IMG_6354

Kulkul – Marketing Communication Startup Racikan lokal

Empat anak muda Bali berkumpul menciptakan sebuah sistem komunikasi pemasaran digital yang berfilosofi Kulkul..

Di Bali, Kulkul dikenal sebagai alat komunikasi tradisional yang membantu menyebarkan informasi ke tengah-tengah masyarakatnya. Alat yang umumnya terbuat dari bambu ini bekerja dengan cara dipukul beberapa kali, sehingga menghasilkan bunyi-bunyian yang direspon sebagai kode tertentu oleh masyarakat. Berangkat dari peranan Kulkul sebagai alat komunikasi sosial inilah menginspirasi Anggha Sanjaya, Barayuda Gautama, Dhika Putra, dan Tirta Keniten untuk menggunakan nama tersebut sebagai brand usaha mereka.

“Kami memutuskan untuk memakai nama Kulkul demi mengangkat identitas Bali. Di samping, karena spirit yang dibawa oleh Kulkul itu sendiri sama dengan visi dan misi yang kami miliki,” terang Anggha yang bertanggung jawab pada hal-hal teknis seperti interface hingga user experience di Kulkul. Kulkul adalah salah satu startup Bali yang berhasil mendapatkan fasilitas inkubasi bisnis dari Balai Diklat Industri Denpasar (BID). Empat anak muda lulusan diploma

Informatika, Wearness Education Centre ini tengah merintis sebuah brand startup company yang fokus pada marketing communication strategy. Anggha mengungkapkan bahwa startup company-nya ini memang cenderung banyak mengambil project yang bersentuhan langsung dengan para pelaku bisnis, terutama berkaitan dengan strategi digital komunikasi pemasaran. “Banyak permintaan akan proyek programming yang cenderung berhubungan dengan marketing, digital marketing. Kenapa kita enggak bikin satu paket internet marketing saja. Dan tercetus bikin satu aplikasi layanan,” terang Dhika Putra selaku Chef Operation Manager di Kulkul. Adapun jasa yang mereka tawarkan, meliputi internet marketing consultant, web design & development, desktop & mobile apps development, logo & product and company branding.

Meski telah saling mengenal dan berkolaborasi di berbagai project startup sejak 2011, keempat pemuda ini awalnya belum memiliki satu payung usaha yang mengikat mereka. “Dulu kami enggak ada benderanya. Awalnya ada project, kita bikin bareng-bareng. Lalu kita berpikir kenapa enggak bikin satu bendera saja, supaya klien juga lebih yakin dengan kinerja dan profesionalitas kita, maka tercetuslah pendirian Kulkul pada 2014 lalu,” papar Anggha.

Meski secara resmi brand Kulkul mengudara baru satu tahun, namun pergerakan bisnis mereka cukup memberi sinya positif. Bahkan, Kulkul menciptakan sebuah aplikasai layanan bernama Gatra. Gatra sendiri merupakan sebuah aplikasi layanan email blast, di mana sistemnya mampu mengirimkan email secara massal dengan cepat dan mudah. Aplikasi layanan ini mengingatkan kita pada aplikasi email blast semacam Mail Chimp.

“Ide Gatra ini berawal dari banyaknya klien kami yang berasal dari villa maupun hotel yang sering punya kendala di marketing, terutama dalam hal sistem email blast. Mereka tahu ada beberapa aplikasi yang bisa membantu kendala mereka tersebut, tetapi ketika dicoba malah sangat membingungkan. Nah, dari sana kami coba menawarkan solusi dengan sistem email blast yang lebih sederhana lewat Gatra,” ujar Barayuda Gautama yang bertugas sebagai Business Relations di Kulkul.

Pemilihan nama Gatra untuk produk aplikasi mereka tersebut juga dipikirkan secara matang. Dengan pertimbangan bahwa nama aplikasi harus memiliki korelasi dengan brand startup company mereka. Dipilihlah nama Gatra yang berarti “kabar”. “Sehingga orang dengar nama Gatra dan Kulkul punya kesan identik,” kata Tirta Keniten yang mengurusi hal teknis di Kulkul, seperti email dan server.

Cara kerja Gatra pun hampir sama dengan aplikasi email blast pada umumnya, hanya saja fitur-fiturnya lebih disederhanakan. Pengguna baru bisa memulainya dengan registasi akun terlebih dahulu, baru kemudian bisa login dan mendaftar subscriber mereka. Kemudian langsung bisa merancang marketing campaign dan memilih template yang diinginkan. Usai email dikirim secara massal akan ada notifikasi yang melaporkan seberapa banyak email yang telah sampai dan dibaca oleh alamat-alamat email tujuan.

Selain dirancang user-friendly, Gatra juga memungkinkan para pengembang dan pengguna untuk bisa mengakses sistem API-nya, sehingga membuat para pengguna dengan lebih mudah mengintegrasikan dengan sistem yang mereka punya dan mengeksplorasi aplikasi Gatra. “Sistem aplikasi ini memang tidak mudah dan kami terus berusaha menyempurnakannya. Sistem API masih kami terus sempurnakan dan mencoba alternatif untuk memasukan sistem API pihak ketiga ke dalam Gatra,” kata Anggha. Aplikasi ini pun targetnya dipasarkan untuk perusahaan-perusahaan perhotelan, villa, maupun travel agent di Bali.

Aplikasi ini baru akan launching pada bulan Juni 2015 dan akan ada versi trial di awal rilisnya. Menariknya Kulkul juga mendesain Gatra, agar mendukung perkembangan bisnis UMKM. Barayuda mengatakan bahwa pada layanan free untuk Gatra sengaja diberikan ruang bagi para pelaku UMKM, agar bisa saling mempromosikan bisnis mereka. “Kita ingin Gatra ini bisa memberikan efek positif bagi para wirausawahan dan bisa sounding merek UMKM mereka di sini,” jelasnya.

Meski tanpa kendala teknis yang siginifikan, tetapi Kulkul sendiri merasa masih butuh resource development dalam hal ini pendanaan untuk menyempurnakan produk Gatra mereka. Beruntung BID tertarik dengan presentasi Gatra dan memberikan fasilitas inkubasi bisnis untuk mereka. “Di sini kami ingin belajar banyak, cari pengalaman dan relasi, agar produk kami bisa kuat secara bisnis,” pungkas Anggha.

 

 

Related News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Flag Counter

Copyright © 2017 ISEEBALI . All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri