IMG_5067

Ketut Sulistyawati, PhD – Si Cantik UX

Di pagi Sabtu nan cerah itu, Ketut Sulistyawati kembali ke dalam dekapan hangat Pulau Dewata. Setelah empat hari berjibaku dengan tugas-tugas Somia Consulting di kota metropolitan, wanita yang akrab disapa Sulis ini akhirnya menghirup lagi atmosfer akhir pekan di Bali. Beberapa minggu terakhir, hari-hari kerjanya terfokus di Jakarta, sementara akhir pekannya dihabiskan di Bali. Rutinitas seperti inilah yang menghiasi hidup Sulis bersama perusahaan rintisannya, Somia Consulting. Profesinya yang unik sebagai UX (User Experience) Consultant kini menuntutnya untuk bolak-balik Bali – Jakarta.

“Kalau project di Jakarta lagi padat, mau enggak mau saya hanya bisa pulang ke Bali pas weekend saja. Mustahil kalau setiap hari saya bolak-bali Jakarta – Bali. Nanti capek di fisik,” jelas wanita berambut hitam pendek sebahu itu. Bidang UX yang tengah digeluti oleh perempuan kelahiran 11 Oktober 1982 ini memang lebih menyedot perhatian beberapa perusahaan besar di Jakarta, meski Somia Consulting yang didirikannya sejak 2012 itu sendiri berkantor pusat di Bali. Dengan banyaknya project yang berdatangan dari Jakarta itu pun memaksa Sulis harus membuka kantor cabang Somia Consulting di ibukota.

Sulis tak menampik, bahwa profesi UX masih terbilang baru di Indonesia. Bahkan, pemahaman terhadap bidang tersebut baru sebatas pada segelintir orang. Padahal, sejatinya UX memegang peranan penting dalam pembentukan citra sebuah brand. UX sangat berjasa dalam memaksimalkan penggunaan sebuah produk. UX memastikan, bahwa konsumen tidak akan ‘tersesat’ dalam memahami penggunaan sebuah produk. Bayangkan jika seseorang harus menghabiskan waktu berjam-jam membaca buku petunjuk manual lantaran kebingungan dengan cara guna dari produk yang dibelinya. Atau seseorang yang tidak tahu dari mana harus memulai ketika berada di sebuah pusat layanan publiK. Di sinilah, UX itu akan menawarkan sebuah solusi.

“Kalau startup atau company mengeluarkan sebuah produk yang ternyata sulit dimengerti oleh para pengguna dan itu akan berdampak pada kepuasan mereka, maka secara otomatis produk tersebut akan gagal di pasaran. Padahal sesunguhnya, jika brand itu mampu memberikan user experience yang bagus, pengguna pun akan jadi lebih loyal dengannya, misalnya Facebook dan produk Apple,” terang Sulis.

Wanita asal Klungkung ini menegaskan, bahwa UX merupakan sebuah pengalaman konsumen dalam berinteraksi dengan sebuah merek atau produk apapun. “UX ini menciptakan sebuah ikatan emosional antara konsumen dengan produk dari brand yang mereka gunakan. Dengan kata lain bagi sebuah brand, UX adalah cara mereka untuk bercakap-cakap dengan konsumennya,” jelasnya.

Sang Spesialis Tidak banyak profesional yang memiliki spesialisasi keahlian UX, seperti Sulis. Malah di Indonesia bisa dikatakan Somia Consulting adalah satu-satunya perusahaan spesialis UX yang terjun sebagai konsultan. “Profesi UX sebenarnya sudah lama booming, terutama di negara-negara barat, namun di Indonesia bidang ini baru dikenal,” paparnya. Perempuan yang berdomisili di kawasan Renon, Denpasar ini mengenal UX, saat ia masih duduk sebagai mahasiswi S-1 bidang desain produk mekanis di Nanyang Technology University (NTU). Ia pun akhirnya menemukan ketertarikan terhadap matakuliah UX tersebut, sehingga ketika NTU menawarkan beasiswa S-3 bergelar Ph.D khusus bidang UX (human factors engineering), Sulis pun langsung mengiyakannya.

“Aku melihat UX ini unik, karena mampu menggabungkan beberapa elemen yang aku suka, seperti desain, psikologi, dan bisnis. UX itu memastikan, bahwa desain itu tidak hanya bagus secara visualnya saja, tetapi juga punya fungsi dan bersifat user-friendly. Jadi, aku sangat suka jika desain itu sendiri bisa menolong orang banyak, ” ungkap anak keempat dari empat bersaudara ini. Sebelum berkarir di Indonesia, Sulis tercatat pernah bekerja sebagai desainer UX untuk beberapa perusahaan asing di Singapura, seperti Dell Experience Design Group, HewlettPackard Global Design Centre, serta Reading Room. Pada 2012 lalu, putri dari Prof. Dr.dr. Sukardika ini pun memutuskan untuk kembali ke Bali lantaran kerinduannya yang begitu besar terhadap tanah kelahirannya tersebut.

Tak mudah bagi Sulis membawa predikat “spesialis UX” di negeri yang masih awam tentang profesinya tersebut. “Ya, aku sebenarnya sempat bingung, mau ngerjain apa di Bali. Susah cari kerja, karena enggak ada yang ngerti dengan bidang yang aku kuasain,” katanya sambil tersenyum. Alhasil, Sulis pun memilih untuk mendirikan perusahaan konsultan UX sendiri, yakni Somia Consulting. Tak perlu waktu yang lama bagi perusahaannya untuk mendapatkan klien. Lantaran spesialisasinya yang langka di Indonesia itu membuat beberapa perusahaan besar seperti Kompas, Jobs DB , XL, dan juga perusahaan start up tertarik untuk menggunakan jasanya.

“Aku banyak sekali dibantu dari networking untuk mengembangkan Somia ini. Ada beberapa teman yang ku kenal, ketika tahu aku sudah balik ke Bali, malah minta bantuan aku untuk mengerjakan project mereka. Sesekali juga aku diminta untuk mengisi training tentang UX di beberapa perusahaan. Dari sanalah kemudian project lainnya berdatangan,” tuturnya. Bersama tiga orang di dalam timnya di Somia, Sulis mengaku kini banyak menangani project UX yang bersifat service design, selain desain untuk platform digital. Berbagi Meski belum banyak kalangan di Indonesia yang mengetahui profesi UX, namun Sulis merasakan, bahwa ada letupan keingintahuan yang cukup besar dari para penggiat bisnis terhadap bidang yang digelutinya. Itu terlihat dari antusiasme beberapa perusahaan yang mengundang dirinya untuk mengisi training dan seminar terkait UX. Akhirnya, Sulis bersama-sama dengan peminat UX di Indonesia mendirikan semacam komunitas untuk berbagi ilmu dan pengalaman di bidang UX.

“Kita ajakin siapa saja yang minat untuk mempelajari bidang ini. Di Indonesia sendiri kan ilmu tentang UX masih sangat susah didapatkan di sekolah formal. Ketika kita buat pertemuan pertama untuk komunitas ini, di luar dugaan peminatnya membludak. Itu sampai banyak yang kami tolak, karena kapasitas tempatnya tidak memadai. Di beberapa pertemuan berikutnya, peminatnya pun makin bertambah, bahkan sampai ratusan,” serunya. Rencananya Sulis bersama kawan-kawan di komunitasnya tersebut akan menggelar sebuah konferensi UX di Indonesia pada 6 November 2014 mendatang.

Alumni SMAN 1 Denpasar ini yakin bahwa dua tahun mendatang tren UX akan berkembang secara signifikan di Indonesia. “Dengan kini mulai banyaknya orang yang ingin tahu tentang UX, saya pun optimis Indonesia bisa mengejar ketertinggalannya di bidang ini,” pungkas Sulis.

Related News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Flag Counter

Copyright © 2018 ISEEBALI . All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri