DSC_7028

Jerry Aurum – Hampir Fotografer

Menggeluti bisnis di bidang kreatif ternyata sangat menjanjikan. Salah satu yang saat ini sudah sangat matang model bisnisnya adalah fotografi. Meski persaingan bisnis di bidang ini cukup ketat, para pelaku usaha ini tak pernah kehilangan pasar. Dengan mekanisme bisnis yang tepat, usaha fotografi bisa mendatangkan profit besar bagi pelakunya. Seperti yang dilakukan Jerry Aurum, seorang fotografer kece dengan segudang prestasi. Berawal dari hobi, Jerry mulai serius melakoni bisnis di bidang fotografi sejak Ia lulus dari bangku kuliah. lulusan Desain Komunikasi Visual, Institut Teknologi Bandung (ITB) ini tertarik terjun ke bisnis jasa tersebut karena melihat potensi besar. “Job pertama saya, dihitung-hitung pada saat itu, nilainya setara dengan gaji saya selama dua tahun,” kata Jerry.

Cara awal Jerry mempromosikan karyanya kepada klien pun terbilang unik. Ia menggunakan medium kalender untuk memamerkan foto-fotonya. Kalender kecil sebanyak 300 buah ia sebarkan ke perusahaan-perusahaan dengan tujuan mendapatkan job memotret. usahanya itu pun tak sia-sia. Jerry mendapat beberapa project dengan keuntungan yang melebihi targetnya.

Selain itu, Jerry juga telah menerbitkan empat buah buku foto, yakni Femalography (2006), In My Room (2009), hampir Fotografi (2013), dan On White (2014). Tiga buku terbitannya merupakan buah dari idealisme Jerry, Sedangkan buku hampir Fotografi dibuat memang untuk tujuan mendapatkan profit. untuk mengetahui lebih jauh tentang perjalanan bisnisnya, berikut adalah petikan wawancara eksklusif Money&I dengan Jerry Aurum.

Bisa diceritakan bagaimana Anda memulai karir sebagai fotografer?

Berawal dari hobi, saya mulai serius menggeluti fotografi mulai tahun 1992 waktu duduk di bangku SMA, yang kemudian berlanjut pada saat kuliah. Saya tamat kuliah pada tahun 1999, dari Jurusan Desain Komunikasi Visual di Institut Teknologi Bandung (ITB). Kemudian, saya sempat bekerja selama hampir empat bulan, di dua perusahaan berbeda. Perusahaan pertama hanya tiga minggu, perusahaan yang kedua tiga bulan, kemudian saya langsung memutuskan untuk menjadi seorang fotografer profesional, ketika saya mulai mendapatkan job.

Itu proyek saya yang pertama. Baru proyek pertama, Anda sudah berani resign ?

Karena job tersebut jika dihitung-hitung pada saat itu, nilainya setara dengan gaji saya selama dua tahun. Sedangkan job itu saya kerjakan kira-kira selama tiga hari. Menimbang hal itu, saya putuskan ‘oke saya berhenti dari pekerjaan yang lama’. Job itu sendiri bisa saya dapatkan karena selama masih duduk di bangku SMA hingga kuliah, saya sudah rajin ikut lomba di tingkat Nasional maupun Internasional. Kemudian saya rajin mengirimkan foto untuk dimuat di majalah foto dan sebagainya.

Ketika saya masuk dari Bandung ke Jakarta, sembari bekerja, saya rajin mengirimkan portofolio ke advertising, ke berbagai perusahaan. Portofolio tersebut saya buat pada masa amatir, tapi mereka (klien) cukup senang. Kemudian memanggil saya untuk job yang pertama, yaitu memotret sebuah perusahaan pertambangan di pedalaman Sumatera Selatan. Saya mikirnya sederhana saja waktu itu, “job pertama ini setara gaji dua tahun” setelah ini saya tinggal lihat bagaimana selanjutnya. Kalau dapat job memotret lagi, saya akan terus jadi fotografer, kalau ternyata mandek, saya bisa kembali bekerja. Ternyata setelah dapat job pertama, saya dapat job kedua dan seterusnya hingga hari ini.

Belajar fotografi di mana?

Awalnya otodidak. Kemudian saya banyak belajar di klub fotografi yang bernama Perhimpunan Amatir Foto (PAF). PAF itu merupakan klub foto yang paling tua di Indonesia, pusatnya di Bandung. Dari situ terjaga hobi saya terhadap fotografi karena sering kumpul. Di PAF banyak kegiatan, ada lomba foto bulanan, ada pertemuan bulanan juga, dimana kita sering sekali mengundang pakar fotografi. Ada sekretariat juga tempat kami berkumpul. Jadi sehari-hari saya main di situ selama saya di Bandung.

Kabarnya Anda menggunakan kalender sebagai promosi awal. Bisa diceritakan soal itu?

Pada saat saya tamat kuliah dulu, saya pergi ke Jakarta akhir tahun 1999. Saya sembari mencari uang tambahan, saya bekerjasama dengan toko souvenir ITB yang bernama TOOG atau Toko OlehOleh Ganesha. Kami menjual cendera mata segala yang berhubungan dengan Ganesha.

Saya bekerjasama dengan teman-teman yang masih kuliah pada saat itu untuk memproduksi kalender ini. Dicetak untuk sebagiannya dijual di sana, yang hasil penjualannya menutup seluruh ongkos produksi kami. Sisanya sebanyak 300
kalender saya bawa ke Jakarta untuk disebarkan kepada advertising dan perusahaan.

Kalender itu juga merupakan portofolio saya. Kenapa bentuknya kalender?

Saya pikir kalau portofolio dalam bentuk brosur, setelah dilihat akan masuk tempat sampah. Kalau kalender setelah dilihat masih dipajang di meja selama satu tahun penuh. Job yang saya peroleh selama tahun
2000 itu hampir seluruhnya dari portofolio yang bertengger di meja orang.

Jadi bisa dikatakan kalender ini sebagai awal usaha Anda?

Iya betul. Bisa dikatakan memang memulainya dari si kalender kecil itu. Jadi kalendernya itu dimasukan ke kotak disket, jadi sangat kecil sekali. Pada waktu itu saya berharap angka keberhasilan satu persen. Jadi dari 300 kalender yang dikirim, saya berharap hanya tiga project. Karena pada waktu itu perhitungan saya simpel banget, dari tiga project ini bisa untuk modal memulai usaha. Jadi bisa untuk menyewa kantor, untuk beli alat seadanya. Ternyata yang dihasilkan dari kalender itu lebih banyak daripada tiga project keuntungannya.

Pada saat memulai karir, apakah alat-alat foto sudah lengkap?

Ini lebih gila lagi ceritanya. Jadi pada saat saya mendapatkan job yang pertama itu, membutuhkan kamera yang setidaknya kalau diperbesar tidak pecah. Saat itu saya menggunakan rol film, dengan kamera 35 mm yang keterbatasannya tinggi. Jadi kalau diperbesar, paling hanya mampu sebesar majalah, kalau lebih besar dari itu gambarnya kelihatan pecah. Jadi kamera yang dibutuhkan adalah medium format. Nah kamera medium format ini harganya nggak murah, dan saya nggak punya modal. Jadi yang saya lakukan pada saat mendapatkan uang muka project yang pertama itu, saya berambisi membeli kamera dalam bentuk medium format.

Singkat cerita, saya dapat kamera bekas pakai dengan medium format merek Mamiya 645Pro beserta dengan tiga lensa senilai 8 juta rupiah saat itu. Setelah saya lihat barangnya bagus, saya bilang sama yang jual, “oke saya beli ini, kameranya dengan satu syarat, ajarin dulu gua cara pakai kameranya”.

Itulah kamera yang saya pakai selama hampir empat tahun, sebelum akhirnya pindah ke kamera digital. Masih ada kameranya?

Masih.., masih. Kamera pertama tahun 1992, juga masih saya simpan tuh. Dan masih berfungsi dengan baik.

Apakah Anda punya genre foto sendiri?

Saya paling suka itu potrait. Tapi dalam perjalanan karir, saya termasuk yang tidak punya genre, karena memang Indonesia itu adalah negara yang sifatnya masih generalis. Jadi kita kalau terburu-buru klaim genre, secara bisnis kita akan kekurangan pekerjaan. Jadi dari awal karir hingga hari ini, saya selalu menyanggupi untuk memotret apa aja, selama klien meyakini hasil fotonya bagus.

Jadi pada akhirnya genre yang saya geluti saat ini adalah rentangnya luas sekali, mulai dari potrait, landscape, human interest, produk, motret under water juga banyak, motret beauty juga kita banyak.

Apa strategi Anda sebagai seorang fotografer untuk menghadapi persaingan?

Persaingan fotografi sekarang jauh lebih ketat dibanding jaman saya mulai dulu ya, awal tahun 2000. Karena pada saat itu jumlah fotografer komersil bisa dihitung jari, apalagi yang masuk kategori serius, itu sedikit sekali. Saat itu fotografi adalah sesuatu yang menyeramkan, modalnya besar, skill juga harus bagus. Akhirnya yang berani memutuskan untuk terjun secara profesional full time tidak banyak. Tapi secara kompetisi cukup menguntungkan, karena pemainnya tidak banyak. Nah sekarang siapa saja sudah bisa jadi fotografer, ya kan? karena fotografi adalah ilmu yang sifatnya praktikal, jadi siapa saja bisa belajar. Saya katakan, 10 tahun belakangan persaingan semakin ketat.

Apa cara Anda menyiasati kondisi itu?

Sejak tahun 2006, saya memilih project dari perusahaan yang punya “budget serius”, untuk keperluan fotografinya. Apakah itu untuk keperluan iklan, untuk keperluan brosur, untuk keperluan company profile, atau membuat annual report.

Jadi mereka itu sudah punya budget khusus untuk fotografi. Pertimbangannya?

Karena klien yang seperti ini tidak terlalu terganggu dengan budget. Jadi kalau kemudian ada fotografer yang menawarkan harga lebih kecil dari fee saya, tidak membuat mereka tergoda untuk pindah cari yang lebih murah. Karena buat klien, yang penting itu mutunya bagus, soal budget tidak masalah, jadinya mereka ini lebih loyal. Dan sudah banyak klien selama belasan tahun tetap motret di kita walaupun pendatang baru sudah banyak. Jadi untuk mengembangkan usaha dalam dunia fotografi hari ini memang dibutuhkan strategi bisnis yang tepat. Kita tidak bisa seperti masa lalu, dimana kita nggak perlu marketing, nggak perlu mencari pasar, kerjaan selalu datang sendiri dan masa itu sudah lewat. Masa keemasan seperti itu ada di era 90-an sampai akhir tahun 2000-an.

Pada masa itu kita nggak perlu cari pekerjaan, yang ada kita itu harus nyortir kerjaan. Kalau sekarang kita harus giat cari kerjaan. Kalau nggak bisa tumbang. Sudah banyak fotografer bagus yang akhirnya gulung tikar karena tidak mampu beradaptasi dengan evolusi marketingnya, yang paling sederhana contohnya peranan sosial media. Banyak fotografer jaman dulu yang konservatif, sama sekali tidak mau tahu soal itu, akhirnya hilang ditelan bumi karena nggak mampu bersaing di sosial media. Karena untuk sekarang, sosial media pegang peranan penting dalam dunia marketing.

Perusahaan mana saja yang jadi klien Anda?

Ada beberapa klien yang sudah lama saya tangani, contohnya unilever, Bank BCA, Bank Mandiri dan Sampoerna. Itulah contoh perusahaan yang sudah bertahuntahun pakai jasa saya.

Apa pendapat Anda tentang sertifikasi fotografer?

Sertifikasi fotografer jadi isu pada saat pembentukan Masyarakat Fotografi Indonesia (MFI). Saat itu saya sendiri termasuk yang mendukung untuk adanya sertifikasi tersebut. Tetapi pada pelaksanaannya, sertifikasi ini kelihatannya nol besar. Karena orang yang memang sudah diakui dalam dunia fotografi di Indonesia mengatakan, “saya tidak perlu sertifikat dengan eksistensi saya, toh saya gak pernah kekurangan kerjaan, dan kerjaan saya sudah diakui secara Internasional”. Kemudian yang mensertifikasi dirinya, secara defacto terlihat hasilnya tidak lebih bagus dari yang tidak bersertifikat ini, tapi sudah diakui.

Jadi pada akhirnya, wacana sertifikat itu gugur dengan sendirinya, ya kembali pada hukum alam. Akhirnya sampai sekarang nggak jalan tuh sertifikat. Termasuk saya akhirnya tidak bersertifikat sampai saat ini. Kita gagal membangun sebuah badan yang kredibel untuk memberi sertifikat itu. Jadi sertifikasi ini untuk kredibilitas. Nah karena itu yang memberikan sertifikat harus sangat kredibel dong, harus sangat dipandang siapapun. Kalau badan pemberi sertifikatnya sendiri dipandang sebelah mata, baik sama fotografernya atau sama calon kliennya, akhirnya tidak ada gunanya. Jadi semuanya tidak merasa bahwa sertifikat itu perlu.

Anda juga menulis buku, sudah berapa yang dihasilkan? dan mengapa membuat buku, apakah untuk dipasarkan atau hanya sebagai strategi promosi?

Itu tergantung jenis bukunya. Buku pertama Saya berjudul Femalografi (2006) merupakan sarana saya untuk membuat sebuah karya yang idealis. Karena karya dalam dunia komersil tentu saja berbenturan dengan banyak kepentingan, sehingga yang namanya idealisme tidak pernah bisa 100 persen, jadi saya nggak mau paksakan di situ. Saya pikir untuk bikin karya yang idealis itu memerlukan channel yang lain. Nah pada saat itu saya mulai membuat buku.

Buku saya yang kedua, masih tetap mengejar idealisme, yakni “in my room” berisi 100 tokoh Indonesia di kamar tidurnya masing-masing. Kemudian buku saya yang ketiga, hampir Fotografi (2013), di situ baru saya betul-betul membuat buku dengan tujuan agar bukunya laku saat dijual. Jadi bukunya itu berisi banyak tulisan, banyak foto, yang menjelaskan seluk-beluk fotografi yang sifatnya sangat komedi, dan buku itu laku keras. Dalam tiga bulan sejak penerbitannya sudah habis terjual. Buku itu memang tujuannya bukan idealisme, tetapi membuat yang bisa mengajarkan banyak, dan juga sangat menghibur.

Nah baru buku Saya yang keempat, On White (2014), kembali lagi sifatnya, memang untuk menyalurkan idealisme saya. Jadi tiap buku itu memang punya kepentingan yang berbeda-beda. hanya saat ini, saya sudah tidak berpikir lagi untuk membuat buku, paling tidak selama beberapa tahun ke depan. Karena saya juga melihat yang namanya buku itu sendiri sedang dalam massa uji coba. Apakah eksistensinya akan bertahan, ataukah harus berubah wujudnya. Karena yang namanya benda cetak itu makin lama mulai ditinggalkan dan membuat buku seperti yang saya buat itu memang harus dinikmati dalam bentuk buku.

Begitu dia muncul dalam bentuk digital book atau e-book, feeling-nya tuh beda, jauh banget jika dihadirkan dalam wujud buku yang bisa dipegang. Begitu dia pindah ke layar komputer atau gadget, feeling-nya bisa berubah. Jadi saya pikir buku masih tanda tanya nih, mesti bagaimana ke depannya. Maka hingga sekarang belum ada project buku lagi.

Berapa penghasilan Anda dari profesi ini?

Kisarannya sebulan ya, hmm.., saya ambil contoh mungkin wedding fotografer. Seorang wedding fotografer itu kisaran rata-rata perbulannya dia bisa dapat penghasilan kotor, untuk ukuran Jawa-Bali ya, tiap bulan dia bisa mendapatkan sekitar 6-200 juta. Saya sendiri dalam sebulan berkali lipat dari itu. Saya pernah dalam waktu 4 jam kerja mendapatkan 100 juta, motret sebuah band untuk dipakai promosi sebuah perusahaan selular.

Tidak jarang juga saya memotret itu untuk project yang kecil, tetapi sangat menyenangkan untuk dikerjakan. Atau misalnya yang sifatnya betul-betul 100% charity, itu juga cukup sering kita kerjakan. Kalau kita lihat bisa membuat impact yang bagus dan kita punya waktu, pasti kita lakukan.

Apa proyek sosial yang Anda ikut berpartisipasi didalamnya?

Tahun ini dan untuk pertama kalinya, memotret untuk World Wildlife Fund (WWF). Kita motretnya di pedalaman Riau untuk program Double the Tiger. Jadi WWF punya program untuk membuat jumlah populasi harimau Sumatera tahun 2020 meningkat jumlahnya. Nah kita ikut bantu promosi mereka. Kita tidak mendapatkan profit sama sekali, tapi kita yakin itu campaign yang bagus. Program-program seperti ini banyak kita lakukan untuk membantu yang membutuhkan. Karena kalau saya lebih melihat “value” dari sebuah project ketimbang profitnya.

Apa proyek Anda saat ini?

Saat ini kita baru saja menyelesaikan beberapa iklan, tapi belum boleh saya kasih tahu karena belum tayang. sekarang banyak fotografer pemula.

Ada tips atau strategi agar mereka bisa masuk dan bertahan di industri fotografi?

Pertama bangun portofolio yang bagus dulu. Dalam arti memang dia harus bisa membuktikan dirinya, bahwa dia adalah fotografer yang handal, yang punya hasil lebih baik dibandingkan rata-rata. Kemudian setelah portofolio cukup, yang dibutuhkan selanjutnya adalah pemikiran yang matang atau strategi. Mereka harus pelajari pasarnya, mereka harus tahu demografi dari calon kliennya, harus tahu business plan, harus tahu modalnya berapa, strategi pemasarannya seperti apa. Itu semua harus dijalankan, dan ini bagian yang paling tidak disukai kebanyakan orang. Terakhir, adalah urusan eksekusi. Sering kali saya menemukan banyak teman yang punya ide, foto bagus atau strategi bisnis dan pemasaran yang tepat, tapi pada akhirnya tidak berjalan. Karena yang namanya eksekusi itu memang beda.

Bagaimana Anda melihat banyaknya fotografer asing?

Tidak masalah. Memang kita harus belajar untuk bersaing dengan fotografer asing, karena ada perdagangan bebas di Asia Tenggara. Dan pada saat itu terjadi, siapa saja bisa bekerja dimana pun, dan bersaing dengan fotografer lokal setempat.

Jadi menurut saya dengan adanya fotografer asing itu bagus. Mereka bisa jadi sarana belajar untuk bersaing secara Internasional. Kita harus membuka pikiran kita, sudah saatnya kita bukan bertahan di kandang sendiri, tetapi saatnya menyerang kandang lawan dan menantang para fotografer lokal di sana. Nah kita pelajari apa kiat fotografer asing untuk bertahan di Indonesia.

Siapa fotografer idola Anda?

Sampai saat ini saya masih paling mengidolakan Annie leibovitz. Dia seorang fotografer wanita yang paling banyak mengerjakan potrait, dan seorang fotografer yang berkontribusi untuk beberapa majalah di Amerika. Saya anggap dia benar-benar punya ide, pengetahuan, network, pokoknya complete package. Dia memang fotografer yang tidak hanya menghasilkan karya bagus, tapi juga bisa menjadi seorang legenda hidup.

Related News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Flag Counter

Copyright © 2018 ISEEBALI . All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri