DSC_0136

Kartini Surfer Girl

Tak lagi sebatas “Dapur, Sumur dan Kasur”, ombak dan lautanpun menjadi wahan baru bagi perempuan generasi saat ini. Peran dan perjuangan RA Kartini  lebih dari 1 abad yang lalu menjadi pendobrak batas-batas sindrom feminisme hingga kini.

Di sore hari dipantai Kuta, tepat pada tanggal 21 April lalu, sejumlah surfer girls membuktikan hal tersebut, untuk memperingati hari Kartini, para penunggang buih ini, yang beratribut baju kebaya, fasih dengan lihat menaklukan ombak dan gelombang. Para wanita ini bahkan terlihat sempurna dengan berdiri tegak di papan seluncur mereka masing-masing, tidak tampak kesulitan sedikit pun bahwa mereka harus beraksi dengan pakaian yang tidak biasa. Sebagaimana disampaikan oleh Arini, salah satu surfer. Berselancar tidak dengan menggunakan pakaian renang lebih sulit, namun toh ini tidak mengahalanginya.

Dan menariknya, peringatan hari Kartini ini tidak diramaikan oleh warga lokal saja, tapi juga warga asing. Ini menunjukkan bahwa inspirasi Kartini, berkembang bukan sebatas untuk perempuan pribumi semata, namun menjadi isu sentral bagi semua perempuan. Risalah Kartini menjadi semangat yang tak lekang oleh waktu, tervalidasi oleh masa kini yang terus menggeliat mengantarkan para perempuan menemukan jalannya, berkarya layaknya para pria, berjibaku dengan ‘jantan’ tanpa harus terusik dengan isu diksriminasi dan gender.

Sebagaimana yang disampaikannya, “barang siapa tidak berani, dia tidak bakal menang, itulah semboyanku! Maju! Semua harus dimulai dengan berani! Pemberani-pemberani memenangkan tiga perempat dunia!”

DSC_0149

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Di sore hari dipantai Kuta, tepat pada tanggal 21 April lalu, sejumlah surfer girls membuktikan hal tersebut, untuk memperingati hari Kartini, para penunggang buih ini, yang beratribut baju kebaya, fasih dengan lihat menaklukan ombak dan gelombang. Para wanita ini bahkan terlihat sempurna dengan berdiri tegak di papan seluncur mereka masing-masing, tidak tampak kesulitan sedikit pun bahwa mereka harus beraksi dengan pakaian yang tidak biasa. Sebagaimana disampaikan oleh Arini, salah satu surfer. Berselancar tidak dengan menggunakan pakaian renang lebih sulit, namun toh ini tidak mengahalanginya.

Dan menariknya, peringatan hari Kartini ini tidak diramaikan oleh warga lokal saja, tapi juga warga asing. Ini menunjukkan bahwa inspirasi Kartini, berkembang bukan sebatas untuk perempuan pribumi semata, namun menjadi isu sentral bagi semua perempuan. Risalah Kartini menjadi semangat yang tak lekang oleh waktu, tervalidasi oleh masa kini yang terus menggeliat mengantarkan para perempuan menemukan jalannya, berkarya layaknya para pria, berjibaku dengan ‘jantan’ tanpa harus terusik dengan isu diksriminasi dan gender.

Sebagaimana yang disampaikannya, “barang siapa tidak berani, dia tidak bakal menang, itulah semboyanku! Maju! Semua harus dimulai dengan berani! Pemberani-pemberani memenangkan tiga perempat dunia!”

 

Related News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Flag Counter

Copyright © 2018 ISEEBALI . All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri