DSC_3207

Paloma Blanco “Creating Art In Food”

“Melalui Sanur Beach Grove, Paloma mengembangkan Recreational Park By The Beach, seperti apa konsepnya?”

Nama Blanco tak asing lagi di Indonesia khususnya Bali, seniman lukas Mario dan Antonio Blanco di Ubud adalah si pesohor nama tersebut. Bapak dan anak yang telah memberikan kontribusi sejumlah karya lukis ditanah air. Kini generasi ketiganya, tak jua kalah dalam berkarya, walaupun tidak lewat jalur lukisan.

Adalah seorang Paloma Blanco yang muncul dengan bisnis kulinernya. Setelah membuka restoran Bendega di Ubud, ia bercerita tentang bagaimana dirinya mengembangkan bisnis kuliner di Pulau Dewata. Ia juga terus berinovasi dengan cara membuat konsep baru dari sebuah tempat rekreasi. Saat ditemui diproyek barunya Sanur Beach Grove, ia mengungkapkan konsep foodcourt yang sekarang tengah ia kembangkan, merupakan karya dari penggabunggan ilmu commerce yang ia dapat semasa kuliha di Perth University, Australia dengan ilmu Arsitektur dari adiknya Concita Blanco yang menempuh jenjang Master Architecture di Melbourne Univesity.

“Konsep dan desian yang dibangun dari Sanue Beach Grove kebetulan di desain oleh adik saya. Sanur Beach Grove ini kita buat bertema recreational park by the beach dengan beberapa pilihan food shacks yang semua dibangun secara environmentally friendly dengan cara menggunakan bahan daur ulang,” ungkapnya.

Bukan hanya itu, sekalipun sudah berstatus sebagai seorang istri dan ibu dari dua orang anak. Paloma masih tampak bersemangat mengembangkan bisnisnya. “Saya sekarang ini sedang membuat pop up teaser kitchen dari restoran masakan Jepang dan Meksiko di Sanur Beach Grove yang rencananya akan saya buka di daerah Sanur dan Renon,”ujarnya lagi.

Waniat kelahiran Denpasar, 31 Mei 1991 ini mengaku masih ingin terus berkarya, ia juga bercerita tentang awal ketertarikannya menjadi seorang entrepreneur. Berikut adalah kutipan wawancara kami bersama Paloma Blanco.

Hai Paloma, sibuk apa sekarang?

Ya sekarang selain ngurus rumah tangga dan anak-anak sekarang ini saya dalam proses mempersiapkan untuk membuka dua outlet restoran dengan konsep yang berbeda. Di antaranya restoran Jinjin dan Jalapeno sekarang udah ada pop-up teaser kitchen-nya di Sanur Beach Grove yang hanya buka weekend saja. Saya berpikir sebelum saya buka restoran, saya perlu pendapat dari customer tentang makanan yang akan saya jual. Jadi produk yang akan saya jual di restoran bisa lebih matang. Pop up kitchen ini hanya untuk perkenalan rasa. Kami kan ingin tahu apa feedback-feedback dari para pembeli di sini untuk bisa menyempurnakan produk untuk kedua restoran. Jadi di pop up ini kami nggak keluarin menu, hanya beberapa menu saja.

Sejak kapan Anda tertarik menyelami dunia bisnis?

Kalau untuk ketertarikan di dunia bisnis sudah dari dulu, karena memang keluarga rata-rata adalah pengusaha, dari kakek juga berbisnis, papa juga berbisnis, saya juga sekolahnya bisnis, jadi setelah tamat ya alurnya ke bisnis juga.

Padahal kakek anda adalah seniman lukis?

Kakek saya memang seninam lukis, tapi keluarga saya latar belakang berbisnis, jadi sebenarnya saya suka dua-duanya. Bisnis kuliner merupakan pergabungan dari keduanya, kuliner adalah creating art in food. Di dalam mengembangkan bisnis kuliner, kita memerlukan kreatifitas untuk membuat produk dan konsep yang unik.

Anda sekolah dimana?

Saya lulusan Commerce Majoring in Economics and Marketing di Curtin University di Perth Australia. Di Australia saya belajar, menjadikan pondasi dari bisnis yang saya kembangkan di kemudian hari. Di sana saya belajar secara teori tentang bisnis dan saya aplikasikan di bisnis saya saat ini. Saya merasa mendapat pondasi yang lebih kuat untuk mengembangkan bisnis ke depannya. Disana saya juga belajar banyak kreatifitas. Australia adalah negara yang sangat multikultural dimana banyak banget restoran yang desain dan konsepnya unik dan menarik.

Kebetulan salah satu restoran favorit saya disana adalah restoran Jepang dan Mexico, disana saya berpikir suatu saat ingin membuka restoran seperti itu di Bali.

Sulit menjadi wirausaha dan meraih sukses di usia muda. Siapa orang yang paling membantu anda dalam mengembangkan usaha?

Support paling terasa adalah dari ibu dan suami, dimana saya bisa berkeluh kesan dan membuat saya kembali bersemangat untuk berbisnis. Kebetulan suami dan saya itu menyukai banyak hal yang sama, dan kami bersama sama membangun usaha dibidang kuliner, dimana kita memiliki visi yang sama yaitu memiliki berbagai macam restoran dengan khas yang berbeda dan konsep yang unik.

Kalau untuk mentor, saya memiliki banyak women mentor, dan yang paling menginspirasi saya adalah Ivanka Trump dan Diane Von Furstenberg, dua wanita adalah sosok wanita yang mengawali karir bisnisnya di usia yang sangat muda, memiliki anak-anak juga tapi sukses.

Saya mengagumi mereka karena mereka tough and independent, mereka selalu melakukan sesuatu dengan fokus dan serius, dan yang penting mereka selalu melakukan segala hal yang mereka suka.

Sebagai seorang entrepreneur, tentu ada rintangan yang  melintang di jalan karir Anda. Selama ini apa yang terberat yang Anda hadapi?

Saya merasa sebagai seorang wanita yang sudah berkeluarga dan menjadi seorang pebisnis, maka tantangan terberat adalah sharing time. Pembagian waktu, di usia 24 tahun saya sudah memiliki dua orang anak. Saya harus memilah waktu sebagaimanapun caranya, saya bisa membagi waktu untuk keluarga dan juga bisnis saya. Jangan sampai anak-anak saya kekurangan waktu kebersamaan bersama keluarga. Tapi di sisi lain, saya juga harus memberikan waktu yang cukup untuk penglolaan bisnis saya, agar terus berkembang. Jadi bagaimana cara kita membagi waktu agar menjadi efektif, seperti itu.

Sekarang Anda sedang mengembangkan tempat rekreasi seperti Sanur Beach Grove. Bisa jelaskan apa itu Sanur Beach Grove?

Sanur Beach Grove adalah hasil desain dari adik saya Conchita Blanco. Ia baru saja selesai dari sekolahnya di Melbourne University, konsentrasi Arsiktektur, dia diberi kepercayaan oleh papa dengan budget yang terbatas untuk mengubah tanah ini menjadi tempat rekreasi.

Konsep Sanur Beach Grove ini merupakan taman rekreasi yang enviromentally friendly dan belum ada di Sanur, bahkan di Denpasar. Jadi penggabungan antara taman dan pantai dengan di kelilingi food shach. Di sini makanan yang dijual antara satu dengan yang lainnya tidak boleh sama, jadi tidak ada kompetisi, jadi punya identitas tersendiri. Kalau misalnya kita ke Jinjin ya itu Japanesse food spesialisasinya, kalau ke Sate Oma jelas sate adalah spesialisasinya. Jado pilihannya beraneka macam, ketimbang pilihan menu dari satu tenant ke tenant yang lain itu sama. Di mana lagi ada tempat yang kita bisa piknik sembari melihat deburan ombak di Pantai Sanur? Jadi sebenarnya cocok untuk refreshing akhir pekan keluarga.

Jinjin dan Jalapeno, selain karena makanan favorit ketika kuliah, kenapa Anda memilih masakan Jepan dan Meksiko untuk di bawa ke Bali?

Memang, Jepang dan Meksiko adalah makanan favorit sewaktu bersekolah di Australia, karena makanannya sehat dan tasty banget. Untuk Jinjij, kita berkonsep doburi (bahasa Jepang untuk hidangan khas yang dihidangkan di nasi) dan Japanesse contemporary, clean dan stylish. Rencananya Jinjin akan buka di Renon akhir tahun ini. Dan memilih Renon, karena merupakan destinasi yang menarik untuk membuka bisnis kuliner Jepang, saya pikir belum ada restoran Jepang di Renon.

Sementara untuk pop up teaser kitchen kami, kita hanya menjual beberapa menu saja, dengan price range 25k-85k. Menu favorit adalah beef steak spicy teriyakin don dan bacon cheese age. Untuk Jalapeno, kita berkonsep healthy mexican food and bar. Karena lokasi kita di Sanur, banyak penggemar makanan sehat dan saya pikir masakan Mexico akan berpotensi baik disini. Makanan Mexico banyak memakai ingredient yang sehat dan fresh, yang saya yakin dapat digemari customer kita di Sanur. Kita menjual makanan dari queseadillas, salad, nachos, taco, fajitas, burritos, enchilladas dan churros. Price range kami dari 30k-80k jadi harga sangat terjangkau juga.

Konsep Environmentally Friendly. Konsep ramah lingkungan. Contohnya bambu-bambu untuk food shack-nya, tempat duduk, rumput taman itu konsepnya go green, recycle wood. Ini meja dan kursi dari recycle wood. So everything, enviromentally friendly.

Harapan kedepan Anda sebagai seorang wirausaha muda Indonesia?

Saya berharap lebih banyak wirausaha muda yang lebih berani lagi, apapum itu, tidak ada yang mustahil. Jika kita berani bermimpi, beranilah untuk merealisasikannya dengan cara bekerja keras.

Related News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Flag Counter

Copyright © 2017 ISEEBALI . All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri