DSC_3926

Pesona Cup Cake Sang Master – Gung Tya

“Pekerjaan yang paling menyenangkan adalah Hobi yang dibayar. -Ridwan Kamil”

Kata-kata yang diungkapkann Walikota Bandung tersebut agaknya selaras dengan gadis cantik asal Bali, Putu Setyawati, SE. Passion menjadi seorang koki di bidang cake and dessert membawa dia meraih kesuksesan dalam usaha kue online-nya.

Ditemui di dapurnya, gadis yang sering disapa dengan nama Gung Tya ini bercerita panjang  mengenai hobi yang kini ia tekuni sebagai bisnisnya. Ia juga bercerita tentang pengalaman tak terlupakan ketika menjadi salah satu kontestan di ajang bergengsi MasterChef di Indonesia Season 3.

Dalam kompetisi tersebut. Tya adalah satu-satunya peserta yang berasal dari Bali dan mewakili Pulau Dewata di ajang tersebut. Selama di dapur MasterChef, ia ditempa untuk menjadi koki hebat. Dar 750 peserta audisi di tingkat Propinsi, hanya terpilih empat orang untuk melanjutkan seleksi di Jakarta.

“setibanya di Jakarta, saya dikumpulkan bersama 60 kontenstan dari seluruh Indonesia. Dan di sana kami kembali diseleksi untuk dipilih menjadi 25 besar,” ungkapnya.

Setelah berhasil bertahan hingga delapan besar, Tya dihadapkan oleh bahan hidangan yang paling tidal ia sukai, otak kambing. Ketakutannya akan otak kambing membuat ia harus gugur di kompetisi tersebut. Dari kekalahan ini, ia bertutur pada kami, “Saya bisa mengambil hikmah adari kekalahan tersebut. Hikmahnya, kita harus belajar menguasai ketakutan kita sendiri demu mencapai tujuan yang kita inginkan.”

Ia juga bercerita tentang kesibukannya selepas kompetisi tersebut. Sekarang, Tya mengelola bisnis kue online dan toko kue yang akan launching bulan Agustus di tahun ini.

Kepada reporter Singgih Wiryono, chef cantik berusia 24 tahun ini bertutur tentang bagaimana ia membangun bisnisnya yang sudah dirintis sejak menjadi mahasiswi, dan berkembang hingga seperti sekarang.

Setelah kompetisi MasterChef berakhir, apa kesibukannya sekarang?

Saya lagi merintis toko kue, namanya Tya’s Cake and Bakery. Sekarang pengerjaannya masih sekitar 70%, mungkin akan launching bulan Agustus mendatang. Tapi sekalipun toko belum buka, saya juga melayani pesanana yang datang via online, ini yang sedang jalan sekarang.

Via online, seperti bisa melayani penjualan hingga keluar daerah?

Dulu kami sempat mengirim sampai ke luar Bali, kemasan sudah diberi tanda fragile dan lainnya, tapi proses pengiriman itu sangat penting dan berpengaruh. Karena hasilnya jadi tidak maksimal. Bentuk kuenya jadi amburadul. Pernah juga saya ngirim ke daerah Yogyakarta, sesampainya barang di sana, ternyata kemakan sama tikus. Ini adalah masalah-masalah kalau kami kirimnya ke luar Bali.

Berarti masih seputar Bali ya?

Dulu sih pernah ada tawaran kerja sama di Jakarta. Tapi saya berpikir tidak untuk saat ini. Keinginann ada untuk membuka cabang di luar Bali, tapi untuk sekarang mungkin mau fokus memajukan kuliner di daerah saya sendiri, khususnya di bidang cake.

Berapa omzet yang Anda dapatkan di penjualan online?

Bisa sampai sepuluh juta per bulan, itu pun kalau lagi sepi. Hari ramai biasanya di pas weekend bisa sampai 20-25 juta.

Siapa saja customernya, datang dari kalangan mana?

Untuk customer, kami biasanya datang dari cafe, kemudian hotel, birthday partya, ada weeding juga.

DSC_3972

Jadi berkerjasama dengan wedding Organizer, Cafe dan lainnya ya?

Betul, kami mulai menjalin kerjasama dengan hotel juga, kemudian dengan restoram dan cafe. Kami juga menerima pemesanan kok. Jadi cake yang saya buat bisa untuk acara-acara keluarga. Kami juga melayani pemesanan custom cake, cupcakes, cookies, tiramisu, black forest. Jadi untuk kue dan dessert table bisa disesuaikan dengan tema party.

Dari begitu banyak kue yang Anda buat, rata-rata pengerjaannya butuh waktu berapa lama?

Sekitar 4 sampai 5 jam. Kadang ada yang butuh waktu satu hari full. Saya pernah buat kue model bertingkat, dengan diameter 70 cm dan tinggi setengah meter. Itu pengerjaannya sampai begadang-begadang deh. Kuenya berat banget lagi, tapi hasilnya memuaskan.

Anda kerjakan sendiri?

Saya ditemani dua asisten.

Anda dikenal luas ketika menjadi kontestan MasterChef Indonesa, bagaimana hingga tertarik ikut kompetisi tersebut?

Awal mula saya masuk MasterChef itu tidak terduga. Saya sendiri kan hobinya masak. Waktu saya nonton MasterChef, saya sering ngerundel gitu, mengkritisi apa yang ada dalam tayangan itu. Waktu itu kakak saya negur, “daripada kamu ngomel di rumah, mending ikut aja lombanya.” Eh, akhirnya saya mikir, bener juga, kenapa nggak ikut seleksi saja.

Dan akhirnya saya daftar, dan dari 750 peserta di Bali, hanya ada 4 peserta yang diambil untuk seleksi berikutnya. Dan saya adalah salah satu dari  4 orang yang lolos tadi. Kami kemudian dikirim ke Jakarta untuk kompetisi selanjutnya. Setibanya di Jakarta, saya dikumpulkan bersama 60 kontestan dari seluruh Indonesia. Dan di sana kembali diseleksi untuk dipilih menjadi 25 besar.

Apa pengalaman berharga dari Kompetisi Master Chef?

Sangat banyak pengalaman yang saya  dapatkan waktu berada di Master Chef. Tapi dari sekian banyak yang ada, pengalaman yang tak terlupakan adalah bisa mengenal ketiga chef juri dan teman-teman yang berasal dari daerah yang berbeda-beda. Bagi saya, itu yang membuat banyak belajar mengenai karakter dan makanan tiap daerah.

Bagaimana hingga bisa tersingkir dari kompetisi itu?

Tantangan memasak otak kambing. Uh, bener-bener deh waktu itu saya langsung blank. Karena memang saya selain tidak pernah masak otak kambing, saya juga tidak pernah makan. Saya memang tak suka dengan otak kambing. Ketika saya mencium bau amis, saya semakin bingung mau diapain nih otak kambingnya. Waktu itu saya benar-benar belum bisa menguasai ketakutan saya dari otak kambing, dan akhirnya, yaahh.. saya tersingkir dan kalah dari kontestan lain.

Ada hikmah dari kekalahan itu?

Kita harus belajar menguasai ketakutan sendiri demi mencapai tujuan yang kita inginkan.

Keren..! kapan sebenarnya menyadari akan hobi memasak ini?

Sedari kecil, hobi saya memang dari kecil senang sekali memasak. Berawal dari membantu ibu di dapur untuk menyiapkan makanan keluarga.

Dan ketika mulai beranjak SMA saya mulai menemukan ritme memasak. Saya mulai bereksperimen dengan buku-buku masakan yang saya beli.

Ikut sekolah memasak juga?

Sebenarnya saya ingin ikut sekolah memasak, atau kuliah di jurusan Hubungan International, karena hobi saya selain masak, yakni jalan-jalan ke luar negeri, hahhaa.

Tapi orang tua memiliki pandangan lain tentang masa depan saya. Orang tua menganggap wanita lebih cocok untuk bekerja di kantor, menjalani karir normal. Akhirnya saya masuk Fakultas Ekonomi.

Pernah kerja kantoran?

Pernah, dulu sempat kerja kantoran. Tapi nggak betah, ya ujungnya balik lagi ke bisnis. Jualan kue online yang saya sudah tekuni dari jaman kuliah dulu.

Jadi Anda belajar memasak itu otodidak?

Benar banget, saya otodidak. Membeli buku-buku masakan dan berekseperimen sendiri. Mungkin jika ditanya siapa guru memasak saya, maka jawabannya adalah ibu saya haha..haha..haha

Siapa Chef Idola Anda?

Adriano Zumbo, chef spesialis cake dari Australia. Orangnya ramah dan berkarisma, membuat saya menjadikan dia sebagai salah satu referensi dalam memasak.

Ada juga Gordon Ramsay, saya juga suja, dia adalah seorang chef yang benar-benar mengawali karir dari nol, dan itu sangat  memotivasi saya yang punya jalur karir juga merintis dari nol.

Katanya, wanita yang cantik itu adalah wanita yang pintar memasak. Anda setuju?

Ha..haa..haa kasihan dong yang tidak pintar masak? Menurut saya definisi wanita cantik itu, bukan hanya pandai memasak, tapi juga wanita yang pandai membawa diri, tangguh, mandiri dan cerdas.

Apa harapan kedepan?

Semoga saya bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Bisa mengembangkan bisnis yang sekarang ini hingga menjadi lebih besar. Saya juga memiliki cita-cita mendirikan sekolah memasak. Saya percaya, if you can dream itu, you can do it.

 

Related News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Flag Counter

Copyright © 2018 ISEEBALI . All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri