wallpapercave.com

Pesona Bisnis Taman Fantasi

Sayup dari kejauhan, lagu Joshua ‘di obok-obok’, terdengar berulang-ulang. Tak lama kemudian, berganti dengan suara Sherina yang mengalun, sesekali terputus oleh terpa angin sore, pun juga karena kualitas speaker yang memang tak cukup jernih. Muaranya, rupanya dari permainan Odong-odong yang di gowes seorang pemuda tanggung, disebuah gang sempit, dimana separuh jalan tertutup oleh kendaraan yang mirip becak ini. Bagi Anda yang tinggal di kawasan perumahan, rasanya sudah tidak asing dengan permainan hiburan yang satu ini.

Konon, odong-odong telah ada sejak abad 19, merupakan kesenian tradisional yang berasal dari Subang, Jawa Barat. Belakangan, permainan ini semakin menjamur seiring dengan bertumbuhnya jumlah penduduk usia anak-anak, dan meningkatnya daya beli masyarakat. Maka Odong-odong pun semakin menjamur. Hanya cukup mengeluarkan Rp. 2000 rupiah per satu lagu, maka permainan ini sudah bisa dinikmati oleh beberapa anak sekaligus. Harganya murah, menjadi hiburan sore yang menyenangkan untuk rakyat kebanyakan.

Merebaknya usaha  ini juga tak lepas dari hasil yang diperoleh, untuk menikmati  jasa ini, kita cukup membayar per lagu antara 2000-5000 rupiah saja (berbeda-beda ditiap kota), namun dalam sehari, tukang Odong-odong yang cukup jeli bisa meraup hasil yang tidak sedikit. Di Mamuju Sulawesi Barat misalkan, tukang Odong-odong bisa meraih hingga Rp. 500.000 per hari sebagaimana di beritakan oleh Merdeka.com.

Ini adalah sketsa bagaiamana masyarakat kita menjadikan hiburan sebagai salah satu kebutuhan. Yang ditingkat masyarakat jelata, bisa dirasakan lewat hiburan harian melalui Odong-odong atau atraksi dipasar malam. Namun Odong-odong, jelas terlalu kecil untuk Indonesia punya Taman Hiburan Rekreasi dengan nama Taman Permainan Jaya Ancol, wahana permainan di ibukota Jakarta dan sudah melegenda sejak tahun 1980-an.

Dan sekarang, sepanjang 15 tahun terakhir, petanya sudah tak lagi sama. Hampir setiap kota memiliki wahana fantasi yang berskala masif. Jatim Park memulainya di Malang, kemudian secara berangsur bermunculan di  berbagai kota lainnya. Trans Studio  Bandung dan Makassar serta Wonderia di Semarang. Jauh sebelumnya, ada water park seperti Waterbom yang sudah lebih dulu eksis. Bahkan kalau mau di krucutkan dalam waktu 5 tahun terakhir, maka jumlahnya meningkat sangat pesat. Bukan hanya satu atau dua wahana saja yang bermunculan, namun bisa bejibun yang menyasar berbagai kelas.

Hal ini terungkap dalam Fun Asia Expo 2016 yang berlangsung pada 4-5 Agustus di Hall D2, JIExpo, Kemayoran, Jakarta lalu. Ajang pameran terbesar dan terlengkap untuk segala jenis peralatan amusement park, theme park, waterpark dan berbagai atraksi ini, diselenggarakan untuk ketiga kalinya, sebagai satu-satunya pameran International alat-alat taman hiburan di Indonesia. Ini merupakan kesempatan emas bagi para operator, investor, pengelola ruang komersial seperti seperti kebun binatang, museum, mall, restoran dan real-estate, maupun pemerintah daerah yang hendak meningkatkan pariwisata di wilayahnya. Sudah bukan rahasia lagi bagaimana Universal Studios Singapura atau Legoland Malaysia yang sukses mendatangkan jutaan pengunjung setiap tahunnya melalui wahana-wahana ini.

Di Indonesia sendiri, industri ini sudah mulai menggeliat ketika Jatim Park mampu membuktikan bahwa kehadirannya direspon baik oleh pasar. Sejak berdiri diawal tahun 2000-an, wahana ini terus mengalami perkembangan yang signifikan. Jatim Park melengkapi kehadiram Waterbom Bali yang juga selalu penuh oleh turis, baik lokal maupun asing. Sejak itulah banyak pengusaha yang mulai melirik industri ini.

Pada 9 September 2006, PT Bumi Serpong Damai Tbk, pengembang kota mandiri BSD City, membuka Ocean Park Water Adventure yang berlokasi di kawasan Serpong Tanggerang. Berada di areal 8,5 hektare, menawarkan berbagai permainan seperti Carribean River hingga The Clave. Tidak main-main ketika itu, tidak kurang dari Rp. 80 Miliar digelontorkan, yang menjadikan wisata air ini setara dengan Sunway Lagoon di Kuala Lumpur. Setahun berikutnya, giliran anak perusahaan PT. Bakrieland Development Tbk yang menghadirkan The Jungle Water Adventure di Bogor. Dengan areal seluas 4 hektare, terdapat 15 wahana permainan termasuk 4D Cinema, Open Stage, Fountain Futsal dan Leisure Pool. Per tahunnya, wahana ini dikunjungi lebih dari 1 juta orang.

PT Ciputra Surya Tbk membangu Ciputra Waterpark seluas 5 hektar dikawasan Citra Raya Surabaya, dimana wahana ini menawarkan petualangan 1001 malam dengan teknologi permainan air. Kelompok usaha ini juga membangun taman wisata air di Citra Grand City Palembang Sumatera Selatan dengan nama Amanzy Waterpark seluas 3,5 hektare. Sementara Sentul Nirwana, anak usaha Bakrieland, bekerjasama dengan Sentul City, yang masing-masing memiliki 50% saham, mendirikan Jungleland Adventure Theme Park di kawasan Sentul, berdiri diatas lahan seluas 40 hektare. Pada bulan Mei 2009, pemain baru kembali datang, kali ini dari grup Trans Corp. Agak mengejutkan memang karena grup ini dikenal melalui jarinfan televisi dan bank. Perusahaan yang digawangi oleh Chairul Tanjung ini, menginvestasikan Rp. 1 Triliun untuk merubah lahan seluas 2,7 hektar dikawasan Metro Tanjung Bunga Makassar menjadi Trans Studio, dengan lebih dari 20 wahana, termasuk diantaranya Studio Central bertema Hollywood dan Lost City. Tidak kurang dari 1 juta pengunjung per tahun mampu dibukukan.

Hal ini membuat Trans Corp melakukan gebrakan kedua, kali ini di Bandung tepat pada bulan Juni 2011, diatas lahan seluas 4,2 hektar berkonsep indoor, dan menjadikan wahana dalam ruang terbesar di Indonesia. Hampir sebagian besar wahana ini berlisensi luar negeri.

Adapula yang didatangkan dengan sistem kerjasama dengan perusahaan sponsor, Yamaha Racing Coaster misalkan, kereta luncur berkecepatan 120 km/jam ini mampu menantang adrenalin 12 penumpang sekaligus. Diperkirakan, investasi ini menghabiskan tidak kurang dari Rp. 2 Triliun, hampir dua kali lipat dari Trans Studio di Makassar. Namun berbanding lurus dengan jumlah kinjungannya, diperkirakan Trans Studio Bandung dikunjungi 2-3 juta pengunjung pertahunnya.

Dan bukan hanya pasar lokal, sejumlah wahana kini mulai menargetkan untuk merangkul pasar ASEAN. Jatim Park salah satunya, melalui website www.jawatimurpark.com Titik S Ariyanto, Marketing and Public Relation Manager menyampaikan, “pangsa pasar lokal kita kurangi pemasarannya. Ada beberapa daerah ditingkatkan promosinya. Salah satu daerah promosi bidikan kita adalah Jakarta, Kalimantan, Bali, Sulawesi dan daerah ASEAN,”terangnya.

Titik juga menyampaikan bahwa selama ini, kunjungan wisatawan asing ke Batu khususnya Jatim Park masih sangat minim, tak sampai 1 persen dari jumlahnya kunjungan wisatawan lokal Batu yang tahun lalu (2015) mencapai 3,5 juta orang. “Promosi ke luar negeri ini tidak bisa dilihat imbasnya dalam jangka waktu pendek. Kira-kira dua hingga tiga tahun lagi baru terlihat. Kalau dalam kurun waktu tersebut bisa tumbuh sampai 5 persen, itu pencapaian luar biasa,” tandasnya.

Jurus untuk menggerek pasar

Dari sisi bisnisnya sendiri,taman hiburan rekreasi memang sudah menunjukkan hasil yang wow. Namun demikian, tidak semua taman hiburan dengan tujuan bisnis pada produk tersebut, namun tidak sedikit yang menjadikan wahana ini sebagai upaya untuk membangun pasar.

Sejumlah pengembang properti melakukan hal ini, Jungle Water Adventure misalkan yang dibangun sebagai fasilitas hiburan bagi para penghuni perumahan yang dibangun pada area kawasan yang berdekatan dan sebagaimana diberitakan oleh Bloomberg, taman ini juga diharapkan bisa menarik pengunjung keperumahan yang memiliki area seluas 1200 hektar tersebut. “Kami ingin menciptakan keramaian, setelah kawasannya hidup barulah kami berpikir bisnis,”ujar General Manager The Jungle  Water Zakky Afifi ketika itu Ciputra juga membuat wahana permainan air di areal perumahan. Water Park seluas 5 hektar, berdiri di kawasan Citra Raya Surabaya. Yang terbaru adalah Citraland Waterpark yang baru dibuka awal tahun ini. Dibangun diatas lahan seluas 6000 m2 dan menjadi waterpark pertama dan satu-satunya di Kota Denpasar-Bali. Lokasinya persis didepan kawasan perumahan elite Citraland Denpasar.

Berpotensi hingga RP. 20 Triliun

Potenso Bisnis taman hiburan saat ini diperkirakan mencapai Rp. 10 Triliun dan akan mencapai pertumbuhan 2 kali lipat dalam waktu beberapa tahun kedepan. Inilah alasannya potensi bisnis dari taman hiburan akan terus menjadi incaran para pengusaha. Baik skala besar sekelas Odong-dong dan pasar malam, ataupun investor Triliunan rupiah. Memang dari sekian jenis taman hiburan, wisata air yang paling diminati. Konsultan taman hiburan independen Faturrohman, sebagaimana disampaikan ke Bloomberg Businessweek, mengatakan bahwa proyek taman wisata air disukai berbagai segmen pasar, investasinya lebih kecil ketimbang taman hiburan lain, umumnya berkisar antara Rp. 4-130 Miliar diluar harga tanah. Sementara keuntungannya bisa sampai 50%. Dimana separuh pendapatannya untuk operasional seperti listrik dan gaji pegawai. Di Jabodetabek, taman wisata air bisa kembali modal dalam waktu 4 tahun.

Masa bulan madu usaha-usaha ini tentu saja saat memasuki libur panjang. Natal dan Tahun Baru dan libur sekolah dipertengahan tahun, mampi memberikan keuntungan hingga 2 kali lipat. Di Trans Studi Bandung misalkan, pendapatan tiket saja, diperkirakan mencapai Rp. 7,5 miliar per pekan, namun saat memasuki musim libur, bisa mencapai hingga Rp. 25 Miliar, dan ini diluar pendapatan sponsor, souvenir dan penjualan makanan-minuman.

Kedepannya, masih ada sejumlah proyek raksasa untuk menghadirkan sejumlah taman rekreasi hiburan yang berkelas Internasional. Disejumlah media disebutkan, bahwa Bakrieland Development berencana mengembangkan theme park di kawasan Jonggol dan Lido, Jawa Barat. Theme Park ini akan berada di atas lahan seluas 50-100 hektare (ha). Sedangkan untuk kawasan Jonggol lebih luas lagi, yakni sekitar 100-200 ha. Demikian pula dengan Trans Corp, Makassar dan Bandung barulah awal, mereka juga berencana membangun taman hiburan sebanyak 20 buah di seluruh Indonesia hingga tahun 2020.

Related News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Flag Counter

Copyright © 2018 ISEEBALI . All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri