DSC_0032

Mengarak Ogoh-ogoh menyambut Nyepi

Lebih dari sebuah Tradisi., Kini telah menjadi budaya untuk dunia

“Sejumlah siswa warga negara asing mengarak Ogoh-ogoh. Dan tak mau kalah dengan ritual yang sesungguhnya, mereka pun, ditemani guru dan orang tua kemudian membawa Ogoh-ogoh karya mereka berkeliling dengan bangga.”

DSC_0039

 

Rambutnya pirang, berhidung mancung tak layaknya warga Indonesia, beberapa di antaranya berwajah oriental. Dan mereka, mengarak Ogoh-ogoh di seputaran Sanur, Denpasar. Yup, para warga negara asing ini sibuk berkeliling dengan Ogoh-ogoh buatan mereka.

Mereka rupanya siswa dari salah satu International School yang memang mengajarkan budaya lokal sebagai salah satu kurikulumnya. Dan Ogoh-ogoh termasuk di antaranya. Dan tak mau kalah dengan ritual yang sesungguhnya, mereka pun, ditemani guru dan orang tua kemudian membawa Ogoh-ogoh karya mereka dengan bangga.

Ogoh-ogoh sendiri adalah karya seni patung yang menggambarkan kepribadian Bhuta Kala. Dalam ajaran Hindu Dharma, Bhuta Kala merepresentasikan kekuatan (Bhu) alam semesta dan waktu (Kala) yang tak terukur dan tak terbantahkan.

Setiap tahun sekali, Ogoh-ogoh dibuat menjelang Hari Nyepi dan diarak berama-ramai keliling desa pada senja hari dalam tradisi yang bernama Pengerupulkan. Dan kini, tradisi ini tak lagi menjadi bagian dari budaya semata, namun turut bertransformasi sebagai sebuah warisan budaya milik dunia.

Related News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Flag Counter

Copyright © 2018 ISEEBALI . All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri