DSC_0113

Parinatra Candrarka Nugraha & Bagus Galih Hastosa – Manikan Dorong Tenun Naik Kelas

Selembar kain tenun ikat Bali menjelma tas-tas fashion favorit anak muda masa kini. Sebagaimana corak etnik endek memberikan sensasi desain elegan pada sebuah envelope bag. Pun pesona woman clutch jadi kian penuh pikat lewat tekstur-tekstur chic kain endek yang memodifikasinya. Bahkan, sebuah tas backpack tak kehilangan jiwa petualangannya usai dibalut dengan eksotisme tenun ikat Bali tersebut. Eksplorasi fashion tenun ikat seperti inilah yang terus dikembangkan oleh Parinatra Candrarka Nugraha dan Bagus Galih Hastosa lewat local brand Manikan.

Apabila menelusuri koleksi-koleksi Manikan di laman website-nya yang layaknya sebuah lemari fashion digital, barangkali siapa pun tak menduga seluruh desain dan konsepnya dikerjakan oleh dua putra Bali tersebut. Manikan yang dalam bahasa Bali berarti permata ini fokus mengangkat potensi tenun ikat Bali dengan spesifikasi produk tas, di mana mengambil target pasar anak muda. Berawal dari kegelisahan mereka terhadap rendahnya minat generasi
muda terhadap produk fashion berbahan dasar tenun ikat, dua sekawan yang akrab disapa Prika dan Galih ini pun berusaha untuk menampilkan sesuatu yang baru dari kain tradisional Indonesia tersebut.

“Kita ingin membuat bagaimana anakanak muda sekarang tertarik untuk pakai tenun ikat. Di Bali sendiri, kebanyakan dari mereka masih menilai kain tenun seperti Endek itu hanya sebatas dikenakan untuk acara formal maupun upacara keagamaan. Padahal tenun itu bukan cuma untuk orang tua atau cocok untuk ke kondangan. Tapi, kita sebagai anak muda bisa kok memakainya dengan fun sehari-hari, untuk hangout atau ke kampus,” terang Galih. Tantangan itulah yang harus ditaklukan oleh Manikan yang berbekal kreativitas dan keindahan kain-kain tenun Endek khas Desa Lebih, Gianyar Bali. Tak hanya bermain di kain tenun Bali, Prika dan Galih juga bereksperimen lewat lurik dan aksen-aksen kain tradisional lainnya demi menampilkan desain yang segar.

Di awal kemunculannya pada akhir tahun 2012 silam, Prika dan Galih mengarahkan Manikan untuk lebih dominan fokus di segmen pasar wanita. “Tahu sendiri ya segmen pasar cewek itu cukup besar, terutama dalam hal daya beli. Dulu kita targetkan Manikan ngambil 70 persen pasar cewek dan 30 persennya cowok,” terang Prika yang menamatkan pendidikan S2 Jurusan MBA in Creative and Cultural Entrepreneurship di Institut Teknologi Bandung ini.
Galih juga menambahkan bahwa tidak bisa dipungkiri Manikan juga diminati oleh kalangan adam. Respon positif pun banyak berdatangan dari kawan-kawan pria di kampusnya. Namun kemasan brand Manikan, baik dalam komunikasi desain dan marketing-nya yang cenderung menampilkan atmosfer girlie membuat hal tersebut jadi batu sandungan. “Sebenarnya kita ada produk Unisex. Hanya saja ketakutan kita adalah customer cowok enggan untuk membeli, dikarenakan packaging website maupun photo shoot produk kami yang feel-nya lebih ke cewek,” sambung Galih yang juga berprofesi sebagai fotografer. Hal inilah yang menginspirasi Galih dan Prika untuk merilis second label Manikan yang bertajuk M.A.N by Manikan sejak awal 2014 guna merespon permintaan pasar untuk produk fashion laki-laki.

Hingga saat ini, Manikan telah mengeluarkan 14 jenis koleksi desain tas dari berbagai macam ukuran. Prika dan Galih menawarkan berbagai model tas fashion, seperti tote bag, clutch, sling bag, tas ransel, hingga dompet sekalipun, di mana bahan tenun ikat dikombinasikan dengan kanvas dan kulit imitasi. Produksi tas yang awalnya hanya 20 item per bulan perlahan-lahan meningkat hingga 150 item per bulan. “Kalau dulu setiap enam bulan sekali, kita keluarkan koleksi terbaru. Tapi setelah dipikir-pikir kok lama ya updatenya, jadi kita usahakan untuk bisa ngeluarin koleksi baru setiap bulannya,” ujar Galih yang punya latarbelakang pendidikan tinggi di bidang psikologi ini.

Harga tas-tas etnik Manikan tersebut dibanderol mulai dari kisaran harga Rp 50 ribu – Rp 450 ribu dan beredar di outletoutlet mitra mereka di Jabodetabek, Yogyakarta, Surabaya, dan Bali. Untuk berkompetisi  di industri kreatif, Manikan juga lebih banyak “bergerilya” di online shop yang juga dibantu oleh beberapa reseller online partner mereka, sehingga dengan mudahnya produk mereka merambah ke pangsa pasar Australia, Malaysia, dan Singapura. Para pelanggan yang berasal dari Jabodetabek masih menjadi pasar yang dominan dalam penjualan produk Manikan.

Galih mengungkapkan bahwa endorsement dari media sosial dan fashion blogger menjadi media promosi Manikan yang paling efektif. Selain itu, tampilnya Manikan
di ajang Indonesia Fashion Week, Local Fest, Gogirl Looks, Bandung Trademark & Lookats, dan Jogja Fashion Week mampu mendongkrak popularitas local brand mereka.

Rebranding Manikan

Sebelum berkreasi lewat tas-tas stylish bernuansa etnik, Manikan yang ditangani Prika seorang diri pada 2009 silam masih asik memproduksi tas-tas aksesoris gadget. Barulah saat pertemuannya dengan Galih, perombakan yang signifikan terhadap brand Manikan tercetus. “Galih datang dan dia bilang punya ide dan konsep baru buat Manikan. Kita ingin buat sesuatu yang baru dari Manikan. Kita brainstorming ulang dan kebetulan di rumahnya Galih ini ada pengrajin tenun. Dari sana awal kita buat sesuatu yang baru dari Manikan. Kita buat lebih meluas lah pasarnya, tidak cuma tas gadget,” kata Prika alumnus SMAN 1 Denpasar ini. Menurut Galih sendiri, ide dan konsep re-branding Manikan sudah digojlok sejak tahun 2010, namun baru resmi diluncurkan pada 2012 lalu.

Prika mengutarakan bahwa salah satu keputusan untuk me-rebranding Manikan terjadi lantaran kendala utama mereka dalam mengikuti perkembangan teknologi yang super cepat untuk kebutuhan produksi desain tas aksesoris laptop sebelumnya. “Saat itu, tiap tiga bulan selalu saja ada sesuatu yang baru dan baru lagi. Ada juga kejadian lucu waktu kita bikin tas untuk laptop 10 inch, tapi kok yang bisa masuk cuma laptop A dan laptop B enggak bisa. Jadi kan kalau kita ngikutin update dari teknologi ini agak susah ya,” tutur Prika yang kini juga tengah membuka sebuah toko konsep store sebagai side project pribadinya.

Produk perdana Manikan berupa envelope bags sejatinya juga terinspirasi dari era tas aksesoris gadget mereka sebelum rebranding. “Ini clutch yang muat untuk tablet maupun laptop ukuran tertentu. Kita sengaja bikin yang seperti ini supaya bisa digunakan untuk aktivitas sehari-hari,” jelas Galih. Pria kelahiran Gianyar ini juga memantapkan Manikan untuk spesialisasi tas, karena dilihatnya belum banyak merek lokal yang mengangkat produk tas, apalagi dengan nuansa etnik.

Meski hanya jalan berdua, Prika dan Galih mencoba tetap profesional dalam mengembangkan Manikan. Galih bertanggung jawab dalam pengelolaan bidang pemasaran dan pengembangan produk, sementara Prika fokus pada aspek produksi dan keuangan. “Awal-awalnya sih Galih yang di bagian produksi. Cuma karena saya kebetulan saat memulai usaha itu sedang kuliah S2 di Bandung, jadi kenapa enggak saya coba sekalian bantu produksi dari sini. Produksi kami pindahkan ke Bandung selain jadi mudah untuk dikontrol, juga karena pilihan pengrajin dan materialnya lebih banyak dan mampu menekan biaya produksi,” ujar Prika.

Prika mengaku modal awal untuk membangun Manikan diperolehnya dari hadiah-hadiah yang dikumpulkannya sejak menjuarai beberapa kompetisi wirausaha di Bali. Selain itu demi memperkuat usaha Manikan, Galih dan Prika sepakat meminjam modal di Bank. Prika memang punya passion yang lebih di bidang kewirausahaan. Meski dilahirkan dalam lingkungan akademisi, namun tak menghalangi Prika untuk mewujudkan obsesinya dalam membangun brand dan usaha.
“Banyak memang dengungan yang mengatakan untuk apa berwirausaha. Saya memang juga punya minat di pendidikan, tapi kok saya pengen juga untuk wirausaha. Saya ingin tahu praktiknya kayak gimana, enggak cuma berkutat dengan teori saja. Dari Manikan ini, saya ingin orang tau bahwa ada konsep dan cerita dibalik brand-nya. Enggak hanya sekadar brand. Ada banyak nilai positif yang bisa disebarkan lewat Manikan,” terang pria kelahiran 19 Juli 1989.

Sepakat dengan Prika, Galih pun menganggap bahwa Manikin bukan sekadar tempat usaha, tapi juga media untuknya berkreativitas dan menyalurkan ide. “Sayang kalau kita lepas begitu saja. Manikan ini bisa dibilang pencapaian bisnis terbesar kami sejauh ini,” kata pria kelahiran 21 Juni 1991. Bagi pria yang juga berprofesi sebagai freelance photographer ini, tidak mudah untuk membangun brand Manikan. Bahkan bentuk-bentuk penolakan pernah mereka dapatkan, salah satunya ketika mengikuti sebuah pameran fashion. Namun semua itu dijadikan motivasi untuk terus berimprovisasi.

Prika mengatakan bahwa untuk ke depannya Manikan juga berencana merilis produk apparel mereka. “Untuk sekarang mungkin tas memang dari segi desain lebih aman, karena trend nya lebih tahan lama ketimbang baju. Tapi kita juga tertarik untuk bisa mengeluarkan produk baju, semoga tahun depan,” timpal Galih.

Related News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Flag Counter

Copyright © 2018 ISEEBALI . All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri