(ibtimes.co.uk)

Kevin Systrom – Si Pencipta ‘Filter Foto’ Cantik

Masa-masa sebelum tahun milenium bergulir belum banyak diantara kita yang memiliki handphone, terutama anak-anak usia remaja. Boleh dibilang saat itu kita masih bersahabat erat dengan telepon umum berkoin dan masih setia menggunakan jasa pak bos, because Pak Pos is our hero, terutama di daerah pinggiran. Saat itu era komunikasi masih flat dan belum ada loncatan yang extrem dari gaya berkomunikasi masyarakat. Baru sekitar 5-6 tahun belakangan ini kantong kita telah dipenuhi oleh dua sampai tiga handphone sekaligus. Lifestyle anak-anak remaja pun mulai berubah, terutama sejak fenomena jejaring sosial menjadi menu santapan sehari-hari di berbagai belahan dunia. Persis seperti yang dinyanyikan oleh rapper berbadan tambun Saykoji, On Line- on line. Di mana-mana selalu Online. Banyak pengamat yang mengatakan bahwa menjamurnya kaum netizen (pengguna aktif internet) karena mewabahnya jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter yang kini melanda dunia.

Melihat celah oppurtunity di situs jejaring sosial inilah, seorang anak muda lulusan Stanford University Amerika telah berhasil menggoreskan tinta emas kesuksesannya dalam menelurkan sebuah situs jejaring sosial dengan mengambil segmentasi berupa foto. Seperti peribahasa yang pernah dengar, sebuah foto bisa lebih berbicara dari pada seribu kata-kata. Sebuah foto atau gambar bisa melukiskan ribuan pesan dan maksud yang terkandung didalamnya.

Adalah sebuah terobosan yang sangat briliant dari seorang Kevin Systrom yang berhasil mencuri perhatian dunia dengan jejaring sosialnya yang diberi nama Instagram. Instagram yang diluncurkan belum lama ini, yaitu tahun 2010 telah berhadil mengubah cara pandang, berpikir dan share tentang foto-foto hasil jepretan manusia diberbagai belahan dunia. Dengan memiliki fasilitas lengkap yang memungkinkan pengguna untuk mengambil foto, menerapkan filter digital dan membagikannya ke berbagai layanan jejaring sosial lainnya termasuk milik Instagram sendiri, pengguna dimanja untuk bisa berkreasi sebebas mungkin. Hampir tanpa batas. Banyak headline media yang mengupas masalah gosip dan entertaiment mengambil menu dapur redaksinya sehari-hari dari situs besutan Kevin Systrom ini.

Bila menengok ke belakang, pada awalnya Kevin Systrom adalah karyawan di Odeo, perusahaan yang kelak menjadi cikal bakal Twitter. Untuk menambah pengalamannya di dunia IT Kevin lalu berlabuh dan menghabiskan waktu dua tahun bekerja di Google. Pertama ia bekerja untuk mempermak gmail, lalu memoles Google Reader dan produk-produk lainnya. Ia dikenal memiliki semangat yang tinggi saat membicarakan orang saling berinteraksi lebih mudah dan menggabungkan antuasiasmenya dalam dunia fotografi.

Tak puas mengeruk pengalaman di Google ia lantas beralih ke Nextstop sebagai Product Manager hingga tahun 2009. Pria yang memilih jurusan Computer Science dan Investment Science sewaktu masa kuliah ini lalu menggandeng rekan seperjuangannya yang bernama Mike Krieger dan memutuskan mendirikan Instagram di mana pengembangannya dimulai di San Fransisco, Amerika Serikat. Nama Instagram sendiri dipilih karena namanya ‘berbau’ kamera. Perjuangan anak muda yang cerdas, kreatif, inovatif dan mampu melihat potensi pasar yang demikian gemuk ini tidak sia-sia.

Instagram pada awalnya hanya merambah Ios. Selama beberapa waktu hanya pengguna Apple saja yang merasakan platform ekslusif dari Instagram ini. Tapi jangan Anda kira penggunannya sedikit. Dari satu sistem operasi ini saja, aplikasi yang lahir dari tangan dingin Kevin Systrom mampu meraih 30 juta pengguna.

Lalu coba Anda bayangkan sendiri bila merambah ke pengguna Android. Ketika memutuskan untuk masuk ke Android, Instagram tak hanya meledak. Aplikasi ini bahkan mampu meraup satu juta unduhan di hari pertama peluncuran. Booming-nya Instagram, memaksa Apple mengganjarnya sebagai App of The Year di tahun 2011 silam. Aplikasi ini baru berusia dua tahun. Namun dengan sentuhan magis Kevin Systrom, Instagram kini bernilai milyaran dollar.

Kini tak berlebihan bila kita menyebut Instagram sebagai salah satu aplikasi yang mengubah cara orang memanfaatkan ponselnya. Bila kini banyak ponsel berbasis mobile photography laris manis dipasaran itu juga berkat tsunami positif dari Instagram yang kini menjadi trensetter anak muda.

Lantas, apakah rahasia keberhasilan aplikasi yang hanya dioperasikan oleh selusin staff ini? Dalam sebuah acara di media online, Kevin Systrom membocorkan rahasia penyebab keberhasilan yang ia dan timnya raih. “Instagram tak hanya tentang filter digital. Aset yang kamu pertahankan adalah komunitas. Kalian tak akan menemukan anggota dengan passion seperti ini,” ujar Kevin Systrom.

Ya, komunitas berada dalam posisi penting bagi Instagram. Tanpa komunitas Instagram hanyalah sebuah situs tempat penampungan akhir dari ratusan juta gambar yang numpuk tiap minggunya. Kalau sudah begini maka Instagram tak ubahnya dengan situs kebanyakan yang memanfaatkan fasilitas unduh dan unggah semata.

Ada sisi lain yang berbeda dari Instagram, meskipun jejaring sosial ini mengambil segmentasi hanya di ranah foto ternyata Kevin Systrom tidak begitu senang jika ada orang yang menyebut Instagram sebagai aplikasi foto semata. Ia beralasan karena Instagram sendiri adalah sebuah bentuk baru cara berkomunikasi yang menjadi pasangan sempurna untuk berbagai jenis smartphone dalam dunia jejaring sosial masa kini. Jejaring sosial Instagram terbangun melalui foto-fotonya, tempat orang dapat dengan mudah berkomentar atau menekan tombol “like” pada foto dan membagikannya di Twitter dan Facebook.

Meski popularitas filter fotonya demikian tinggi, Instagram selalu bertujuan menciptakan sesuatu yang lebih baik yaitu jejaring sosialnya sendiri. Itulah yang menjadi alasan mengapa saat kita mendaftar, kita harus membuat akun Instagram yang terpisah dari Twitter atau Facebook, Kevin Systrom mengatakan,”saya sadar bahwa anda bisa menarik orang dengan memiliki sesuatu seperti filter foto, hal ini akan menarik pengguna baru dan setelah itu terjadi, mereka akan mengamati dunia di sekitar mereka yaitu sebuah dunia utuh dari fotografer lain, ini sesuatu yang sangat menarik dan menjadikan komunitas semakin erat” ujarnya.

Saat ini Kevin telah bermetamorfosa menjadi milyuner baru dan diperhitungkan, tentu saja ini terjadi setelah founder sekaligus owner Facebook Mark Zuckerberg mengakuisisi situs Instagram senilau USD 1 miliar setara dengan Rp 9,1 triliun. Value yang luar biasa Instagram yang baru beberapa tahun.

Related News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Flag Counter

Copyright © 2018 ISEEBALI . All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri