BRN_3480

Janet De Neefe – Gelorakan Gairah Festival

Hanya dalam beberapa hitungan hari, Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) 2015 akan kembali digelar. Oktober selalu menjadi bulan favorit untuk penyelenggaraan salah satu dari enam festival sastra terbesar di dunia versi Majalah Harper Bazzar Inggris ini. Tentu saja Sang Founder & Director UWRF, Janet DeNeefe sudah terlihat sangat sibuk. Beruntung ia punya tim festival solid yang turut memastikan seluruh perencanaan festival berjalan lancar. Festival yang berlangsung selama empat hari dari 28 Oktober hingga 1 November 2015 tersebut akan mempertemukan para pembaca dengan penulis-penulis ternama dari seluruh pelosok Nusantara dan juga dunia. Dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, tahun 2015 juga menjadi tahun tersibuk bagi Janet. Pasalnya, wanita kelahiran Melbourne ini juga melahirkan “anak festival” ketiganya yang bertajuk Ubud Food Festival, di mana debut-nya telah dimulai pada Juni 2015 lalu. Belum lagi, Janet dan timnya harus merealisasikan Bali Emerging Writers Festival. Sebuah festival tahunan untuk penulis remaja yang baru saja memasuki tahun kelima penyelenggaraan pada bulan Mei 2015.

Rutinitas Janet tidak hanya dihiasi oleh program-program festival kreatifnya, tetapi istri Ketut Suardhana ini juga merupakan seorang entrepreneur. Ya, Ibu dari dua putri dan dua putra ini mengelola penginapan Honeymoon Guesthouse, Restoran Indus, Bar Luna dan Casaluna, dan sebuah sekolah memasak The Casa Luna Cooking School. Gairahnya yang tinggi di bidang kuliner dan hospitality-lah yang menuntunnya terjun ke dunia wirausaha.

Festival dan kewirausahaan hanyalah beberapa contoh refleksi cinta Janet terhadap Bali, khususnya Ubud. Ia menjelma sebagai wanita Ubud, berbaur dengan keindahan seni dan istiadat Bali. Di Ubud lah, Janet mencurahkan passion dan sekaligus membangun keluarga bersama seorang seniman, Ketut Suardhana. Keputusan penulis buku Bali; The Food of My Island Home ini untuk pindah dari kota metropolitan Melbourne, kemudian menetap di desa seni Ubud sejak tahun 1984, tidak hanya mengubah hidupnya, tetapi juga ikut mengubah wajah pariwisata Ubud serta menebar inspirasi dan kontribusi dalam kemajuan sastra serta seni dan budaya Indonesia.

Di tengah-tengah jadwal rutinitasnya yang padat, M&I Magazine beruntung bisa mewawancarai Janet untuk mengulik lebih jauh festival-festival garapannya, kewirausahaan, serta passion-nya di bidang kuliner. Berikut petikan wawancara panjang kami bersama wanita berdarah Australia ini.

Bisakah Anda ceritakan kembali, dari mana sebenarnya ide untuk membuat festival sastra semacam Ubud Writers & Readers Festival ini bermula?

UWRF kami bentuk pertama kali sebagai salah satu upaya untuk menyembuhkan Bali dari trauma pasca tragedi pemboman 2002 silam. Saya pribadi melihat semangat masyarakat untuk bangkit saat itu masih kecil. Ini lah yang membuat saya ingin menemukan cara untuk menyatukan kembali masyarakat Bali, kembali bisa merayakan keindahan seni dan budaya Bali. Saya sangat ingin menghidupkan kembali semangat masyarakat Bali saat itu.

Seperti apa respon publik terhadap penyelenggaraan pertama UWRF, Balk masyarakat lokal maupun turis asingnya? Strategi apa yang anda terapkan untuk memperkenalkan festival ini ke khalayak umum?

Event UWRF yang pertama berjalan sangat sukses. Para penulis, pembaca serta penerbit, baik lokal maupun internasional, mereka sangat senang dan merespon positif event ini. Kami bekerja hingga lembur untuk bisa mempromosikan festival pertama kami. Tapi yang jelas rekomendasi dari mulut ke mulut lah yang menjadi strategi paling efektif. Jujur saja dana kami sangat terbatas, sehingga kami mengerahkan segala upaya terbaik yang kami punya untuk mewujudkan festival ini.

 

Ada begitu banyak orang di luar sana yang sangat antusias terhadap budaya dan seni. Itu yang membuat tidak sulit bagi kita untuk menemukan orangorang yang ingin terlibat.

 

Sangat menarik mengetahui festival ini tidak hanya sukses memikat para pengunjung, tetapi juga banyak relawan dari seluruh dunia. Bagaimana itu bisa terjadi? Apa yang membuat banyak orang ingin berpartispasi sebagai relawan festival UWRF?

Ya, benar sekali. Kami tidak akan mampu menjalankan festival-festival kami tanpa dukungan dari relawan kami. Tidak hanya untuk UWRF, tapi juga festival kami lainnya seperti Ubud Food Festival dan Bali Emerging Writers Festival. Saya cermati ada begitu banyak orang di luar sana yang sangat antusias terhadap seni dan budaya. Itu yang membuat kami tidak sulit untuk menemukan orang-orang yang ingin terlibat dalam event festival ini. Dan kami sangat beruntung untuk hal tersebut dan kami memiliki begitu banyak follower yang penuh dedikasi. Pun ada komunitas-komunitas di Ubud yang memberikan kontribusi besar untuk keberlangsungan acara kami.

Sulitkah untuk mengembangkan sebuah festival di Indonesia? Apa tantangan terbesar yang pernah Anda alami selama menjalankan festival ini?

Pendanaan selalu menjadi tantangan terbesar kami dan setiap tahunnya kami harus mencari sponsorship untuk membantu keberlangsungan acara berikutnya. Tentu saja hal ini membuat semunya tampak lebih melelahkan. Tidak hanya dari faktor internal kami, tetapi juga dari Sastra Indonesia itu sendiri yang masih menghadapi banyak tantangan, lantaran masih sangat sedikitnya karya yang telah diterjemahkan. Tapi kini semuanya telah beralih, karena Indonesia menjadi tamu kehormatan tahun ini untuk Frankfurt Book Fair dan akan ada banyak karya besar yang akhirnya akan bisa dibaca oleh masyarakat di negara-negara berbahasa Inggris di luaran sana.

Apakah UWRF merupakan ide festival pertama Anda? Atau sebelum UWRF, Anda pernah menangani jenis Festival serupa?

Sebenarnya, saya lebih dulu mulai dengan festival yoga, kira-kira setahun sebelum UWRF. Tapi, sesungguhnya saya sedikit kesulitan berhadapan dengan orang-orang yang meminati yoga saat itu. Justru bukubuku dan para penulis, entah bagaimana terlihat lebih fleksibel. Maksud saya lebih kepada pikirannya, bukan fisiknya.

Apa yang membuat UWRF bisa terus eksis dari tahun ke tahun, bahkan sudah melewati 10 tahun penyelenggaraan? Apa faktor kunci yang membuat UWRF bisa sukses secara Internasional?

Sederhana saja, kesuksesan ini tidak lain karena dedikasi, passion, dan tim profesional serta para pendukung yang membuat festival ini benar-benar terwujud. Hanya inilah cara yang membuat kami tetap terus berjalan. Jika tidak, maka festival ini tidak akan hidup seperti sekarang. Kami menjalankan festival seperti sebuah bisnis dan benar-benar sangat ketat dalam mematuhi jadwal serta anggaran. Meski begitu, kami juga menjalankannya layaknya sebuah keluarga besar. Hubungan antar manusia pun sangat penting di sini.

Apakah UWRF menerapkan model bisnis khusus untuk membuat festival ini bisa sustain? Jika ya, dapatkah anda menjelaskannya?

Kita bukan festival yang mencari keuntungan, yang berarti kami mengandalkan dukungan penuh dari masyarakat lokal, komunitas seni dan budaya di Indonesia maupun dunia. Kami memiliki model bisnis yang sangat organik. Jika kita punya uang, nanti akan dikeluarkan untuk festival. Jika tidak, maka kita tidak! Model bisnis kami hanya menghasilkan uang yang cukup untuk membayar semua tagihan yang menyangkut festival ini.

Tahun ini, UWRF mengangkat tema “17.000 islands og imagination”, ya? Mengapa UWRF memilih tema tersebut?

Tahun ini, kami berbagi tema dengan Frankfurt Book Fair, di mana Indonesia menjadi tamu kehormatan untuk ajang tersebut. Tema ini juga mewakili keberagaman sastra dan bakat seni dari seluruh nusantara yang begitu luar biasa.

Hal apa yang dinanti-nanti dari UWRF berikutnya ini?

Ya, nanti akan ada pemenang Pulitzer, Michael Chabon, koresponden asing ternama Christina Lamba, putri seorang filantropi Afrika Selatan, Tutu Mpho Tutu, seorang aktivis Korea Utara dan juga pembicara sensasional TED, Hyeonseo Lee, sutradara Indonesia Nia Dinata, Raditya Dika, Seno Gumira Adjidarma, dan masih banyak lagi pokoknya.

Dapatkah Anda menceritakan kepada kami tentang passion Anda di bidang kuliner?

Sesungguhnya, saya ingin memulai festival kuliner lebih dulu daripada UWRF. Kuliner adalah salah satu passion saya, dan tentunya seperti yang Anda ketahui, saya sangat cinta dengan masakan Indonesia. Seluruh hidup saya seolah menyatu dengan masakan lokal dan keramah-tamahan orang-orang Bali. Honeymoon Guesthouse, restoran Indus dan Casa Luna, sekolah memasak, UWRF dan hingga sekarang dengan Ubud Food Festival, semuanya itu benar-benar merefleksikan seluruh passion saya selama ini.

Apa menariknya menjadi seorang wirausahawan? Apa tantangannya?

Saya suka dengan kebebasanya yang membuat kita mampu untuk mengambil keputusan sendiri dan mengejar passion kita sendiri. Unsur yang saya pikir paling penting di sini adalah bekerja secara harmonis dengan komunitas di sekeliling kita. Meyakinkan mereka bahwa apa yang kamu kerjakan itu tidak hanya semata-mata  memberikan keuntungan untuk dirimu sendiri, tetapi juga untuk orang-orang di sekitarmu. Tentunya kami tidak akan bisa meraih pencapaian seperti sekarang ini tanpa dukungan dari komunitas Ubud dan Bali pada umumnya.

Dan Anda juga baru saja menggelar Ubud Food Festival 2015 yang pertama. Menagap butuh waktu cukup lama untuk merealisasikan ide tersebut?

Hmm, saya rasa, saya terlalu disibukan dengan UWRF. Tapi, sebenarnya saya juga memang harus menunggu waktu yang tepat untuk mewujudkan festival tersebut. Ibaratnya, kamu tidak bisa memiliki terlalu banyak bayi sekaligus dalam waktu bersamaan. Ini merupakan tugas besar untuk bisa menjalankan tiga festival dalam rentang waktu satu tahun penyelenggaraan yang sama. Tapi kami beruntung punya semangat yang tinggi. Tim berbakat yang mampu membangkitkan semua festival tersebut bersama-sama.

 

Tahun ini, kami berbagi tema dengan Frankfurt Book Fair, di mana Indonesia menjadi tamu kehormatan untuk ajang tersebut. Tema ini juga mewakili keberagaman sastra dan bakat seni dari seluruh nusantara yang begitu luar biasa

 

Kami dengar Anda juga sangat cinta dengan resep masakan tradisional Bali. Mengapa?

Saya pertama kali mencicipi masakan Bali itu kalau enggak salah sekitar tahun 1975. Dan saat itu saya benar-benar terkesan dengan pengalaman pertama saya tersebut. Saya tidak pernah bisa lupa bagaimana efek yang dibuatnya saat itu pada diri saya. Seolah-olah pertemuan pertama dengan rasa masakan tersebut dalam sekejap mengubah hidup saya.

Bagaimana Anda bisa membagi fokus antara program festival dengan aktivitas kewirausahaan? Jika Anda harus memilij, mana yang lebih Anda cintai dari kedua bidang tersebut?

Menjadi pendiri & direktur UWRF, BEWF, dan UFF sebenarnya memungkinkan saya untuk melakukan keduanya. Saya selalu mampu menggali ide-ide baru melalui program festival. Saya juga membawa orang-orang yang begitu inspiratif dari tahun ke tahun ke festival kami tersebut. Itu merupakan hal yang benar-benar fantastis. Tentu saja, saya tidak pernah bosan dan saya yakin siapa pun bisa fokus terhadap banyak hal sekaligus.

Pertanyaan terkahir, apakah akan ada proyek atau ide baru yang ingin Anda realisasikan di masa mendatang?

Tahun lalu, kami menjadi tuan rumah untuk sebuah tur kuliner dan sastra yang melewati Kepulauan Komodo dengan menggunakan SeaTrek. Dalam tur tersebut, penulis Amitav Ghosh dan Deborah Baker membacakan kami cerita-cerita menarik dengan suasana menakjubkan di bawah hamparan bintangbintang. Sementara itu, saya bersama tim di sana memasak menu seafood yang segar. Ini pengalaman yang begitu ajaib bagi saya. Tahun ini, kami melakukan lebih dari dua perjalanan. Pertama, sebuah tur kuliner dengan melewati kepulauan penghasil rempah-rempah. Kedua, kami melakukannya lewat UWRF bersama founder Lonely Planet, Tony dan Maureen Wheeler. Saya ingin menciptakan lebih banyak petualangan yang mampu menggabungkan keindahan alam Indonesia dengan makanannya, budayanya serta seninya.

 

Related News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Flag Counter

Copyright © 2018 ISEEBALI . All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri