IMG_0333

LUKISAN BATIK SANG “BINTANG”

“Terkadang kita tak punya cukup alasan, kenapa mencintai suatu hal. Nah itu yang terjadi pada saya. Saya memang sangat suka batik. Mungkin dari visi awal saya yang ingin berkontribusi terhadap Bali, makanya konsep Batik Bali ini terwujud” – Bintang Mira

Mendengar nama Endek dan Songket sudah pasti pikiran Anda bergegas meluncur ke Bali. Memang dua jenis tenun ikat tersebut telah menjadi ikon kain tradisional khas Pulau Dewata. Namun, bagaimana dengan Batik Bali, apakah Anda pernah mendengarnya?

Tidak hanya Solo, Yogyakarta, atau pun Pekalongan yang memiliki batik, Bali juga punya batiknya sendiri. Setidaknya itulah yang akan Anda temukan, ketika berkunjung ke sebuah galeri butik di Desa Sidan, Gianyar. Tak pernah terbayangkan di tengah sergapan atmosfer agrikultur Desa Sidan, Batik Bali juga merintis eksistensinya. Adalah Bintang Mira Afriningrum, seorang desainer muda Bali yang mencoba mengangkat kembali Batik Bali sebagai salah satu alternatif kain etnik tradisional di industri fashion tanah air.

Perempuan kelahiran 26 Maret 1971 ini mengeksplor keindahan Batik Bali dengan menghadirkan motif-motif ikonik Bali, seperti poleng, barong, patra, dan ilustrasi seni tari Bali di atas lembaran kain katun. Menariknya tak hanya kain batik yang ditawarkan, Bintang juga mengkreasikannya ke dalam bentuk barang siap pakai, seperti gaun, baju, tas, sepatu, kipas, dan aksesoris fashion lainnya. Lewat brand Balibatiku yang dirintisnya sejak 2012 lalu, Bintang menjadikan Batik Bali naik kelas. Bahkan partisipasinya di Indonesia Fashion Week 2013 sukses memperkenalkan Batik Bali lewat pagelaran busana bertajuk “Batik Bali Has Born”.

Karir desain ibu dari Pande Putu Rangga Raditya, Pande Kadek Anggara Wedhaswara, dan Pande Nyoman Bintang Paramitha ini juga cukup panjang. Mengawali terjun di dunia fashion secara profesional sejak tahun 2006 yang ditandai dengan keikutsertaannya di ajang Hongkong Fashion Week 2006 dan 2009 silam. Bintang juga merancang beberapa koleksi busana bergaya kontemporer elegan, seperti yang pernah dipertunjukannya di Indonesia Fashion Week 2012 lewat koleksi bertajuk “Bloom”.

Istri Pande Putu Gede Wiratama ini menganggap Batik Bali sebagai salah satu caranya untuk berkontribusi dalam memajukan UMKM dan industri pariwisata Bali ke depan. Wanita kelahiran Malang ini ingin mengangkat keindahan kain tradisional Bali ke tataran global. Di butik Balibatiku yang berdampingan dengan kediamannya di Jalan Legong Kraton No.99, Sidan Gianyar itu, alumnus Jurusan Pariwisata Universitas Merdeka Malang itu menceritakan tentang inspirasi usaha Batik Bali nya kepada Money & I Magazine. Berikut petikan panjangnya!.

Dari mana sebenarnya ide Balibatiku itu berawal?  Dan apa yang membuat Anda tertarik menggeluti bisnis fashion?

Kecintaan saya terhadap pulau ini membuat saya ingin berbuat sesuatu terhadap Bali. Sesuatu yang kira-kira bermanfaat dan dapat saya bagikan kepada masyarakat Bali. Alasan inilah yang membawa sebuah inspirasi serta semangat untuk saya berkarya dan berinovasi. Kebetulan passion saya memang berkutat di bidang fashion design. Awal mula saya berkecimpung serius di bisnis fashion juga berkat mertua saya. Mertua punya usaha tekstil sejak tahun 1978. Di sana, ia fokus memproduksi kain sarung pantai. Namun di awal 2000-an kondisinya kurang baik dan sulit mengembangkan usaha tersebut ke depannya. Bahkan ini sudah hampir gulung tikar. Bayangkan satu lembar kain sarungnya hanya dihargai Rp 15 ribu dengan keuntungan Rp 2 ribu saja, padahal biaya produksinya cukup berat.

Jadi saat itu Balibatiku Anda dirikan?

Belum. Balibatiku itu sendiri baru muncul dua tahun lalu, yakni tahun 2012. Sebelumnya, dari tahun 1996, saya memilih untuk fokus membangkitkan bisnis mertua saya itu lebih dulu. Ya, baik dengan mengubah model bisnis dan produknya. Pasar bisnis kain sarung ini memang sudah agak lesu di era 90-an. Saya lihat, mungkin salah satu faktornya berasal dari desain produk yang monoton. Dulu itu lagi tren sarung pantai dengan motif bunga kembang sepatu berwarna cerah, jadi enggak heran produk yang didapatkan di pasar juga seragam. Dari sana, saya mencoba memberanikan diri untuk mengeksplor motif-motif baru. Mulailah ada ide untuk memasukan motif khas Bali maupun motif lainnya. Ya bisa dibilang dari sana awal perkenalan saya dengan konsep batik bali. Sayangnya, saya belum terlalu fokus pada konsep tersebut. Dulu, saya masih cenderung membuat desain kontemporer, karena lebih banyak klien yang justru minta dibuatkan desain seperti itu. Lambat laun saya pikir kenapa enggak fokus mengeksplor batik Bali saja. Barulah di tahun 2012 pola bisnis Batik Bali itu saya dapatkan. Dengan mengadopsi model bisnis mertua saya, akhirnya saya memberanikan diri untuk mendirikan brand Balibatiku.

Mengapa Anda tertarik dengan batik?

Terkadang kita tak punya cukup alasan, kenapa mencintai suatu hal. Nah, itu yang terjadi pada saya. Saya memang sangat suka batik. Mungkin dari visi awal saya yang ingin berkontribusi terhadap Bali, makanya konsep Batik Bali ini terwujud. Banyak yang bertanya-tanya seperti apa sih itu Batik Bali? memang Bali punya Batik? Ya, Bali memang punya Batik dan saya mencoba memperkenalkan itu dari Desa Sidan, Gianyar.

Bukankah konsep Batik Bali belum terlalu familiar di Bali?

Batik itu kan sebuah proses, sehingga menghasilkan karya produk sebuah batik. Daya tarik Batik Bali itu sendiri adalah motifnya. Di sini saya mencoba berimprovisasi untuk mengaplikasikan motif-motif Bali tersebut di atas sebuah kain melalui proses membatik. Orang-orang pasti lebih mengenal tenun ikat Bali, seperti Endek dan Songket. Batik Bali itu sendiri masih menjadi istilah yang baru dan kita berusaha untuk memperkenalkannya.

Desain seperti apa yang Anda tawarkan dalam konsep Batik Bali?

Ketika saya membuat kain, saya ingin kain itu bisa bicara bahwa itu adalah Bali. Dari motifnya, mereka bisa membaca bahwa batik ini berasal dari Bali. Ada dua motif Bali terkenal yang saya eksplor, yakni poleng dan barong. Kalau saya pakai poleng, saya enggak perlu lagi bicara, bahwa batik ini berasal dari Bali. Kalau saya sedang ikut pameran, biasanya saya pancing customer dengan memamerkan batik-batik poleng itu di booth saya. Mereka pasti balik dan bertanya, “Ini dari Bali kan?”. Dan poleng ini bisa dikatakan motif yang paling dominan ada dalam desain-desain batik saya. Begitu pula dengan barong, motif ini juga menjadi ikonnya Bali.

Proses pengerjaannya bagaimana?

Hampir semuanya dikerjakan dengan batik lukis, namun separuhnya ada yang di-print karena tuntutan order. Ya prosesnya untuk yang dilukis itu awalnya kita cap (stamp), kemudian kita beri pewarnaan dan dicanting (ditulis). Warnanya juga kita variasikan. Ini yang menarik, karena orang-orang biasanya mengenal poleng dengan motif kotak berwarna putih-hitam. Nah, di sini kita variasikan, di mana ada yang warnanya putih-biru dan putih-hijau. Kalau begini kan pasar tidak akan cepat jenuh. Beda halnya jika diberikan motif yang itu-itu saja. Jadi, saya pikir enggak ada salahnya menawarkan sesuatu yang baru. Satu lembar batik tulis lengkap dengan pewarnaannya bisa memakan waktu 2 minggu pengerjaan. Kalau yang di-print malah lebih cepat sekitar seminggu.

Dari mana Anda belajar untuk menjadi perancang busana profesional, bukankah latarbelakang pendidikan Anda adalah pariwisata?

Saya akui dulu memang punya semacam hobi mendesain atau ilustrasi tersebut dari sejak masih kelas 4 SD. Namun, seiring waktu hasrat desain itu meredup. Saya tak pernah serius lagi menekuninya dari SMP hingga kuliah. Karena melihat persoalan dari bisnis mertua itulah, keinginan saya untuk menekuni kembali desain itu muncul. Akhirnya pada 2004 lalu, saya memutuskan untuk belajar desain selama satu tahun dengan Adrianto Halim. Ya, lumayan sulit. Sempat bingung dan kagok awal-awalnya, terutama ketika belajar pola. Saya hanya bermodal ketertarikan dengan desain, tapi belum mampu memahami pola dan jahit. Di sanalah tantangannya.

Bagaimana dengan penjualannya, apakah dilakukan secara retail, konsinyasi atau made by order?

Di sini kita model bisnisnya made by order. Jadi, kita tidak berani terlalu banyak nyetok barang. Jikalau pun ada yang ready stock, itu pun hanya beberapa saja. Untuk barang yang ready to wear juga tergantung dari pesanan customer. Ada pula rencana untuk merambah konsep retail, tapi kami sedang berusaha untuk mempersiapkannya secara matang terlebih dahulu.

———————————— Baca juga : Lavvone – Berkilau dari Generasi ke Generasi ———————————-

Untuk harga?

Harganya bervariasi. Ada yang mulai dari kisaran 200 ribu hingga jutaan. Tapi, di sini kami berusaha memberikan harga yang terjangkau bagi customer. Untuk jenis pemintaan bisa dikatakan hampir fifty fifty, baik yang ingin memesan kain meteran maupun barang ready to wear.

Boleh tahu bagaimana strategi permodalan Anda?

Modal saya cuma nekat (tertawa…..). Ini semuanya benar-benar dari nol. Keuntungan dari membantu penjualan kain-kain sarung produksi mertua saya dulu itu saya kumpulkan. Akhirnya ada modal 13 juta rupiah untuk memulai bisnis Balibatiku ini. Tantangan berikutnya adalah bagaimana memanfaatkan modal yang tidak terlalu besar tersebut sebaik-baiknya, sehingga mendapatkan untung yang signifikan. Oleh karena itu, saya mesti cermat dalam pemilihan kain dan permainan motif.

Bagaimana respon masyarakat di tahun pertama peluncuran Balibatiku?

Saya kaget, karena saat itu belum setahun tapi sudah banyak media yang blow up Batik Bali saya ini. Responnya pun ratarata positif dan mulai banyak diminati oleh kalangan sosialita dan fashionista di Bali. Bahkan Pemkab Gianyar pun memberikan apresiasinya untuk kami. Pemerintah melirik konsep kami karena keunikannya. Terlebih semua ini kami kerjakan di Desa Sidan Gianyar. Dari respon positif itulah, akhirnya kami dibantu oleh pemerintah setempat untuk mengembangkan Batik Bali ini di Sidan. Kami bekerjasama dengan pemerintah untuk memberangkatkan 15 warga Desa Sidan untuk belajar membatik di Yogyakarta. Hasilnya memang masih belum optimal, karena dari 15 orang yang dikirimkan, baru 3 orang yang berhasil mendalaminya dengan baik. Namun, saya tidak akan berhenti sampai di sana. Saya akan terus berusaha mengembangkan SDM Sidan yang terampil dalam membatik. Saya ingin batik menjadi ikon di Sidan kelak dan menjadi mata pencaharian baru bagi pengrajin di sini.

Strategi promosinya bagaimana?

Sejauh ini kami lebih gencar promosi melalui media online, karena ingin merangkul target pasar yang lebih luas, baik skala nasional maupun Internasional. Selain itu promosi dari mulut ke mulut juga sangat membantu kami di tahun pertama.

Menurut Anda, tren fashion etnik dengan kain tradisional ini bisa survive untuk jangka waktu yang lama?

Setiap tren punya pasarnya masing-masing, baik itu fashion yang bersifat kasual, glamour, hingga etnik sekalipun. Bagi saya, modifikasi kain tradisional dalam industri fashion akan terus berkembang dan mampu bertahan hingga tahun-tahun mendatang. Saya optimis Batik Bali dengan motif polengnya yang khas itu akan menjadi tren berikutnya. Pergerakan tren dalam fashion ini cepat dan pasar yang menerimanya pun muncul dengan cepat. Itu karena mereka nggak pernah malu untuk mengeksplor gaya busananya.

Apakah itu yang membuat Anda optimis untuk fokus menekuni kewirausahaan di bidang fashion?

Bisa dibilang seperti itu, tapi boleh saya katakan sejujurnya yang membuat saya optimis itu adalah karena saya tidak punya ambisi tinggi dalam menekuni bidang ini. Saya kerjakan, karena saya cinta dengan bidang ini. Saya lebih cenderung mengandalkan rasa kecintaan saya tersebut, ketimbang ambisi. Jadi apapun hasilnya pasti saya akan terima dan selalu berpikir positif untuk perbaikan ke depannya. Saya percaya bahwa Balibatiku punya takdirnya sendiri untuk berkontribusi dalam memajukan Bali. Untuk bisa fokus di sini, saya juga harus punya visi dan misi yang jelas, sehingga pantang untuk mundur dalam perjalanannya.

Mengapa Anda memilih mendirikan Balibatiku di Desa Sidan?

Memang banyak yang tanya, kenapa saya mendirikan Balibatiku di Desa Sidan, kenapa lokasinya tidak strategis, kenapa tidak di pusat kota, dan sebagainya. Seperti yang sebelumnya saya sempat utarakan, bahwa visi saya adalah membuat Batik Bali untuk bisa ikut memajukan pariwisata di Desa Sidan. Sidan adalah ‘rumah’ saya bersama suami dan keluarga besar. Saya bercitacita Sidan kelak menjadi Kampung Batik di Bali. Saya berharap itu bisa direalisasikan dalam lima tahun mendatang. Saya tahu ini pekerjaan yang sulit, terlebih di sini hanya saya yang bergerak untuk batik. Tapi saya tetap percaya, bahwa mimpi ini bisa diwujudkan.

Related News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Flag Counter

Copyright © 2018 ISEEBALI . All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri