut globalisasi telah membawa perubahan struktural di dalam tata nilai, bahwa hanya kegiatan dengan sistem nilai yang “marketable” yang laku di pasar. Sementara kegiatan yang “tidak laku dipasar”, seperti kebudayaan, kesenian, agama dan kegiatan rohaniah, umumnya mengalami kemandegan.

Persoalannya, kita tidak cukup pandai untuk melihat bagaimana budaya yang kita miliki pada dasarnya memiliki potensi. Bukan hanya sebatas dijaga, namun juga optimalisasi sebagai leverage dari industri pariwisata kita. Dan ini, justru dilihat dengan baik oleh pihak-pihak asing.

Namun di tengah sebagian besar degradasi anak-anak muda pada warisan budayanya, kami bertemu dengan Putu Gede Suarsana, generasi kedua yang meneruskan pengelolaan galeri milik Ayahnya. Anak muda yang akrab disapa Tunik ini bak lentera kecil yang memberikan harapan, bahwa garda depan generasi penjaga budaya masih ada. Tunik mendedikasikan hidupnya selama 17 tahun di dunia galeri seni demi mempertahankan regenerasi para pelukis tradisional Bali. Tunik bersama Ayahnya, terus mengumpulkan bakat-bakat baru dari daerah Peliatan yang mampu melestarikan gaya lukisan tradisional Bali.

Adapula nama Putu Evie Suyadnyani yang memilih untuk menekuni kesenian Bali klasik. Bersama suaminya berdarah New Zealand, Vaughan Hatch, perempuan berkulit eksotis ini mendirikan sanggar seni bernama Mekar Bhuana. Bukan seperti sanggar seni pada umumnya, Mekar Bhuana mengawal misi khusus dalam hal pelestarian, rekonstruksi, sekaligus dokumentasi terhadap seni tari dan gamelan klasik Bali yang hampir punah.

Melalui Sanggar Mekar Bhuana, perempuan kelahiran tahun 1982 ini mencoba merekontruksi kembali beberapa jenis tari legong klasik yang hampir jarang dipentaskan di Pulau Dewata, semisal Tari Legong Jobog dan Tari Legong Kuntul. Tak hanya itu, ia juga membagi wawasan seni tarinya dengan mengajari orang-orang asing yang ingin mengenal tari Bali itu sendiri.

Evie juga terjun membantu suaminya yang akrab dipanggil Vaughan itu dalam meneliti serta merekontruksi seni musik Bali klasik, seperti Semara Pegulingan, Semara Pelegongan, dan Selonding. Beberapa komposisi yang terbilang langka pun coba mereka bangkitkan kembali, meski dengan materi seadanya. Dari satu banjar ke banjar lain, dari satu panggung festival ke festival lainnya pula, Evie dan Vaughan seolah tak pernah patah arang dalam memperkenalkan kembali kesenian Bali klasik kepada masyarakat Bali kini.

Dari dunia fashion, ada nama Bintang Mira, yang tengah berupaya mempopulerkan batik Bali lewat brand-nya Balibatiku. Sejumlah karya-karyanya telah malang melintang di pentas nasional dan mendapat pengakuan. Mereka adalah sedikit orang yang bisa menjadi titik terang, bahwa budaya kita, khususnya di Bali masih punya harapan untuk masa depan. Sekarang, tinggal bagaimana kita bersikap untuk menjaga artefak budaya masih menjadi milik kita dengan baik. Dan menjadikannya leverage bagi kemajuan dunia pariwisata dan warisan untuk generasi masa depan kita.

 

Related News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Flag Counter

Copyright © 2017 ISEEBALI . All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri