garmen terbaik

PT.Dianatina Ayu – The Biggest Local Garment from Bali with International Taste

Berawal dari sebuah toko garmen kecil di Kuta, kemudian berkembang menjadi perusahaan eksportir garmen terbesar di Indonesia, khususnya di Bali. Inilah sepak terjang PT.Dianatina Ayu yang melesat cepat menjadi perusahaan raksasa.

Di seputaran Tuban–Kuta, berdiri sebuah garmen lokal dengan daya eksportir yang cukup besar di Indonesia, yakni PT. Dianatina Ayu yang telah mengukir sejumlah prestasi. Dengan kondisi pabrik yang begitu luas ditambah jumlah SDM yang mencapai ratusan orang, produsen garmen yang telah berdiri sejak tahun 1983 ini senantiasa menciptakan berbagai pakaian berkualitas tinggi, baik untuk wanita hingga anak-anak.
Para penjahit andalan mereka bermain dengan bahan-bahan seperti Cotton Jersey, Rayon jersey, tenun kapas (poplin, twill), tenunan Rayon (Georgette, fujiette, sifon, linen), Cotton rayon jersey, Cotton lycra, Rayon Lycra, kain taslon, kain tenunan dan sutra. Mereka juga terampil dalam melakukan pekerjaan seperti menyulam, segala bentuk batik, cetak layar, cat tangan, pewarna, cetak digital, manik-manik, renda pada pakaian dan lain-lain.

“Semua produk dikerjakan di Bali, namun bahan-bahan kainnya diambil dari Surabaya, Bandung, Solo hingga Pekalongan” ungkap Direktur PT. Dianatina Ayu, Drs.Panudiana Kuhn, MM. S. Proses produksi garmennya pun memiliki cakupan yang begitu luas, mulai dari aktivitas pembuatan pola menggunakan desain di bantu komputer dan manual, grading, pengolahan kain, memotong, menjahit, label dan memeriksa kualitas, hingga kemasan untuk pengiriman. Tak perlu diragukan lagi dengan kualitas mesin yang mereka gunakan mampu menghasilkan produk dengan standar kualitas internasional.

PT. Dianatina Ayu hanya fokus dalam memproduksi pakaian yang berdasarkan made to order, tidak memproduksinya secara massal. Pelanggan biasanya datang dengan membawa desain rancangan busananya berikut dengan segala perencanaan seperti warna dan material kain yang diinginkan. Kebanyakan pelanggan Dianatina gemar memesan produk busana-busana kaum feminis terutama gaun dan dress santai. “Kalau pasar sedang tidak lesu seperti dulu, jika saya total dalam setahun bisa ada 100 ribu pesanan,” tutur Panudiana Kuhn.

Selama 31 tahun, PT. Dianatina Ayu telah melakukan kegiatan eksportir yang menembus pasar-pasar seperti Eropa, Amerika, Australia hingga Jepang.
Semuanya berkat kegigihan Panudiana Kuhn, PT. Dianatina Ayu berhasil mencapai titik keemasannya hingga terus berkembang menjadi sebuah perusahaan garmen yang diperhitungkan dalam skala nasional. Sebelum menjadi sebuah perusahaan PT. Dianatina Ayu, Kuhn memulai usaha garmennya dari sebuah toko pakaian jadi kecil di bilangan Kuta dengan nama Diana Butik Galeri pada tahun 1982. Kemudian toko kecil itu pun berkembang secara pesat hingga berubah status menjadi CV dan yang terakhir resmi berlabelkan PT.

Menurut pria yang memiliki latar belakang pendidikan bisnis perhotelan ini, untuk memulai usaha garmen yang ia kembangkan tersebut terbilang mudah dengan modal yang minim.

“Semua ini bisa dibilang peruntungan saja. Saya membuka usaha ini pun secara kebetulan tanpa perencanaan khusus sama sekali. Saya berdagang saja ini kebetulan, kalau dilirik profesi saudara-saudara di keluarga besar saya kebanyakan birokrat, polisi atau tentara. Saya satu-satunya yang jadi pengusaha” terang pria kelahiran Yogyakarta, 21 Juli 1952.

Sepulangnya Kuhn dari Jerman, Ia bersama istrinya Christina Kuhn pun memberanikan diri untuk mengadu nasib di Bali. Ayah dari dua orang putri dan seorang putra ini mengontrak sebuah hotel kecil yang mirip losmen selama 25 tahun di Kuta untuk disulap menjadi sebuah toko pakaian jadi, dan sekaligus sebagai tempat tinggal saat itu. “Saya masih ingat, toko cikal bakal PT.Dianatina Ayu itu berawal di Losmen Orti yang saya kontrak” sambungnya.

Pria yang memiliki hobi bermain golf ini memang sudah mewarisi bakat berbisnis dari keluarganya. Kuhn mengaku sering melihat rutinitas Ibu nya yang berdagang kecil-kecilan menjual kebutuhan rumah tangga. “Apalagi mertua saya. Ia juga seorang pedagang dengan usaha supermarket besar di Jerman” tambahnya.

Pria yang sempat tinggal di Jerman selama 3,5 tahun ini yakin bahwa selain kerja keras, peruntungan juga mengambil andil dalam pesatnya bisnis yang tengah ia jalankan. “Kita benar-benar tidak pakai konsep. Kita hanya perlu kerja keras, jujur dan tidak mengeluh. Serta sedikit peruntungan” ucapnya. Kuhn yang kini juga tekun menggeluti usaha properti ini menganggap PT.Dianatina Ayu lahir memang di waktu yang tepat. Saat pertama kali didirikan, posisi usahanya itu masih strategis. Masih sedikit orang yang bergerak dalam usaha garmen, apalagi eksport di tahun 80-an.

“Saat itu toko kami jadi yang the best. Banyak turis-turis yang datang ke toko dan melakukan pemesanan” kenangnya. Kuhn memang sengaja mengarahkan usahanya tersebut untuk memproduksi busana yang bersifat made to order. Ia tak berani memproduksi secara masal, karena baginya itu akan berhadapan dengan persaingan sengit dalam menjual sebuah brand produk.

“Selain tantangannya membuat laku sebuah brand. Tentu kita mesti punya setidaknya 50 toko untuk membuat brand ini sukses di pasaran. Kalau tidak, sulit untuk membuat stok sendiri” cetusnya dengan sedikit tawa. Namun kini, Kuhn mengaku tengah mengembangkan sebuah brand pakaian bersama putrinya, dimana brand tersebut bernama Paulina Katarina. Tak hanya sukses mengantarkan kejayaan pada PT.Dianatina Ayu, Panudiana Kuhn juga mendulang berbagai macam prestasi sebagai seorang pengusaha. Pada tahun 1991, beliau mendapat Penghargaan Upakarti dari Presiden Republik Indonesia di Jakarta. Di tahun 1994, beliau mendapat penghargaan Primaniyarta mewakili Provinsi Bali di bidang Perdagangan dari Presiden Republik Indonesia di Jakarta ditambah penghargaan sebagai pembayar pajak terbesar pun dikantonginya.

Kini, Kuhn memperlebar sayapnya di berbagai usaha. Berawal dari PT.Dianatina Ayu, Ia pun berinvestasi pada usaha-usaha lainnya semisal Dianasurya Ratna Cargo, Diana Villa, Istana Ratna Hotel dan lain-lain.

“Sekarang saya fokus di properti dan untuk ke depannya saya akan menambah pembangunan hotel tipe boutique di daerah Kuta” pungkasnya sambil menutup wawancara bersama Money & I.

Related News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Flag Counter

Copyright © 2018 ISEEBALI . All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri