DSC_0042

Ratna Dewi Katarina Panudiana Kuhn – Tampil Berani Usung Merek Sendiri

Adalah Paulina Katarina, gabungan dari nama tengah dua putri pengusaha garmen ternama di Indonesia, Panudiana Kuhn yang terangkai menjadi sebuah nama local brand fashion berkelas Internasional. Semenjak diluncurkan pada tahun 2012, Ratna bersama saudarinya Surya ayu percaya diri memperkenalkan produk fashion wanita berlabel Paulina Katarina di tengah gempuran merek fashion asing raksasa.

Kehadiran Paulina Katarina sekaligus menjadi inovasi segar yang disuntikan Ratna dan Surya ayu untuk mendukung usaha garmen keluarganya berbendera PT. Dianatina ayu. Ya, keduanya memang diberi kepercayaan penuh untuk meneruskan usaha garmen rintisan orang tuanya sejak tahun 1983 tersebut. PT. Dianatina ayu sendiri berkembang menjadi salah satu eksportir garmen terbesar di nusantara. Selama 31 tahun, Panudiana Kuhn membawa perusahaan tersebut menembus pasar-pasar dunia seperti eropa, amerika, australia hingga Jepang.

Melihat segala pencapaian yang telah diukir oleh perusahaan orang tuanya selama bertahun-tahun tersebut, Ratna dan Surya ayu bertekad untuk terus melebarkan eksistensi dari perusahaan yang dulunya berawal dari sebuah toko pakaian jadi kecil di bilangan Kuta dengan nama Diana butik Galeri pada tahun 1982. Sebagai generasi kedua, Ratna dan Surya ayu ingin PT. Dianatina ayu tidak sebatas hanya menjadi eksportir garmen, tetapi juga mampu memproduksi lini pakaian dengan merek sendiri. Selain merilis label pertama, sepanjang satu dekade menahkodai perusahaan orang tuanya tersebut, keduanya juga sukses mengantarkan PT. Dianatina ayu Garment untuk meraih penghargaan Primaniyarta 2012 Kategori UKM ekspor.

Merek Paulina Katarina sendiri bermain di pangsa pasar premium fashion wanita, di mana produknya tersebar di 11 butik di seputaran oberoi, Kuta, Seminyak, nusa Dua, Canggu dan Ubud. Tak hanya di dalam negeri, brand ini juga diekspor ke SIngapura dan australia. Sistem bisnisnya pun dirancang secara konsinyasi dan wholelesale (beli putus). Selain bergerilya dari satu butik ke butik lain, Paulina Katarina juga bergerak di ranah online e-commerce.
Money & I Magazine berkesempatan mewawancarai Ratna Dewi Katarina Panudiana Kuhn di sela kesibukannya dalam mengontrol pabrik garmen serta workshop brand Paulina Katarina. bertempat di kantornya di Griya anyar Kuta, perempuan kelahiran 18 april 1988 ini pun berbagi tentang pengalamannya dalam pengembangan brand usahanya dan garmen keluarganya ke tingkat yang lebih lanjut. berikut petikan panjangnya!

Apa yang membuat Anda tertarik untuk membangun brand fashion baru diluar dari usaha garmen keluarga Anda?

Memang, untuk garmen-nya sendiri sudah lama. Ini awalnya usaha orang tua yang didirikan sejak 30 tahun lalu. Kebetulan, saya dari kecil tumbuh bersama lingkungan garmen ini dan sering bantu-bantu di sini. Kalau lagi liburan sekolah, pasti saya dan kakak selalu menyempatkan diri untuk bantu bisnis garmen orang tua. Waktu dulu, pabrik garmennya juga sebelahan sama rumah kami, jadi sudah biasa buat kami main-main ke sana. lalu saat kakak saya selesai kuliah lebih dulu, ia memutuskan pindah ke bali dan full time di garmen. Dia sudah 7-8 tahunan fokus di sini.

Kalau saya sendiri waktu selesai kuliah S-1, langsung kerja di kargo dan diberi tanggung jawab untuk jadi direkturnya di sana. namun saya harus balik lagi ke Melbourne untuk lanjut S-2. Usai dari kuliah S-2 dan kembali ke bali, saya dan kakak punya ide untuk membuat brand sendiri, karena margin usaha kan sudah semakin kecil ya kalau hanya mengandalkan ekspor. Perusahaan garmen kita itu awalnya seratus persen ekspor ke amerika, australia dan eropa (Jerman dan norwegia). Tapi, juga karena UMK semakin tinggi dan bali fokusnya lebih di industri pariwisata, membuat biaya kita juga semakin meningkat. Kebanyakan klien kita itu produksinya bukan di Indonesia saja, dia juga produksi ditempat lain seperti Cina, Vietnam, Pakistan atau bangladesh. Jadi kalau misalnya ada kenaikan harga di Indonesia, dia gampang lepas dan pindah ke negara lain.

Apakah itu berarti sulit menemukan klien untuk garmen dan membuat brand baru itu solusinya?

Sebenarnya klien masih banyak kita dapatkan, tapi saat kita ketemu, pasti harga yang dijadikan masalah. Katanya harga terlalu tinggi. belum lagi biaya listrik dan upah yang naik setiap tahun, jadi memang biaya produksi kita jadi ikutan tinggi. Dan apabila bukan harga, pilihan varietas kain juga sering dipermasalahkan oleh customer kami. Cina memang lebih inovatif dalam memproduksi kain, pilihannya begitu beragam. Untuk customer kami yang memang juga sudah banyak produksi di Cina, lebih masuk akal untuk langsung produksi disana dibandingkan import kain ke Indonesia, mana biaya dan mengurus bea cukai juga lumayan ribetkan di Indonesia.

Maka dari itu, saya dan kakak sebagai generasi kedua lantas berpikir bagaimana caranya supaya bisa bertahan dan berkembang. akhirnya kita putuskan untuk bikin brand sendiri. Di awal kami hanya coba-coba saja, kita tidak mempunyai rencana bisnis yang jelas, kami coba menjalankan saja dan mulai berkembang secara organik. Rencana awal fokus jual ke buyer diluar negeri saja, dan tidak terlalu memikirkan potensi di dalam negeri.

Berarti sebelumnya Dianatina Ayu belum memproduksi brans fashion sendiri?

Ya, Dianatina ayu sebelumnya hanya memproduksi brand orang lain. Kita belum punya brand sendiri dan kita cuma produksi saja. Klien yang kasih desainnya, terus tim kami yang buat sampelnya dan langsung produksi. Kita sama sekali enggak ada input untuk segi kreativitasnya. Mungkin karena saya juga dari kecil sering mainmain di garmen, bolehlah bisa dibilang kreatif. Sudah bisa bikin baju sendiri dan diberikan ke teman-teman waktu itu.

Dari dulu ketertarikan terhadap fashion sudah sangat tinggi. Saya juga memang masih ingin melanjutkan bisnis orangtua. Mereka juga dulu berpesan jikalau kita anak-anaknya tidak mau lanjutin, akan tutup saja bisnis garmennya ini. Tapi kita berdua berkomitmen untuk lanjutin dan berpikir bagaimana caranya agar terus bisa tetap eksis. Kalau kita cuma rely terhadap ekspor dan produksi untuk brand orang lain, sepertinya sudah susah. Jadi, karena ketertarikan kita di fashion dan sudah berpengalaman lama disini, dan sudah bantu dari kecil, ya kita coba-coba saja dulu. Kalau kita enggak coba, bagaimana kita bisa tahu, karena kita sebelumnya kan belum pernah bikin brand fashion sendiri.

Pada awalnya di tahun 2012 kita nitipnitip saja dulu di toko-toko teman yang di Seminyak dan oberoi. lalu kita dapat tawaran dari toko di Singapura, karena ternyata buyer-nya menemukan brand kami di salah satu toko di seminyak. Sampai sekarang setiap season mereka pasti order kekita.

Ditambah lagi saat ini, dengan teknologi kan jadi semakin gampang ya, ada email dan website. Walaupun kita belum punya toko sendiri, orang pas lihat brand-nya langsung bisa googling sendiri, juga terutama lewat Instagram sih. Setelah itu pelan-pelan kami bangun brand ini. Memang masih terpecah dengan fokus di garmen. Hanya saja satu setengah tahun belakangan ini, kita lihat perkembangan di Indonesia ternyata pembelinya sudah semakin banyak dan semakin besar lokal.

Kenapa awalnya memutuskan mengambil pasar internasional?

Karena pengalaman kita sebenarnya kebanyakan di sana kan. Kita enggak pernah jualan di Indonesia. Kita enggak pernah jualan retail. Jadi selama ini kan seratus persennya ekspor dan networking kita kebanyakan di luar. beda dengan sekarang yang beberapa tahun terakhir ini Indonesia sudah makin berkembang, middle class meningkat dan spending power-nya juga meningkat banget. Jadi kita benar-benar melihat di asia itulah perkembangannya semakin pesat. Sekitar satu setengah tahun terakhir, kami benar benar merasakan adanya peningkatan dalam penjualan online kami. Terutama dari kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya, dan banyak juga mengirim sampai ke Pekanbaru, Medan, Makassar, Manado, hingga ke Sorong.

Paulina Katarina sendiri sudah memiliki outlet khusus?

belum. Kebanyakan masih nitip di butikbutik rekanan dan juga lewat online. Saat ini kita ada showroom di Griya anyar, dimana garmen juga berlokasi dan biasanya banyak klien kita yang dari Denpasar, Ubud atau Seminyak datang ke sini dan langsung pesan di sini, karena disini kita paling lengkap sebenarnya punya sampel dari seluruh koleksi dan juga banyak stock-nya.

Sejauh ini untuk penjualan manakah yang lebih kuat, via online atau offline?

Porsi online lebih kuat. bahkan banyak yang pesan hanya lewat Whatsapp. Kalau dulu kita mungkin sebulan sekali, ya dapat satu atau dua order. Kalau sekarang bisa ratusan dalam sebulan, hanya dari online saja.

Berapa banyak model desain yang Paulina Katarina keluarkan di awal kemunculannya?

Per koleksi kita lumayan banyak sih bikinnya, sekarang bisa sampai 100 model di berbagai macam print dan warna. Dari awal memang koleksi yang kita keluarkan relatif besar. awalnya memulai clothing line sendiri, kami ingin membuat berbagai macam model dan style yang fun, easy to wear dan cocok dengan lifestyle kami. Dan yang dapat membuat wanita merasa happy, percaya diri dan terlihat chic menggunakan Paulina Katarina.

Per tahun sekarang keluar 2-3 koleksi. Kalau misalnya ada klien kita dari Singapura yang memberi tahu ternyata koleksi kita yang tahun lalu masih laku di sana sampai sekarang, kita masih akan produksi model itu untuk mereka. bisa dibilang kita beruntung juga karena punya garmen sendiri, jadi memudahkan kita untuk mengembangkan brand. Kita lebih dimudahkan untuk produksi. beberapa brand lain yang tidak punya garmen sendiri kan harus nitip produksi di garmen lain. Harus ngantri lagi, kalau garmennya lagi sibuk. Kalau di sini kan masih bisa kita yang aturlah.

Bagaimana cara membagi konsentrasi antara garmen dan brand barunya?

Di garmen sendiri, kami sekarang memproduksi kira-kira 10 brand klien. Paulina Katarina kami masukan dan perlakukan layaknya brand klien kami tersebut. Jadi sudah kami jatahkan setiap bulan berapa yang akan diproduksi untuk Paulina Katarina. Brand klien kami biasanya produksi itu kan untuk seasonal ya. Mereka biasanya produksi hanya dua tahun sekali, untuk keperluan winter dan spring summer. benar-benar ngikutin jadwal. Jadi, kita bisa tahu bulan-bulan tertentu seperti sekarang dari bulan September sampai Januari, kita pasti full produksi untuk customer kita yang di luar negeri. Kadangkala di beberapa bulan ada bolong-bolongnya. Ini yang bikin biaya tinggi di garmen, karena tidak setiap bulan itu ada produksi. Pasti akan ada bulan yang sepi, karena bukan jadwal delivery. nah, dari sini juga kita awalnya mikir, mungkin dengan adanya brand sendiri di bulan-bulan yang bolong itu, akan ada pemasukan tambahan. adanya brand Paulina Katarina ini memang ditujukan untuk mendukung bisnis garmen kita.

Bisa ceritakan konsep fashion yang diusung oleh Paulina Katarina?

Paulina Katarina adalah sebuah label womenswear yang lahir dan berbasis di bali. Desain Paulina Katarina; eclectic, feminine with a sophisticated undertone di berbagai macam siluet. Dari model chic easy wear, resort wear, model-model klasik yang timeless sampai cocktail dan evening dresses. Ada sedikit perbedaan di jenis bahan dan style yang kami jual dan yang laku di bali dengan yang di kota-kota besar. Hal ini kami pelajari dari feedback pelanggan dan data yang kami dapat dari rekap penjualan, ternyata selera mereka ada perbedaan. Kami selalu berusaha cepat merespon kemauan pasar, mungkin dari situ bisa terlihat dari koleksi awal sampai sekarang pilihan model yang mengarah ke style resort wear sudah jauh berkurang.

Intinya filosofi kami adalah customerbased, selalu berusaha untuk memuaskan customer kami dan supaya mereka merasa dan terlihat chic dan percaya diri menggunakan desain kami. Kita mendesain dan memproduksi semuanya in-house, maka kualitas kita pertahankan dengan standar ekspor internasional.

Apa keunikan dari brand Paulina Katarina ini?

Jenis desain kita bermacam-macam. biasanya kalau brand lain hanya fokus di resort wear atau evening gown, tapi kalau kita lumayan bervariasi dari segi style. Jadi kalau wanita mau cari baju untuk seharihari, kantoran atau kondangan, mereka semua bisa cari di kita. Dan semua print yang kita pakai itu didesain sendiri, jadi kita enggak beli kain yang sudah jadi. Semuanya itu benar-benar kita desain sendiri print-nya. Semuanya dilakukan secara in house.

Bagaimana dengan kompetitor, terlebih merek-merek asing yang banyak disini ?

Kalau kita bicara kompetitor bukan hanya brand asing, banyak brand lokal sekarang yang tidak kalah dengan brand asing. Kompetisi pasti ada ya, apalagi kita main di Jakarta dan itu lebih banyak lagi brand kompetitornya. Tapi kita selalu berpegang pada brand value yang kita punya. Kita sekarang juga sudah jauh lebih fokus mempelajari pasar dan mempelajari lebih dalam karakter dan keinginan customer kita. Mengingat apa yang kita tawarkan beda dengan yang lain, dan membuat customer tertarik membeli. Kita selalu berusaha dan bekerja keras untuk menjadi lebih baik lagi. Memelihara serta meningkatkan brand value juga penting, konsisten pada varietas dan kualitas yang kita tawarkan. lalu networking juga tidak bisa dilupakan untuk menambah koneksi dan customer base kami.

Kami senang sekali tahun ini kami diundang menggelar koleksi kami di ajang panggung Jakarta Fashion Week 2016 di Jakarta. To have our first runway show, memang impian dan target kami di tahun 2015 dan begitu bahagia dapat tercapai.

 

Sekarang dengan teknologi kan jadi semakin gampang ya, ada email dan website. Walaupun kita belum punya toko sendiri, orang pas liat brandnya langsung googling sendiri, juga terutama lewat Instagram sih.”

 

Mana yang lebih penting di mata customer, brand atau kualitas produk?

Kedua-duanya penting. Karena semakin terkenalnya brand, maka orang akan lebih senang memakai produknya. Dulu memang banyak yang beranggapan bahwa penting kalau brand itu datang dari luar negeri, maksudnya orang Indonesia kan dulu mikir brand lokal sendiri kurang bonafit. Tapi justru beberapa tahun belakangan ini stigma seperti itu sudah berubah. orang Indonesia itu sudah proud menggunakan produk dalam negeri. Local brand itu benar-benar di-support. Kita benar-benar merasakan itu.

Apa kesulitan terbesar dalam membangun brand Paulina Katarina ini?

Membangun brand itu susah ya, enggak gampang. ada berbagai macam aspek yang harus dipikir matang-matang. Karena memang tidak punya pengalaman sebelumnya dalam membangun sebuah brand, semuanya kami harus mulai nol. bagaimana cara meningkatkan polularitas brand misalnya, dan bukan hanya asal bekerjasama dengan selebritis saja, tapi juga memastikan pilihan selebriti ataupun blogger yang kita ajak berkolaborasi sesuai dengan aesthetic brand kami dan dapat membantu meningkatkan brand value kami. bagaimana caranya membangun relasi dengan media fashion di bali dan terutama di Jakarta juga awalnya membingungkan, tetapi kami tahu itu penting apabila ingin eksis di industri fashion Indonesia.

Apa ada perbedaan yang signifikan dari pengalaman mengelola garmen dibandingkan merintis sebuah brand fashion baru?

beda banget. Kalau di garmen kan kita hanya fokus di produk saja. Masalah penjualan produk kan itu urusan customer kami. Kita bahkan enggak punya marketing, karena kebanyakan klien kami sekarang adalah klien tetap kami dari dulu. Mereka juga cukup lihat dari website. Cukup dengan keyword tertentu di google, pasti mereka akan menemukan kita, karena enggak bisa dipungkiri banyak brand luar yang mempercayakan produksinya di bali. Jadi, selalu saja kita dapatkan klien yang tertarik. Tapi sekali lagi, kendalanya selalu di harga. Kerja di garmen itu enggak gampang. Kerja dari pagi dan mesti lembur produksi. Dan reject pasti akan selalu ada, karena ini kerjaan tangan bukan mesin, pasti enggak akan seratus persen perfect. nah itu hanya satu hal, sekarang yang kami pikirkan bagaimana selain mengerjakan garmen ini, kita juga bisa mengembangkan brand. Untuk, kita juga harus memikirkan pemasaran dan sudah harus masuk ke  bidang bisnis retail kan, mau enggak mau. Kalau konsinyasi tinggal titip saja, tapi sekarang sudah punya online shop. Jadi, lebih susah lagi bagaimana memaksimalkan pemasarannya. Dengan sistem baru dan berbagai kendala baru yang kita hadapi, kita juga jadi belajar banyak untuk itu.

Apa kalian memang didorong oleh Ayah untuk meneruskan bisnis garmen ini?

Seperti yang saya sampaikan tadi. bapak dan Mama memang fokus di garmen, kebetulan rumah kami sebelahan sama garmen. Jadi biasanya kalau ketemu sama mereka ya otomatis kalau enggak di rumah, ya di garmen. Secara tidak langsung saya dan kakak jadi ikutan bantu-bantu di sana. Saya masih ingat pekerjaan pertama kita saat itu jadi resepsionis yang ngangkatngangkat telepon. Waktu itu saya masih SD. Terus pindah bantu ke divisi yang lain. Sambilan aja sih, enggak ada paksaan pas itu. Saya sama kakak sering mainmain kain di garmen, bahkan main petak umpet. Garmen sudah jadi playground kita waktu itu. Terus semakin kita dewasa, hasrat untuk membantu itu semakin besar dan ini juga family business jadi kita saling bergantung. Keduanya masih involve kok di bisnis ini, hanya saja enggak kantoran kayak dulu lagi.

Apakah terjadi pembagian tugas antara Anda dan Kakak dalam mengelola Garmen serta brand Paulina Katarina?

Kita sama-sama saling membantu dimana diperlukan dan mencoba memanfaatkan skill masing-masing. Surya lebih menguasai seluk-beluk produksi karena pengalamannya lebih lama juga digarmen, jadi lebih banyak memegang itu dan saya lebih kreatif jadi in charge di bagian desain dan sampling untuk brand kami. Branding dan digital content saya yang pegang melainkan pemasaran dan sales di handle oleh kakak saya. Tapi segala hal yang kita lakukan dan implementasikan pasti mendapat persetujuan dari kami berdua untuk mencegah adanya kejutan yang tidak diinginkan.

 

 

…semakin kita dewasa, hasrat untuk membantu itu semakin besar dan ini juga family business jadi kita saling bergantung….”

 

Hal apa yang Anda petik atau jadikan inspirasi dari etos kerja bapak selama membangun usaha garmen tersebut?

Dari kecil saya sudah lihat bahwa kerja di garmen ini berat, capek. Kami berdua lihat bagaimana kedua orang tua kami sangat kerja keras dan ulet di usaha ini dari dulu. Makanya Bapak juga dulu sempat wanti-wanti, apa benar kami mau terjun ke dunia garmen, karena kerja di bidang ini sangat melelahkan. Tapi lantaran kita sudah terbiasa dari kecil, sehingga kita mau untuk terlibat di sini. Dan sayang apabila perusahaan harus ditutup karena tidak ada yang mau melanjutkan.

Kita belajar banyak dari orang tua, mulai dari sistem-sistem yang kita gunakan sekarang. Kalau bisnis hotel mungkin bisa dipelajari di sekolah khusus perhotelan, tapi kalau garmen kan enggak ada ya sekolah khususnya. Jadi itu memang jerih payah Bapak dan Mama membangun ini semua dari dulu sampai eksis sekarang, sementara kita tinggal melanjutkan saja. Tetapi banyak sistem dan cara kerja yang juga kami rubah mengikuti jama dan waktu.

Punya rencana-rencana lain ke depan untuk usaha garmen dan brand fashion yang tengah Anda dan kakak rintis?

Untuk garmen, menjaga standard kualitas barang dan servis untuk mempertahankan customer yang sudah kami punya. Meminimalkam reject produksi dan memastikan jadwal pengiriman on-time sesuai janji ke tamu, itu yang harus selalu dipantau. Beberapa tahun terakhir ini kami juga melakukan beberapa inisiatif di garmen untuk meningkatkan produktifitas dan menekan biaya. Hal yang sama akan kami lakukan, dan syukur order bisa bertambah, paling enggak tidak turun deh.

Kalau untuk Paulina Katarina, kami berencana untuk mengembangkan showroom dan juga ingin punya flagship store sendiri. Kita rencananya mau renovasi showroom ini sedikit, agar lebih kelihatan seperti toko, Cuma showroom saja. Tapi banyak yang belanja ke sini, bahkan sampai ngantri.

Sebenarnya tempat ini kami tujukan untuk private appointment awalnya, tapi lantaran informasi dari mulut ke mulut, jadi banyak yang mau datang kemari. Ini juga sebenarnya ruang meeting, tetapi mendadak kita ubah jadi showroom. Mungkin ke depannya, kita juga berniat untuk membuat distribution centre atau semacam kantor cabang di Jakarta, melihat peningkatan penjualan kami sudah naik disana dan kota-kota besar lainnya dengan berada di ibukota, mungkin dapat lebih membantu growth kami.

Related News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Flag Counter

Copyright © 2017 ISEEBALI . All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri