Sanidata Cover Test

Ivonne & Robby Kartono – From Family Business to corporate Business

Tak ada yang asing dengan nama Sanidata, khususnya bagi para pemerhati dan pegiat industri kesehatan di Bali. Sebagai salah satu penjual Alkes (alat kesehatan), Sanidata yang telah malang melintang selama 30 tahun membangun sejumlah reputasi hebat. Founder-nya Andries Kartono, telah membangun bisnis ini sejak masih berusia 30 tahun. Perawakannya masih tetap tampak muda, kerap tampil trendi dan masih lincah, memiliki selera humor renyah dan kerap mengundang tawa. Jika harus tetap berjibaku membesarkan bisnisnya, semua orang meyakini secara fisik Andries tentu masih mampu. Namun persoalannya tak lagi semata fisik, namun bagaimana memberdayakan kelangsungan usaha agar tetap sustain. Dan itu, tentu tak bisa dilakukan Andries sendiri terus menerus. selain membutuhkan tenaga ekstra untuk tetap membawa bisnisnya sebagai yang terbaik. Itulah sebabnya, bagi Andries, inilah saat yang tepat untuk mulai alih generasi.

Andries memulainya dengan langkah yang ketat, pertama dengan menyekolahkan putri-putranya ke tempat yang terbaik. Ivonne dan Robby Kartono, putri dan putra Andries sebagai calon penerus usaha, bersekolah di Sydney, Australia. Dan yang kedua, selepas lulus kuliah, Andries tidak langsung membuka pintu perusahaan bagi mereka untuk bergabung, namun justru menggembleng kedua calon penerusnya agar bekerja terlebih dahulu, Ivonne menghabiskan waktunya 3 tahun di salah satu perusahaan IT di Sydney. Sementara Robby, sudah sejak kuliah bekerja di sejumlah perusahaan IT selama 5 tahun. Baru pada tahun 2008, Ivonne kembali ke Indonesia dan langsung menangani Sanidata Semarang. Sementara Robby, menyusul 4 tahun kemudian dengan memegang kendali di Sanidata Denpasar. Dan secara bersama, mereka kemudian mendirikan Sanimed, perusahaan retail homecare berkonsep layaknya waralaba yang kini telah tersebar sebanyak 6 outlet di Bali dan Jawa Tengah. Bagaimana mereka berhasil meneruskan tongkat estafet dan membawa roda perusahaan melaju lebih kencang saat ini? Kepada Arif Rahman, mereka bertutur soal kisah keberhasilannya.

 

MEREKALAH YANG BERHASIL MENERUSKAN TONGKAT ESTAFET DAN MEMBAWA RODA PERUSAHAAN LEBIH KENCANG.

 

Tahun berapa Anda bergabung dengan Sanidata yang merupakan perusahaan keluarga?

Robby : Kalau Sanidata Denpasar itu sudah berdiri sejak 31 tahun yang lalu. Saya sendiri baru bergabung pada tahun 2012. Sebelumnya kuliah dan bekerja di Australia dan sempat mencari pengalaman ke Cina, sebelum akhirnya balik ke Bali dan bergabung dengan tim Sanidata Bali. Ivonne : Cabang Sanidata kedua itu berdiri tahun 2002. Saat saya masih kuliah saat itu, di Kota Semarang, karena dari sejarah awal, Papa memang memulai bisnis ini sebagai sales kanvas di Semarang. Jadi pembukaan cabang ini, agar jejak Sanidata ada lagi disana. Saya sendiri baru ikut terjun per tahun 2008.

Bagaimana Anda memulai perjalanan bisnis Anda di perusahaan keluarga?

Robby : Saya itu tadinya ingin menjadi dokter. Ikut tes seleksi menjadi dokter, tapi enggak kesampaian. Sempat diterima sih waktu itu di Unud, tapi sayangnya di fakultas lain. Akhirnya mulai menimbang beberapa tempat, termasuk Binus salah satunya. Tapi akhirnya saya putuskan untuk mengikuti jejak kakak saya Ivonne untuk kuliah di Sydney. Dan setelah selesai S1, masih sempat lanjut ke S2, walaupun saat itu sudah sangat ingin sekali untuk kerja. Akhirnya saya ambil keduanya. Paginya itu saya bekerja dan sepulang kerja saya melanjutkan aktivitas belajar di kampus. Waktu istirahat tak lebih dari 5 jam seharinya dan hal ini saya lakukan selama 2 tahun lamanya. Nah ilmu waktu S1 itu terkait dengan IT, jadi enggak banyak nyambung dengan pengetahuan soal bisnis. Baru pas S2 itu saya ambil Master of Business Administration (MBA). Dari sini, saya banyak tahu soal manajemen bisnis.

Setelah lulus, tidak langsung bekerja di perusahaan keluarga?

Robby : Malah sebenarnya, saya lebih ingin berkarir di luar negeri, karena bagi saya menjadi profesional itu lebih mudah daripada businessman. Namun seiring waktu, ini jadi tanggung jawab yang harus saya emban, maka saya memutuskan kembali ke Denpasar dan membantu tim Sanidata Denpasar. Ivonne : Setelah saya menyelesaikan jenjang S2 saya di Sydney, saya sempat tinggal di sana selama 8 tahun sebelum akhirnya dipanggil papa untuk membenahi manajemen di Semarang. Papa melihat manajemen lama yang di Semarang sudah tidak mampu lagi untuk menjalankan usaha dengan baik. Saya dipanggil pulang untuk membenahi masalahmasalah manajemen yang ada.

Bagaimana orangtua mempersiapkan kalian?

Robby : Kata Papa waktu itu, kalau mau kerja, kita bisa kapan saja, tapi kuliah, ini kesempatan yang tidak selalu ada. Apalagi kalau nanti sudah bekerja, pasti kuliah akan lebih tertinggal. Jadi prinsip beliau, “Kalau soal cari uang nanti pasti kamu akan cari uang. Tapi kalau belajar atau kuliah, nanti kalau kamu sudah tua dan sudah mengenal uang, belum tentu punya waktu buat belajar. Jadi selagi masih muda belajar terus, nanti kalau sudah tua juga akan cari uang dengan sendirinya,” begitu kata beliau. Ivonne : Kami sedari kecil, tidak pernah dilibatkan dalam kegiatan usaha. Papa punya prinsip toko kami harus dijalankan dengan profesional. Jadi bersih dari anak-anak yang lari ke sana ke mari di toko, seperti kebanyakan toko kelontong biasa, dan baru boleh main ke toko di bawah, kecuali toko sudah tutup atau saat kosong pembeli. Dan itu pun berlaku sampai cucunya sekarang. Bahkan pada waktu itu sampai SMU pun, kami anak-anaknya tidak pernah diminta bantuan, meski sekadar mengangkat telepon atau jadi kasir. Itu sebabnya paska kuliah, kami kerja dulu, sekitar 4 tahun di perusahaan IT, sesuai dengan dasar pendidikan kami saat itu. Baru akhirnya papa minta kami pulang untuk mengelola Sanidata.

Apa yang Anda dapati ketika mulai “menukangi” usaha keluarga?

Robby : Saya yang bekerja lama pada perusahaan di Australia, awalnya bingung melihat sistem pengelolaan usaha Papa yang masih sangat konvensional. Pelan-pelan saya mulai melakukan pembenahan dalam pengelolaannya. Langkah awal adalah memperbaiki pengelolaan barang dan persediaan, serta perlahan mulai merapikan struktur dan tim manajemen hingga sistem kerja yang lebih efektif. Mulai memilah segmentasi pasar dan bahkan hingga desain uniform, agar tampilan kerja karyawan tetap memikat. Bagi saya hal seperti ini penting.  Ivonne : Memulai memegang kendali Sanidata Semarang tahun 2008. Saya harus belajar dengan keras, karena basic pengetahuan kami sebelumnya selama 8 tahun di Sidney, kuliah dan bekerja itu di bidang IT. Hal kedua yang agak berat yakni kulturnya beda. Di Australia, kami hanya berhadapan dengan dua opsi saja: benar atau salah. Sedangkan di Indonesia, lebih banyak yang abu-abu, dan tidak pasti salah atau benar.

Apa tantangannya?

Robby : Yang saya rasakan agak berat dalam melakukan sejumlah perubahan di sini bukanlah sistemnya, tapi justru budaya kerjanya. Selama ini Papa itu single fighter, selalu bekerja sendiri tanpa mau meminta bantuan anak-anaknya. Malah justru kita dilarang sebelum siap. Karenanya, Sanidata tumbuh dengan budaya kekeluargaan yang kental. Ini bagus pada satu sisi, tapi terkadang menghambat pada sisi lainnya. Inilah tantangan besar yang harus saya hadapi, agar apa-apa yang sudah bagus tetap terjaga, dan apa yang harus dikoreksi bisa dilakukan. Ini yang kemudian memaksa saya untuk mencari tahu. Berbekal pencarian ilmu di internet dan terjun langsung ke lapangan, akhirnya saya bisa beradaptasi dengan perusahaan ini, dan sanggup menerima tongkat estafet itu dengan baik. Ivonne : Tantangan lainnya yakni memperbaiki sistem awal yang amburadul, dan harus belajar mengenai Alkes dan menjual langsung Alkes. Ini satu hal baru yang harus kami kuasai dengan waktu cepat.

Bagaimana reaksi Ayah Anda dengan sejumlah perubahan yang dilakukan?

Robby : Saya melihat Papa itu (Andries Kartono -red), sangat terbuka pada hal-hal baru. Padahal kebanyakan orang yang seusia beliau, biasanya sudah malas mau belajar halhal baru. Namun papa sama sekali tidak seperti itu. Inilah yang menjadikan peralihan manajemen berjalan sangat smooth. Ivonne : Saya memulai dengan hanya 10 orang karyawan saja waktu itu, dan sekarang sudah berkembang menjadi 22 orang dengan sales 6 orang. Omzet mulai naik sejak periode tahun 2009-2010, bahkan menyamai Sanidata Bali. Saya pikir ini perubahan yang positif.

Bagaimana Anda akan membawa perusahaan ini ke depannya?

Robby : Saya sih inginnya, Sanidata itu bisa meniru perusahaan Jepang yang memang lebih banyak berorientasi pada kualitas. Kalau ini bisa kita lakukan, maka nanti pasarnya pun tak terbendung, karena di segmen masyarakat yang berorientasi pada produk premium, umumnya punya karakter pasar yang loyal. Ivonne : Saya akan berusaha supaya nama Sanidata tetap akan ada selamanya, akan diteruskan dari generasi 1 ke generasi seterusnya. Supaya nama Sanidata semakin dikenal orang sebagai perusahaan yang berkualitas.

Langkah lain yang Anda berdua lakukan, dengan mendirikan Sanimed, benarkah?

Robby : Saya ingin keberadaan alat-alat kesehatan yang dijual Sanidata bisa menjangkau ke lebih banyak daerah. Dan dengan adanya kami, saya dan Ivonne, maka kami memulai langkah ekspansi ini dengan cara yang sederhana sebagai permulaan, yakni membangun Sanimed. Ini adalah retail store dengan produk kesehatan yang idenya didapatkan dari konsep waralaba minimart yang selama satu dekade terakhir tumbuh menjamur. Ivonne : Sanimed itu ide lama. Dari dulu Papa ingin membuka modern mini store seperti banyak kita lihat pada convenience store. Cuma bedanya jualan alat-alat kesehatan. Waktu kami kecil, beliau sudah menerapkan prinsip manajemen modern itu di toko. Kami anak-anaknya tidak boleh berada di sekitaran toko saat jam penjualan buka. Bahkan mengangkat telepon pun tidak boleh, semua harus kelihatan profesional. Robby : Betul, ini ide lama yang sudah disampaikan Papa sejak dulu, tapi baru terealisasi ketika anak-anaknya sudah besar dan bisa menerapkan ide ini menjadi nyata. Kami memulai ekspansi menggunakan kendaraan ini. Yang bergerak secara simultan bersama-sama antara di Bali dan di Semarang. Tahun 2012 buka dua cabang, satu di Denpasar dan satunya lagi di Semarang. Saat saya membuka cabang di Singaraja, Ivonne membuka cabang Sanimed di Kudus. Tahun 2014 kemarin, saya membuka satu outlet lagi di Tabanan Bali, dan Ivonne satu outlet lagi di Solo Jawa Tengah.

 

TIDAK HANYA BERHASIL DI BISNISNYA , ROBBY KARTONO JUGA BERHASIL MEMBANGUN KELUARGA YANG BAHAGIA

 

Lalu apa perbedaan Sanidata dan Sanimed?

Robby : Secara fisik, bangunan yang dibutuhkan Sanimed memang tidak sebesar Sanidata. Namun dengan produk penjualan yang juga lebih sederhana, yakni produk-produk alat kesehatan yang sifatnya generik dan fast moving saja yang dijual. Hampir sebagian besar isinya produk home care dan tidak melayani permintaan khusus, seperti dari rumah sakit. Jika ada permintaan untuk produk alat kesehatan yang sifatnya spesial, baru kemudian dialihkan ke Sanidata. Dengan cara ini, maka kami melakukan satu langkah jitu yang efektif untuk merangsek relung pasar yang paling jauh dengan modal yang relatif tidak besar. Sanimed bisa menjadi tolak ukur untuk uji pasar pada satu daerah terkait dengan kebutuhan alat-alat kesehatan. Jika nanti dirasa permintaannya banyak dan mengkhusus, maka di daerah tersebut bisa di buka Sanidata. Ivonne : Membuka Sanimed modalnya tidak besar. Cukup bangunan satu ruko dengan produk-produk yang umum. Di lain sisi, konsep ini punya kans untuk bisa diwaralabakan dalam waktu ke depan. Bukan tidak mungkin bisa memiliki tingkat profitabilitas yang tak kalah dengan Sanidata perusahaan induknya. Selain itu, konsep nya juga beda. Kalau Sanidata itu jemput bola, sedangkan Sanimed lebih ke homecare dengan jam buka pelayanan juga lebih panjang. Waktu libur pun untuk di Jawa setahun cuma tutup 3 hari, agar bisa melayani terus setiap hari dan sasarannya memang pemakai akhir. Jadi pelayanannya juga seperti supermaket, artinya pembeli bisa mengambil sendiri barang yang mau dibeli.

Bagaimana dengan sistemnya, termasuk pemasarannya?

Robby : Semua konsep sampai dengan SOP-nya sejauh ini, saya yang buat. Untuk pemasaran, kami memang tidak ingin terlalu nyaring. Kami memang selama ini tidak pernah berpromosi besarbesaran. Hanya mengandalkan relasi dan word of mouth saja. Ivonne : Sistemnya seperti toko waralaba lainnya. Kita menjual pelayanan dan kualitas dengan harga yang terjangkau oleh masyarakat umum.

Berapa cabang targetnya?

Robby : Setidaknya satu tahun satu outlet, pelan tapi pasti. Ivonne : Prinsip saya, terutama yang ditanamkan oleh Papa, kalau sudah buka satu toko, kelola dengan baik, dan jangan sampai tutup.

 

IVONNE PUN TAK KETINGGALAN, PUTRI PERTAMA DARI ANDRIES INI BERHASIL MENJALANKAN DENGAN SEMPURNA BISNIS SEKALIGUS KELUARGA KECILNYA.

 

Bagaimana kondisi Sanimed saat ini?

Robby : Sangat baik, sekalipun masih baru. Namun performa Sanimed sudah mulai terlihat. Ya, setidaknya untuk menutupi biaya operasional. Di beberapa outlet sudah terpenuhi. Ivonne: Prospeknya bagus, tidak terlalu butuh supervisi yang berlebihan dan mudah dijalankan.

Berapa jumlah karyawannya sampai saat ini?

Robby : Kalau Sanidata Group, sampai cabang Semarang dan outlet-outlet Sanimed, tercatat  sekitar 100 orang karyawan di bawah bendera Sanidata.

Apa yang bisa dilakukan Ayah Anda yang belum bisa Anda lakukan?

Ivonne : Yang bikin kami enggak habis pikir, yakni kemampuan Papa saya mengajak sejumlah karyawannya betah bekerja bahkan hingga ada yang sudah mengabdi selama 25 tahun. Itu satu hal yang kami harus pelajari dari beliau. Bagaimana caranya bisa mempertahankan loyalitas karyawan hingga mau bekerja dengan kita sampai 20 tahun lebih. Dan ini bukan cuma 1-2 orang, tapi ada beberapa orang staf yang sudah bekerja belasan hingga puluhan tahun di Sanidata. Mungkinkah Anda menyamai prestasi Ayah Anda dari sis hal tersebut 3 Ivonne bersama suaminya  Ferdinand dan kedua putrinya Natasha Mogi dan Michelle Mogi. Ivonne : Saya berharap, bisa sejauh ini saya punya beberapa karyawan yang sudah mengabdi bersama kami di perusahaan selama lebih dari 10 tahun.

Bagaimana Anda melihat orang tua sebagai pendiri bisnis yang sekarang kalian kelola?

Robby : Papa itu orangnya loyal, komit, dan keluarga sentris. Sangat family man. Beliau benar-benar mementingkan urusan keluarga di atas segalagalanya. Bahkan dalam hal bisnis juga sama. Mungkin ini yang menjadikan para karyawannya juga betah bekerja dengan beliau selama berpuluh-puluh tahun. Ivonne : Papa itu orangnya keras tapi demokratis. Selalu mengajarkan kita anak-anaknya untuk bekerja keras. Tidak ada sesuatu yang gampang yang bisa diraih tanpa kerja keras.

Related News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Flag Counter

Copyright © 2018 ISEEBALI . All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri