Business team

Politik & Generasi Muda

Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya, berikan aku 1 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.”

Soekarno Hasil sensus Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2010 lalu menunjukkan, bahwa rasio ketergantungan bangsa Indonesia hari ini menyentuh 51,31. Angka ini menunjukkan bahwa setiap 100 orang usia produktif (15-64 tahun) terdapat sekitar 51 orang usia tidak produkif dan belum produktif (>15 dan 65<). Itu artinya, beban tanggungan penduduk usia produktif saat ini relatif kecil, di mana 1 orang usia tidak produktif menjadi beban bagi 2 orang usia produktif. Inilah yang disebut dengan bonus demografi. Dan yang disebut dengan usia produktif, siapa lagi kalau bukan anak-anak muda Indonesia.

BKKBN mencatat jumlah penduduk usia muda di Indonesia sekitar 64 juta, atau 28% dari total jumlah penduduk Indonesia saat ini. Inilah alasannya, mengapa setiap kali pemilu berlangsung, anak-anak muda menjadi captive market bagi partai politik ataupun kandidat kepala daerah. Keberhasilan mereka memenangkan pemilu, bergantung pada kemampuan merangkul pemuda.

Jika bicara sejarah, Indonesia dengan gerakan pemudanya boleh berbangga, karena sejumlah revolusi di negeri ini di gawangi oleh mereka. Mulai dari Budi Oetomo, Sumpah Pemuda, Proklamasi dan juga pergerakan masif di tahun 1998, ketika mahasiswa adalah motor dari reformasi ketika itu.

Namun kini, persoalannya agak berbeda. Dunia politik kita dipenuhi oleh kaum tua. Pemuda hanya menjadi primadona ketika pemilu tiba. Ada pula anggapan bahwa anak muda masih bau kencur, awam, mudah emosi karena usia yang belum matang, sehingga harus duduk di bangku cadangan. Dan sejak fenomena bubble dot com terjadi di Amerika, yang kemudian menjalar ke Asia, antusiasme anak-anak muda terhadap politik semakin rendah, dan ini semakin menguatkan pandangan bahwa kaum muda di Indonesia belum siap memimpin negeri ini. Penelitian yang dilakukan Kompas pada tahun 2011 menunjukkan, bahwa sikap generasi muda adalah kurang perhatian pada masalah-masalah nasional (57,4%). Kompas juga mencatat hanya 20% generasi muda menganggap kepentingan nasional merupakan agenda mereka, dan sebanyak 63% generasi muda lebih berorientasi kepada diri sendiri.

Padahal, sebagai tulang punggung bangsa kedepan, ketidaktahuan mereka akan dunia politik bisa berbuntut pada stabilitas masa depan bangsa. “Semua aspek kehidupan kita ditentukan oleh politisi, jadi untuk tidak peduli politik, sama aja tidak peduli dengan diri sendiri, makanya kalau kita mau negara kita baik dan nyaman, untuk kita dan untuk yang lain, harus mau peduli politik, nanti yang kena dampaknya kalau nggak peduli politik, ya kita juga,” ujar Pandji Pragiwaksono dalam wawancaranya kepada kami.

Itulah sebabnya sangat penting untuk mengedukasi mereka agar tidak lantas apatis. Bagaimanapun juga, pandangan bahwa politik itu kejam, menghalalkan segala cara, penuh intrik dan korupsi, haruslah dihilangkan. Melalui politiklah anak-anak muda bisa mengetahui kondisi negara ini, karena instrumen politik masuk disemua aspek pembangunan. Dan bangsa ini akan berkembang lebih baik, jika kita tahu kondisi negara, dan tahu bagaimana cara menatanya. Mereka harus dapat pemahaman bahwa Politik adalah sarana membangun dan memperjuangkan nilai-nilai, yang nantinya akan menentukan nasib bangsa ini kedepan.

Related News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Flag Counter

Copyright © 2018 ISEEBALI . All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri