hd-aspect-1447193318-palmerlede (www.popularmechanics.com)

Palmer Luckey – Pewujud Dunia Virtual Masa Depan

Banyak yang mengatakan sukses akan datang seiring matangnya usia. Tapi tidak bagi sebagian orang, salah satunya adalah Palmer Freeman Luckey. Mendirikan Oculus VR (Virtual Reality) di usianya yang baru menempati angka 19. Inovasinya ini, membawa sang bocah memiliki kekayaan sebesar US$ 2 Miliar.

Di masa kanak-kanak, Palmer tidak menempuh pendidikan formal. Ia mendapatkan pelajaran dan ilmi dengan bersekolah di rumahnya, gurunya adalah kedua orang tua dan beberapa mentor private. Sistem pendidikan ini memungkinkan Palmer fokus pada hobinya yakni memodifikasi barang-barang. Itu sebabnya, sejak masih kanak-kanak Palmer sudah berkesempatan untuk membongkar perangkat optik seperti DVD Player yang rusak, untuk diambil komponen laser yang ada di dalamnya. Ia juga pernah membongkar konsol game untuk dijadikan perangkat game portabel.

Menginjak remaja, Palmer semakin menyukai video game. Ia bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk bermain game. Dari hobinya itu, muncul obsesi yang selalu membuncah di kepalanya.

Bagaimana caranya agar bisa masuk ke dalam permainan itu. “Saya selalu bertanya dalam hati, bagaimana saya bisa benar-benar berasa dalam game yang saya mainkan?”

Obsesi itulah yang membuat Palmer berburu perangkat VR. Ia pun mulai mengumpulkan perangkat yang pernah ada di pasaran. Namun setelah mengumpulkan banyak VR. Palmer merasa bahwa teknologi yang ada sudah sangat ketinggalan jaman. Bahkan, VR seharga US$ 80 di tahun 90-an, tidak bisa memenuhi harapannya.

Di usia 18, ia memulai membuat prototype perangkat VR yang ia impikan. Prototype inilah yang akan menjadi Oculus Rift di kemudian hari. Modal yang sangat minim tidak menjadi halangan untuk mewujudkannya impiannya. “Saya memberi iPhone yang rusak di eBay, memperbaikinya, lalu saya jual kembali, “begitu cara ia mencari modal tambahan untuk proyek impiannya.

Setelah berjalan beberapa waktu, ia mempublikasi semua proses pengerjaan prototype Oculus Rift di internet. Tak disangka titik balik dari perjalanan impian Palmer Luckey terjadi saat itu juga. Salah satu yang tertarik dengan prototype itu adalah John Carmack, pembuat game DOOM yang tersohor.

Carmack menunjukan minatnya terhadap prototype itu dengan diskusi bersama Palmer. “Awalnya kami hanya beridiskusi soal memperbaiki perangkat VR yang dimiliki John,”kata Palmer. Namun, belakangan, Carmack justru berniat membeli prototype dari Oculus Rift. Saat itu Palmer langsung memberikan Oculus Rift pada John Carmack. Seketika Carmack takjub akan kelebihan perangkat yang dibuat Palmer, John membawa prototype Oculus Rift dan mendemonstrasikannya di pameran game terbesar di dunia, E3. Sejak saat itu, perhatian dunia terhadap VR ini begitu deras mengalir.

Dunia Palmer Lucky pun berubah. Ia kemudian bekerjasama dengan beberapa veteran di dunia game seperti Brendan Iribe, Nate Mitchell dan Michael Antonov untuk mendirikan sebuah perusahaan bernama Oculus VR. Dengan langkah awal melakukan penggalangan dana  melalui situs Kickstrater, program crowdsourcing untuk permodalan bagi para startup.

Palmer sendiri tak menyangka akan mendapat respon yang luar biasa. Pada awalnya, Oculus meminta dana startup mereka sebesar US$ 250 Ribu untuk mengembangkan Oculus Rift versi perdana. Namun di akhir pengumpulan dana. Yang terkumpul mencapai US$ 2,4 Juta. “saya tentu terkejut, saya tidak pernah berpikir hidup saya akan berubah sedemikian drastis,”ungkap Palmer. Pemuda kelahiran Long Beach, California ini mengaku sangat terkejut karena impiannya untuk bermain game secara  nyata mulai terealisasi.

Perubahan besar kembali terjadi, ketika raksasa Facebook mengakuisisi Oculus VR dengan harga fantastis, yakni US$ 2 Miliar atau setara Rp 22 Triliun. Alasan Mark Zuckerberg mengakuisisi Oculus VR, karena teknologi yang diusung Oculus merupaka pionir dari perubahan paling signifikan di platform komputer masa depan. “Bayangkan, mendapatkan pengalaman di sisi lapangan, belajar dari guru di seluruh dunia, atau bertatap muka dengan seorang dokter hanya dengan menggunakan kacamata. Ini adalah cara berkomunikasi yang sangat revolusioner,” ungkap Zuckerberg.

Tapi tak sedikit yang melayangkan kritikan atas protes akuisisi ini. Sebagai perusahaan yang didanai oleh bantuan Kickstarter, banyak yang menilai langkah Palmer menjual Oculus VR sebagai pengkhianatan. Akan tetapi, Palmer mempunyai alasan tersendiri untuk terus mengambil langkah ini. Karena tanpa akuisisi dari Faceboo, sulit bagi Oculus untuk bertumbuh kembang dengan cepat. Namun apapun langkah yang diambil, VR ala Palmer telah menunjukkan perubahan berarti pada industri ini. Dan bukan tidak mungkin ramalan Zuckerberg terbukti, dimana komuniksi masa depan dilakukan lewat perangkat ini.

Related News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Flag Counter

Copyright © 2018 ISEEBALI . All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri