4

Nur Wakhit – “Beads Flowers” King of Beads from Indonesia

Indonesia kaya benda-benda estetik yang bernilai seni tinggi. Salah satunya adalah manik-manik (beads) yang memiliki kekhasan rupa dan warna. Manik-manik Indonesia menurut catatan para kolektor, memiliki karakter yang berbeda. Tekstur dan komposisi warna yang unik membuat benda ini diburu penggemarnya dari banyak negara. Sayangnya, tidak semua orang mampu berkreasi membuat manik-manik menjadi usaha yang menjanjikan. Memang dibutuhkan ketelatenan, keuletan, ditambah talenta seni sehingga mampu menghasilkan manik-manik yang berkualitas.

Di tangan pengusaha muda kelahiran 5 Juli 1968 asal Jombang, Jawa Timur ini, manik-manik tidak sekedar aksesoris yang bernilai estetis. Jejaring bisnis yang dibangun sejak 22 tahun lalu, telah mampu membawa manik-manik karyanya menembus sejumlah negara di Asia dan Eropa. Bahkan beberapa perancang busana dari Perancis dan Italia pernah memesan manik-manik karya Nur Wakhit.

Tidak salah jika di kalangan penggemar manik-manik dari Indonesia maupun luar negeri, Nur Wakhit sempat dijuluki ‘King of Beads from Indonesia’. Langkahnya pun semakin mantap membangun brand usaha; Beads Flowers. Kepada Cucuk Suparno, pengusaha nyentrik yang dua kali mengikuti Konferensi Manik-Manik Dunia Borneo Beads di Serawak (2008 dan 2010) itu menuturkan perjalanan usahanya. Dengan gaya yang santai, suami Anik Arumi ini membeberkan kiat bisnisnya di Gerai Beads Flowers, Dusun Plumbon, Desa Plumbon Gambang, Jombang, Jawa Timur.

Apa yang membuat Anda tertarik dengan manik-manik?

Sejak kecil saya tertarik dengan benda-benda unik, biasalah anak kecil. Tetapi untuk manik-manik sendiri, awalnya hanya iseng. Jujur, tidak ada niatan untuk berbisnis apalagi mengembangkan manik-manik. Di Desa Plumbon ini, banyak yang membuat manik-manik, dijual secara retail di toko-toko. Dan saya melihat waktu itu merupakan bisnis yang tidak menjanjikan. Bahkan pembuat manik-manik di kampung saya ini banyak yang bangkrut.

Namun Anda justru berhasil, ceritakan bagaimana Anda memulainya?

Mungkin karena setiap hari melihat orang membuat manik-manik kali ya, seperti gelang, kalung dan aksesoris lainnya hingga saya penasaran. Akhirnya saya coba baca-baca buku dan cari informasi lainnya tentang manik-manik. Berawal dari situlah, ketertarikan terhadap manik-manik muncul.

Ternyata, benda kecil warna-warni terbuat dari kaca (glass) yang disebut manik-manik telah dikenal sejak ribuan tahun sebelum masehi. Waktu itu manik-manik terbuat dari tulang hewan dan bebatuan. Fungsinya pun beragam. Bahkan di beberapa wilayah di Indonesia, seperti Toraja, Daerah Kalimantan, hingga Nusa Tenggara, hiasan manik-manik menjadi pelengkap baju dalam upacara adat. Ini menarik.

Apakah karena hal itu akhirnya Anda mendirikan Beads Flowers?

Betul! Disamping begini, sebagai anak muda kampung, saat itu keinginan untuk memiliki pekerjaan yang layak dan mampu kecukupan secara finansial sangat tinggi. Saya coba menjual manik-manik hasil produksi tetangga seperti kalung, gelang, dan pernik hiasan lainnya ke Kalimantan dan Bali. Proses itu cukup lama bahkan saya sempat drop karena hasil yang tidak sesuai. Sampai akhirnya saya berhasil menembus ke salah satu tetua adat di Kalimantan. Dia menyarankan agar menggunakan manik-manik yang saya bawa untuk keperluan upacara adat. Percaya tidak percaya, ini awal yang di luar dugaan. Mereka memborong manik-manik yang saya bawa. Dari situlah, saya yakin kalau beads glass (manik-manik kaca) memiliki nilai ekonomis tinggi. Hanya saja perlu strategi bisnis yang berbeda dan sedikit unik.

Apa strategi bisnis itu?

Kita harus mampu menyentuh pasar hingga ke akar. Artinya begini, memasarkan manik-manik sebagai barang unik dan bukan kebutuhan primer harus menggunakan strategi pemasaran yang unik pula. Penjualan secara retail seperti membuka toko, gerai, menurut saya kurang optimal. Manik-manik harus dijual secara grosir kepada user yang memiliki kebutuhan besar terhadap barang tersebut. Contohnya masyarakat adat dan perancang mode yang hampir setiap hari membutuhkan manik-manik. Banyak pembuat manik manik yang hanya berhenti sebagai pengrajin. Mereka memajang dan menunggu pembeli. Menurut saya, kita harus agresif dan mencari dimana ‘akar’ pasar atau user-nya. Manik-manik itu barang segmented, maka pasarnya pun segmented pula. Mulai awal tahun 2000-an, saya memberanikan diri membuka pasar tersebut dengan menjalin mitra ke tetua adat di Sulawesi dan Kalimantan. Hasilnya, bisa Anda lihat sekarang ini.

Bagaimana untuk pasar luar negeri?

Lagi-lagi, awalnya saya nekad. Saya pilih Bali sebagai portal menembus pasar dunia. Saya menyewa sebuah art shop di wilayah Kerobokan dan saya branding Beads Flowers. Pikiran saya sederhana saja; Bali adalah gudangnya turis asing. Dan selain menikmati alam Bali, mereka tentu membutuhkan cindera mata untuk dibawa pulang ke negaranya. Saya membawa banyak manik-manik dari Jombang ke Beads Flowers Arts Shop di Kerobokan. Dari situlah, pasar Perancis, Italia, Belanda, Australia perlahan terbuka.

Pembeli adalah raja, memang betul. Tetapi bagi saya, buyers is networkers. Artinya, dengan pendekatan tertentu, kita ajak memahami knowledge product-nya. Ini manik-manik khas Indonesia. Dan Beads Flowers juga mampu mendesain manik-manik seperti keinginan pembeli. Kita jalin komunikasi terus dengan pembeli asing. Awalnya, mereka membeli satu-dua untuk dipakai sendiri. Tetapi akhirnya banyak yang kontak ulang memesan dalam jumlah banyak untuk kolega di negaranya. Inilah yang saya namakan buyers is networkers.

Bagaimana Anda menjaga konsistensi sebagai pebisnis?

Relasi itu penting dan kualitas itu jauh lebih penting. Ketika sebuah usaha mampu memberikan peningkatan kesejahteraan bagi orang-orang di sekitar kita, maka usaha itu akan bertahan lama. Di Dusun Plumbon, Desa Plumbon Gambang ini, saya memiliki rumah produksi manik-manik yang keseluruhannya mempekerjakan warga kampung. Selain itu, saya juga menerima manik-manik hasil garapan mereka yang kesulitan memasarkannya.

Anda menjadi portal pemasaran bagi mereka?

Betul. Intinya bisnis itu kerjasama apapun produknya. Dan saya tidak bisa apa-apa dan tidak akan menjadi apa-apa tanpa kerjasama dengan mereka. Dengan demikian maka kesejahteraan itu bisa dirasakan bersama-sama. Tetapi ingat, kita juga harus memiliki ketegasan dalam menjalankan bisnis. Karena banyak bisnis yang bubar karena ‘pertemanan’. (ungkapnya sambil tertawa).

Pernahkah Anda mengalami masa sulit menjalankan bisnis ini?

Setiap pebisnis pernah mengalami masa sulit. Beads Flowers di akhir tahun 90-an, saat awal berdiri berada dalam kondisi itu. Saya masih meraba pasar dan belum menemukan positioning product yang jelas. Disinilah tekad dan niat itu diuji. Daya tahan dan kebandelan seorang pengusaha, menurut saya, justru terletak ketika berada dalam kondisi buruk. Nyali dan inovasi menjadi hal harus dilakukan apalagi jika modal terbatas, he.. he..

Pada titik itulah, saya mengerti jika manik-manik sebagai barang unik tidak akan berhasil jika hanya dijual secara retail. Kita harus mampu menggaet buyer berkebutuhan besar terhadap manik-manik. Seperti saya katakan tadi, untuk kepentingan adat, dan sampai saat ini masih banyak di daerah-daerah pedalaman Indonesia. Juga para desainer luar negeri yang sangat membutuhkan manik-manik untuk memperindah rancangannya. Merekalah user manik-manik sesungguhnya. Ini bukan berarti, saya menyepelekan pasar dalam negeri walaupun masih dalam skala kecil.

Negara mana saja yang telah menjadi pasar Beads Flowers?

Dari art shop yang saya buka di Kerobokan, Bali, pesanan dalam jumlah besar datang dari Perancis, Belanda, Italia, Malaysia, serta banyak negara lainnya. Rata-rata mereka memesan jumlah besar dalam aneka bentuk manik-manik. Seperti kalung, gelang, bahkan aksesoris interior ruangan. Beberapa desainer dari Paris juga sering memesan manik-manik di Beads Flowers.

Bahkan jika mereka tidak puas dengan manik-manik yang saya pajang di arts shop, mereka bisa datang langsung ke Jombang. Banyak dari mereka yang melihat dan menunggui langsung proses pembuatannya.

Bagaimana visi Anda ke depan melihat persaingan global?

Bisnis itu selama kita mampu mengikuti perkembangan dan mengintegrasikan diri dengan perkembangan itu sendiri akan aman-aman saja. Contohnya begini, jika di awal tahun 2000-an lalu, saya memperkenalkan manik-manik produksi Beads Flowers harus kesana kemari, hingga dipedalaman Kalimantan, maka sekarang cukup menggunakan dunia maya atau internet. Mungkin kebanyakan pebisnis lainnya juga telah melakukannya.

Tetapi jika tidak fokus memanfaatkan internet dalam bisnis, hasil tidak akan maksimal. Sekarang ini, banyak pemesanan dari mancanegara, cukup melalui situs ‘Beads Flowers’. Dan dengan mengunggah Beads Flowers ke dunia maya, jangkauan pasar lebih luas. Meski begitu, inovasi produk harus tetap dilakukan. Saya rasa tidak ada bisnis di era global ini yang tidak memanfaatkan internet. Namun optimalisasi dunia maya dalam rangka bisnis itu harus dilakukan dengan fokus.

Apa harapan Anda kedepan?

Saya ingin membangun jejaring bisnis Beads Flowers ini semakin bagus. Sekarang ini semua sarana telah tersedia. Alat komunikasi, internet, juga kemudahan jasa ekspedisi, tinggal kitanya saja, apakah mampu membuat terobosan produk yang diinginkan pelanggan atau tidak. Kebanyakan bisnis akan hancur jika kita terlena karena telah memiliki banyak kemudahan. Saya tidak ingin hal itu terjadi di Beads Flowers.

Beads Flowers memproduksi manikmanik di Jombang tetapi juga memiliki art shop di kerobokan bali. bagaimana Anda membagi waktu?

Berbisnis di era moderen, jarak bukan hambatan. Ini hal mendasar. Tempat produksi manik-manik karya Beads Flowers memang di Dusun Plumbon, Desa Plumbon Gambang, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Selain ada gerai di sini, arts shop di Bali juga memiliki andil besar. Bali adalah portal untuk membuka komunikasi dengan pasar luar negeri. Dan saya harus rela bolak-balik Jombang-Bali, seminggu bisa dua hingga tiga kali tergantung kebutuhan.

Boleh tahu, rentang harga manikmanik karya Beads Flowers?

Soal harga beragam, tergantung ukuran dan jenisnya. Manik-manik di Beads Flowers ini ada yang mulai harga Rp 5 ribu hingga di atas Rp 100 ribu, itu jika dijual secara retail. Tetapi jika melayani pesanan khusus, misalnya untuk kepentingan upacara adat atau pesanan dari desainer tertentu dari luar negeri, rata-rata kisaran harga Rp 150 juta hingga Rp 250 juta. Dan Beads Flowers seringnya melayani pesanan khusus tersebut dalam jumlah banyak.

Adakah saran Anda bagi para pebisnis muda?

Apapun usaha itu harus dilakukan dengan senang. Ketika kita enjoy dalam menjalankan bisnis munculah totalitas dan fokus. Totalitas inilah yang akan mampu mengalahkan segala macam kondisi. Kita terpuruk seperti apapun, jika ada totalitas maka jalan menuju bangkit pasti terbuka.

Related News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Flag Counter

Copyright © 2018 ISEEBALI . All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri