IMG_0035

I Wayan Gede Astina – Bukan Songket Biasa

Songket tak lagi sebatas kain pelengkap keindahan kebaya yang melilit manis bagian bawah tubuh wanita Bali. Songket juga tak lagi hanya berakhir sebagai primadona untuk fashion ke Pura atau upacara adat perkawinan ala Hindu Bali. Di tangan I Wayan Gede Astina, kain tradisional khas Bali tersebut menjelma produk fashion berkelas. Songket disulapnya menjadi baju, gaun, tas, dompet, dan bahkan sepatu sekalipun.

Di bilangan Legian Kuta, butiknya yang bertajuk Unique  Songket Bali telah memproduksi ratusan produk fashion berbahan dasar songket dan berlembar-lembar kain songket dengan motif terbaru. Awalnya, Astina –begitu sapaan akrabnya hanya memproduksi kain songket di bawah brand Unique Songket Bali. Ia berinovasi dengan menghadirkan desain motif yang segar dan pemilihan material kain yang lebih eksploratif. “Kenapa unik? Karena disini, kita menjual kain-kain songket dengan desain unik, di mana beberapanya enggak bisa didapatkan di tempat lain. Saya buatkan desainnya dan pilihkan sendiri warna serta kainnya, kemudian dikerjakan secara khusus oleh beberapa pengrajin,” terang pria kelahiran 12 September 1985 ini.

Desain motif-motifnya memang tak biasa. Astina mengaku terinspirasi dari pola ukiran patra-patra Bali. “Dari bacabaca literatur arsitektur Bali pun saya mendapatkan banyak inspirasi. Di sana saya menemukan motif-motif yang jarang diangkat untuk songket. Maka dari itu, saya coba memunculkannya kembali,” imbuh putra dari dua bersaudara ini. Untuk pengerjaan kain songket dengan motif khusus bisa memakan waktu 2-3 bulan, untuk motif yang standar hanya 1 bulan.

Astina pun meminta bantuan 4-5 pengrajin songket di Kabupaten Karangasem, semisal pengrajin di Desa Tebola dan Semseman, untuk mewujudkan desain-desain inovatifnya. Selain meringankan pekerjaan dan mengangkat songket Karangasem, hal itu juga dilakukan demi memberdayakan para pengrajin lokal. “Bisa dibilang pengrajin lokal masih banyak yang ‘dicekek’ pengepul, karena kerap dimanfaatkan seperti dibayar murah. Padahal pengerjaannya lumayan sulit dan biaya produksinya cukup besar. Selain itu banyak pengrajin yang menganggap pekerjaan itu hanya sampingannya saja. Saya ingin mengubah taraf hidup mereka dengan membuat profesi tersebut semakin menjanjikan,” papar Astina.

Setelah setahun hanya fokus sebagai produsen kain songket, Astina mencoba berinovasi dengan memproduksi produk jadi berbahan dasar songket itu sendiri. Lewat label barunya, GUZZ, Astina memperkenalkan karya-karya fashion songket dalam bentuk tas, gaun, kemeja, dompet, sepatu wanita, dan tas. Sebelumnya, Astina memang belum terpikir untuk memberi nilai tambah pada kain songket. Sejak 2012, ia melihat peluang dan memberanikan diri untuk memproduksi lebih banyak produk jadi berbahan dasar songket. “GUZZ ini berasal dari kata ‘Gus’, salah satu panggilan akrab untuk laki-laki Bali dalam kehidupan bermasyarakat mereka. Kami pakai ini, karena ingin menunjukan bahwa produk ini dikerjakan oleh laki-laki,” tutur alumni SMAN 5 Denpasar ini.

Pertama-tama Astina mendapat tawaran membuat tas wanita dengan material songket dari teman-temannya. Akhirnya, kreasi itu berkembang dan semakin ditekuninya. Namun, kini Astina fokus menciptakan lebih banyak busana songket untuk pria. “Fokus bikin baju cowok dari songket karena saya lihat banyak cowok Bali yang sudah berani berimprovisasi dengan pakaiannya tak hanya sekadar menggunakan safari biasa saja. Di samping itu, hampir belum ada pengusaha fashion di Bali yang spesifik menjual busana songket khusus pria,” jelasnya.

Astina melihat minat masyarakat Bali masih menggunakan songket sebatas sebagai bagian dari busana adat ke pura atau untuk pernikahan Bali. Padahal masyarakat Bali perlu diberi pemahaman bahwa songket dapat juga diaplikasikan dalam busana formal yang trendi. “Malah kebanyakan orang seperti di Jakarta dan Surabaya sudah terbiasa menggunakan songket untuk acara formal, karena memang lagi ngetren,” ungkap pria berkulit sawo matang itu.

Oleh Astina, busana songket GUZZ dibandrol mulai kisaran 1,5 juta sampai 6 juta rupiah tergantung dari desain, motif, dan material kain. Sementara untuk tas songket mulai dari 500 ribu sampai 1,5 juta rupiah. Bahkan kain songket dihargai 1,1 juta hingga 1,4 juta rupiah. Menariknya tak hanya kain songket yang dapat ditemukan di butik Astina. Ia juga memerkan kain tenun Bali, seperti kain Endek dan kain Rang Rang. Tak hanya kain tradisional Bali, ada pula kain tenun ikat dari NTT, Lombok dan Sumatra.

Related News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Flag Counter

Copyright © 2018 ISEEBALI . All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri