evie-suyadnyani

Putu Evie Suyadnyani – Back To Classic

“ Ada sensasi yang lebih, ketika saya membawakan Legong klasik. Hal itu terutama bisa saya rasakan saat pentas dengan diiringi musik gamelan klasik Bali yang bernama Semara Pegulingan atau pun Pelegongan”.

Di saat orang-orang Bali semakin gandrung dengan seni tradisi yang bersifat kontemporer, Putu Evie Suyadnyani memilih untuk menekuni kesenian Bali klasik. Bersama suaminya berdarah New Zealand Vaughan Hatch, perempuan berkulit eksotis ini mendirikan sanggar seni bernama Mekar Bhuana. Bukan seperti sanggar seni pada umumnya, Mekar Bhuana mengawal misi khusus dalam hal pelestarian, rekonstruksi sekaligus dokumentasi terhadap seni tari dan gamelan klasik Bali yang hampir punah.
Evie, begitu sapaan akrab perempuan kelahiran 20 Mei 1982 ini telah cukup lama akrab dengan dunia tari, terutama Tari Legong klasik. Melalui Sanggar Mekar Bhuana, putri dari pasangan I Gede Suyadnya dan Ni Wayan Sukerti ini mencoba merekontruksi kembali beberapa jenis tari legong klasik yang hampir jarang dipentaskan di Pulau Dewata semisal Tari Legong Jobog dan Sisya Calonarang (diiringi gending Ngalap Base gaya Kuta). Tak hanya itu, ia juga membagi wawasan seni tarinya dengan mengajari orang-orang asing yang ingin mengenal tari Bali itu sendiri. Evie juga terjun membantu suaminya yang akrab dipanggil Von itu dalam meneliti serta merekontruksi seni musik Bali klasik seperti Semara Pegulingan, Pelegongan, Gender Wayang dan Selonding. Beberapa komposisi yang terbilang langka pun coba mereka bangkitkan kembali, meski dengan materi seadanya. Dari satu banjar ke banjar lain, dari satu panggung festival ke festival lainnya pula, Evie dan Vaughan seolah tak pernah patah arang dalam memberi inspirasi serta memperkenalkan kembali kesenian Bali klasik kepada masyarakat Bali kini.

Reporter M&I Magazine, Putra Adnyana mencoba menggali lebih dalam terhadap kontribusi serta sepak terjang Evie Hatch dalam mengembangkan Sanggar Mekar Bhuana hingga mampu menjadi sumber penghidupan bagi mereka dan pekerja seni di dalamnya. Berikut petikan panjang wawancaranya!
Bisa ceritakan awal ketertarikan Anda terhadap kesenian Bali klasik yang bersifat tradisi?
Sebelum saya terjun ke dunia seni musik Bali klasik, saya terlebih dahulu jatuh hati dengan seni tari. Tapi pada dasarnya sih sama saja, karena toh dulu saya memang lebih sering menarikan tari-tarian klasik, seperti Legong. Bagi saya, menarikan Tari Legong Kraton adalah fase puncak dimana saya bisa menemukan hakekat dari keindahan seni tari itu sendiri. Ada sensasi yang lebih, ketika saya membawakan Legong klasik. Hal itu terutama bisa saya rasakan saat pentas dengan diiringi musik gamelan klasik Bali yang bernama Semara Pegulingan atau pun Pelegongan. Beda ketika diiringi dengan iringan gamelan seperti Gong Kebyar yang tengah trend digunakan, nuansa klasik Semara Pegulingan atau Pelegongan begitu memikat. Saya juga tidak mengerti apakah ini semata-mata hanya pengaruh atmosfer klasik itu sendiri atau ada faktor lain yang mampu membuat pembawaan saya begitu luwes dan penuh penjiwaan ketika menarikan Legong. Legong mengajarkan saya untuk menari lebih ekspresif. Sama halnya dengan seni musik klasik Bali mampu membuat saya mengenali berbagai macam rasa ketika merasuk ke dalam permainannya.

Sejak kapan Anda mulai belajar menari Bali?
Saya sudah menari sejak umur 3 tahun. Saat itu, tante saya yang pertama kali memperkenalkan seni tari Bali itu sendiri kepada saya. Saya belajar banyak dari beliau. Bahkan di umur saya yang baru menginjak 4 tahun sudah diajak dan dipercayakan oleh tante saya untuk ikut pentas dari satu panggung hotel ke hotel lainnya. Dari sana saya belajar untuk menjadi penari professional. Masih ingat waktu kecil, walaupun hanya dibayar seribu hingga dua ribu rupiah, saya sudah cukup puas dan bangga mendapatkan pengalaman tersebut. Passion ini pun akhirnya terbawa hingga sekarang. Di Mekar Bhuana yang saya kelola bersama suami ini, saya bisa berbagi pengetahuan tentang tari Bali dengan orang-orang dari berbagai belahan dunia. Kini, saya memang fokus dengan pelestarian kesenian Bali klasik yang salah satunya adalah tarian. Dengan memberikan pengenalan sekaligus workshop, saya harap bisa melestarikan seni tari klasik yang ada di Bali.

Apakah kecintaan Anda hanya terbatas pada seni tari dan seni musik yang bersifat tradisi saja?
Nggak tahu kenapa dari kecil hingga sekarang, saya selalu mengaitkan segala suatu hal dengan seni. Tidak hanya seni tari dan seni musik, saya juga sempat mencicipi seni sastra dan macepat. Saya pernah juara satu baca puisi dan juara macepat gending pupuh dalam ajang Utsawa Dharma Gita saat masih di bangku SD dan SMP. Aneh, padahal saat itu saya sangat pesimis untuk mengikuti kompetisi apalagi mewakili sekolah. Namun guru saya saat SD merayu saya agar mau dan berjanji untuk membina, katanya seorang penari itu biasanya bersuara bagus dan juga harus pintar mupuh atau nembang. Karena saya memang suka mempelajari hal baru, maka hal itu secara tidak langsung menjadi motivasi untuk saya. Waktu zaman kuliah, saya juga kecemplung di dunia tarik suara. Saya mengambil kerja sambilan sebagai penyanyi dari untuk hotel ataupun kafe dengan teman-teman band. Ketertarikan saya terhadap seni tari juga tidak hanya terbatas pada seni tradisional. Sejak umur 4 tahun saya sudah menciptakan gerak tari modern bahkan diiringi lagu cinta ha ha ha. Sekarang ini, saya tengah mempelajari Tari Salsa bersama rekan-rekan saya.

Bagaimana cikal bakal lahirnya Mekar Bhuana itu sendiri?
Saya dan Vaughan mengarahkan Mekar Bhuana sebagai pusat rekontruksi dan dokumentasi untuk kesenian Bali klasik, dimana memfokuskan pada seni musik dan tari klasiknya itu sendiri. Sebelum kami bertemu, Mekar Bhuana hanyalah sebuah kelompok musik gamelan kecil yang didirikan oleh Vaughan bersama rekan-rekan Balinya sekitar tahun 2000. Saat itu jumlah anggotanya hanya 25 orang. Kami pertama kali bertemu di Yayasan Hotel Tanjung Sari Sanur. Saat itu ada latihan rutin grup Pelegongan di yayasan dan dia sedang meneliti kesenian yang ada di sana. Semenjak pertemuan itu, kami pun saling membantu dan melengkapi. Saya kagum dengan Vaughan yang menaruh perhatian terhadap seni klasik Bali. Tidak sekadar memainkan saja, tapi juga melakukan penelitian terkait musik Bali klasik. Kemudian, bisa dibilang saya pun secara tak sengaja ikut akhirnya terlibat dalam membantu Vaughan untuk mengurus segala keperluan grup Mekar Bhuana saat itu.

Dari kelompok musik gamelan yang kecil bisa di-manage menjadi ruang berkesenian secara professional seperti sekarang, bahkan menjadi sumber penghidupan. Boleh tahu bagaimana prosesnya?
Mesti saya akui bahwa hidup dari berkesenian itu tidaklah mudah, apalagi yang berkaitan tentang tradisi dan klasik seperti ini. Saya dan suami benar-benar mencurahkan dedikasi kami secara penuh di Mekar Bhuana. Orang-orang di sekitar saya seringkali bertanya bagaimana kalian bisa hidup dengan melakukan hal yang seperti ini. Apalagi kalian punya tanggungan keluarga. Tapi saya tetap optimis bahwa kami bisa kok hidup dengan hanya mengikuti passion kami ini. Kemudian munculah ide untuk menata manajemen Mekar Bhuana agar lebih baik dan fokus pada tahun 2004. Musisi memang nggak bisa hanya hidup dari berkesenian saja, meski itu menjadi passion utama mereka. Oleh karena itu saya dan suami pelan-pelan mulai mencari jalan penghidupan dari passion ini. Saya yang lebih concern dalam hal manajemen, sementara suami lebih fokus dengan kegiatan pelestarian dan penelitian seni klasik tersebut.

Namun sesungguhnya, kami saling membantu. Kebetulan suami saya mempunyai cukup banyak networking, sehingga memuluskan jalan kami untuk lebih intens tampil di berbagai pertunjukan seni di hotel-hotel. Bahkan kami juga sempat pentas ke Singapura, Hongkong dan Shanghai. Kebetulan saya juga punya latar belakang administrasi dan manajemen di bangku sekolah perhotelan, sehingga sedikit tidaknya mampu membantu saya untuk me-manage Mekar Bhuana.

Banyak yang mungkin pesimis dengan posisi perempuan sebagai seorang leader, namun saya tetap berkomitmen untuk bisa memimpin kelompok ini menjadi lebih baik.

Lantas bagaimana tanggapan keluarga besar dengan jalan yang kalian pilih sekarang?
Beruntung kami punya keluarga dengan perhatian yang besar, baik keluarga saya maupun keluarga suami saya yang memberikan banyak dukungan kepada kami. Mereka mengerti dengan langkah kami dan cukup bangga bahwa kami dapat mencari penghidupan lewat passion yang tengah kami geluti. Bahkan mereka juga sempat ikut dalam salah satu pementasan kami. Seperti yang pernah kami lakukan di gelaran Bali Spirit Festival 2013 lalu, dimana kami bersama keluarga besar saya mementaskan permainan instrumen Selonding yang begitu langka itu di Bali.

Bisa ceritakan permainan musik Bali klasik yang khas dibawakan oleh kelompok Mekar Bhuana setiap kali pentas?
Permainan gamelan Bali khas di Mekar Bhuana itu lebih menekankan pada classical art form orchestra seperti Semara Pegulingan dan Pelegongan, dimana keduanya dimainkan oleh 25 orang dalam satu orkestra. Bahkan permainan tersebut sempat dibawakan oleh tim Mekar Bhuana di Singapura. Dua permainan tersebut, terutama Semara Pegulingan masih terbilang langka dimainkan di Bali. Karena sifatnya yang klasik dan pembawaanya yang halus, maka perlahan-lahan generasi Bali yang sekarang pun meninggalkannya. Mereka lebih tertarik memainkan gamelan Gong Kebyar yang terbilang lebih bebas dan mudah dimainkan. Selain kedua jenis karawitan tersebut, kami juga tengah fokus melestarikan permainan Selonding yang hanya dipentaskan di tempat-tempat tertentu di Bali.

Apakah ada terobosan lainnya yang Anda lakukan demi mengoptimalkan Mekar Bhuana?
Selagi muda, tentu banyak ide segar yang dapat saya kembangkan bersama suami di sini. Tercetuslah ide untuk membuat mekarbhuana.com, sebuah online store pertama di Bali bahkan Indonesia yang khusus menjual segala kelengkapan alat musik gamelan serta kostum tari Bali bahkan juga produk-produk terkait seperti buku, CD ataupun DVD. Selain memang karena trend belanja online itu sedang booming, kami awalnya memang menargetkan pangsa pasar dari luar. Luar ini bukan berarti hanya untuk pangsa pasar orang asing. Karena kami melihat ada gejala bahwa sekarang banyak orang Bali yang ketika menetap di luar negeri terpaksa harus menari atau memainkan gamelan Bali. Ya, bagaimana pun juga orang luar pasti selalu menganggap image orang Bali itu semuanya pintar menari, tapi kenyataannya nggak semua orang Bali itu bisa nari kan? Lalu masalah berikutnya adalah mereka harus pulang jauh-jauh ke Bali untuk membeli pakaian atau perlengkapannya dan belum tentu titip dengan keluarga atau teman yang dititip mengerti dan tahu dimana mencarinya. Untuk itu kami ingin membantu mereka, kebetulan saya sendiri tahu banyak tempat-tempat pengrajin kostum tari dan gamelan di Bali. Jadi kami juga turut memberikan kesempatan kepada para pengrajin tersebut untuk memajang karya-karya mereka di website kami. Bahkan kami memajang nama mereka di masing-masing koleksinya sebagai bentuk apreasiasi kami terhadap karya mereka tersebut. Jadi online store ini bukan untuk kepentingan kami semata, tapi kami juga ingin membuka peluang pasar yang lebih besar untuk seniman/pengrajin Bali. Oh ya, saya masih ingat dulu ada beberapa orang asing yang memesan CD/DVD Tari Bali dari kami lewat email Mekar Bhuana. Kami pun melihat ini sebagai salah satu alasan untuk memulai online store ini.

Seberapa signifikan pengaruh Mekar Bhuana Gamelan & Dance Online Store tersebut terhadap kegiatan berkesenian kalian?
Berkat adanya Mekar Bhuana Online Store ini juga sangat membantu dalam kelangsungan kegiatan berkesenian kami disini. Saya anggap online store ini sebagai model charity, dimana sebagian dari pemasukannya, saya dan suami salurkan untuk membayar pengajar hingga konsumsi para pemain saat latihan. Selain itu, keberadaan online store ini juga merupakan support untuk para pengrajin yang mungkin belum terlalu mampu untuk memperkenalkan produknya lebih luas ke publik. Maka, website kami berusaha untuk mengetalasekan karya-karya mereka dan sekaligus mem-branding nama mereka ke luar negeri. Online Store ini baru jalan dari tahun 2010, sempet jatuh bangun dan akhirnya bisa maksimal hingga sekarang. Kita nggak punya staff, semaksimal mungkin kami kerjakan berdua selagi kami bisa. Ya kantor kami, ya di rumah kami sendiri.

Selain pelestarian dan rekontruksi kesenian Bali klasik, apakah ada kegiatan lainnya yang ditawarkan oleh Mekar Bhuana?
Di sini kami punya studio yang terbuka bagi siapapun yang ingin belajar tari maupun gamelan Bali klasik. Nggak cuma orang asing, orang lokal pun boleh belajar kemari. Tapi memang kebanyakan yang kesini memang belajar serius ataupun ingin mendalami. Kami punya workshop group bagi mereka yang datang dengan kelompoknya seperti itu atau pun secara private. Banyak dosen dan seniman luar negeri yang datang kemari untuk menimba ilmu. Kebanyakan dari mereka tahu program ini dari website kami. Bahkan saya juga mengajarkan tari secara online, dimana biasanya saya dan murid saya melakukan itu lewat bantuan Skype.

Sebagai sebuah wadah pelestarian seni klasik Bali, apakah Anda dan suami tidak berniat mencari dana ke pihak pemerintah atau pun LSM?
Ya, kami juga berusaha mencari funding ke luar, tapi memang hal tersebut bukanlah prioritas utama kami. Karena untuk cari funding itu sangat sulit, baik dari pemerintah, swasta maupun LSM. Tapi kami bersyukur karena sempat mendapatkan pendanaan dari beberapa LSM, meski tak mampu untuk support kami dalam jangka panjang. Saya dan Von sudah berkomitmen selagi kita bisa mandiri dalam melestarikan seni Bali klasik ini, kami akan tetap berjuang untuk itu. Funding bukanlah jalan satu-satunya. Seperti yang kami sebutkan di atas, kami memaksimalkan online store, workshop dan lesson untuk mendapatkan pemasukan demi kelancaran kegiatan berkesenian kami. Beberapa dana yang grup kami peroleh dari kesempatan tampil di luar negeri pun, kami manfaatkan untuk kegiatan perekonstruksian dan pendokumentasian dengan memproduksi CD dan DVD sehingga masyarakat Bali tidak hanya dengan mudah dapat menikmatinya tetapi secara tidak langsung ikut menyumbang mendanai kegiatan kami, sehingga kami pun tetap berjalan secara sustainable.

Bagi beberapa orang, dokumentasi ini sangat penting untuk dipelajari dan diketahui, karena pertunjukannya pun memang masih sangat minim ditemukan di Bali dewasa ini. Sekarang, kami juga bernaung dibawah Yayasan Selonding Bebandem, dimana juga turut mendukung hasrat kami dalam salah satu project pelestarian musik Selonding.

Apa target ke depan yang ingin dicapai Evie bersama Mekar Bhuana?
Saya dan suami sudah berkomitmen untuk mendirikan Mekar Bhuana demi mengeksiskan kembali kesenian Bali klasik yang sudah tidak populer lagi ke tengah masyarakat kita. Kita berusaha untuk melestarikan dan memperkenalkannya kembali kepada anak-anak muda Bali. Kami berharap Mekar Bhuana dapat menjadi sebuah pusat dokumentasi untuk seni musik dan tari klasik Bali yang hampir punah. Dengan inilah kami ingin berkontribusi untuk kesenian Bali. Saya pun masih optimis bahwa dedikasi kami yang seratus persen terhadap kesenian klasik Bali mampu mencukupi kehidupan kami untuk seterusnya. Kami ingin mematahkan persepsi umum yang menganggap orang tidak bisa mencari penghidupan dari berkesenian.

Related News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Flag Counter

Copyright © 2018 ISEEBALI . All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri