(yesmovies.to in the heart of the sea)

In The Heart Of The Sea

Samudera luas nan ganas, Ikan paus pemarah dan nelayannelayan Amerika yang serakah. Semua itu di atas kertas sutradara Ron Howard punya amunisi untuk memberikan kesempatan untuk drama biografi terbarunya ini sebagai salah satu epik survival bersetting lautan terbaik di era modern setelah Life of Pi-nya Ang Lee. Apalagi Howard turut didukung oleh modal cerita yang tidak main-main. Mereka menyebutnya “Based on The Incridible True Story That Inspired Moby-Dick”.

Novel non-fiksi milik Nathaniel Philbrick berjudul sama yang mendasari kisah In The Heart of The Sea mungkin kepopulerannya tidak ada apa-apanya dibanding MobyDick-nya Herman Melville yang notabene menjadi salah satu karya tulis legendaris Amerika yang bahkan setelah satu setengah abad kemudian setelah pertama kali dipublikasikan 1851 silam. Kisah petualangan pelaut Ahab yang memburu paus putih itu masih sering dijadikan bacaan wajib buat pelajaran bahasa Inggris di sekolah-sekolah Amerika. Tetapi tentu saja menarik melihat bagaimana Melville memperoleh inspirasinya yang rupanya berasal dari cerita nyata yang tidak kalah hebatnya.

Dibuka dengan kunjungan Herman Melville (Ben Whishaw) ke kediaman Thomas Nickerson tua (Brendan Gleeson) dalam misi mencari cerita untuk novel terbarunya. Tentu saja ini bukan sekedar kisah biasa yang sampai memaksa Melville harus datang jauh-jauh termasuk menawarkan sejumlah besar uang buat Thomas Nickerson untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi di balik cerita tenggelamnya kapal pemburu paus, Essex yang dikomandani George Pollard, Jr (Benjamin Walker) dan kelasi utamanya, Owen Chase (Chris Hemsworth) yang terjadi lebih dari lima dekade lalu. Sebuah cerita perburuan paus yang tidak hanya besar dan menegangkan, namun juga mengerikan dan inspiratif.

Kita tahu riwayat panjang Ron Howard ketika membuat film-film adaptasi baik dari kisah nyata maupun fiksi. Hampir semuanya sepakat bahwa ayah dari aktris cantik Bryce Dallas Howard ini punya kualitas tingkat tinggi. Sebuah totalitas untuk mendramatisir cerita yang sebenarnya sudah cukup dramatis ke level lebih tinggi. Lihat saja karya terakhirnya, Rush, sebuah biopik yang diisi dengan suntikan rivalitas luar biasa. Atau lebih ke belakang ketika ia mampu mereka ulang wawancara skandal Watergate yang menghebohkan itu dalam Frost/Nixon. Lebih ke belakang lagi, ketika ia mampu menyentuh emosi penontonnya saat menceritakan kisah hidup petinju James Braddock di Cinderlla Man dan ahli matematika John Nash di A Beautiful Mind, bahkan saya masih belum menyebut Appolo 13 yang menjadi salah satu karya terbaiknya. Jadi, tentu saja ada harapan besar ketika Howard dipercaya untuk menukangi In The Heart of The Sea dengan segala modal besar sebuah biopik dengan bumbu drama survival.

Ya, secara teknis susah untuk tidak berdecak kagum dengan In The Heart of The Sea. Howard sekali lagi membuktikan kelasnya sebagai sutradara handal ketika ia berhasil menangkap momen-momen dramatis nan intens dengan kualitas visual sinematografi cimaik dari Anthony Dod Mantle (Slumdog Millionaire). Sekaligus spesial efek jempolan, termasuk penempatan kamera tidak biasa yang menghadirkan sensasi berbeda. Sementara scoring Roque Baños seperti tidak berhenti untuk membuat situasi lebih dramatis. Ada ketegangan yang berhasil dibangun, ketika para nelayan sombong tersebut tidak pernah menyangka akan dihajar telak oleh buruannya. Tetapi, bagian terbaiknya itu terlalu cepat berlalu yang sayang kemudian dilanjutkan dengan proses bertahan hidup yang jujur saja, terasa hampa. Ini lantaran kekurangan asupan chemistry serta proses pengembangan karakter yang jelas merupakan bagian penting untuk menghadirkan emosi di drama-drama macam ini. Kamu tidak bisa sekedar menampilkan adegan manusiamanusia kelaparan yang terapung-apung tak jelas di tengah lautan luas tanpa ada sebuah proses interaksi kuat yang mestinya sudah bisa dibangun sejak awal. Karakterisasi adalah salah satu hal penting dalam setiap drama survival, coba saja lihat drama-drama sejenis macam Life of Pi, All is Lost atau Cast Away. Perhatikan betapa kuat penokohannya yang efeknya mampu membuat penontonnya peduli dan bersimpati, tetapi tidak di sini.

Dengan durasi yang menyentuh 2 jam, Howard sebenarnya punya cukup banyak waktu untuk mengolah relasi antar karakternya. Potensinya besar terutama ketika kita bisa melihat konsep rivalitas dan clash antara Owen Chase dan George Pollard, Jr yang sedikit banyak mengingatkan saya pada Niki Lauda dan James Hunt di Rush. Dari situ sebenarnya, Howard bisa saja memperkuat naskah garapan Charles Leavitt (Blood Diamond) dan segala pergolakan emosi dengan modal perseteruan dua karakter utamanya. Sayang, nyatanya tidak demikian. Howard tampak lebih sibuk memperhatikan segala urusan teknis untuk bagaimana membuat In The Heart of The Sea secantik dan semegah mungkin, namun tanpa jiwa dan emosi.

Related News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Flag Counter

Copyright © 2017 ISEEBALI . All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri