rangga umara

Rangga Umara – Viva Indonesia’s KING OF LELE

Mempopulerkan produk lewat Twitter juga merupakan salah satu strategi yang diambil oleh Rangga Umara, pria yang kini dijuluki raja lele ini membangun restoran Pecel Lele Lela-nya dengan tertatih, namun kini cabangnya sudah dibuka hingga manca negara.

Kini Lela tak hanya berhasil menerbangkan sayapnya ke pelosok nusantara, bahkan hingga ke mancanegara.
Terhitung ada 80 cabang lebih dan akan terus bertambah. Omsetnya pun nggak tanggung tanggung, mencapai 8 milyar per bulannya. Di tangan suami Siti Umairah ini, bisnis ‘recehan’ pun disulap menjadi bisnis beromset miliaran. Namun semua kesuksesan tersebut tidak dicapainya dalam waktu singkat, apalagi dengan jalan yang mulus. Twitter adalah salah satu media yang getol digunakannya untuk pemasaran. Pria yang pernah bekerja sebagai marketing communication ini pun membagi pengalamannya kepada reporter Money & I Magazine, Putra Adnyana. Berikut wawancaranya.

Mengapa Anda tertarik untuk terjun sebagai entrepreneur?
Semuanya berawal dari PHK. Sebelum di-PHK saya memang sempat menggeluti bisnis ini sebagai sampingan, namun tidak terlalu fokus. Nah, momen puncaknya saat tempat kerja saya dulu itu memasukan saya dalam daftar orang-orang yang akan di PHK. Lalu saya pikir, kalau ngelamar kerjaan lagi, kerja sama orang lagi, pasti ujung-ujungnya bakal kena PHK lagi. Jadi saya pun memutuskan untuk membuka usaha sendiri saja. Tanggungan saya banyak karena sudah berkeluarga, namun saya tetap nekat untuk berwirausaha. Buat saya, hanya dengan berwirausaha adalah satu-satunya jalan untuk bisa menjadi kaya. Kalau jadi karyawan dulu kayaknya lama bakal kaya.

Kenapa Pecel Lele?
Saya melihat peluang ini ketika saya men-survey ke warung-warung pecel lele yang pada umumnya bertendakan biru bergambar lele dan binatang laut lainnya itu. Setelah merasa yakin tentang prospek bisnis kuliner ini, saya pun membuka warung pecel lele di Pondok Kelapa, Jakarta Timur dengan modal 3 juta rupiah. Sayangnya keberuntungan belum berpihak pada saya. Saya bahkan harus nombok saat itu. Saya baru tahu penyebabnya adalah lokasi yang kurang strategis, makanya selalu sepi pengunjung. Ini adalah hari-hari yang paling berdarah buat saya.

Saya memang belajar bisnis secara otodidak dan seadanya, mungkin ada hal-hal yang belum saya kaji lebih sebelum mendirikan warung tersebut. Modal saya makin menipis. Saya pun bertekad untuk mencari partner, namun sayang hasilnya nihil. Entah apa yang membuat saya nekat lagi, saya pun mencoba mencari lokasi yang lebih strategis. Kemudian gerai baru pun saya buka dengan nama Lela. Lela ini akronim dari Lebih Laku atau Lebih Laris maksudnya, hehehe.

Apakah kemudian berjalan sesuai ekspektasi Anda?
Masih saja ada cobaan. Di awal-awal saya buka, satu gerai Pecel Lele Lela itu sendiri baru menghasilkan keuntungan bersih sampai Rp 3 juta. Namun, karena banyaknya pengeluaran kecil, keuntungan itu pun tak terasa. Keuangan keluarga malah minus. Pernah sampai saya nunggak bayar kontrakan rumah dan diusir. Sampai-sampai mertua pun menegur saya karena dianggap tidak mampu membahagiakan istri dan anak. Di sanalah saya terpukul. Saya mengevaluasi kembali seluruh usaha saya. Saya pun membenahi sistem manajemen Lela. Beruntung saya bertemu dengan salah seorang teman lama yang bekerja di sebuah waralaba internasional bidang ayam goreng. Dia memberikan banyak saran untuk saya. Di sana saya baru tahu, kalau satu cabang belum untung, jangan takut buka cabang lain. Satu cabang tidak untung kan bisa ditopang oleh cabang yang lainnya. Cabang yang rugi itu bisa saja disebabkan oleh lokasi, orang-orang di cabang tersebut, dan lain sebagainya. Bisa jadi cabang yang rugi akan ditopang cabang lain. Kini saya sadar bahwa kunci membuka usaha adalah manajemen yang efektif.

Apa tantangannya berbisnis kuliner seperti Lele ini?
Nggak gampang membuka usaha kuliner. Apalagi pecel lele, sekarang pemainnya banyak. Dimana-mana ada warung pecel lele dan rata-rata menunya sama. Kalau tidak bisa berinovasi, susah jadinya. Oleh karena itu, saya mencoba membuat hal yang berbeda. Saya mencoba menghadirkan kreasi baru dari olahan ikan Lele, seperti membuat fillet Lele dengan saus kreasinya. Saya beri sampel ke pengunjung, ternyata responnya positif. Apalagi setelah diliput media, orang-orang makin penasaran dengan kreasi menunya.

Ini yang membedakan pecel Lele Lela dengan pecel lele di pinggiran jalan. Lela memiliki tempat yang jauh lebih bersih dan nyaman. Jadi jangan heran kalau harga lelenya tidak seperti pecel lele di pinggiran. Namun, dengan harga segitu sebanding kok dengan rasa dan kenyamanan yang didapat.

Logo Pecel Lele Lela sendiri pernah dianggap menjiplak logo dari franchise coffee shop Internasional karena kemiripannya. Bagaimana tanggapan Anda?
Buat saya kreatifitas tidak harus orisinil. Bisa juga meniru tapi dengan konsep yang berbeda alias dimodifikasi. Logo Lela sendiri memang sempat dikritik karena mirip dengan waralaba coffee shop Internasional terkenal itu. Tapi akhirnya ketika dipatenkan, Lela menang karena memang beda konsepnya, bisa dilihat ada tanda bintang dua di kanan dan kirinya.

Bikin usaha yang brand new itu susah. Banyak teman saya yang ingin ke arah sana dengan konsep ribet, tapi ujung-ujungnya nggak mulai juga usahanya. Kalau saya tinggal fokus dengan komoditi lele ini, tinggal disulap jadi fillet dan dilumuri aneka bumbu lezat, praktis kan.

Sejauh ini bagaimana keuntungan yang diperoleh mitra-mitra Anda tersebut dari Lele-Lela?
Kelebihan kita itu adalah produk bahan baku kita murah. Bahkan omset di bawah 50 juta pun masih surplus, asalkan nggak minus. Sejauh ini kita bisa pastikan, mitra-mitra Lela nggak ada yang minus. Kalau minus mungkin sudah putus. Yang di Kuta, Jalan Blambangan ini pun awalnya hanya tes market saja, dan harga sewa tempatnya sangat mahal di sana, hampir 20 juta per tahun.

Bagaimana treatment Pecel Lele-Lela terhadap para pelanggannya?
Bagaimana bisa memberi manfaat bagi customer dan karyawannya sendiri. Dan terutama ialah selalu memberikan yang terbaik. Bagaimana kita bisa memberikan pelayanan terbaik serta tulus kepada customer, itu yang terpenting. Di Bali pun begitu kita terapkan. Ketika customer datang, kita harus melayani mereka dengan hati sehingga mereka akan merasa senang dan nyaman. Kita memang merencanakan setiap 3 bulannya, kita bikin menu baru. Idenya bisa dari mana saja. Bisa dari menu-menu favorit restoran, kemudian kita apply-kan ke Lele-Lela, atau darimana saja.
Saat ini sudah ada berapa cabang Pecel Lele Lela?
Sudah ada 80-an cabang, dengan omzet 8 milyar. Di Bali sendiri ada 2 cabang yang sudah jalan, dan ini sekarang sedang dalam proses pembukaan yang ketiga, rencananya nanti buka di Tabanan.

Ada keinginan untuk membuka usaha diluar bidang kuliner?
Pasti ada keinginan untuk membuat hal yang lain. Namun saya lebih memilih untuk fokus pada yang telah saya kerjakan terlebih dahulu. Membuka usaha itu kan sama seperti kita membesarkan anak. Jadi kita belum bisa melepaskannya tanpa pengawasan. Namun ada masanya dimana ini akan tumbuh dan mandiri dengan sendirinya. Mungkin keinginan-keinginan yang lain saya pendam dulu sampai menemukan momen yang pas untuk merealisasikan hal tersebut.

Anda sering diundang ke seminar-seminar wirausaha. Bagaimana awalnya?
Wah saya lupa. Itu mungkin gara-gara banyak yang tahu saya dari Twitter jadi sering diundang ke acara kampus-kampus sebagai pembicara. Saya mah bukan motivator, cocoknya provokator, hehe!
Ceritakan soal buku Anda, Dreambook?
Saya bikin buku setelah saya mendirikan Pecel Lele-Lela. Proses pengerjaannya setahun. Awalnya dari Twitter, kemudian masuk ke blog. Nah, saat itulah kepikiran untuk dibukukan. Ini pun karena dapet tawaran oleh penerbit.

Bisa ceritakan apa yang Anda tulis dalam buku Dreambook tersebut?
Buku itu berisi tulisan-tulisan tentang impian yang saya raih. Segala obsesi, ambisi dan pencapaian-pencapaian yang selama ini saya wujudkan. Di buku ini saya juga menuliskan segala keinginan saya untuk bisnis ke depannya, seperti konsep, target dan keuntungannya. Menulis semua ini memang terlihat sepele, tapi sesungguhnya ini adalah media yang efektif untuk memacu semangat dan menumbukan hal-hal positif dalam diri kita

Kalau Pecel Lele-Lela sendiri di timeline Twitter-nya sering membahas apa? Apa promosi melulu?
Ya, Lele-Lela juga aktif di Twitter sebagai salah satu langkah online marketing kami. Twit-twitnya juga lebih bersifat informatif dan motivatif, seperti memberikan tips-tips bisnis atau quote motivasi menarik.

Apa target atau harapan Anda terhadap Pecel Lele-Lela ke depannya?
Targetnya 15 outlet per tahun. Jadi di Indonesia 15 dan Malaysia 15 jadi ya ada 2 negara totalnya 30 outlet.

Berarti yang sudah running yang di Malaysia ya, bagaimana respon mereka terhadap Lela?
Kehadiran Lele-Lela di Malaysia direspon amat baik, mungkin karena rasanya mau melebur dengan selera masyarakat di sana. Untuk tampilan restorannya sendiri yang disana sudah terbilang wah. Kalau Singapura belum sih, tapi nanti akan merambah ke sana. Rencananya memang yang di Singapura nggak kita bikin franchise, tapi kita kelola sendiri.

Related News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Flag Counter

Copyright © 2018 ISEEBALI . All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri