i.huffpost.com

Please Forgive Me

Apakah Anda termasuk orang yang mudah memaafkan? Saya rasa itu adalah pertanyaan tersulit yang sanggup di jawab, karena kalau sebagian dari Anda menjawab “iya, pasti ada lanjutannya, seperti maafin sih ia, tapi lupa belum tentu, nah kan.

Lalu sebagian yang lain menjawab “tidak”, sudah pasti karena Anda tersinggung, terluka, terhina, patah hati, atau anek jenis emosi berat lainnya. Memaafkan memang sifat yang tidak mudah untuk di kuasai, sebab kalau itu mudah, Elton John tidak akan menulis lagu “Sorry, Seems To Be teh Hardest Words”.

Sebagai makhluk sosial yang pasti bertemu dengan banyak manusia, atau kondisi yang sering kali tidak sesuai dengan harapan kita, maka berikut adalah alasan mengapa kita harus mencoba “memaafkan”.

  1. Forgiveness Doesn’t Mean What Happened Was OK!

Ambil contoh suatu keadaan dimana kedua orang tua Anda bercerai dan Anda tahu itulah kondisi yang terbaik untuk mereka, namun dampaknya Anda di cap sebagai anak broken home, cari pacar pun sulit karena keluarga pacar mempermasalahkan latar belakang keluarga broken Anda, so langkah selanjutnya sudah pasti Anda membenci, mengapa keadaan itu terjadi pada Anda. Seperti teori kehidupan yang selalu kita baca, tidak semua hal ada dalam kendali kita, banyak hal yang justru tidak mampu kita atur, termasuk perubahan kehidupan. Anda batal promosi, gaji tak sesuai harapan, anak tak berhasil masuk sekolah teladan, sikapi saja kalau itu belum rejeki kita. Susah sih, tapi ya masa mau stres, marah terus, sesal terus. Please try to let go.

 

  1. Forgiveness Isn’t Always About Others

Anda pernah kecewa dengan atasan, begitu dendam sampai ke tulang rusuk. Pindah ke tempat kerja lain, Anda masih mengingat dan membahasnya dengan lingkungan baru, hallow. Bukankah kita semua pernah bertemu dengan orang-orang yang tak baik (menurut Anda), bukankah kita semua pernah dikecewakan orang, siapa pun mereka? Bukankah kita selalu dihadapkan pada keadaan yang men-challange ketabahan, kesabaran dan kebesaran hati kita? Yes, itu memang teori tapi please always be thankful for the bad things in life, why? Because they open your eyes to see the good things you weren’t paying attention to before, let’s move on dears.

 

  1. Forgiveness Isn’t About Ego

Memaafkan bukan soal siapa menang dan siapa yang kalah. Memaafkan bukan soal mencari siapa yang benar atau siapa yang salah. Memaafkan juga bukan soal I’m the Good One and Others the Loser. Memaafkan juga bukan soal gengsi, hanya karena Anda atasan, orang tua, suami, istri atau siapa pun tak perlu berkata “maaf”. Semua orang, di sekeliling kita bicara, mengkritik, berbuat, atau apapun tindakan mereka, tidak akan pernah sesuai dengan apa yang kita harapkan. Mereka punya gaya masingmasing, bahasa tubuh masing-masing, kebiasaan, sikap yang tentu saja mesti kita terima atau pahami. Kita lah satu-satunya orang yang mampu dan bisa mengontrol “pikiran”, apakah sikap seseorang itu memang ada point positifnya, mengembangkan kemampuan kita, mengingatkan apa yang sebelumnya tidak penting menurut kita, dan seandainya kita tiba-tiba menjadi sosok yang menyebalkan itu, jangan sungkan untuk berkata “maaf”. Jangan pernah berpikir bahwa berkata “maaf”, atau memaafkan akan merendahkan Anda, meruntuhkan harga diri, atau membuat Anda jadi terlihat loser. Hidup sudah penuh dengan drama, yakin Anda mau tambah dendam pribadi juga?

 

  1. Forgiveness is About Manage Yours

Tidak ada ilmu pengetahuan yang mengajarkan kepada kita bagaimana cara tabah, menerima, berlapang hati atau positif. Tidak ada juga ilmu pengetahuan yang mengajarkan kita bagaimana marah dengan cantik, berkata tanpa menyakiti, dan bersikap tanpa dikritik. Selama kita hidup, bekerja, berbuat dan berkata, akan selama itu juga ada orang-orang yang berkomentar, mengkritik atau mungkin berbuat tak baik.

Forgiveness is about you… Memaafkan adalah soal berkompromi dan menerima yang terjadi di sekitar kita bukan tanpa “perlawanan”, tapi sebaliknya mesti dengan kerja keras. Karena apapun yang terjadi, entah kebaikkan atau ketakberuntungan, adalah kesempatan lain yang dibuka untuk menunjukkan Anda, kita adalah pribadi yang bijaksana.

By : Ina Lestari

Related News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Flag Counter

Copyright © 2018 ISEEBALI . All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri