DSC_0051

Ida Ayu Oka Purnama Wati – Mengangkat Pariwisata Lewat Medical Tourism

Medical Tourism, istilah ini mulai tak asing. Setelah digagas beberapa tahun silam, medical tourism di Indonesia mulai berkembang pesat. Apalagi jika kita menengok sejarahnya, ini memang bukanlah hal yang baru. Dari masa klasil Nusantara, Indonesia mengenal pengobatan sinshe dari Tiongkok pada abad pertengahan. Begitu pula dengan bangsa Eropa yang melakukan medical tourism untuk mempelajari ilmu kesehatan ke Timur Tengah.

Namun seiring waktu dan perkembangan jaman, maka saat ini, salah satu alasan yang paling signifikan mengapa orang melakukan perjalanan lintas negara untuk berobat adalah faktor biaya.

Medical tourism di India misalnya, biaya operasi bedah disana adalah 1/10 biaya yang harus dikeluarkan di Amerika Serikat atau Eropa Barat, dan terkadang lebih kecil daripada itu. Penggantian katup atau klep jantung seharga USD 200,000 di Amerika Serikat dapat dilayani di India dengan memakan biaya yang hanya USD 10,000 dan ini sudah termasuk tiket pulang-pergi serta paket wisata yang menyertainya.

Serupa dengan hal ini, operasi mata lasik yang di Amerika seharga USD 3,700 di negara-negara lain hanya memakan biaya USD 730. Bedah plastik bahkan lebih ekstrim lagi, operasi full facelift di Amerika Serikat membutuhkan biaya USD 20,000 sementara di Afrika Selatan operasi yang sama hanya membutuhkan biaya USD 1,250.

Dan belakangan, medical tourism mampu ditangkap sebagai salah satu fitur penting dalam industri pariwisata, mulailah banyak negara yang berlomba-lomba mengemas medical toursim sebagai salah satu ‘destinasi’ unggulannya. Lalu bagaimana dengan Indonesia yang juga menjadikan pariwisata sebagai salah satu penambah devisa negara?

Bersama Director of Marketing & Business Development Bali Royal Hospital, kami berbincang masalah ini. Wanita yang memiliki nama lengkap Ida Ayu Oka Purnama Wati ini adalah seorang sarjana sastra inggris, dan lebih tertarik melanjutkan jenjang pendidikan pasca sarjanannya ke ranah Ekonomi Magister Manajemen di Universitas Udayana. Hal ini membuatnya semakin mencintai ranah bisnis yang ia jalani sejak tahun 2002.

Kepada reporter Money&I, Singgih Wiryono, wanita ini bertutur panjang soal medical tourism di Indonesia.

Ceritakan bagaimana mulanya Anda mendapatkan ide untuk mengembangkan medical tourism?

Awalnya saya berkarir di dunia tourism, cukup lama juga bekerja di sebuah jaringan hotel Internasional. Nah, tahun 2001, kakak saya yang kebetulan seorang dokter kandungan dan suami yang seorang arsitek, mengembangkan konsep klinik rawat jalan terpadu yang kami beri nama Merdeka Medical Centre (MMC). Suami saya mendesain, kakak saya karena dia seorang dokter, membantu merekrut dokter untuk praktek di situ, hingga tahun ini, tak terasa MMC telah berusia 14 tahun.

Selepas berkariri di hotel, saya membuat wedding organizer sekaligus menjadi Direktur klinik MMC. Sampai hari ini, sudah 12 tahun saya menjabat sebagai Direktur Merdeka Medical Centre. Sejak awal menjadi Direktur, saya tertarik pada dunia marketing, karena saat dihotel pun saya bertugas di departemen pemasaran. Dari situlah konsep rumah sakir BROS lahir.

Klink MMC sengaja kami buat berbeda, di mana konsepnya (dari fisik bangunan) lebih mengutamakan kenyamanan bagi pasien. Suasana di dalam dan diluar kamu buat lebih seperti suasana hotel atau villa. Pemilihan warna cat yang tidak putih seperti klinik lain, memberikan nuansa berbeda. Hal ini terlihat pula dari lobby yang luas dan nyaman, furniture yang memungkinkan ibu-ibu hamil atau pasien lainnya merebahkan diri saat menunggu antrian dokter yang panjang, tempat parkir yang luas, peralatan lengkap, sistem, komputerisasi, membuat MMC sewaktu dibangun di tahun 2002, terasa sangat berbeda dengan klinik-klinik lainnya.

Inikah cikal bakal idenya?

Bermula di tahun 2005, saya mengikuti pameran pariwisata di Suntec City Singapura. Sebenarnya saya memasarkan wedding organizer saya, namun saya bawa pula banner MMC. Salah satu pengunjung stand rupanya seorang dokter dari Mount Elizabeth Hospital Singapore. Ketika itu dia bertanya “ini Villa atau apa?”, saya jawab “nggak, ini klinik (Medical Centre).” Setelah itu dia lanjut bertanya “kok tampilannya seperti ini?” kebetulan foto dari MMC diambil ketika malam hari, jadi lampu taman dan ruangan menyala seperti nuansa Villa.

Saya bilang waktu itu, “Ya karena saya ingin mengembangkan konsep yang berbeda.” Kemudian dia bilang sepertinya akan nyambung jika saya dipertemukan dengan suaminya, yang merupakan salah satu CEO di Mount Elizabeth Hospital. Kami saling bertukar kartu nama. Akhirnya saya saling kontak via email dan telepon.

Waktu itu kebetulan sedang ada rencana dari Park Way Group yang menaungi Mount Elizabeth Hospital Singapore untuk membuat rumah sakit di Indonesia. Ketika saya berkomunikasi dengan sang CEO, saya bilang kenapa nggak bikin di Bali? Ternyata dia juga tertarik untuk membuat cabang di Bali. Akhirnya dia minta kita menyediakan lahan, dan nanti mereka yang akan membangun dan sekaligus juga manajemennya.

Di dalam perjalanan, di selang waktu 2005 hingga 2007, saya inten diskusi persyaratan untuk bisa di kelola oleh Mount Elizabeth. Persyaratannya berat, harus lolos Akreditasi International. Sangat berat buat kami baik dari segi financial, SDM dan lainnya, akhirnya saya lupakan. Mimpi punya rumah sakit sementara terkubur. Ternyata pula Mount Elizabeth konsentrasinya tidak jadi ke Indonesi, tapi ke India (proyek mereka di India selesai tahun 2009 lalu). Mereka bilang “Oka, maaf tidak jadi ke Indonesia tapi, jika kamu tetap ingin bantuan dalam bentuk manajemen, silahkan konsultasi ke saya.”

Apa yang Anda lakukan setelah itu?

Karena proyek mereka beralih ke India, saya sempat berpikir, that’s it! Mungkin belum jodoh dan belum waktunya. Saya konsentrasi ke klinik MMC. Kami melayani rawat jalan, memiliki 16 spesialis, ada apotek, lab, rontgen, poli gigi, UGD, observation room, minor surgery room dll. Hanya satu yang menjadi kendala, kami tidak punya layanan rawat inap. Ketika saya sales call dengan team marketing, client selalu menanyakan hal yang sama, jika membutuhkan rawat inap mau dibawa ke mana?

Akhirnya saya diskusi dengan kakak. Kalau kita begini terus, ya kita nggak kemana-mana, kita tidak akan berkembang. Akhirnya kakak saya bilang bagaimana kalau kita buat rumah sakit?

Berkonsep Medical Tourism?

Saat mengikuti pameran tahun 2005 di Singapura, saya sempat jalan-jalan ke Mount Elizabeth Hospital di Orchard Road. Yang saya lihat kebanyakan orang Indonesia, dan belakangan saya tahu bahwa memang 40-45% pasar mereka adalah orang kita. Waktu itu saya ketemu sama ibu-ibu, ada yang dari Bandung, ada yang dari Jakarta, saya tanya “maaf bu ngapain ibu di sini, apa ada keluarga yang sakit? Dia jawab, “Ooohhh nggak, kita check up aja”. Alasan lain memang karena rumah sakitnya terletak di Orchard Road yang merupakan surga belanja. Jadi, orang-orang kita ke sana general medical check up, juga sekalian belanja.

Check Up aja kata-kata itu terngiang selalu di telinga saya. Check Up aja ke Singapura, kenapa tidak di Bali? Sekalian liburan, kan Bali sudah sangat terkenal sebagai daerah tujuan wisata. Nah idenya dari sana, akhirnya saya mencoba membuat paket wisata dengan medical check up. Maksudnya untuk menarik perhatian wisatawan domestik dan asing, ya paling tidak orang kita sendiri untuk check up ke Bali.

Yang terjadi, paket medical check up saya tidak laku. Jangankan asing, domestik aja tidak datang. Kalau domestik, saya mengerti alasannya, karena ‘biasanya’ mereka yang berduit, akan lebih bangga kalau bisa check up ke luar negeri, di samping karena peralatan di luar lebih canggih. Sedangkan untuk orang asing, mereka menganggap dunia kesehatan kita masih jauh di bawah negaranya. Pertimbangan alat, tingkat kemampuan SDM (medis dan paramedis) dianggap masih kurang daripada negara mereka.

Mau ngundang orang Jepang misalnya, di Jepang cangihnya sudah seperti itu. Mau orang Jerman? Alat-alat medis canggih dari mereka. Jadi itu salah kendala. Akibatnya nggak laku.

Apa yang kemudian Anda lakukan?

Ketika rencana membangun rumah sakit berlanjut, saya bilang jika kita membuat sebuah rumah sakit, kita harus punya sesuatu yang berbeda. Kalau tidak bisa bikin yang lengkap, paling tidak kita punya produk unggulan. Nah, kakak saya itu adalah dokter unggulan. Nah, kakak saya itu adalah dokter kandungan spesialis bayi tabung. Maka ketika BROS berdiri, kita sudah menetapkan salah satu unggulannya adalah Bayi Tabung, di samping tiga unggulan lainnya yaitu cosmetic surgery, endoscopy center dan neuro science center.

Kenapa memilih nama Bali Royal Hospital?

Nama Bali Royal Hospital sendiri saya dapat ketika ingin membuat ulang nama wedding organizer saya. Awalnya nama wedding saya tidak ada Bali-nya sama sekali, sehingga orang asing yang mengandalkan keyword untuk mencari info di website pasti akan kesulitan, karena yang terlintas pasti kata ‘Bali’ itu sendiri. Saya berniat mengubahnya menjadi ‘Bali Royal Wedding’. Saya cari, ternyata domainnya sudah ada yang pakai. Akhirnya saya menggunakan nama lain yaitu Bali Nirvana Wedding.

Karena impian untuk memiliki sebuah rumah sakit masih tetap ada, saya iseng-iseng ketik ‘Bali Royal Hospital’, kebetulan belum ada yang pakai domainnya. Waktu itu tahun 2007, jauh sebelum saya punya rumah sakit. Saya beli domainnya, saya bayar tiap tahun, sambil terus berangan-angan siapa tahu saya punya rumah sakit kelak. Dan akhirnya impian itu terwujud tahun 2009.

Ini yang jika disingkat menjadi BROS?

Iya, disingkat menjadi BROS. Ini ide kakak saya yang dokter. Karena kalau di Bali orang-orang bertanya misalnya, “kamu  dirawat dimana?” jawabannya pasti singkat, biasanya satu kata atau dua duku kata. Masa ia kalau ke rumah sakit kami, orang bertanya terus jawabnya di rawat di Bali, atau di Royal? Nggak munggkin. Akhirnya kakak saya bilang disingkat aja jadi BROS, jadi Bali Royal ‘Ospital’ dong? Ya nggak apa saya bilang, dari pada mau ditambah huruf “H” kan jadi BROHOS, nggak enak dengernya, ha..ha..ha..

Pasar Mancanegara apakah BROS sudah menembus?

Oh sudah, kami buka di tahun 2010, pertama kali opening, pasien asing sudah banyak yang ke sini. Mungkin karena namanya, dianggap kami rumah sakit internasional, karena menggunakan nama Bali Royal Hospital. Peraturan dari Kementerian Kesehatan memang tidak memperbolehkan rumah sakit di Indonesia menyebutkan dirinya rumah sakit Internasional. Jika berani menyebut diri rumah sakit internasional. Jika berani menyebut diri rumah sakit internasional, ya harus lolos Akreditasi Internasional, salah satunya JCI. Kami tidak menyebut diri kami Internasional, hanya saja namanya yang kebetulan menggunakan bahasa Inggris.

Bagaimana cara Anda memperkenalkan BROS?

Kami memasarkan BROS lewat klinik-klinik yang ada di daerah pariwisata. Waktu itu yang datang hanya pasien dengan kasus-kasus emergency, seperti kecelakaan, patah tulang dan lainnya, atau pas ke Bali sakit karena iklim, atau tidak cocok sama makanan kemudian sakit perut, ya yang seperti itu pada awalnya.

Di tahun 2012, kami membentuk satu unit khusus untuk melayani pasien asing. Namanya RIPAC (Royal International Patient Assistance Centre). Unit ini kamu siapkan untuk memberikan layanan terbaik pada pasien asing. Garda terdepan namanya ‘Alarm Center’ beroperasi 24 jam, terdiri dari tim dokter dan paramedis serta petugas non medis, basically untuk membantu mereka dari awal masuk hingga keluar dari BROS, dalam hal administrasi, asuransi, tiket imigrasi, bahkan evakuasi. Misalnya kalau mereka sudah ditentukan pulang besok, kan harus diganti tuh. Kami membantu merubah, dan jika sampai harus evakuasi misalnya mereka tidak bisa dirawat di sini dan harus dikirim ke Australia atau ke mana pun negara asalnya, kami bisa bantu.

Tahun 2013, kami kebetulan ketemu dengan medical agent dari luar yang khusus untuk memasarkan rumah sakit- rumah sakit di Asia untuk tindakan tertentu. Salah satu unggulan kami BROS yaitu bedah kosmetik rupanya menarik perhatian agen ini. Pasar bedah plastik di Australia sangat besar. Banyak orang Australia datang ke Asia dan Bali untuk bedah kosmetik.

Bagaimana dengan produk unggulan bayi tabungnya?

Untuk bayi tabung sendiri, pasien kami kebanyakan dari Hong Kong. Jadi orang Hong Kong ke sini untuk bayi tabung. Begitu hamil, balik lagi ke Hong Kong.

Apalagi yang Anda lakukan untuk mempromosikan BROS di luar Indonesia?

Kami sempat ingin bekerjasama dengan Dinas Kesehatan, karena saya berpikir mereka pasti punya event untuk memasarkan dunia kesehatan Indonesia seperti yang dilakukan oleh Departemen Pariwisata. Tapi ternyata mereka tidak punya event Internasional untuk itu. Yang punya event Internasional hanya Dinas Pariwisata. Akhirnya rumah sakit kami numpang ikut promosi di pariwisata. Kami ikut Indonesia Festival di Melbourne, ITB di Berlin, JATA di Jepang. Tapi jadi aneh kan, yang lain Hotel, Villa, Restaurant, eh ada Rumah Sakit nyempil satu.

Saya merasakan, untuk ‘menjual’ rumah sakit di tengah event industri pariwisata, tidak mudah. Pengunjung antusias menerima brosur hotel, villa, restoran. Tapi begitu saya sodorkan brosur rumah sakit, mereka langsung “no no no, ngapain kamu sodorkan saya rumah sakit, saya nggak mau sakit, saya mau jalan-jalan ke Bali”.

Saya berpikir keras, saya sudah bawa brosur dua box besar, masa iya saya pulang bawa lagi brosurnya. Akhirnya saya ambil saja brosur teman saya yang Hotel. Saya bilang gini “nih, kamu mau tinggal di mana, Balli Timur? Okey, nih ada Hotel blaa-blaa-blaa. Tapi, kalau kamu sakit (incase of emergency), nih ada rumah sakit di Denpasar yang bisa bantu.” Baru mau mereka terima.

Kalau di Jepang beda lagi ceritanya. Saya kan nggak bisa bahasa Jepang, akhirnya saya pakai teknik lama dan naluri untuk jualan. Saya ambil brosur Hotel, terus ambil brosur BROS, berbekal satu kata bahasa Jepang yaitu “Byoin) yang artinya rumah sakit, saya menjelaskan dengan gerak tubuh, bahasa ‘Tarzan’ gitu. Akhirnya mau juga diterima, ha…haaa..haa..

Jadi cita-cita menuju Medical Tourism itu terus ada ya, sebenarnya apa Medical Tourism itu?

Pertama kali mendengar istilah ‘Medical Tourism’, ya waktu pameran di Singapura tahun 2005 itu. Otak sederhana saya berpikir bahwa Medical Tourism itu identik dengan medical check up keluar negeri. Seiring berjalannya waktu, dan dari berbagai referensi yang saya baca, medical check up hanya contoh kecil dari medical tourism. Ternyata tindakan operasi kecil, sedang dan besat sampai berat pun dapat dijadikan ‘jualan’ di medical tourism. Contoh, operasi by pass jantung sekalipun, bisa jadikan paket untuk medical tourism, sepanjang tindakan pembedahan itu bersifat elektif, artinya bukan bersifat emergency.

Kalau bicara teorinya, yang disebut medical tourism adalah perjalanan seseorang atau sekelompok orang, keluar dari daerah atau negaranya untuk mendapatkan tindakan atau pelayanan kesehatan. Inti dari medical tourism, itu kenapa mereka sampai pergi menembus batas negara untuk mendapatkan perawatan, biasanya lebih karena harga tindakan lebih murah dari negara asalnya. Misalnya di Amerika, untuk operasi jantung harganya USD 100.000, di India bisa sepersepuluhnya. Jadi, kalau di Amerika USD 100 ribu. Jadi itulah alasan mengapa mereka akhirnya memilih medical tourism. Kan mereka akhirnya memilih medical tourism. Kan mereka bisa sekalian berobat, juga jalan-jalan dan harganya lebih murah pula. Disamping itu kemajuan teknologi kesehatan di negara-negara tujuan medical tourism saat ini sudah jauh berkembang, Bulan Desember tahun lalu kami bahkan melakukan operasi bersama dengan dokter dari India yang memang ahli di bidang implant koklea dan pasiennya banyak dari negara lain di luar India. Saat itu, pasien kami juga bukan dari Bali, tapi dari Bojonegoro dan Flores. Jadi itu sebenarnya sudah termasuk medical tourism. Medical tourism sebenarnya bukan hanya untuk orang asing, domestik pun bisa.

Bagaimana Medical Tourism kita dalam persaingan di sesama negara Asia, adakah kendala yang besar?

Sangat besar, salah satu yang paling terlihat adalah kendala di tingginya harga. Jika dibandingkan dengan Malaysia dan Thailand, dua pesaing terkuat medical tourism di Asia Tenggara setiap kali saya lempar harga, pasti harga kita lebih tinggi 20-25% dari pada mereka. Itu kendala untuk kami. Salah satu penyebab tingginya harga ini karena kita tidak mendapat insentif pajak dari pemerintah. Itu yang selalu saya gaungkan, karena kalau di Malaysia, pajak untuk peralatan, implant dan obat itu zero. Tidak heran Malaysia peralatannya canggih-canggih, ya karena nggak kena pajak.

Berbeda jika di Indonesia, peralatam medis dan itu semua dianggap luxury goods, sehingga pajaknya tinggi. Pemerintah tidak memberi keringanan sama sekali untuk itu. Mungkin karena pemerintah masih belum fokus kepada medical tourism. Kita tahunya Bali dan Indonesia adalah tujuan wisata (tourism). Pariwisata masih dianggap menghasilkan devisa terbesar selain migas. Kita ‘belum’ melihat sebenarnya ada yang lain, yang berpotensi sebagai penghasil devisa. ‘Health Tourism’ yang merupakan bagian dari medical tourism, sangat berpotensi sebagai penghasil devisa bagi negara. Dan Bali sangat berpotensi menjadi pusat medical toursim bagi Indonesia.

Terakhir, apa harapan Anda?

Founder BROS itu ada tiga orang, kakak dan suami saya, dan saya sendiri. Kami memang mengawali usaha ini dari family business. Harapan kami, ingin agar BROS dapat berkembang, tidak hanya satu, tapi ada BROS 2, BROS 3 dan seterusnya.

Tapi yang terpenting, adalah kami ingin memberikan pelayanan terbaik kepada pasien dan keluarga, memberikan inovasi-inovasi dalam dunia kesehatan secara berkelanjutan, memberi edukasi tentang kesehatan kepada semua lapisan masyarakat, karena peran rumah sakit salah satunya adalah memberi tindakan preventif, kuratif dan rehabilitatif bagi terciptanya Bali dan Indonesia yang lebih sehat. Satu lagi harapan yang tak pernah pupus saya doakan agar konsep medical tourism yang kami cita-citakan di awal dapat tercapai dan terus berkembang. Saya optimis, BROS berjalan pelan tapi pasti akan menuju dan mengikuti Akreditasi Internasional, sehingga kepercayaan pasien-pasien asing untuk melakukan medical tourism ke Bali dapat segera terwujud.

Related News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Flag Counter

Copyright © 2018 ISEEBALI . All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri