DSC_0015

Menjaga Lurik di Lawe

Adinindyah Feriqo berhasil membuat kain tradisional Lurik naik kelas.
“ Lawe ini dibentuk bukan semata – mata mengejar profit, tetapi bagaimana membangun potensi di dalamnya” – Adinindyah Ferigo

Sebuah tas bermotif garisgaris kecil dengan warna penuh nyala seketika mencuri perhatian di pameran festival kewirausahaan sosial “Teras Mitra III” pada 16 Oktober 2014 lalu. Nuansa etnik begitu kentara ketika mengamati detil-detil dan meraba materialnya. Siapa sangka kain Lurik khas Yogyakarta menjadi bahan utama pembuatan tas handmade tersebut. Ya, kain tenun tradisional yang kerap dikenakan oleh para abdi dalem Keraton Yogyakarta menjelma ke dalam bentuk tas modis untuk kaum hawa.

Semuanya berkat tangan kreatif Adinindyah Feriqo yang membuat kain tradisional Lurik tersebut naik kelas. Kain Lurik yang bertekstur kasar serta identik dengan warna kusam disulap oleh Adinindyah menjadi kain yang lebih chic dan colorful dalam ragam desain karya-karyanya. Lewat brand “House of Lawe” yang didirikannya sejak 2004 silam di Yogyakarta, wanita kelahiran Yogyakarta 3 Agustus 1973 ini berhasil menciptakan berbagai macam barang berbahan dasar
Lurik, seperti tas jinjing, tas traveling, dompet, sarung iPad, sarung laptop, kantong handphone, tempat tissue, gantungan kunci, clutch elegan, hingga perlengkapan interior.

Sebelum membangun House of Lawe, ketertarikan Adinindyah pada pelestarian tenun tradisional Indonesia telah muncul semenjak ia bergabung dengan sebuah lembaga NGO (Non Government Organization) pada 2002 lalu. Proyek NGO pertamanya di Sumbawa Barat lah yang membukakan mata Adinindyah terhadap kondisi tenun tradisional. “Saya lihat tenun di daerah itu tidak tergarap maksimal. Banyak produksi tenun yang sudah tak bisa dijual, karena peminatnya semakin sedikit dan harga jualnya yang melambung tinggi. Desain-desainnya pun tidak up to date,” ungkap wanita berkacamata minus ini. Berangkat dari persoalan tersebut, Adinindyah bersama rekan-rekan NGO-nya membantu masyarakat setempat dengan memberi nilai tambah terhadap kain-kain tenun tradisional. Lantas, terciptalah beberapa produk kreasi berbahan tenun, seperti tas, dompet, aksesoris, hingga baju Pada tahun 2004, Adinindyah memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya di Yogyakarta dan melepas pekerjaan NGOnya. Saat itulah, alumni Universitas Gajah Mada ini menemukan kondisi serupa, di mana eksistensi tenun Lurik khas Jogja kian menurun. “Lurik ini biasanya digunakan oleh orang tua-orang tua zaman dulu atau kalau sekarang lebih identik sebagai busananya abdi dalem Keraton. Sementara, anak-anak muda tidak tertarik dengan motif kain ini. Oleh karena itu, saya mencoba mengkreasikannya, agar kalangan muda menjadi tertarik,” jelasnya sambil tersenyum.

Keseriusan pemenang ketiga Lomba Wanita Wirausaha BNI-Femina ini dalam menggarap tenun Lurik itu pun ditunjukan dengan pendirian House of Lawe bersama beberapa rekannya, di mana showroom-nya berlokasi di Amri Museum & Art Gallery. Mereka mulai menelusuri wilayah Yogyakarta demi mendapatkan pengrajin tenun Lurik berkualitas. Lawe pun akhirnya bekerjasama dengan beberapa pengrajin tenun di daerah Bantul, Moyudan (Sleman), Nanggulan (Kulon Progo), dan Klaten.

“Susah mencari pengrajin yang kualitasnya sesuai dengan keinginan kita. Kalau di awal sih kita hanya dibantu dua pengrajin saja, tapi sekarang sudah bertambah. Semua mereka kerjakan di rumah. Ada 25 titik di Yogyakarta, di mana masing-masing titik ada sekitar 2-5 pengrajin tenun yang kami ajak bekerjasama. Total kurang lebih 120 pengrajin,” ujarnya.

Awalnya, Adinindyah memperkenalkan kreasi House of Lawe di beberapa pameran kerajinan. Respon postif pun mulai diterimanya. Bisnis House of Lawe yang hanya bermodalkan urunan 3 juta rupiah itu pun perlahan-lahan bertumbuh dan mampu meraup omzet sekitar 500 juta rupiah setahun. “Tahun 2014 ini kita malah ngejar omzet 1 miliar,” kata wanita berhijab ini.

Barang-barang kerajinan House of Lawe banyak diminati oleh para wanita karir dan kalangan muda, bahkan kerap dicari sebagai souvenir pernikahan dan acara formal. Penjualannya pun dilakukan dengan sistem konsinyasi di beberapa outlet dan pemesanan secara langsung.

Adinindyah juga giat mempromosikan produknya lewat online website dan social media untuk memperluas jangkauan pasarnya. Tak heran jika ada customer-nya yang berasal dari Amerika, Jepang, Belgia, dan Australia.

Adinindyah mengungkapkan bahwa bisnis Lawe baru mencapai titik stabilnya di tahun 2009. Bahkan ia mengaku Lawe sempat kewalahan dengan mulai banyaknya orderan yang berdatangan. “Kalau lagi fokus dengan banyaknya orderan, kita bahkan enggak bisa bereksperimen dengan product development kita sendiri. Lawe memang tidak hanya sekadar mengkreasikan Lurik, tetapi juga mencoba mengembangkan motifnya. Kita ingin menawarkan motif-motif baru, agar Lurik makin dilirik,” terangnya.

Sebelum terjun sebagai wirausahawan, Adinindyah sempat mengaplikasikan ilmu S1 Arsitekturnya di sebuah konsultan arsitektur dan interior selama lebih dari lima tahun. Namun, kecintaannya untuk bersinggungan dengan komunitas dan berkontribusi secara sosial membuat Adinindyah terjun berkarir di NGO selama dua tahun. Begitu pula dengan House of Lawe menjadi project Adinindyah yang tak jauh dari semangat kewirausahaan sosial yang berbasis komunitas dan kepedulian lingkungan.

Dengan membawa misi pemberdayaan perempuan, wanita yang pernah aktif di Kerabat WWF (World Wide Fund for Nature) itu ingin menjadikan Lawe sebagai jembatan antara para pengrajin dengan masyarakat luas. Lawe memberikan pendampingan untuk para pengrajin, agar mampu menghasilkan produk yang berkualitas. Adinindyah bersama tim Lawe pun beberapa kali mengadakan workshop tenun di kelurahan-kelurahan.

Terlebih dengan berkurangnya eksistensi penenun tradisional, Adininidyah ingin mendorong keberadaan regenerasi di dalamnya. “Penenun yang tua sudah semakin sedikit yang menenun dan kami juga susah menemukan generasi mudanya. Jadi kami ingin membuat pelatihan tenun untuk anak-anak,” paparnya.

Perempuan yang juga dinominasikan untuk Indihome Woman Preneur 2014 mengaku optimis menjalankan Lawe, karena melihat rekan-rekan pengrajin dalam komunitasnya bertumbuh. “Dari awalnya mereka yang enggak pede menjadi lebih pede dengan kemampuannya dan membuat mereka memiliki kemandirian ekonomi. Lawe ini dibentuk bukan semata-mata mengejar profit, tetapi bagaimana membangun potensi manusia di dalamnya,” pungkas Adinindyah.

Menariknya, Lawe juga memiliki program Sisterhood dalam rangka pemberdayaan wanita serta mendorong kemajuan tenun Indonesia. Program tersebut mengembangkan jejaring dengan komunitaskomunitas di daerah lain untuk bersama menjaga serta memajukan kelestarian tenun Nusantara. Tercatat beberapa komunitas yang berasal dari Sumba Barat, Bali, Pontianak, Pekanbaru, hingga Sumatera Utara tergabung dalam Sisterhood Lawe sejak 2009 lalu.

Untuk ke depannya, Anindyah berencana membangun ruang workshop sendiri yang langsung berintegrasi dengan showroom-nya, sehingga memudahkan pelatihan-pelatihan craft untuk para pengrajin tenun.

Related News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Flag Counter

Copyright © 2018 ISEEBALI . All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri