BRN_7612

Ni Kadek Eka Citrawati – Meramu Sukses lewat Lulur

Tak banyak wanita Indonesia mau melestarikan ramuan tradisional perawatan kecantikan yang secara turun temurun diwariskan oleh nenek moyangnya. Malah, produkproduk kosmetika pabrikan yang bernaung di bawah merek-merek mentereng global selalu saja mampu mencuri hati perempuan Indonesia lebih dulu. Namun, semua itu tidak berlaku pada Ni Kadek Eka Citrawati. Justru perempuan 18 Agustus 1977 ini lebih kepincut dengan khasiat produk-produk kecantikan berbahan dasar alam yang diramu secara tradisional. Bahkan tidak hanya sebagai penikmat, wanita yang akrab disapa Eka ini juga pandai meracik sendiri produk tersebut dan mengemasnya ke dalam sebuah bisnis rumahan yang penuh prospektif.

Lewat PT. Bali Alus, Eka membawa ramuan lulur Bali atau boreh naik kelas. Hampir lebih dari satu dekade, perusahaan yang dirintisnya sejak tahun 2000 tersebut telah berkontribusi dalam melestarikan ramuan tradisional Indonesia serta menyebarkan segala kebaikan alam yang terkandung dalam produknya tersebut ke seluruh penjuru dunia. Bermodalkan passion dan dana 30 juta rupiah, Eka mengawali bisnis UKMnya tersebut di kediamannya di bilangan Bung Tomo. Seiring pesatnya pertumbuhan bisnis Bali Alus, Eka pun akhirnya mampu mendirikan kantor serta pabrik sederhananya sendiri di Jalan Wibisana Barat No.100, Denpasar.

Tidak hanya lulur, Bali Alus juga memproduksi berbagai macam produk perawatan kecantikan untuk kaum hawa, seperti masker, sabun, kompres wajah, kompres mata, lotion, pelembap, sabun tangan, krim pencerah kulit, sampo, kondisioner, ratus, krim creambath, serta berbagai produk aromaterapi dan produk Spa lainnya. Produk-produk tersebut dijualnya dari kisaran harga Rp 10 ribu hingga Rp 300 ribu. Seluruh produk kreasinya benarbenar diolah dari bahan alam yang notabene merupakan hasil kebun para petani lokal.

Eka tidak hanya berusaha melestarikan warisan tradisional perempuan Bali khususnya, tetapi juga mampu memberdayakan masyarakat lokal sekitarnya. Kurang lebih 100 orang yang sebagiannya merupakan warga di sekitar rumahnya mendapatkan lapangan pekerjaan dari bisnis Bali Alus tersebut. Dedikasinya terhadap ramuan tradisional Bali juga membuat bisnisnya kian tumbuh, berinovasi, serta berkelanjutan. Tak heran bisnisnya yang berlandaskan social entrepreneur tersebut meraih berbagai macam penghargaan kewirausahaan, seperti predikat Social Entrepreneur Awards 2015 dari Bank Danamon, Wirausahawan Pilihan Editor Femina untuk Inacraft 2013, Pemenang II PK Berprestasi Sektor Industri Pertanian oleh Pemkot Denpasar pada tahun 2007, dan masih banyak lagi.

Usut punya usut, Eka sejatinya tidak punya latar belakang pendidikan bisnis, malah ibu dari Putu Kay Kiandra dan Kadek Kesahwa Keano ini berkuliah di jurusan arsitektur. Maka dari itu, Eka sangat berterima kasih kepada suaminya, I Putu Katra yang mau terjun membantu pengelolaan bisnisnya tersebut. Ditemui di sela-sela kesibukannya yang tidak hanya sebagai owner bali Alus, tetapi juga kerap sebagai pembicara di berbagai forum kewirausahaan nasional, Eka pun berbagai tentang segala cerita inspiratif tentang bagaimana dirinya membangun usaha Bali Alus. Berikut petikan wawancaranya bersama Money & I Magazine!

Bisa ceritakan bagaimana awalnya tertarik untuk berwirausaha lewat produk lulur?

Saya beruntung sekali lahir dan tumbuh di lingkungan pedesaan di Bali, karena membuat hidup saya lebih dekat dengan alam. Terlebih lagi segala kebutuhan seharihari juga sangat mudah saya dapatkan dari alam. Contoh sederhananya adalah bagaimana saya memanfaatkan segala yang ada di alam untuk keperluan perawatan tubuh. Seperti sampo, kan itu tinggal petik saja bahannya di pekarangan rumah. Dengan banyaknya hal-hal yang bersifat natural di sekeliling saya ini lah yang menumbuhkan kecintaan saya akan tanaman. Selain itu, saya juga memang terlahir dengan kulit yang sensitif. Jadi, enggak bisa pakai produk sembarangan, terutama yang ada campuran zat kimianya. Hanya produk yang murni dari tumbuhan saja yang cocok untuk kulit saya.

Lalu, dari mana Anda belajar untuk meracik bahan-bahan organik tersebut menjadi produk kosmetika?

Sejak kecil, saya sudah diperkenalkan oleh orang tua tentang cara membuat produk perawatan kulit dengan bahan dasar yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, seperti sabun, sampo, lulur, dan masih banyak lagi. Mulailah muncul rasa ketertarikan untuk mendalaminya. Di kampung sendiri, orang tua memang dikenal sangat pandai membuat ramuan tradisional. Nenek apalagi, dia sering membuatkan orang-orang boreh, lulur, cemceman, dan produk perawatan kecantikan tradisional lainnya. Bahkan bikin bedak dari kayu cendana pun bisa, tapi memang butuh waktu yang lumayan lama. Nenek saya itu sangat detail dalam meracik produk perawatan seperti ini. Namun, ketika saya sudah menjalankan usaha dengan brand Bali Alus, saya juga mendapatkan kesempatan belajar ke Belanda pada tahun 2009 untuk mendalami pembuatan produk natural ini.

Sejak SMP, saya sudah berani membuatkan ramuan tradisional ini untuk teman-teman saya. Saya beri saja ke mereka secara cumacuma dan respon mereka sangat positif. Ini yang membuat kepercayaan diri saya semakin tumbuh. Waktu itu masih sederhana, belum ada mereknya. Pernah juga ada kawan yang meminta saya untuk membuatkan paket produk ini sebagai cenderamata pernikahannya, karena dia suka dengan kualitas produk yang saya buat. Berawal dari mulut ke mulut dan rekomendasi antar teman, jadinya saya bisa menangani hingga 25 orderan untuk cenderamata pernikahan dalam satu tahun kala itu. Pokoknya dari SMA sampai kuliah, pasti ada aja ya ngorder produk yang saya racik.

Jadi kapan Anda memutuskan untuk membangun brand Bali Alus? Mengapa?

Sebelum mendirikan Bali Alus, saya sebenarnya sudah bekerja di kantor arsitektur dan punya usaha lain juga, tapi kok ngerasa enggak cocok ya. Sepertinya itu bukan passion utama saya. Suami saya pun menyarankan kalau memang lebih senang membuat produk-produk perawatan alami seperti ini, kenapa tidak serius dibisniskan saja. Akhirnya di tahun 2000, saya memutuskan untuk mendirikan badan usaha dan brand Bali Alus.

Boleh tahu dari mana Anda memperoleh bahan-bahan alami untuk produk Bali Alus? Apakah Anda menanamnya sendiri?

Awalnya bahan-bahan tersebut kebanyakan berasal dari kebun orang tua, namun karena permintaan semakin banyak, kita memutuskan untuk bekerja sama dengan petani-petani lainnya di daerah Bongkasa, Petang, Plaga, dan Bedugul. Bahan-bahan yang kita butuhkan tidak hanya rempahrempah, melainkan juga buah-buahan. Ada juga bahan-bahan yang impor dari luar, semisal lavender dan olive kan susah didapatkan di Indonesia.

Apa produk pertama Bali Alus?

Produk pertama kami adalah scrub dan lulur bubuk. Scrub yang diproduksi ada 18 varian rasa, dari rasa buah-buahan dan rempah-rempah. Kita benar-benar pakai bahan yang asli. Karena saya memang sudah tahu cara membuatnya, jadi tidak perlu waktu lama untuk meraciknya. Saya tidak perlu belajar dari nol lagi tentang cara pembuatannya. Lain halnya, jika saya membuat produk baru. Itu harus melewati serangkaian uji coba. Waktunya pun bisa tahunan lebih, demi memastikan produk itu aman untuk digunakan. Saya bekerjasama dengan LIPI dan Universitas Udayana untuk melakukan penelitian terhadap produk baru saya. Kita saling barter ilmu lah ya. Meski produk tersebut sudah oke dan sesuai dengan ekspektasi kita serta standar yang kita punya, itu pun juga harus mengikuti serangkaian uji coba atau tes lab lainnya lagi. Ini demi mengetahui lebih lanjut apakah ada efek samping atau resikonya. Saya juga merekrut apoteker khusus di sini untuk membantu menangani hal tersebut. Nanti kalau sudah tahu hasilnya, layak atau tidaknya dan resikonya nol, baru kita berani mengedarkan dengan izin balai BPOM. Setelah mendapatkan sertifikat, baru kita akan siap edarkan.

Memangnya berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membuat produk baru, mulai dari riset hingga siap untuk diproduksi?

Kalau bikin produk baru ditambah riset memakan waktu hampir 3 tahunan. Kalau untuk perizinannya sih cepat ya paling 6 bulan juga sudah selesai dan setelah itu siap edar.

Apakah Anda melabeli produk Bali Alus ini seratus persen organik?

Bisa dibilang 99 persen organik. Bagaimana pun juga kami enggak bisa menjamin seratus persen itu hanya kandungan yang alamiah saja. Pasti ada kemungkinan satu persennya itu terdapat kimianya, entah karena faktor apa yang membuatnya bersinggungan dengan kandungan tersebut. Meski, kita sudah mengusahakan bahan-bahan yang digunakan seorganik mungkin.

Apakah seluruh produk Bali Alus ramah untuk digunakan pada berbagai tipe kulit?

Karena kandungan produk ini secara dominannya berasal dari alam, otomatis pasti bisa cocok dengan jenis kulit manapun. Sama halnya ketika kita makan buahbuahan, pasti semuanya bisa kita nikmati dan cerna secara baik. Kecuali memang yang bersangkutan alergi terhadap kandungan varian tertentu baru tidak kami anjurkan.

Selain lulur, apa lagi yang diproduksi Bali Alus?

Ya, pokoknya produk perawatan tubuh, mulai dari lulur, sabun, aromaterapi, lipblam, body lotion, masker, sabun sirih, sabun transparan, massage oil, bath foam, garam mineral, ratus, herbal rempah, masker rambut, sampo, kompres mata, dan lain-lain. Di sini, ada sekitar 400 varian produk. Biasanya setiap satu minggu sekali, atau yang paling lama satu bulan sekali, kita masuk untuk proses produksi setiap variannya.

Adakah kesulitan selama mendirikan Bali Alus?

Bagaimana meyakinkan customer, kalau produk-produk kita juga punya daya saing dan kualitasnya enggak kalah bagus dengan produk-produk kosmetik brand luar. Selain itu, kita juga mewanti-wanti jangan sampai membuat produk yang membuat orang sehat malah jadi sakit. Oleh karena itu, kita harus teliti untuk memeriksa kondisi dan legal produknya. Pokoknya kita harus mengikuti standar proseduralnya.

Berapa lama bisnis bisa dibilang sudah stabil dan sustain?

Sekitar 5 tahun, kita baru bisa memastikan bahwa bisnis kita sustain.

Ketika awal-awal berdiri, ke mana Anda menjualnya? Apakah Anda buka outlet khusus atau Anda menyalurkannya ke toko-toko?

Ya itu, karena dari mulut ke mulut, mereka datang ke rumah langsung beli ke kita. Bali Alus dulu pas awal-awal kami buka masih di rumah. Selain itu, kami juga suplai produk Bali Alus ke hotel-hotel. Wisatawan, terutama mancanegara memang sangat suka dengan produk natural. Bahkan mereka ada yang sangat fanatik dengan produk jenis ini. Ini yang membuat target pasar kami justru lebih banyak di sini ketimbang orang lokal sendiri. Ya. Di awal-awal, Bali Alus memang lebih banyak eksport. Kalau dulu dominan di kawasan Eropa, karena waktu itu belum terkena krisis. Tapi sekarang, kami lebih banyak ekspor ke negara-negara Asia dan Australia. Dulu bisa dibilang 80 persen ekspor dan 20 persennya untuk lokal. Namun sekarang, cenderung lebih banyak ke lokal. Hampir 70 persen untuk lokal dan sisanya baru ekspor. Bali Alus sudah berekspansi ke seluruh Indonesia. Kami suplai ke Singapura, Jepang dan juga Hongkong.

Memangnya seberapa prospektifnya bisnis lulur ini di Indonesia?

Lumayan bagus kok prospek industri ini di Indonesia. Terutama di Jawa ya banyak yang suka. Kalau di Bali lumayan, tapi tidak seantusias pasar di Jawa.

Anda sudah merintis usaha ini sejak usia 25 tahun. Apa resepnya untuk bisa sukses serta fokus membangun usaha dan karir di usia muda?

Poin pertamanya, kita harus berani untuk merealisasikan ide yang kita punya. Berani mewujudkan mimpi yang kita punya. Kedua, apa yang kita kerjakan itu harus punya passion atau berawal dari sebuah hobi. Passion lah yang nantinya akan menguatkan bisnis kita. Selain itu, dengan adanya support dari keluarga juga mampu mendorong kita untuk semangat dalam menjalani bisnis yang tengah dirintis. Kita harus membuat dan mengerjakan sesuatu dengan hati, pasti nanti hasilnya akan lebih bagus. Jangan mengikuti tren yang sebenarnya kita enggak punya passion di sana. Walaupun yang kita kerjakan dianggap biasa dan mustahil, tapi apabila kita mengerjakannya dengan hati, maka secara enggak langsung akan mampu menciptakan sesuatu yang bernilai di mata customer. Ini juga akan membuat kita muncul di antara persaingan. Lain halnya kalau kita hanya ikut-ikutan saja, enggak ada hobi di sana, pasti nantinya akan membuat kita cepat bosan dan malas untuk memajukan bisnis. Walaupun yang kita kerjakan adalah usaha yang mungkin sebelumnya kita anggap itu mustahil diwujudkan, tapi kalau kita bisa bikin itu bagus dan menarik, pasti akan ada magnetnya nanti untuk customer. Segala sesuatu bisa dijual, asalkan itu adalah kelebihan, ada nilainya.

Pernah menemui titik krisis dalam bisnis Anda ini?

Kami cukup kewalahan dengan mengurus perizinan. Izin baru keluar di tahun 2007. Memang waktu itu dinas terkait pun belum cukup siap, karena tiba-tiba saja tumbuh industri kosmetik natural. Dari Dinas Kesehatan dan Balai POM nya sendiri belum siap. Bagaimana cara mendapatkan izin dan mengurusnya pun belum siap. Baru kemudian pada tahun 2007, semuanya bisa diselesaikan. Di saat dinas-dinas terkait masih dalam proses mempersiapkan segala sistemnya, kami pun dalam perjalanannya juga turut melengkapinya. Dalam proses untuk memperoleh perizinan ini kan kita harus melalui berbagai tahapan. Nah itulah, tahap demi tahapan harus perlahan kita lengkapi hingga akhirnya sampai di tahapan yang paling final. Oleh dinas, Bali Alus juga dijadikan pilot project untuk GMP CPKB dengan standar Asia.

Apa kunci sukses dari brand Bali Alus? Apa yang membuat produk dari brand ini cepat direspon oleh pasar?

Saya yakin itu karena kekuatan produk ya. Kalau kualitas produknya sudah bagus, otomatis akan ada promosi secara sendirinya dari mulut ke mulut. Kita bukan perusahaan raksasa yang bisa mengeluarkan dana besar untuk promosi. Kita hanya mengandalkan promosi dari word of mouth. Selain itu, kita juga mulai memperkenalkan Bali Alus lewat pameran-pameran dagang. Terakhir, kita juga mengoptimalkan promosi melalui internet, seperti website dan media sosial.

Nah sekarang yang terpenting adalah melengkapi seluruh perizinan dan standar procedural dalam produksi. Selain itu kita juga harus terus berinovasi. Harus tahu apa yang diinginkan oleh pasar. Juga harus menjaga kualitas dan konsistensi produk yang dibuat.

Apa obsesi Anda ke depan untuk Bali Alus? Apa ada rencana-rencana baru untuk mendatang?

Ingin menguasai pasar persaingan dunia. Saya juga ingin membuat sekolah Spa. Sekarang masih baru membangun gedungnya, semoga bisa direalisasikan tahun depan. Sekolah ini gratis, karena saya sudah mendapatkan sesuatu yang baik, sehingga saya juga ingin memberikan sesuatu yang baik pula kepada orang lain.

Related News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Flag Counter

Copyright © 2018 ISEEBALI . All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri