DSC_0262

Langkah-Langkah Menyelamatkan Rupiah

Beberapa minggu terakhir, isu pelemahan rupiah menjadi topik diskusi di banyak tempat. Hampir sebagian besar media lokal dan nasional menyoroti hal ini sebagai tajuk utama. Kami pun di redaksi sebagai majalah yang mengupas soal ekonomi dan juga bisnis, terpanggil untuk mengupas hal yang sama. Kekhawatiran banyak orang akan terjadinya krisis harus segera direspon.

Itulah sebabnya kami kemudian melakukan wawancara kepada salah satu pengamat ekonomi nasional Aviliani, untuk mendengarkan pemaparannya akan apa yang sesungguhnya saat ini terjadi, dan apa yang seharusnya kita lakukan.
Dosen Perbanas ini secara gamblang menyinggung fenomena kegelisahan yang menyeruak di masyarakat yang menurutnya anomali, ketika semua orang bicara krisis ekonomi, namun ketika dirinya menyempatkan turun langsung ke sejumlah daerah-daerah seperti Yogyakarta dan Solo, ia tidak menemukan indikator yang merujuk perekonomian di daerah sebegitu memburuk. “Di daerah-daerah yang saya kunjungi, kondisinya baik-baik saja tuh,” ujarnya.
Namun demikian, Aviliani juga mengatakan bahwa fase terjadinya krisis untuk periode ke depannya akan semakin pendek. Dan bagi para pengusaha, maka sudah semestinya menjadikan krisis sebagai bagian dari proses. Kalau seorang pengusaha bisa menjalankan manajemen resiko dengan baik, maka krisis 3-6 bulan pun sudah bisa diantisipasi. Di sinilah tugas seorang entrepreneur bekerja.

“Sebenarnya kuncinya gampang, asalkan kita enggak panik, mau krisis atau enggak, pasti kita bisa mengantisipasinya. Sejatinya, kepanikan itulah yang justru menyebabkan terjadinya krisis,” ungkapnya lagi. Sementara tugas pemerintah dalam kondisi krisis semestinya mampu merangkul masyarakat yang berada di kategori miskin. Terutama menyangkut bagaimana menjaga daya beli mereka. “Dalam ekonomi yang gonjang-ganjing, Pemda bisa menggunakan anggaran untuk cash transfer,” sambung Aviliani. Sistem cash transfer yang dimaksud Aviliani bukanlah “aksi bagi-bagi uang” seperti BLT, namun semacam program padat karya. Dengan cash transfer, pemerintah bisa memperkerjakan orang-orang miskin dan menggaji mereka setiap bulan lewat anggaran mereka.

Ini demi menjaga daya beli masyarakat, agar tidak turun dan mengantisipasi PHK yang lebih banyak. Karena jika terjadi PHK, maka akan berimbas pada daya beli masyarakat yang menurun.

Empat Mata Uang Dunia

Selain itu Aviliani juga menilai, dengan sistem dunia yang open economy, kita pada dasarnya tidak harus lagi dikuasai oleh US Dollar, karena per Oktober 2015 nanti IMF secara resmi akan mengakui empat mata uang dunia, yakni USD, EURO, Yuan dan Yen. Ibaratnya, kalau kita ingin mengajarkan investasi tidak lagi untuk satu keranjang, tetapi ada empat keranjang.

“Ini sangat bagus sekali, karena transaksi Indonesia terbesar sebenarnya dengan Jepang dan Cina. Jadi nanti enggak perlu lagi konversi dari Dolar ke Yen atau Dolar ke Yuan. Sehingga itu bisa membuat keseimbangan peran antar mata uang negara. Akan bagus sekali kalau misalnya Indonesia juga turut menggunakan empat mata uang ini untuk cadangan devisa ke depannya,” paparnya lagi.

Sementara itu Cina melakukan devaluasi untuk memperbaiki perekonomiannya. Cina tidak ingin angka pengangguran kembali melonjak yang sebelumnya pernah mencapai 350 juta pengangguran dari sekitar 1,4 miliar penduduknya. “Kalau dia mengalami pengangguran yang cukup besar akan berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi, dampaknya berpengaruh pada permasalahan sosial,” sambungnya. Dan Cina bisa melakukan devaluasi, karena cadangan devisanya sangat besar. Sayangnya, Indonesia tidak bisa meng-copy paste cara Cina itu begitu saja, karena ekspor Indonesia tidak naik signifikan.

Dengan devaluasi, Cina berharap harga barang bisa lebih murah dan ekspor meningkat. Apabila ekspor semakin besar, maka tidak akan ada lagi persoalan pengangguran. Namun, devaluasi Cina tersebut justru akan berimbas pada ekspor Indonesia dan negara lainnya, karena Indonesia tidak lagi bisa kompetitif dengan Cina. Oleh karena itu, Indonesia semestinya membuat produksi yang berbeda dengan Cina. Kalau Indonesia membuat produk yang sama pastinya akan sulit untuk menang. Aviliani melihat kemungkinan untuk Indonesia bersaing dengan Cina masih ada hanya pada sektor tertentu, seperti sektor jasa melalui pariwisata.

“Memang baru Bali saja yang pariwisatanya besar saat ini, tapi kalau bisa dikembangkan keseluruh pariwisata Indonesia, tentu pendapatannya akan lebih besar. Makanya kebijakan 47 negara yang dibebaskan visanya nanti itu dalam rangka meningkatkan wisatawan ke Indonesia. Wisatawannya kalau dulu Amerika dan Eropa, sekarang justru datang dari Asia yang terbesar, terutama Jepang,” jelasnya.

Uang Masuk, Uang Keluar 

Lebih jauh, Aviliani juga menilai penguatan Ekonomi kita di tahun 2007 – 2013 disebabkan karena Indonesia mendapatkan “bonus”, berupa uang investor-investor asing yang masuk ke kas bank-bank di Indonesia, sementara uang yang keluar justru sangat sedikit saat itu. Tak heran jika saat itu rupiah berada di titik Rp 10 ribu.  “Bahkan uang investor sekarang yang masih berada di pasar modal Indonesia sekitar 700 triliunan. Saat itu kita bertanya kapan uang ini keluar. Waktu itu kita juga lupa rupiah kita menguat dibawah 10 ribu berdampak pada impor yang makin tinggi,” jelasnya lagi.

Aviliani menyayangkan di fase rupiah yang melemah seperti sekarang, justru impor Indonesia tidak turun jauh. Ini berarti masalah, karena demand di pasar yang ada terlalu tinggi, sementara supply-nya tidak pernah naik. Di periode 2007 – 2013, Indonesia juga diuntungkan dengan harga komoditas yang naiknya luar biasa, kelapa sawit dari harga 400 bisa jadi 1800. Inilah yang menyebabkan demand dari tahun 2008 – 2013 itu tidak normal. Kredit bank tumbuh 30–40 persen, sementara properti naik di atas 10 persen.  “Ternyata banyak orang kaya baru yang membelinya tidak normal. Jadi yang pernah saya amati itu kenapa apartemen di Jakarta kok naiknya signifikan, ternyata ada orang kaya mendadak, yang biasanya pendapatannya 1 Triliun naik jadi 10 Triliun dari hasil komoditasnya, langsung beli satu lantai apartemen. Jadi pengeluaran itu tidak normal,” kata Aviliani.

Barulah di tahun 2014, orang kaya baru (OKB) tersebut kembali ke fase normal. Normal itu dalam artian yang dulunya OKB tadi kembali ke kekayaan normalnya lantaran harga komoditasnya jatuh. Aviliani mengungkapkan bahwa orang Indonesia itu seringkali lupa mencadangkan uangnya. Ketika mereka melipat gandakan kekayaannya, kemudian dihabiskan begitu saja, mereka tidak lagi punya uang untuk disimpan.

Lalu bagaimana dengan krisis yang terjadi pada tahun 2008? Bagaimanapun juga, banyak yang menduga bahwa pelemahan rupiah saat ini merupakan indikasi krisis sebagaimana terjadi pada tahun 2008 lalu. Menurut Aviliani, krisis yang terjadi pada tahun 2008 tidak terlalu dalam. Ini dikarenakan ketika asing keluar, Bank Indonesia saat itu membuat semacam policy, bahwa jika investor asing keluar BI yang akan mengambil obligasi mereka, sehingga tidak terjadi krisis likuiditas di perbankan. Sementara tahun ini justru berbeda, sekarang masalahnya terletak di nilai tukarnya, tidak hanya di dana keluar saja.

Relaksasi Pajak

Itulah sebabnya mengapa Aviliani menganjurkan pemerintah untuk melakukan relaksasi pajak, agar masyarakat tidak takut untuk konsumtif kembali. “Seperti yang Jepang lakukan lewat relaksasi pajak. Di Indonesia jangan malah dikejar-kejar pajak dalam situasi ekonomi yang lesu seperti sekarang. Masa orang mau beli properti malah dimintai NPWP dan enggak enaknya lagi ditanya-tanya asal uangnya dari mana,” katanya. Ini juga yang akhirnya memicu daya beli masyarakat ikut menurun. Relaksasi pajak menjadi jalan alternatif yang sangat bagus untuk memperbaiki pasar. Ia juga menyarankan kalau bisa pajak PPH Pasal 21 dibebaskan selama tiga bulan ke depan demi meningkatkan konsumsi masyarakat.

Selain relaksasi pajak, Indonesia juga bisa mencontoh apa yang dilakukan pemerintah India dengan meminta satu persatu pengusaha besarnya untuk memasukan hasil ekspor kembali ke negaranya. Saat ini di Indonesia, eksportir meminta dolar dari dalam negeri, tapi hasil dolarnya enggak masuk ke negara. “Di lain sisi demand naik, tapi tidak ada yang masuk ke negara. Berarti kan orang enggak percaya sama Indonesia kalau naruh uang. Perlu pemerintah mengundang perusahaan besar satu per satu untuk berdialog dan mengajak mereka untuk menyimpan uangnya di Indonesia,” jelas Aviliani. Selama ini uang orang Indonesia yang di luar masuk ke Indonesia, tapi tidak melalui Indonesia melainkan lewat asing, sehingga bayar pajaknya pun akan di  luar  Oleh karena itu, Aviliani menekankan harus ada stimulasi agar orang-orang percaya menyimpan uangnya di bank-bank Indonesia. Diperkirakan uang orang-orang Indonesia di luar negeri mencapai 3 Triliun dan ini akan sangat signifikan jika masuk lagi ke dalam negeri. “Otomatis sektor riil akan jalan dan kita enggak akan nyuruh orang asing buat investasi. kalau itu bisa dilakukan kita akan cepat recovery,” ucap wanita berambut pendek ini. Selain itu, Aviliani juga melihat suplai dolar di Indonesia mengalami penurunan. Meski tidak signifikan, tapi kalau melihat demand impor ke depannya yang makin tinggi, berarti sangat diperlukan suplai dolar lagi.

“Dengan catatan dimana saat ini pemerintah belum melakukan belanja modal yang besar. Seperti misalnya pembangunan kereta api cepat dan jalan tol, impornya pasti akan makin naik. Karena semua infrastruktur tersebut impornya 50 persenan, berarti butuh juga dolar, dan imbasnya rupiah akan makin jatuh. Nah itu sebabnya bukan berarti kita investasi infrastruktur besar-besaran rupiah kita tidak bisa melemah. “Bisa!” tegas Aviliani.

Menurunkan Inflasi

Sementara dari sisi inflasi, menurut Aviliani, sebenanrya masih bisa diturunkan. Dua persoalan inflasi di Indonesia tidak jauh dari persoalan beras dan makanan serta minuman. Beras punya kontribusi 25 persen, apabila setiap daerah mampu menghasilkannya, Indonesia sudah bisa mengurangi inflasi. Sementara, 40 persennya adalah makanan dan minuman.  “Jadi inflasi itu sebenarnya persoalan di wilayah perut. Kalau ini bisa diselesaikan dengan pembangunan infrastruktur, maka suku bunga juga akan turun,” ujarnya. Sementara disatu sisi, masih ada ketidakpastian dengan besaran suku bunga di Amerika, yang sangat berpengaruh pada laju uang global. Dimana the FED terus mengulur-ulur untuk mengumumkan suku bunga di Amerika. Dengan begitu, investor pun jadi lebih memilih pegang cash dan menunggu kemana mereka akan akan menempatkan dananya. “Bagaimanapun juga, menurut saya kalau kita enggak cepat panik, itu yang akan membuat recovery kita lebih cepat. Kalau sudah panik, akan cenderung terjadi rush. Ini menyebabkan miss-match liquidity. Menjadi rusaklah likuiditas perbankan dan akan terjadi krisis. Tapi indikator seperti itu belum saya lihat akan terjadi di Indonesia, karena perbankan relatif masih bagus,” pungkas Aviliani.

Related News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Flag Counter

Copyright © 2017 ISEEBALI . All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri